KEKUASAAN

1863 Words
Harta tahta dan wanita adalah tiga hal yang selalu diperebutkan oleh beberapa manusia dan sangat berperan penting bagi kehidupan hampir sebagian orang. Harta berperan penting dalam menjalani kehidupan dunia yang fana ini. Sedangkan, tahta penting juga untuk orang-orang dari kalangan atas seperti keluarga Howard. Namun, untuk mempunyai seorang wanita, itu tidaklah terlalu penting bagi Richard Marx Howard. Dia berpikir wanita hanya akan mempersulit semuanya dan juga dia tidak ingin terbebani dengan adanya seorang wanita di kehidupannya. Pandangan nya terhadap wanita sangatlah buruk, terutama saat dia harus menjalin hubungan dengan Irish satu bulan yang lalu. Irish selalu membuntuti kemanapun dirinya pergi, membuat Rich jengah dan memutuskan hubungannya secara sepihak. Jika bukan karena hubungan bisnis Rich tidak akan mungkin mau menjalin hubungannya dengan Irish. Akan tetapi Irish selalu mencari cara agar bisa memiliki Rich sepenuhnya, tak peduli apapun dan bagaimanapun caranya. Namun sudah seminggu ini Irish tidak terlihat membuat Lian mampu menghela nafas leganya. Siang menjelang sore ini, Richard akan menghadiri rapat di sebuah rumah berlantai dua. Rumah yang selalu menjadi tempat berunding antara dirinya dan orang-orang yang berada di belakang nama Howard . Rumah itu tidak begitu jauh dari rumahnya. Rapat sengaja diadakan siang ini karena mereka semua tidak ingin didahului oleh pihak Jennie, wanita itu dianggap musuh pertama bagi Richard sekarang. Kematian kakeknya menyisakan harta dan warisan yang begitu banyak, tentu saja yang sedang diincar Jennie adalah Harta untuk dirinya dan tahta Untuk anaknya. Dengan masih mengenakan jas formal dan kacamata hitamnya, Richard mulai memasuki kawasan rumah tersebut. Dia berjalan beriringan dengan Revano yang selalu setia berada di belakangnya. Elan adalah pemilik markas ini, meskipun rumah ini nampak sederhana dari luar tetapi di dalamnya banyak sekali hal-hal mengejutkan yang tidak bisa dicerna cepat oleh pikiran dan logika. Kini Elan sudah tiada berarti yang memegang kuasa atas rumah ini adalah Richard atau_ Jennie. Suara sepatu mahal menggema di sebuah lorong yang cukup panjang, ruangan X adalah ruangan yang paling rahasia di rumah ini. Ruangan itu didominasi dengan warna hitam dan putih, hanya sembilan orang yang mempunyai akses masuk ke ruangan itu termasuk dengan Aderald-Orang kepercayaan kakeknya yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri. Bukan hanya ada Aderald saja tetapi masih ada enam orang lainnya yang mempunyai card untuk akses masuk. Tidak sembarang orang dapat masuk dan juga card itu tidak dapat di duplikat lagi. Hanya sembilan sesuai dengan nama ruangannya X. Mungkin card yang dimiliki oleh mendiang kakek nya akan ia berikan pada Rival. “Silakan duduk Mr Howard.” Ujar Aderald mempersilahkan Richard untuk duduk di kursinya. Rich segera duduk di kursi yang sering diduduki oleh Elan, mulai saat ini dia yang akan memegang kuasa. Sementara Rival duduk di kursi yang sering Richard duduki. “Bagaimana?” Tanya Richard memulai pembicaraan, dia tidak ingin berbasa-basi lagi. Karena ada banyak pekerjaan di luar sana yang perlu dikerjakan segera. Termasuk dengan pengurusan otopsi kakeknya. “Nyonya Jennie sudah menyewa pengacara terkenal untuk meminta hak nya” Ujar Ryan-Kepercayaan kakeknya, dia bertanggung jawab mencari semua informasi dengan Reca-Adik kembarnya dan juga Jeff. Richard mengangguk. “Paman, apakah kakek menitipkan sebuah surat wasiat kepada paman?” tanya Richard melirik ke arah Aderald. Aderald mengangguk, Lalu mulai membuka sebuah koper kecil, menekan beberapa digit angka sehingga koper tersebut otomatis terbuka. Aderald membuka perlahan map berwarna gold yang berada di tangannya , dia mulai membaca dengan suara yang lantang agar semua orang yang ada disana dapat mendengar suara nya. Tanpa Richard ketahui ternyata surat wasiat itu ternyata sudah di ketahui oleh nenek tirinya. SURAT WASIAT Hari ini, Selasa tanggal 05 April 2016 bertempat di Amerika saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Elan Howard Tempat tanggal Lahir : Amerika, 21 Oktober 1945 Bersama ini menerangkan Hal-hal berikut : 1. Bahwa saya adalah pemilik yang SAH atas harta yang tercantum di bawah ini : -Semua perusahaan di berbagai Negara atas nama ( Elan Howard) -Beberapa mansion, resort, appartemen, rumah sakit, panti asuhan, villa, Dan sejumlah tanah bersertifikat lainnya atas nama ( Elan Howard ) 2. Bahwa, saya akan mewariskan Semua Perusahaan dan harta saya kepada cucu saya yang bernama Richard Marx Howard . Termasuk dengan Rumah X dan juga cardnya. 3. Bahwa, saya hanya akan mewariskan Mansion dan apartemen yang berada di Paris kepada Jennieper Diana 4. Bahwa, bagian warisan saudara Rean tergantung dengan pemilik harta baru. Yaitu, RICHARD MARK HOWARD. Maka dengan ini saya mengangkat Aderald Rivaldo-orang kepercayaan saya dan juga Mr. Geraldo-rekan kerja saya sebagai pelaksana surat wasiat ini. Untuk melaksanakan surat ini saya menitipkannya kepada Aderald Rivaldo. Dan kepadanya saya telah dibuatkan akta atas keaslian surat ini. Demikian surat wasiat ini saya buat dalam keadaan sadar, dengan di saksikan oleh : 1. Avian sanjaya olivier 2. Aderald Rivaldo 3. Mr. Aditama Geraldo 4. Zayn Johanes Ryandra Richard terkejut karena tidak percaya dengan keputusan kakek nya. Jika semua perusahaannya di berikan kepada dirinya, maka pihak Jennie akan sangat marah dan tidak terima. Richard merebut surat itu dari tangan Aderald, lalu membacanya sendiri tanpa suara, surat ini memang asli. Terdapat tanda tangan Kakek nya sendiri dan juga beberapa orang saksi seperti Aderald, Avian-Ayah nya Victor dan Arabella, Mr Geraldo Dan juga Zayn Johanes Ryandra. Rich mengernyitkan keningnya bingung, bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa Zayn dan Mr Geraldo? “Paman, siapa itu Zayn dan Mr Geraldo?” tanya Richard penuh penasaran. “Mr Zayn adalah anak dari Mr Ryandra. Bukankah anda tahu siapa Mr Ryandra? Dan kita sangat mengenalnya dengan baik” Jawab dan tanya Aderald. Richard mengangguk, “Ya, aku tahu Mr Ryandra. Dia adalah partner kakek ku dan juga dia memiliki akses ke ruang X ini. Tapi yang aku tahu dia sudah tiada beberapa bulan yang lalu.” “Ya, dan anaknya yang menggantikannya, dia seumuran dengan anda. Dan sepertinya anda harus segera menemuinya” Ujar Aderald kembali “Kenapa Zayn yang harus mendatangi ini? Jika Mr Ryandra sudah meninggal kenapa tidak dialihkan pada orang lain saja. Tidak adakah kepercayaan kakek yang lain?” Tanya Richard kembali, dia masih belum mengerti kenapa Zayn ikut menandatangani surat wasiat ini. “Orang tua Mr. Zayn meninggal saat perjalanan kemari untuk menandatangani surat ini. Dan mereka terbunuh secara tragis juga, mereka terbunuh dengan keadaan fisik yang sudah tak utuh lagi di dalam mobilnya. Jadi Mr. Zayn lah yang paling berhak, dan itu sudah keputusan bersama antara kita” Jelas Aderald membuat Richard kembali mengerutkan kening. Mobil..Tragis..Meninggal? Apa ada hubungannya dengan potongan puzle? Kematian mereka sama persis dengan kematian orang tua ku. Apa jangan-jangan....? Richard kembali tersadar, mengusap wajahnya dengan kasar. Berasumsi tanpa bukti tidak akan membuahkan hasil, lebih baik dia cepat bertemu dengan Zayn dan cepat menyelesaikan semuanya. “Lalu bagaimana dengan Mr. Geraldo?” Tanya Richard kembali. “Untuk itu saya juga tidak mengetahui siapa Mr. Geraldo. Menurut mendiang kakek anda dia adalah orang terpenting di kehidupannya dan juga di kehidupan anda nantinya. Jadi anda harus segera menemukan keberadaan Mr. Geraldo.” Penjelasan Aderald membuat Rich menatapnya tajam. Dalam benaknya bertanya-tanya siapa Mr. Geraldo? Selama ini dia tidak pernah mendengarnya sama sekali. Dan dia harus mencari kemana Mr Geraldo. Jika clue yang didapatkannya saja hanya itu. “Mr. Richard apa benar anda menginginkan sebuah otopsi?” tanya Adrian, semua orang memandang tak percaya ke arah Adrian. Rich mengangguk, “Ya benar. Saya ingin menegakkan keadilan untuk kematian kakek ku, aku yakin ada sesuatu di baliknya” “Menurut saya lebih baik tidak melakukan otopsi. Selain kasihan pada Mr. Elan itu juga akan membuat masalah baru, saya yakin permasalahan ini akan tercium oleh publik karena banyaknya para wartawan yang penasaran. Saya tidak ingin para musuh memanfaatkan situasi ini” Jelas Adrian membuat semua orang terdiam, merenungi apa yang Adrian katakan, termasuk Rich. Rich nampak berpikir, sesekali memandang mata semua orang yang ada di sana dengan tatapan tajam, beberapa saat kemudian seringaian kecil terbit dari bibirnya. “Ya, saran mu sangat lah bagus, terimakasih Adrian” Ujar Rich sembari tersenyum kecil. “Kalau begitu, kita akhiri rapat ini. Sampai bertemu di pertemuan selanjutnya” sambung Rich, membuat Adrian tersenyum. Senyum yang terlalu misterius sehingga tidak dapat di artikan oleh siapapun. “Aku menginginkan otopsi. Bagaimanapun juga aku mengambil opini pertama mu Rich, aku setuju!” Desis Victor setelah mereka berada di ruangan pribadi Richard, di sebuah perusahaan yang disebut dengan kantor. ‘Kenapa?” “Kenapa apanya. Apa kau tidak curiga jika kakek Alan diracuni oleh wanita ular itu? Kau memang bodoh. Sial sekali kakek Elan mempunyai cucu seperti mu” Kesal Victor. Richard tertawa mendengar protesan kesal dari sahabatnya. Dia tertawa sinis dengan tatapan mata tajam nya menatap ke arah depan. Entah kemana, “Aku akan mengautopsi nya tiga hari lagi, kita lakukan secara diam-diam. Apa kau tidak lihat bagaimana cara Adrian berbicara?” Rich menaik turunkan alisnya. Menatap Victor dengan bibir yang ia sunggingkan ke atas. “Maksudmu?” “Hidup itu layaknya potongan puzle Victor, kita harus menyusun nya secara benar. Banyak puzle yang nampak sama tetapi kenyataannya berbeda. Kau tahu Bisa saja aku menuduhmu sebagai seorang pengkhianat?” Lian menaik turunkan alisnya. Membawa tangannya untuk menyentuh dagunya sendiri. Untuk sesaat Victor terdiam, mencoba mencerna perkataan sahabatnya. Susunan... Puzzle... Pengkhianat. Tiga kata itu dicerna baik oleh Victor sehingga beberapa detik kemudian, dia juga ikut tertawa. Menertawakan pembicaraannya. Rupanya yang bodoh disini adalah dirinya, otak Richard memang tidak dapat diragukan lagi. “Haha! Kau memang cerdik Rich.” Ujar victor, “Aku tidak salah bersahabat dengan mu” Sambungnya kembali, Richard tersenyum senang. Orang ketiga yang ia percayai adalah Victor. Dia akan membagi semua keluh kesah nya pada Victor-Sahabatnya. Richard akan terus mengumpulkan kepingan puzle itu sampai benar-benar sempurna. “Minggu depan, temani aku bertemu dengan Zayn Di Paris. Apa kau bisa?” “Kau dan aku diundang untuk menjadi tamu di sebuah kompetisi Fashion di perusahaan paman ku. Sebaiknya Setelah acara selesai kita baru terbang ke paris” Balasnya, membuat Richard mengangguk. “Ya” Jawab Rich dengan singkat. Dia kembali ke meja nya lalu mulai menandatangani dokumen-dokumen penting yang dikirimkan oleh sekretaris nya, Rival. Sementara Victor pamit undur diri, karena dia akan mengecek sebuah desain terbaru di perusahaan nya. * Di ruangan yang di d******i oleh warna putih ini, Richard termenung menatap jendela ruangan yang langsung menghadap ke luar. Dia memikirkan bagaimana nasib hidup kedepannya tanpa seorang panutan dari kakeknya yang selama ini slalu mengajari banyak hal kepadanya. Dia tak bisa membayangkan kedepannya dia harus hidup seperti apa. Kadang Richard berpikir, mengapa di dunia ini banyak sekali orang pengkhianat, mengapa banyak sekali orang yang mencari jalan menjijikkan untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Padahal dengan cara kerja keras dan kegigihan diri sendiri lebih di hormati daripada merebut apa yang bukan hak nya. Richard menghela nafas panjang, pria dengan tubuh profesional itu beranjak dari duduk untuk sampai ke sebuah ruangan tempat tidurnya. Tetapi belum sempat ia masuk ke dalam ruangan itu, suara Rival mengagetkan. "Maaf Tuan, malam ini kau ada meeting. Apakah kau akan membatalkannya? Mungkin kliyen juga tahu kita sedang berduka." ucap Rival. Richard segera menggeleng pelan. "Siapkan saja, sebentar lagi kita berangkat meeting." jawab Richard dengan nada dinginnya. Dalam situasi apapun pekerjaan adalah yang paling penting untuk Richard. Menurutnya kerja adalah sebuah pelarian dari pikiran-pikiran negatif yang hinggap ke otaknya. sekedar mengalihkan agar ia tak terus menerut terkungkung dalam pemikiran yang tak seharusnya ia pikirkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD