Saat ini mobil Mercedes Benz Daniel tengah menuju ke Restoran tempat biasa Daniel, Yuni dan Tae Sung berkumpul dulu.
Tempat yang menyimpan sebagian kenangan indah mereka bersama dulu.
Daniel dan Tae Sung yang pada dasarnya keturunan keluarga Konglomerat selalu berusaha menyesuaikan dengan selera dan keinginan Yuni.
Yuni yang merasa tidak nyaman jika makan di restoran mewah bintang tujuh, yang sebelum mengenal Yuni, selalu menjadi tempat nongkrong Daniel dan Tae Sung memilih mengubahnya ke restoran yang sedang mereka tuju sekarang.
Restoran yang tidak mewah namun nyaman dan menyajikan makanan kesukaan Yuni.
Di dalam mobil Daniel terus saja melihat ke arah kaca dengan maksud untuk melihat Yuni yang sedang sibuk dengan ponselnya di kursi belakang.
Sebenarnya Daniel ingin duduk di belakang bersama Yuni jika saja Ji Min tidak menahan Daniel.
"Eh eh kamu duduk di kursi depan, Dirut Kang" Ujar Ji Min pada Daniel saat Daniel membuka pintu hendak masuk ke dalam mobilnya dan duduk di samping Yuni.
"Mengapa begitu? Aku tidak biasa duduk di kursi depan Dr. Seo." Kata Daniel.
"Aku juga tidak biasa duduk di samping orang asing Dirut Kang." Balas Ji Min.
"Bukankah ini mobilku? Akulah yang berhak menentukannya." Balas Daniel lagi tidak mau kalah.
"Ohhh kalau begitu aku gak jadi pergi deh kalau duduk di kursi depan. Kalau aku gak jadi pergi otomatis Yuni pun gak pergi. Jadi batal deh acara makan malamnya. Hmm sayang sekali Dirut Kang." Ujar Ji Min sambil tersenyum sewot.
Daniel hanya bisa melongo mendengar ancaman Ji Min padanya. Akhirnya Daniel pun mengalah dan duduk di kursi depan.
Daniel memasuki mobilnya sambil menghela napas panjang yang membuat Yuni sedikit tersenyum namun langsung menyembunyikan senyumnya saat Ji Min melihatnya.
Sedangkan Young Jin menatap kesal pada Daniel.
"Apa duduk disampingku bisa tertular penyakit mematikan sehingga tidak ada yang mau duduk di kursi depan bersamaku? Bukankah ini sedikit keterlaluan?" Tanya Young Jin kesal pada Daniel dan Ji Min.
"Hmm bukan begitu, aku hanya ingin duduk di kursi belakang." Balas Daniel sambil melihat kaca untuk memandang Yuni yang berada di belakang nya.
"Benar Sekretaris Kim, aku juga hanya ingin duduk di samping Yuni." Balas Ji Min sambil tersenyum penuh kemenangan pada Daniel.
Yuni pun menahan tawanya mengingat kembali kenangan dulu saat mereka bertiga masih selalu bersama.
Daniel yang selalu duduk di kursi belakang bersama Yuni dan melarang Yuni duduk di kursi depan bersama Tae Sung yang membuat Tae Sung terlihat seperti supir pribadi mereka berdua.
Sambil mengingat kenangan indah masa lalu, Yuni pun kembali mengingat kejadian di ruangan Daniel tadi, yang saat Yuni mengingatnya kembali, jantung Yuni berdebar sangat kencang.
FLASHBACK 6 JAM LALU
Setelah mengecek kondisi Bu So Min di UGD, Yuni pun menjelaskan kepada Suami Bu So Min kalau operasi putranya akan tetap dilaksanakan sebentar lagi.
Suami Bu So Min sangat berterima kasih pada Yuni sambil menangis bahagia.
Sementara itu di luar UGD, Daniel sedang menunggu Yuni keluar.
Saat melihat Yuni, Daniel pun langsung menarik tangan Yuni yang membuat Yuni masuk dalam dekapan Daniel.
Respon heboh di sekitarnya menyadarkan Yuni dari keterkejutannya dan langsung melepaskan diri dari pelukan Daniel.
"Ada yang bisa saya bantu Dirut Kang?" Ujar Yuni cuek
"Aku ingin berbicara denganmu Yun" Balas Daniel lembut
"Saya masih ada urusan Dirut Kang." Jawab Yuni acuh tak acuh sambil memberi kode kepada Daniel agar berpura-pura tidak terlalu dekat dengannya karena banyaknya fans Daniel di RS ini.
Yahh, belum ada seminggu Daniel berada di RS Kang Han, sudah mengundang banyak fans yang menyukai nya baik itu dari kalangan Dokter, Suster maupun Pasien.
Daniel yang bukan pria biasa selalu menjadi pusat perhatian dimanapun Daniel berada.
Daniel yang merupakan putra tunggal Chairman Kang Han Sung dan cucu kesayangan Chairman Kang Han sekaligus pengusaha sukses di usia muda dengan penampilan yang hampir sempurna.
Meskipun belum memasuki usia 30 tahun, Daniel sudah memegang dua jabatan sekaligus yaitu CEO Han Sung Corp dan Direktur Utama RS Kang Han.
"Sebentar saja, ikutlah denganku ke ruanganku. Atau aku akan berbicara disini" Bisik Daniel pelan di telinga Yuni yang tidak peduli dengan kode Yuni.
Setelah berbisik Daniel langsung berjalan pergi sambil bersikap cuek seakan tidak peduli akan sekitarnya yang sudah heboh melihat interaksi antara Daniel dan Yuni tadi.
Yuni yang melihat sekitarnya pun merasa tidak nyaman lalu langsung berlari pelan mengikuti Daniel yang jaraknya sudah cukup jauh darinya.
Sesampainya di ruangan Direktur Utama, Yuni membuka pintu ruangan, melihat sekitar dan tidak menemukan siapapun di dalam ruangan.
Deg...
Yuni terkejut karena ada sesuatu yang melingkar di perut Yuni, terdengar nafas pria yang memeluknya erat menggelitik di telinganya.
"Apa permintaan nya padamu sampai dia langsung datang kemari saat kamu bilang akan mengabulkan permintaannya Yun?" Lirih Daniel pelan di telinga Yuni.
Yahh, yang memeluk Yuni tiba-tiba dari belakang adalah Daniel yang tadi sedang menunggu kedatangan Yuni di samping pintu ruangannya.
Saat melihat Yuni masuk, Daniel pun langsung memeluknya erat seakan ingin mengobati luka hatinya saat melihat interaksi antara Yuni dan Kento tadi, serta Yuni dan Dr. Lee tadi.
Memiliki satu saingan saja sudah berat, sekarang malah bertambah satu lagi" Batin Daniel.
"Kamu tidak perlu mengetahuinya Niel. Ini adalah urusanku." Ujar Yuni cuek sambil melepaskan pelukan Daniel.
Yuni mencoba berpura-pura cuek agar Daniel tidak menyadari bahwa saat ini jantung Yuni sedang berpacu dengan hebatnya karena pelukan belakang Daniel yang tiba-tiba tadi.
"Apa Kento dan Ji Min boleh mengetahuinya sedangkan aku tidak Yun?" Ujar Daniel pelan, terlihat ekspresi sedih di wajahnya.
Yuni hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Daniel. Saat ini otaknya berhenti bekerja untuk menenangkan jantungnya yang berdetak sangat kencang hingga Yuni tak mendengar pertanyaan Daniel.
Yuni tak bisa menyembunyikan perasaannya dan debaran di dadanya karena wajahnya yang menjadi merah merona walaupun Daniel sudah tak memeluknya lagi.
Daniel pun tersenyum geli saat melihat perubahan wajah Yuni yang menjadi merah seperti tomat.
"Seandainya aku tau dulu wajahmu berubah merah seperti tomat itu karenaku, bukan karena Tae Sung. Mungkin sekarang kita sudah menikah dan punya anak yang lucu sepertimu Yun karena satu setengah tahun bukanlah waktu yang sebentar." Batin Daniel.
Wajah Yuni merah merona karena Daniel memeluknya?
Bukankah berarti Yuni masih memiliki perasaan pada Daniel?
Berarti perasaan Yuni tak pernah berubah? Masih sama seperti dulu, mencintai Daniel dalam diamnya?
Daniel tertawa pelan, merasa sangat bahagia saat memikirkan perasaan Yuni belum berubah padanya.
Yuni yang mendengar suara tawa Daniel langsung tersadar dari lamunannya dan melihat Daniel yang sedang tersenyum bahagia.
"Bukankah aku sudah bilang itu bukan urusanmu Niel." Ujar Yuni yang salah tingkah karena menyadari wajahnya yang memerah.
Yuni yang terburu-buru hendak pergi pun dihentikan oleh Daniel dengan menarik tangan Yuni hingga membuat wajah mereka sangat berdekatan.
"Aku tau kamu masih mencintaiku Yun. Aku juga tau kamu menolakku karena tidak yakin bersamaku dan takut akan kembali merasakan luka yang mungkin tidak bisa kamu tanggung untuk kedua kalinya. Karena itulah sekarang aku berjuang untuk membuktikan kalau aku pria yang pantas bersamamu, akan membahagiakanmu dan berusaha untuk tidak menyakitimu." Ujar Daniel pelan tepat di depan wajah Yuni, yang terdengar sangat jelas, hingga Yuni bisa mencium aroma mint keluar dari setiap napas Daniel karena wajah mereka yang sangat berdekatan.
Jika Daniel sedikit saja menggerakkan wajahnya maka Daniel akan bisa merasakan bibir indah Yuni yang selalu membuatnya berdebar hanya dengan melihatnya.
Yuni hanya bisa mengedipkan matanya berulang kali dengan cepat sambil memegang dadanya yang berdetak sangat kencang hingga Daniel mungkin bisa mendengar suara detak jantungnya. Yuni langsung menarik tangannya, mendorong Daniel menjauh darinya dan segera berlari meninggalkan ruangan Daniel sebelum Daniel kembali menghentikannya mungkin dengan cara yang lebih intens lagi.
Lebih intens lagi?
Mungkin dengan ciuman atau ....?
"Ahhhh Yuni sejak kapan kamu menjadi m***m seperti ini? Apakah kamu sudah gila? Menikahlah terlebih dahulu Yuni! Berikanlah ciuman pertamamu pada suamimu nanti. Dasar otak mesum." Gumam Yuni memukul-mukul pelan kepalanya sambil berjalan setengah berlari meninggalkan ruangan Daniel.
Daniel hanya tersenyum geli melihat tingkah Yuni yang sudah lama tidak dilihatnya.
"Aku akan berusaha lebih keras lagi Yun agar kamu bisa mengubah keputusanmu dan kamu bisa dengan yakin memilihku sebagai pendamping hidupmu Yun." Batin Daniel sambil tersenyum menguatkan hati karena mungkin saja hatinya akan terus terasa sakit seperti tadi melihat kedekatan antara Yuni dan Kento serta Yuni dan Dr. Lee Soo Hyuk.
Senyum menawan tak hilang dari wajah Daniel sampai Young Jin, sekretaris pribadi Daniel, memasuki ruangan Daniel.
FLASHBACK OFF