YUNI POV
Hadirnya sosok dirimu disaat ku merasa hancur dan hilang arah membuatku tau apa arti cinta sesungguhnya. Kenapa? Kenapa kau datang secara tiba-tiba lalu mamasuki hatiku tanpa permisi?
Apakah kau datang memang hanya sekedar untuk menjadi sahabatku? atau bisakah aku berharap kita akan lebih dari seorang sahabat?
Taukah kamu bahwa aku mencintaimu selama ini? Sejak saat aku pertama kali bertemu denganmu. Mungkin kamu tidak mengetahuinya karena aku tidak pernah memberitahumu tentang perasaanku.
Ya benar, aku mencintaimu dalam diamku. Karena aku masih ingin menjaga hubungan persahabatan kita, menjaga kepercayaan kita bahwa kita adalah sahabat yang selalu hadir ketika membutuhkan seseorang untuk bersandar, bercerita dan berkeluh kesah mengenai kehidupan yang terkadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan.
Cinta itu memang aneh. Kenapa cinta harus hadir di antara persahabatan kita?
Ya. Itu adalah salahku karna melanggar janji kita untuk tidak mencintai satu sama lain.
Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahanku karna sikap lembutmu dan rasa perhatianmu yang membuatku berpikir mustahil jika tidak mencintaimu, membuatku berpikir aku adalah robot yang tidak memiliki perasaan kalau tidak mencintaimu karna semua perlakuan manismu padaku.
"Hati-hati dengan hati, jangan sampai kita saling mencintai dan merusak persahabatan kita", itu yang selalu kamu ungkapkan saat kita bertiga berkumpul bersama sambil bercanda ria dan tertawa bahagia.
Tapi sayangnya, aku tidak hati-hati dengan hatiku sendiri. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencintaimu dalam diamku. Mencintai dalam diam itu memang sulit dan menyakitkan. Karena aku harus mengendalikan perasaanku untuk terus menjaga keutuhan persahabatan yang sudah kita jalani selama ini.
Ingin rasanya aku menyerah dengan cinta dalam diam ini dan mengungkapkan perasaanku padamu yang sudah lamaku pendam.
Walaupun rasa takut kehilanganmu menghantuiku dan membuatmu menjauh dariku karna melanggar janji untuk tidak mencintai satu sama lain.
Pernah pada akhirnya aku mengumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan rasaku yang begitu besar padamu. Aku tidak peduli dengan segala akibat yang terjadi nantinya meskipun aku harus kehilanganmu.
Ya, saat itu. Saat aku ingin mengungkapkan perasaanku lalu aku mengurungkan niatku dan meneruskan cinta dalam diam ini. Aku masih mengingat saat itu. Satu setengah tahun yang lalu.
Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Aku merasa bingung dan tersesat saat ini.
Aku berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumahku yang bergaya modern minimalis ini.
Pria yang kucintai dalam diamku selama 3 tahun ini yang juga berstatus sebagai sahabatku -Kang Daniel- memintaku untuk menikah dengannya.
Bukankan seharusnya aku bahagia karna orang yang kucintai selama ini melamarku dan memintaku untuk menikah dengannya? Tapi saat ini aku malah bingung harus menjawab bagaimana karena Daniel melamarku bukan karna dia juga mencintaiku.
Yah aku tau itu, tidak mungkin dia mencintaiku karna ada wanita yang mengisi hatinya dari dulu dan mungkin sampai sekarang Daniel belum bisa melupakannya.
Pria yang satu setengah tahun lalu memperkenalkan seorang wanita sebagai pacarnya padaku dan Tae Sung.
Pria yang datang dengan kekasihnya lalu mengatakan niatnya untuk pergi ke Amerika bersama kekasihnya itu.
Pria yang menyakiti hatiku hingga hancur tak tersisa saat melihat kepergiannya dengan kekasihnya itu.
Ingin aku melarangnya pergi dan tetap berada disini. Walaupun tidak bisa memiliki hatinya, setidaknya aku bisa berada didekatnya. Karna aku tidak pernah berpikir bagaimana kehidupanku tanpanya.
Bukankah aneh jika sahabat wanitanya melarangnya pergi bersama kekasihnya?
Daniel yang pergi satu setengah tahun lalu meninggalkan bekas luka yang teramat besar hingga rasa sakit itu masih terasa sampai sekarang dan membuatku menutup rapat hatiku.
Aku -Yunita Veronika Ningsih- sudah menutup rapat hatiku sejak satu setengah tahun lalu dan hanya fokus pada pekerjaanku yang sekarang membuatku menjadi Kepala UGD di RS KangHan tempatku mengabdikan diriku selama 3 setengah tahun
Kenaikan jabatanku yang bisa dibilang sangat cepat karna aku menggunakan alasan bekerja untuk melupakan sakit dihatiku.
Aku selalu lebih memilih berada di UGD untuk menolong orang daripada menangis di kamar tidurku karna merindukan Daniel karna itu orang mengatakan aku dokter yang sudah menganggap rumah sakit sebagai rumahku karna aku hampir tidak pernah pulang kerumah.
Lebih memilih menyembuhkan luka dan menolong orang lain daripada harus terus larut dalam kesedihan sambil merindukannya.