EPISODE DUA BELAS

1496 Words
Setelah selesai mengecek beberapa pasiennya, Yuni pun melakukan pengobatan rawat jalan pasiennya sebelum melakukan operasi beberapa jam lagi.  "Berapa pasien lagi yang tersisa?" Tanya Yuni pada suster yang sedang mendampinginya. "Dua lagi Dok, setelah itu operasi Shin Hyun Min 5 jam lagi Dok." Ujar Suster Min Seo pada Yuni "Benarkah? Kalau gitu aku akan tidur sebentar nanti setelah makan siang." Ujar Yuni sambil tersenyum "Iyaa Dok, sebaiknya Dokter tidur sebentar karena operasinya butuh waktu yang lama. Silahkan pasien selanjutnya." Ujar Min Seo memanggil pasien berikutnya.  "Baiklah saya akan mulai mengecek kondisi Ibu. Bisakah ibu tersenyum lebar?" Ucap Yuni pada pasiennya yang datang untuk kontrol setelah 3 bulan lalu selesai melakukan operasi tulang pipi wajah. Yuni pun menekan kedua pipi wajahnya pelan. "Sekarang bagaimana rasanya Bu saat saya menekan kedua sisi wajah Ibu?" Tanya Yuni pada pasiennya "Dua-duanya terasa baik Dok" balas pasiennya pada Yuni sambil tersenyum hangat.  "Baguslah kalau begitu Bu. Saya merasa cemas wajah Ibu mungkin akan mati rasa atau ada terasa sesuatu yang ganjil. Tapi ternyata baik-baik saja. Bagus sekali Bu.  Obatnya masih sama seperti sebelumnya. Selanjutnya kita lihat bagaimana keadaan tiga bulan lagi. Terima kasih sudah datang Bu" ucap Yuni sambil tersenyum pada pasiennya. "Terima kasih Dok, Ngomong-ngomong, saya punya sesuatu untuk Dokter Yuni." Ujar Pasien pada Yuni yang langsung mengeluarkan Buku dari dalam tasnya, yang didalam buku tersebut terlihat jelas ada sebuah amplop berisi uang tunai. "Ini bukan apa-apa. Hanya sebuah buku yang bagus. Saya harap Dokter membacanya." Ujar pasien pada Yuni sambil menyodorkan buku itu dengan kedua tangannya. "Buku ini bagus bukan Bu? Saya juga sudah membacanya dan menyimpannya di rumah." Ucap Yuni beralasan untuk menolak buku  serta uang itu dengan cara yang halus dan sopan "Kamu juga membacanya bukan?" Tanya Yuni pada Suster Min Seo yang mendampinginya. "Ya, saya juga sudah membacanya. Itu salah satu buku favorit saya Dok." balas Min Seo yang seperti mengerti maksud Yuni. Karena bukan sekali atau dua kali namun sering kali Yuni menolak hadiah yang diberikan pasien padanya jika itu berupa uang tunai atau benda-benda mahal. Jadi sang suster yang sudah mendampingi Yuni selama satu tahun terakhir pun paham betul apa maksud Yuni. Bahkan pernah ada pasien yang memberikan Yuni mobil sport 8 bulan lalu karna Yuni sudah menyelamatkan hidup putra semata wayang keluarga konglomerat dan Yuni langsung mengantarkan mobil sport itu kembali kepada keluarga konglomerat saat punya waktu luang lalu meminta untuk tidak memberikan apa-apa lagi pada Yuni. Jika memang mereka merasa berterima kasih pada Yuni, lebih baik mobil sport tersebut di jual lalu uangnya disumbangkan ke Peduli Manusia, sebuah yayasan untuk membantu keluarga pasien yang tidak mempunyai dana untuk operasi. Yuni pun berkata kalau Yuni akan lebih bahagia dan senang jika mereka melakukan hal itu karena tidak semua orang hidup dengan harta yang berlebih seperti keluarga konglomerat tersebut. Mendengar perkataan Yuni, Nyonya konglomerat itu merasa terharu dan berjanji akan menjadi orang yang menyumbangkan uangnya secara rutin ke yayasan Peduli Manusia itu. Bahkan Tuan konglomerat itu meminta Yuni untuk mau menjadi menantu nya dan menikah dengan putra nya jika putra nya sudah sembuh nanti, yang langsung disetujui oleh istrinya.  Namun Yuni menolaknya dengan cara halus yang mengatakan kalau sudah ada pria yang menunggu Yuni. Terlihat jelas raut wajah kecewa pada muka Tuan dan Nyonya konglomerat itu, namun apa bisa dikata. Tidak mungkin kan mereka memaksa Yuni untuk menikahi putra mereka. Akhirnya mereka pun menyuruh supir pribadi mereka untuk mengantarkan Yuni kembali ke rumah sakit. Pada awalnya Yuni menolaknya, namun mereka sedikit memaksa jadi Yuni pun kembali ke rumah sakit diantarkan oleh supir pribadi mereka. Tapi Yuni tidak menolak hadiah dari pasiennya jika itu berupa makanan atau minuman. Karena menolaknya mungkin hanya akan membuat sakit hati mereka dan Yuni hanya menerimanya sekali lalu berkata untuk tidak memberikannya apapun lagi nanti karena Yuni akan menolaknya saat itu.  Sehingga membuat Departemen Bedah selalu dipenuhi makanan seperti Cake, Cemilan(Tteokbokki, Kimbab, Hotteok, Mandu) dan minuman seperti (Kopi, s**u, Sikhye) yang membuat Yuni terkadang merasa tak enak lalu meminta pada pasiennya untuk tidak memberikan apa-apa, hanya fokus pada kesembuhannya sudah bisa membuat Yuni bahagia.  "Ahh begitu. Jadi dokter sudah membaca buku ini. Suami saya meminta untuk memberikannya kepada Dokter" ujar pasien yang sedikit kecewa namun mengerti maksud Yuni. "Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa 3 bulan lagi Bu." Ujar Yuni sambil tersenyum lembut pada pasiennya yang merasa tidak enak karna Yuni menolak hadiahnya. "Baik dok. Terima kasih Dokter Yuni" Ujar pasien yang sungguh-sungguh berterima kasih pada Yuni yang sudah merawatnya dengan baik dan tulus selama ini. Yah, Yuni terkenal di RS Kang Han sebagai Dokter yang kompeten dalam pekerjaannya dan bersikap sangat baik dan ramah pada pasiennya. Yuni pun juga selalu membantu keluarga pasien yang tidak memiliki dana untuk operasi dengan berbagai cara. Salah satunya dengan uangnya sendiri, bantuan sosial RS atau Yayasan Peduli Manusia. Pasien Yuni pun keluar, tak lama masuk lagi seorang pasien lanjut usia bersama putrinya.  "Selamat siang Dokter", Ujar pasien lansia yang masuk ke dalam ruangan Yuni bersama Putrinya -So Min- "Selamat siang Bu Ae Sin silahkan duduk Bu" balas Yuni ramah sambil mempersilahkan duduk pasiennya yang sudah lanjut usia dan putrinya. Bu Ae Sin dan putrinya -So Min- pun duduk di samping Yuni. Lalu Yuni menggeser monitornya ke samping agar bisa dilihat oleh pasien dan walinya. "Hasil tes nya sudah keluar Bu. Hasil CT menunjukan adanya benjolan sehingga dilakukan tes MRI. Sayangnya, ada kemungkinan tumor ganas jadi harus diperiksa lewat biopsi." Ujar Yuni pada pasien dan walinya sambil menunjuk pada layar monitornya. Bu So Min pun menundukkan wajahnya, menahan air matanya agar tidak terjatuh, namun Bu Ae Sin berusaha terlihat tegar di depan putrinya, tapi ekspresi sedih bercampur kecewa terlihat jelas di wajah mereka. "Usia Bu Ae Sin sudah lanjut, dan posisi tumor tidak bagus. Jadi tampaknya sulit dilakukan operasi. Ibu pasti merasakan sakit kepala yang luar biasa sejak lama. Bagaimana ibu mampu menahannya selama ini?" Tanya Yuni sambil mengelus sebentar telapak tangan Bu Ae Sin untuk menenangkannya yang terlihat gugup mendengar hal yang tidak diharapkannya. "Apa Ibu saya akan baik-baik saja jika dioperasi Dokter?" Tanya Bu So Min pada Yuni sambil menangis memegang pundak ibunya. "Bukan operasi Bu, melainkan kemoterapi atau radioterapi. Sebelum itu dibutuhkan hasil biopsi untuk memastikan diagnosisnya. Jika dugaan saya benar, Bu Ae Sin mengalami tumor otak. Pada stadium awal, peluang bertahannya tinggi, meski diobati dengan radioterapi.  Namun bila sudah mencapai stadium akhir, Bu Ae Sin harus menjalani kemoterapi dan radioterapi, dengan kemungkinan kambuh tinggi, serta kemungkinan hidup rendah." Ucap Yuni menjelaskan. "Astaga. Harus bagaimana ini Bu?" Ucap Bu So Min menangis sambil menggigit bibirya agar suara tangisannya tidak terlalu keras.  "Ibu, Ibu. Aku harus apa demi ibuku yang malang ini?" Ucap Bu So Min lagi sambil jongkok lalu menangis di pangkuan ibunya. "Tidak apa-apa. Ibu sudah hidup cukup lama. Tidak apa-apa sayang." Ucap sang ibu sambil mengelus puncak kepala sang putri untuk menenangkannya yang tak berhenti menangis. "Jangan bilang begitu Bu." Ucap sang putri sambil terus menangis. "Ibu Anda masih bisa diobati. Jangan menangis Bu" Ucap Yuni sedih sambil memberikan tisu pada Bu So Min. "Pertama-tama, Ibu Anda harus dirawat dan menjalani biopsi. Saya akan menjelaskan proses pengobatannya setelah hasil tes biopsi nya keluar. Anda harus kuat demi Ibu anda Bu" ucap Yuni pada putri dari pasiennya yang terus menangis tanpa henti. "Maaf Dokter. Maafkan saya Dokter, saya tidak bisa menahan air mata saya" ucap Bu So Min pada Yuni. "Tidak Bu, Ibu tidak perlu minta maaf, saya mengerti perasaan Ibu. Mana ada putri di dunia ini yang tidak menangis mendengar penyakit Ibunya. Namun Ibu harus kuat agar Bu Ae Sin bisa kuat juga menjalani proses pengobatannya Bu" Ucap Yuni lembut pada Bu So Min untuk menenangkannya. "Terima kasih Dok. Terima kasih Dokter" ucap Bu So Min pada Yuni sambil menghapus air matanya. Lalu mereka berdua pun pergi dengan tangis putrinya yang masih terdengar walau pelan. Yuni hanya bisa menatap pilu kepergian mereka. "Hatiku merasa sedih melihatnya. Bukankah kamu merasa tak asing dengan putrinya? Sepertinya aku sering melihat putrinya di suatu tempat." Tanya Yuni pada suster yang mendampinginya sambil merasa sedih dan sedikit bingung mengingat dimana Yuni seperti sering melihat Bu So Min. "Dokter Yuni ada pasien darurat di ruang ICU" Ujar seorang suster menerobos masuk ruangan Yuni dengan cemas. Yuni bersama suster Min Seo yang mendampinginya dan suster yang baru saja masuk langsung berlari ke ruang ICU untuk mengecek keadaan pasiennya. Setelah memberikan perawatan, keadaan pasien pun kembali normal. "Selalu cek keadaannya setiap 3 jam sekali. Dan beritahukan langsung padaku jika ada yang salah" ucap Yuni pada dokter dan suster yang ada disana lalu langsung dibalas dengan anggukan oleh dokter dan suster tersebut. Yuni pun keluar dari ruang ICU dan melihat putri Bu Ae Sin, pasiennya tadi. Putri Bu Ae Sin -So Min- terlihat menatap cemas pria berusia sekitar akhir 20 tahunan, terbaring lemah diranjang ICU dengan peralatan medis lengkap. "Putra saya sedang menunggu transplantasi hati Dok." Ujar Bu So Min pada Yuni di Lift saat mereka tak sengaja bertemu untuk menuju ke lantai 1. "Ahh begitu rupanya Bu. Pantas saja saya merasa sering melihat Anda." Ujar Yuni "Putra saya bolak balik pergi ke rumah sakit selama 6 bulan terakhir sampai saya merasa seperti sudah tinggal disini Dok. Namun tiga hari lalu, kondisinya mulai memburuk.  Putra saya, Mungkin harus saya relakan Dokter" Ucap Bu So Min pada Yuni sambil memilin kedua telapak tangannya. "Jangan berkata begitu Bu. Putra Ibu bisa sembuh." Ucap Yuni sambil memegang telapak tangan Bu So Min untuk menenangkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD