EPISODE TIGA BELAS

2020 Words
Apalagi yang bisa Yuni lakukan selain menenangkan Bu So Min dan berharap kesembuhan untuk Ibunya dan Putranya Bu So Min. "Saya terlalu fokus pada putra saya, sampai tak tau ibu saya sakit Dok. Semuanya adalah salah saya Dokter." Ucap Bu So Min pada Yuni sambil menahan air matanya agar tidak jatuh. "Kondisi Putra Ibu seperti itu. Ibu mana yang tak akan fokus padanya? Tak ada satupun orang di dunia ini yang bisa menyalahkan Ibu." Ucap Yuni sambil mengelus telapak tangan dan pundak Bu So Min untuk menenangkannya. Bu So Min menatap Yuni sambil tersenyum. Sepertinya kata-kata Yuni berhasil menenangkan Bu So Min. Tak lama ponsel Bu So Min pun berdering. Lalu Bu So Min membuka pesan di ponsel nya. Yuni tanpa sengaja melihat isi pesan itu, yang dikira Yuni adalah Suami Bu So Min "Kau sudah buatkan makan malam untuk ibuku atau belum? Cepatlah pulang dan urusi kami di rumah, jangan terus berada di rumah sakit saja"  Itulah isi pesan yang diterima Bu So Min dari Suaminya. Bu So Min pun terdiam sejenak menatap pesan itu lalu berusaha menahan kembali air matanya yang ingin jatuh. Melihat Bu So Min, Yuni pun kembali mengelus pundaknya untuk kembali menenangkannya. "Hmmmm Dokter. Apa di dunia ini ada wanita lain yang lebih malang dari saya Dok? Saya sudah menikah selama 30 tahun dan suami saya menguras habis uang yang tersisa di rumah dengan alasan untuk berbisnis. Saya bertahan hidup karna putra saya satu-satunya yang sangat baik hati. Saya merasa ibu dan putra saya sakit karena saya pembawa sial. Saya... benar-benar sial dalam hidup ini Dok. Saya sungguh tak ingin hidup sama sekali Dokter. Saya sama sekali benar-benar tak ingin hidup Dok. Saya hanya ingin mati saja Dokter" Ucap Bu So Min menangis terisak menggambarkan isi hatinya sekarang pada Yuni sambil berjongkok lemah seakan tak ada lagi sisa kekuatannya untuk menganggung beban hidupnya yang begitu berat. Yahh, tidak semua orang memiliki hidup yang begitu berat seperti Bu So Min. Yuni tidak bisa berbuat apapun selain menatap Bu So Min pilu seakan merasakan kesedihan Bu So Min sambil ikut berjongkok lalu memeluknya erat dan menepuk pelan pundaknya untuk menenangkannya. ~Pintu Terbuka~  Pintu lift terbuka di lantai 9 Yuni melihat ada dua dokter laki-laki yang berhenti bercerita dan tertawa saat menatap Bu So Min dan Yuni di dalam Lift.  "Naik lift berikutnya" Ucap Yuni pada mereka berdua sambil menekan tombol agar pintu lift segera tertutup. "Baik Dokter" ucap kedua dokter laki-laki itu bersamaan sambil menyatukan kedua tangannya dan sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada Yuni yang merupakan Kepala Departemen Bedah. ~Pintu Tertutup~ Lift pun kembali berjalan turun menuju lantai satu. Dan Yuni pun kembali memeluk erat Bu So Min untuk menenangkannya. Setelah keluar dari lift, Yuni pun mengajak Bu So Min ke taman rumah sakit umtuk menghirup udara segar. Yuni pergi sejenak untuk membeli kopi instan yang tak jauh dari sana dan memberikannya pada Bu So Min lalu duduk disampingnya. "Saya yakin semua akan baik-baik saja Bu. Saya pun pernah berada dalam masa dimana saya berpikir kalau saya adalah wanita paling sial di dunia Bu. Namun saya mencoba bertahan dalam menghadapi semua cobaan yang menimpa saya  Bu. Karena saya tidak menyerah dan terus berjuang dengan harapan pelangi akan datang setelah hujan.  Lalu sekarang semuanya berubah Bu, pelangi pun datang setelah hujan deras yang bertubi-tubi dalam hidup saya, sekarang saya merasa sebagai wanita paling beruntung di Dunia Bu. Jadi saya harap ibu kuat menghadapi cobaan ini dan terus berharap agar pelangi Ibu akan datang setelah hujan lebat ini. Saya yakin akan ada masa dimana Ibu juga akan seperti saya nantinya, merasa kalau kita adalah wanita paling beruntung di dunia. Jadi ibu harus kuat ya Bu. Jangan menyerah dan terus berjuang. Para dokter dan suster akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan keluarga Ibu" ujar Yuni panjang lebar pada Bu So Min sambil menepuk pundaknya pelan untuk menghiburnya dan menenangkannya. "Iyaa dok. Saya tidak akan menyerah dok. Terima kasih Dok. Terima kasih banyak Dokter." Ucap Bu So Min pada Yuni sambil tersenyum hangat seperti sudah menemukan semangat baru dalam hidupnya mendengar perkataan Yuni tadi. Tak lama setelah itu, ponsel Yuni berdering lalu Yuni mengangkatnya. "Hmmm?" Ujar Yuni pada Dr. Yoon, Kepala Residen Departemen Bedah "Dokter ada pasien darurat, akibat kecelakaan mobil dan akan tiba dalam 20 menit. Hati dan limpanya rusak parah. Saya akan segera mempersiapkan ruang operasi." Balas Dr. Yoon pada Yuni "Ok saya akan kesana sekarang" jawab Yuni lalu memutuskan panggilan telponnya. "Bu seperti saya harus pergi sekarang karena ada pasien darurat. Jika terjadi apa-apa atau Ibu membutuhkan bantuan, silahkan temui saya kapan saja Bu. Saya yakin ibu pasti kuat dalam menghadapi cobaan ini. Kalau gitu saya permisi ya bu." Ucap Yuni pada Bu So Min sambil tersenyum hangat dan sedikit membungkuk sebelum pergi. "Iya Dok. Terima kasih Dok. Terima kasih banyak Bu Dokter." Ucap Bu So Min sambil tersenyum cerah dan sedikit membungkuk. Lalu Yuni pun meninggalkan Bu So Min, langsung menuju ruang operasi. Dr. Yoon pun menjelaskan kondisi pasien pada Yuni sebelum memasuki ruang operasi. Setelah menyelamatkan pasien daruratnya, Yuni pun keluar dari ruang operasi dan mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. "Dok, Dokter Yuni. Akhirnya putra saya bisa dioperasi. Rasanya seperti mimpi Dokter. Saya hampir menyerah karena putra saya berada di urutan kedua untuk mendapatkan pendonor. Saya masih tidak dapat mempercayainya Dok. Katanya pasien sebelumnya tidak dapat dioperasi. Ya Tuhan, terima kasih, terima kasih banyak." Ucap Bu So Min tersenyum bahagia sambil memegang kedua tangan Yuni. "Syukurlah Bu. Itu adalalah kabar baik Bu." Balas Yuni sambil tersenyum senang "Siapa dokter penanggung jawab anak Ibu?" Ucap Yuni pada Bu So Min  "Dia dokter yang sangat terkenal seperti Anda. Dia juga pernah muncul di acara tv.  Namun saya lupa namanya Dok." Ujar Bu So Min sambil mencoba kembali mengingat-ingat nama dokter itu. "Dokter Min Hyun Sung ?" Terka Yuni pada Bu So Min "Iya, benar dia Dok." Ujar Bu So Min membenarkan terkaan Yuni sambil tersenyum. "Saya dekat dengannya Bu. Dia juga adalah seorang dokter yang hebat Bu. Namun setahu saya , Dokter Min pergi ke luar kota untuk operasi penting Bu." Ujar Yuni  "Iya Dok tapi begitu mendengar kabar ini, katanya dia akan segera kembali kesini setelah operasinya selesai di Miryang, dan operasi akan segera dilakukan begitu Dokter Min sampai. Tapi apa beliau tak lelah Dokter?" Ujar Bu So Min senang namun juga khawatir dengan Dokter yang akan menyelamatkan nyawa putra satu-satunya itu. "Rupanya begitu ya Bu. Saya harap operasi anak Ibu lancar dan bisa segera sembuh. Kalau begiti saya permisi dulu ya Bu." Ucap Yuni pada Bu So Min sebelum pergi meninggalkannya untuk melanjutkan pekerjaannya. Saat Bu So Min sedang gelisah menunggu kabar kedatangan Dokter Min untuk memberitahukan jadwal operasi putranya. Yuni mendapat kabar kalau Dokter Min mengalami kecelakan lalu lintas sehingga tidak memungkinkan untuknya melakukan operasi. Bu So Min pun langsung pingsan dan segera di bawa ke UGD. Semantara itu di dalam ruang konferensi sudah terdapat Daniel, Yuni, Ji Min, Kento dan beberapa dokter serta direktur lainnya untuk membahas tentang masalah operasi putra Bu So Min setelah mengetahui kabar kecelakaan Dr. Min. Yuni bingung harus bagaimana. Tidak ada seorang pun dokter di RS nya yang bisa mengoperasi putra Bu So Min karena operasinya rumit dan sulit hanya bisa dilakukan oleh dokter ahli yang berpengalaman. Ingin rasanya Yuni mengoperasinya sendiri namun itu bukanlah bidang Yuni sehingga Yuni tak tahu harus berbuat apa. Beberapa dokter menyarankan untuk dipindahkan ke RS lain, namun Yuni khawatir akan keadaan pasien yang semakin lama semakin memburuk karena butuh waktu yang cukup lama untuk mengurus pemindahan pasien. Tak lama setelah itu Dokter Dokter Min pun datang ke ruang konferensi dengan memakai gips dan kursi roda. "Ada satu orang lagi selain saya yang bisa mengoperasinya. Dia memiliki pengalaman yang bahkan lebih banyak dari saya dengan tingkat keberhasilan 90%" Ujar Dr. Min menjelaskan pada semua orang "Siapa itu Dr. Min? Mungkinkah dia? Apa dia mau datang ke Kang Han dan melakukan operasi darurat?" Tanya Direktur Bedah Kim Sung Joon pada Dr. Min "Saya tidak yakin dia akan mau atau tidak, tapi hanya dia yang bisa melakukan operasinya. Kita harus melakukan segala cara agar dia mau melakukan operasinya untuk menyelamatkan nyawa pasien." Ujar Dr. Min meyakinkan semua orang. Akhirnya semuanya pun sepakat untuk langsung menghubungi Dr. Lee Soo Hyuk. "Ya Pak Direktur?" Jawab Dr. Lee pada Direktur Kim Sung Joon yang didengarkan oleh semua orang karena panggilan tersebut sudah di loudspeaker. Direktur Bedah Kim Sung Joon pun menjelaskan pada Dr. Lee Soo Hyuk tentang keadaan pasien dan meminta agar Dr. Lee bisa datang ke Kang Han untuk mengoperasi pasien tersebut. "Maaf Direktur Kim, saya ada jadwal operasi nanti malam dan saya belum tidur sama sekali karena baru saja selesai melakukan operasi selama 11 jam. Jadi saya ingin beristirahat sekarang untuk persiapan operasi saya nanti malam." Ujar Dr. Lee menjelaskan.  "Tidak bisakah orang lain yang mengoperasi pasienmu dan kamu datang kesini Dr. Lee? Karena hanya kamu yang bisa mengoperasinya sekarang sebab Dr. Min baru mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuatnya tidak bisa melakukan operasi" Ujar Direktur Kim.  Dr. Lee terdiam sejenak sambil memikirkan perkataan Direktur Kim. Semua orang cemas dan khawatir dengan jawaban yang akan dikeluarkan Dr. Lee. "Hmmmm kalau begitu Direktur, saya----"  Brukkkk Ucapan Dr. Lee terpotong saat pintu ruang konferensi terbuka dengan cukup keras sehingga semua perhatian sekarang tertuju pada suster Min Seo yang baru saja masuk dengan terburu-buru. "Maaf jika saya mengejutkan semua orang. Dokter Yuni, Ibu keluarga pasien yang akan dioperasi tiba-tiba pingsan mendengar kabar Dr. Min kecelakaan dan suaminya ingin bertemu Anda sekarang." ucap Min Seo yang baru masuk ke ruang konferensi dengan terburu-buru sambil membungkukkan badan memohon maaf pada semua orang karena sudah membuat terkejut. "Dimana sekarang Ibu pasien dan suaminya berada sekarang?" Tanya Yuni kembali pada suster pendampingnya itu.  "Di UGD Dokter. Suami Bu So Min terus memanggil-manggil nama anda sambil menangis Dok." Ucap Min Seo menjelaskan lagi pada Yuni. "Baiklah kalau gitu ayo kita kesana sekarang. Saya per------" Ucapan Yuni dipotong oleh suara Dr. Lee. "Tunggu Dr. Yuni." Ujar Dr. Lee cukup keras sehingga terdengar oleh Yuni dan menghentikan langkahnya untuk pergi dari ruang konferensi. "Direktur Kim, saya akan ke Kang Han sekarang juga dan langsung mengoperasi pasien itu asalkan Dr. Yuni bersedia mengambulkan permintaan saya yang sederhana" Jawab Dr. Lee yang mengejutkan semua orang karena begitu mudahnya menerima permintaan Direktur Kim namun juga membuat semua orang bingung dengan apa yang kira-kira diminta Dr. Lee dari Yuni. Kali ini semua orang memandang diam sekaligus bingung ke arah Yuni dan ponsel Direktur Kim secara bergantian. "Bagaimana Dr. Yuni? Apa anda akan menerimanya atau tidak?" Tanya Dr. Lee karena tidak ada respon dari siapapun diseberang panggilan sana. "Baiklah Dr. Lee, selama itu bukan permintaan yang aneh dan saya bisa melakukannya. Maka saya akan menerimanya jika itu bisa menolong nyawa pasien itu." Ujar Yuni dengan suara sedikit keras agar bisa didengar Dr. Lee. Kini semua orang menatap Yuni yang berjalan mendekat menuju ponsel Direktur Kim untuk mendengar permintaan Dr. Lee pada Yuni.  "Baguslah kalau begitu Dr. Yuni. Sekarang matikan dulu loudspeakernya dan kita berbicara pribadi tanpa didengar oleh siapapun" Ujar Dr Lee sambil tersenyum penuh kemenangan. Yuni pun mengambil ponsel Direktur Kim lalu keluar ruangan untuk berbicara pribadi dengan Dr. Lee dan mengabulkan permintaannya. Sementara itu di dalam ruang konferensi, semua orang bingung dengan maksud Dr. Lee dan juga penasaran dengan permintaannya. Semua orang berpikir keras mengenai apa kira-kira yang diinginkan Dr. Lee pada Yuni, tak terkecuali dua orang yang sedang mengejar cinta Yuni, Kento dan Daniel yang terlihat khawatir dengan permintaan Dr. Lee dan perkatannya tadi yang ingin berbicara pribadi dengan Yuni. Setelah beberapa saat Yuni pun kembali ke ruangan dan semua pendangan tertuju padanya. "Dr. Lee dalam perjalanan menuju kesini dan akan sampai dalam 40 menit jadi segera siapkan ruang operasinya. Karena begitu sampai, Dr. Lee akan langsung melakukan operasinya" Kata Yuni sambil berjalan mendekati Direktur Kim untuk memberikan ponselnya.  Mendengar perkataan Yuni membuat semua orang terdiam dan semakin penasaran dengan apa yang mereka bicarakan berdua tadi sehingga Dr. Lee langsung menuju kemari. "Apa permintaan Dr. Lee, yang setelah kamu bilang akan mengabulkannya, dia langsung menuju kemari Yun?" Tanya Ji Min yang tidak sanggup lagi menahan rasa penasaran pada Yuni karena tidak ada satupun orang yang bertanya. "Hmmm hanya permintaan pribadi dan tidak terlalu sulit. Aku akan memberitahukanmu nanti setelah pulang kerja" Jawab Yuni pada Ji Min sebelum pergi. Namun sebelum Yuni pergi, Yuni tersenyum manis pada Kento yang artinya Yuni juga akan memberitahukannya sepulang kerja dan meminta Kento untuk tidak khawatir. Tanpa Yuni sadari, Daniel melihat saat Yuni tersenyum manis pada Kento dan dibalas Kento dengan senyumnya yang tak kalah manis. Melihat pemandangan itu, d**a Daniel terasa sesak dan sakit hingga Daniel mengepalkan kedua tangannya erat untuk menahan rasa sakit dan perih itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD