EPISODE SEPULUH

1535 Words
Seperti biasanya, saat Yuni pulang kerumahnya walau hanya sebentar untuk mengambil baju bersih, Kento pun selalu menjemput Yuni di rumahnya yang terletak di Hannam-dong, yang berjarak kira-kira 20 menit dari rumah mewah Kento di Bukcheon, yang terkenal sebagai kawasan bagi orang-orang kaya raya di Korea, termasuk Kento Yamazaki. Meskipun bukan orang Korea, namun kekayaan keluarga Yamazaki tidak bisa diremehkan oleh orang lain.  Yamazaki Group termasuk perusahaan raksasa Asia, namun Kento mengikuti jejak Ibunya menjadi Dokter bukannya pengusaha seperti ayahnya. Sesampainya di Basement Parkir RS, Yuni pun hendak keluar dari mobil Mercedes Benz milik Kento sebelum tangan Yuni ditahan oleh Kento. "Yunnnn" ucap Kento lirih menyebut nama Yuni sambil masih menggenggam tangan Yuni yang hendak keluar mobil. "Iyaa Ken? Kenapa Ken? Apa ada masalah?" Tanya Yuni penuh kekhawatiran melihat Kento yang terlihat bersedih sambil mengenggam kembali tangan Kento. Posisi mereka berdua pun saling berhadapan sambil saling bergenggaman tangan satu sama lain. "Aku tadi malam mimpi buruk Yun. Aku melihat kamu meninggalkanku dan pergi bersama pria lain Yun. Aku takut Yun..... Aku sangat takut kamu pergi dariku Yun." Lirih Kento sambil menundukkan wajah tampannya untuk menahan air matanya terjatuh di hadapan wanita yang sangat dicintainya itu.  Yuni sedikit terkejut melihat sisi Kento yang jarang Yuni lihat karena selama ini Kento hanya menunjukkan sisi bahagianya saja. Yuni pun yakin kalau Kento benar-benar sangat mencintainya karena Kento merasa sangat sedih seperti ini hanya karena mimpinya. Pantas saja sepanjang perjalanan tadi Kento hanya diam dan menghela napas panjang. "Sepertinya kamu memang benar-benar mencintaiku ya Ken sampai-sampai sesedih ini hanya karena mimpi. Padahal mimpi hanya bunga tidur. Bagaimana jika aku benar-benar meninggalkanmu Ken? Apa yang akan terjadi padamu nanti?" Lirih Yuni dalam hatinya. Melihat Kento yang sangat sedih karena mimpinya yang hanya bunga tidur itupun membuat Yuni merasa ikut bersedih. Yuni langsung menarik Kento kedalam pelukannya sambil menepuk pundaknya untuk menenangkannya. "Aku gak akan kemana-mana Ken. Aku gak akan pergi ninggalin kamu sendirian." Ucap Yuni sambil mengeratkan pelukannya pada Kento yang sudah menangis. Sejak mimpi buruk bahwa Yuni pergi bersama pria lain yang bukan dirinya membuat Kento merasa gelisah dan gundah. Kento selalu memikirkan tentang mimpi buruk itu. Kento tidak tau mengapa mimpi itu terasa begitu nyata baginya. Seperti peringatan kalau nanti Yuni akan pergi dari hidupnya yang membuat Kento tidak bisa menahan air matanya. Kento tidak pernah memikirkan bagaimana hidupnya tanpa Yuni. Tanpa senyum Yuni yang seperti penyemangat hidupnya. Mendengar perkataan Yuni kalau Yuni gak akan meninggalkannya membuatnya mendongakkan wajahnya, lalu menatap kedua bola mata hitam Yuni yang menurutnya sangat indah dan bisa menenangkan hatinya. "Benarkah Yun? Benarkah kamu gak akan pernah ninggalin aku sendiri Yun? Berjanjilah padaku Yun!" Ujar Kento bersemangat sambil menarik tangannya yang tadi menggenggam tangan Yuni lalu menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Yuni.  "Iya Ken, aku berjanji tidak akan pergi meninggalkanmu sendiri." Balas Yuni sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Kento sebagai tanda janjinya. Setelah itu Yuni pun melepaskan jari kelingkingnya dan menghapus air mata Kento yang ada dipipinya.Terlihat wajah bahagia Kento dengan senyum menawannya setelah Yuni menautkan jari kelingkingnya dan menghapus air matanya.  "Kamu terlihat lebih tampan saat tersenyum seperti ini daripada bersedih seperti tadi Ken." Ujar Yuni sambil tersenyum manis khasnya dengan dua buah lesung pipinya. "Berarti tadi saat aku nangis, aku gak terlihat tampan Yun? Padahal aku selalu berpikir kamu terlihat cantik bahkan saat kamu sedang sedih dan menangis, ya walaupun kamu akan terlihat sangat lebih cantik saat tersenyum Yun. Kalau gitu lebih bagus aku tidak menangis di depanmu lagi dan memendam kesedihanku aja biar dimatamu aku selalu terlihat sangat tampan Yun." Ujar Kento sambil memajukan bibirnya dan menggembungkan pipinya sebagai pertanda kalau Kento sedang dalam mode merajuk. Melihat Kento yang terlihat seperti anak kecil membuat Yuni selalu merasa lucu dan geli karena walaupun sudah sering kali Kento menunjukkan sisi kekanak-kanaknya pada Yuni tetap bisa membuat Yuni gemas padanya.Namun ini adalah pertama kalinya Kento menunjukkan air matanya di depan Yuni. Kento sering menunjukkan ekspresi cemburu dan sedihnya saat melihat Yuni sedang bersama laki-laki lain selain dirinya, baik itu dokter senior, dokter junior, petugas ambulan bahkan wali pasien yang terlihat muda dan tampan. Tapi ini adalah pertama kalinya Kento menunjukkan kesedihannya yang mendalam dengan meneteskan air matanya karena mimpi Kento yang Yuni pikir tidak berarti apapun. Yahh, selama ini Kento selalu berusaha menahan rasa cemburunya walaupun kadang tidak bisa menahannya dan berakhir dengan mode merajuk khas Kento.Namun Kento tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya pada Yuni karena tidak ingin Yuni berpikir kalau Kento adalah pria yang lemah.Kento selalu menahan dan memendam masalahnya sendiri dengan tidak menunjukkan luka dan sedihnya agar selalu terlihat seperti pria yang bisa diandalkan oleh Yuni. "Makasih karena kamu selalu berpikir aku terlihat cantik terlepas dari bagaimanapun keadaanku. Tapi aku lebih ingin kamu mengekspresikan perasaan sedihmu padaku selain saat kamu sedang cemburu Ken. Karena ini pertama kalinya kamu merajuk dan bersedih selain saat kamu sedang cemburu.  Tidak apa sesekali menunjukkan kerapuhanmu padaku dan jangan hanya selalu mengekspresikan bahagiamu lalu memendam eksperesi sedihmu. Karena aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena melihat beberapa kesedihan dan lukamu. Karena jika aku meninggalkanmu sebab hal itu maka aku tidak pantas untuk kamu perjuangkan Ken. Setiap orang memiliki luka sendiri di dalam hidupnya baik itu luka kecil atau luka besar, dan dengan orang yang kita sayanglah, kita bisa melupakan luka itu dan menyembuhkannya. Jadi mulai sekarang, ekspresikanlah apa yang ada dihati dan pikiranmu Ken. Jika kamu sedang bahagia maka aku akan tertawa bersamamu, namun jika kamu sedang bersedih maka aku juga akan bersedih bersamamu lalu menenangkan dan menghiburmu untuk menghilangkan kesedihanmu Ken. Aku juga ingin menjadi wanita yang kamu andalkan dan wanita yang bisa menenangkan serta menghiburmu saat kamu sedang sedih, terluka atau dalam masalah. Bukan hanya wanita yang selalu kamu hibur dan tenangkan saat aku sedang sedih atau terluka Ken." Ujar Yuni panjang lebar menjelaskan apa yang dipikirkannya sekarang lalu mencubit kedua pipi Kento yang gembungnya sudah hilang setelah mendengar perkataan Yuni. Saat ini Kento hanya memandang Yuni sambil menitikkan air mata bahagianya dengan rasa takjub dan bangga pada wanita yang sangat dicintainya itu.Kento merasa sangat bahagia mendengar perkataan Yuni padanya beberapa saat yang lalu.Memang tidak salah Kento mengabaikan semua rasa sakitnya akibat penolakan Yuni padanya dulu karena memang Yuni adalah wanita yang pantas diperjuangkan cintanya. "Kenapa nangis lagi Ken? Apa aku salah bicara Ken?" Tanya Yuni sambil menghapus kembali air mata Kento yang membasahi pipinya. "Enggak Yun. Ucapanmu gak salah. Aku merasa sangat bahagia mendengarnya Yun. Ini adalah air mata bahagiaku." Ujar Kento menjelaskan sambil tersenyum manis kepada Yuni lalu mencium kedua tangan Yuni.  Yuni pun kaget merasakan bibir tipis merah muda Kento mendarat di kedua punggung tangan Yuni namun tidak ingin melepaskannya. Meskipun mereka sudah hampir melakukan semua aktivitas yang dilakukan oleh pasangan kekasih tapi mereka tidak pernah melakukan kontak fisik apapun kecuali pelukan hangat yang diberikan satu sama lain dengan tujuan untuk menenangkan dan menghibur satu sama lain. Lalu mereka pun memutuskan untuk keluar dari mobil Mercedes Benz milik Kento dan berjalan menuju lift dengan tangan yang saling bergandengan untuk pertama kalinya.Baik Kento dan Yuni sama-sama tidak ingin melepaskan tangan mereka satu sama lain sejak keluar dari mobil Kento tadi.  Walaupun selalu menggoda Yuni dan mengeluarkan gombal mautnya padanya namun ini adalah pertama kalinya Kento mencium tangan Yuni dan menggenggam tangan Yuni erat.Saat ini jantung Kento berdetak sangat kencang sampai Kento takut jika Yuni bisa mendengar suara detak jantungnya yang seperti dentuman drum. Yuni pun merasa debaran aneh di dadanya. Walaupun merasa nyaman dengan Kento namun ini adalah pertama kalinya mereka melakukan kontak fisik selain dari pelukan Kento untuk menghibur Yuni. Pernah Yuni melihat beberapa kali gelagat Kento saat mereka sedang menghabiskan waktu berdua yang ingin menggenggam tangan Yuni dan Yuni langsung refleks menarik tangannya untuk memilin satu sama lain agar Kento tidak menyentuh tangannya. Lalu Kento yang melihat refleks Yuni seperti itu beberapa kali, membuat Kento berhenti mencoba untuk berkontak fisik dengan Yuni seperti menggenggam tangannya atau merangkul pinggangnya.  Namun anehnya saat ini Yuni tidak menarik tangannya dan Kento tidak melepaskan genggaman tangannya.Setelah memasuki lift, mereka pun melepaskan pegangan tangannya satu sama lain dan hanya berdiri bersebelahan sambil tersenyum malu-malu satu sama lain. Sesaat kemudian lift pun dipenuhi orang-orang. Lalu Kento pun keluar duluan karena Departemen Psikolog di lantai 11 dan Departemen Bedah di lantai 17.  Namun sebelum keluar, dengan sembunyi-sembunyi agar tidak dilihat orang lain, Kento menggenggam punggung tangan Yuni singkat lalu tersenyum menawan dan berbalik pergi meninggalkan Yuni.Yuni pun membalas senyum menawan Kento dengan senyuman paling manis milik Yuni. Sesampainya di lantai 17, Yuni pun keluar lift dan masih belum menghilangkan senyum manis diwajahnya mengingat wajah Kento yang tiba-tiba gugup lalu tersenyum menawan sebelum pergi. Suasana hati Yuni dalam perjalanan menuju ruangannya pun sangat baik saat menyapa kembali para pasien, suster dan dokter yang menyapanya. Namun semuanya berubah saat Yuni sampai di depan ruangannya dan melihat seorang pria yang berdiri menunggunya sambil membelakanginya dengan setelan jas terlihat sangat cocok di tubuh tegapnya dan bunga mawar indah di tangannya. Yuni sangat tidak asing melihat siluet pria itu dari belakang. Karena memang sudah menjadi kebiasaan Yuni, memperhatikan pria itu dari belakang diam-diam dan mencintainya dalam diam. "Niel?" Ucap Yuni memanggil pria yang sedang menunggunya dengan mawar indah ditangannya. Meskipun yakin kalau pria itu Daniel, namun Yuni berharap dia salah. Yuni masih berharap kalau Yuni salah dan hanya seseorang yang mirip dengan pria yang dicintainya dalam diam itu sebelum pria itu berbalik dan membuktikan kalau Yuni tidak salah. "Pagi Yun, kamu sudah sampai Yun." Sapa Daniel setelah berbalik sambil menampilkan senyum manisnya yang sangat manis, membuat hati Yuni meleleh melihatnya karena sudah lama sekali sejak terakhir Yuni melihat senyum manis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD