1
Sara Anne Roxanne saat ini sedang sibuk memasak di dapur sewaktu bel rumahnya berbunyi. Dengan segera ia mematikan kompornya dan bergegas menuju bagian depan rumahnya.
"Ya, sebentar," jawab Sara.
Ting...tong...ting...tong...
"Ya," jawab Sara saat membuka pintu rumahnya dan menemukan di depan rumahnya sudah berdiri tetangganya Shirley Jones dengan wajah pucat.
"Shirley, ada apa? Masuklah," ucap Sara mempersilakan tamunya.
Sara meminta Shirley duduk dan dia masuk ke dalam untuk mengambil minuman buat Shirley. Saat Sara sudah menghidangkan minumannya dirinya juga ikut duduk di kursi yang lain menunggu Shirley mengatakan sesuatu padanya dan menjelaskan maksud kedatangannya.
Sara bisa melihat jika Shirley sedang punya masalah tapi masih merasa ragu mengatakannya. Terlihat dari gerakannya yang duduk tak bisa diam dan terus memainkan jari-jari tangannya.
"Sara."
"Ya?"
"Aku__" perlahan air mata menetes dari kedua mata Shirley.
Sara tidak tahu harus berbuat apa karena ia sebenarnya tidak dekat dengan tetangganya itu. Shirley sangat tertutup dan sangat jarang keluar rumah. Dia adalah salah satu orang kaya di daerah ini, rumahnya terletak delapan blok dari tempat Sara dan bertingkat lima. Bahkan Sara mendengar jika suaminya adalah salah satu politikus dan sedang mencalonkan diri menjadi Walikota di kota ini.
Ia hanya pernah bertemu satu kali dengan Shirley dan saat itu dirinya hanya tersenyum saat bertatapan dengan Shirley. Shirley membalas senyumnya tapi kemudian bergegas pergi dari sana dengan segera.
"Apa kamu baik-baik saja, Shirley?"
"Aku...aku...tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Aku tidak sanggup lagi tapi aku tidak bisa pergi begitu saja. Dia mengancamku jika aku pergi maka anak perempuanku yang akan menggantikan aku. Dia sungguh sakit jiwa, Sara. Aku mohon tolonglah aku."
"Maaf, Shirley. Siapa yang kamu maksudkan dan apa yang sudah dilakukannya padamu?"
"Suamiku," isak Shirley semakin keras.
"Maaf, Shirley, aku tidak tahu apa masalah kalian tapi aku tidak bisa turut campur di dalam rumah tangga kalian. Aku hanyalah orang luar."
"Aku mohon, Sara. Tolonglah aku!" ratap Shirley dan berlutut di kaki Sara.
"Shirley, tolong bangunlah," ujar Sara sambil mencoba mengangkat Shirley agar mau bangun.
"Aku tidak akan bangun jika kamu tidak berjanji untuk menolongku, bahkan mungkin nyawaku berada dalam bahaya saat ini karena datang ke sini."
Sara merasa dilema karena dia bahkan tidak tahu apa yang menimpa tetangganya ini, mungkinkah Shirley mengalami kekerasan dalam rumah tangga? Tapi aku tidak melihat luka sedikitpun pada dirinya. Jadi sepertinya mungkin ini hanya pertengkaran biasa antara suami istri saja.
Jika memang Shirley mengalami kekerasan rumah tangga, Sara tidak akan segan-segan membantunya tapi tidak ada sesuatu yang janggal yang terdapat pada tubuh Shirley.
"Baiklah, aku akan mencoba membantu jadi sekarang tolong bangunlah dan ceritakan apa yang terjadi hingga kamu begitu takut nyawamu akan terancam dan kenapa kamu memilih aku?"
"Karena hanya kamu yang mau tersenyum padaku. Semua orang di sini menghindariku seperti wabah dan hanya padamu aku menaruh harapanku."
Shirley kemudian menceritakan masalahnya pada Sara dan bagaimana suaminya menyiksanya secara seksual dan semuanya tidak bisa dibayangkan oleh orang lain jika tidak mendengarnya langsung dari Shirley. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Shirley jika bahkan bukti saja mereka tidak punya dan hanya berdasarkan cerita Shirley saja.
Seiring berlanjutnya cerita Shirley, wajah Sara ikut memucat mendengarnya dan bagaimana laki-laki gila itu akan berpindah melakukan semua itu pada anak kandungnya sendiri jika Shirley berani berpikir meninggalkannya.
Saat selesai bercerita Shirley sudah berlinang air mata dan terisak-isak begitu menderita. Ia tidak tega melihatnya, apalagi saat Shirley memperlihatkan bekas cambukan suaminya pada punggungnya yang masih membekas berwarna merah muda yang belum sembuh sepenuhnya.
"Maaf, Shirley, apakah dia baru melakukannya lagi padamu semua siksaan itu selain cambukan itu?"
"Tidak selama sebulan ini karena dia disibukkan oleh kampanye."
"Maaf, Shirley, aku tahu kamu sudah sangat menderita tapi jika tanpa bukti apa pun kita tidak akan bisa melaporkan suamimu pada pihak berwajib apalagi dia adalah seorang politikus terkenal. Orang-orang tidak akan mempercayai cerita itu tanpa bukti nyata. Kita harus mengumpulkan bukti terlebih dahulu."
"Tapi bagaimana caranya, Sara?"
"Aku sungguh minta maaf padamu karena harus meminta ini padamu," ucap Sara dengan sendu.
"Aku ingin kamu merekam semua apa yang dilakukan suamimu saat menyiksamu sebelum memaksamu bercinta dengannya dan maafkan aku karena kamu harus mengalami siksaan itu lagi sampai kita bisa mendapatkan bukti kekejamannya, saat bukti itu sudah didapatkan kita akan menuntutnya dan aku akan membantumu mencari seorang pengacara untuk melindungimu dan membela kasusmu di pengadilan nanti."
Shirley memucat saat mendengar apa yang ia minta tapi tanpa Sara meminta dirinya juga masih akan disiksa suaminya selama dia belum terbebas darinya. Suaminya sangat pintar karena hanya menyiksa tubuhnya saja yang akan tertutupi oleh baju sedangkan di bagian wajah dia hanya akan menamparnya beberapa kali, melarangnya keluar beberapa hari hingga tak akan terlihat lagi dan kulit bagian luarnya akan baik-baik saja. Bahkan Shirley tidak bisa berjalan selama tiga hari saat suaminya selesai dengannya.
"Aku rasa kamu benar. Tanpa kamu meminta aku juga akan terus mengalaminya sampai aku terbebas darinya atau mati," ucap Shirley pasrah.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Shirley mantap.
"Kebetulan aku punya kamera yang bisa merekam dalam gelap dan bisa disembunyikan hingga tidak ada yang akan menemukannya. Aku ingin kamu memasang kamera itu di tempat yang menurut kamu akan bisa merekam semuanya dan berhati-hatilah karena jika kamu sampai ketahuan aku tidak tahu apa yang akan suamimu lakukan padamu."
Dulu Sara pernah menolong temannya yang juga sering disiksa oleh suaminya hanya saja suami temannya itu tidak pandai menyembunyikan kebusukannya jadi semua orang bisa melihat jika temannya selalu dipukuli. Karena ia tidak tahan lagi, ia menawarkan untuk membantu temannya itu dan meminta sepupunya yang seorang pengacara untuk membantu temannya bercerai dari suaminya. Ia juga meminta temannya mengumpulkan bukti dengan merekamnya. Saat temannya terbebas dari suaminya dia mengembalikan kamera tersebut pada Sara dan ia bersyukur karena kamera itu sekarang bisa bermanfaat lagi.
"Tunggulah di sini, aku akan mengambilkannya untukmu."
"Baiklah."
Lima menit kemudian Sara sudah kembali ke ruang tamu dan memberikan kamera itu kepada Shirley.
"Aku sudah mencobanya dan semua bisa berfungsi dengan baik."
"Terima kasih, Sara."
"Jangan berterima kasih dulu padaku Shirley karena aku belum bisa melakukan apa pun untukmu dan bahkan aku tidak bisa langsung bertindak padahal tahu kamu akan kembali menderita. Tetaplah kuat demi anakmu, aku harap kamu bisa segera terlepas darinya."
"Terima kasih, Sara. Aku tidak peduli jika kamu belum bisa melakukan apa pun untukku. Yang penting saat ini hanya kamu saja yang peduli padaku dan mau membantuku. Keluargaku bahkan tidak peduli agar bisa terus mendapatkan uang dari suamiku dan tidak jatuh miskin, mereka bahkan rela jika aku harus mati karenanya," ujar Shirley begitu terluka.
"Hanya Eleina saja yang aku punya saat ini dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku senang bisa bertemu denganmu karena akhirnya aku bisa menemukan seorang teman yang peduli padaku bukan pada uang suamiku," sambung Shirley kembali.
Sara begitu terharu karena Shirley begitu memercayainya padahal mereka baru saja saling mengenal. Ia bertekad tidak akan mengecewakan Shirley dan akan membantunya semaksimal yang dia bisa.
"Terima kasih karena sudah percaya padaku padahal kamu baru mengenalku. Aku berharap aku tidak akan mengecewakanmu," timpal Sara sambil menggenggam erat tangan Shirley di pangkuannya.
Mereka saling menatap dengan mata yang berlinang air mata dan ia merasa seolah-olah dirinya dan Shirley sudah berteman begitu lama bukan hanya baru saling mengenal satu jam saja.
"Terima kasih, Sara. Jika sudah mendapatkan bukti apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"
"Kamu harus membawa bukti itu padaku."
"Tapi aku tidak akan bisa bangun dari ranjang selama tiga hari saat dia selesai menyiksaku, Sara."
Sara merasa sangat marah mendengarnya, tak percaya bagaimana mungkin ada laki-laki yang seperti itu. Kamu sudah pernah mengalaminya sendiri, Sara, bahkan di darahmu mengalir darahnya, ujar suara hati Sara.
"Apakah ada seseorang yang kamu percayai untuk mengantarkannya padaku?"
Shirley menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, semua orang tunduk padanya hanya karena uangnya."
"Apakah dia mengizinkan seseorang mengunjungimu?"
"Hanya dokter kepercayaannya saja yang dia minta untuk mengobati aku."
"Apa dokter itu tidak punya hati hingga hanya diam saja saat melihat apa yang terjadi padamu?" tanya Sara kembali merasa sangat marah.
"Uang bisa membuat seseorang buta akan hal apa pun."
Sara bingung apa yang harus di lakukannya.
"Bagaimana dengan anakmu? Berapa usianya?"
"Eleina berusia 19 tahun."
"Dan apa dia tahu apa yang terjadi padamu?"
"Iya, tapi aku melarangnya mencoba menolongku karena aku tidak mau Bill beralih menyakitinya. Dia beberapa kali mengajakku untuk kabur dari sana tapi aku takut Bill akan menemukan kami dan malah beralih menyakiti Eleina."
"Apakah suamimu mengizinkan teman Eleina datang berkunjung?"
"Beberapa kali teman-temannya pernah datang berkunjung karena mereka harus melakukan kegiatan belajar bersama dan Bill mengizinkannya sebab beberapa teman Eleina juga merupakan anak dari teman-teman bisnisnya dan anak orang-orang kaya, jika miskin dia tidak mengizinkan Eleina berteman dengan mereka karena Bill berharap bisa mendekati orang tua teman-temannya agar menyumbangkan dana untuk membantu kampanyenya."
"Aku sudah tahu caranya, aku akan menyamar sebagai teman anakmu dan masuk ke rumahmu. Jadi jika kamu sudah mendapatkan buktinya hubungilah aku. Ini nomor ponselku."
"Tapi bagaimana jika dia tahu? Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu," ujar Shirley ketakutan. Karena dirinya tahu bagaimana sifat Bill yang akan bertindak kejam saat ada seseorang yang menganggunya atau menghalangi dirinya untuk mendapatkan sesuatu dan entah apa yang akan dia lakukan jika orang tersebut mencampuri urusannya.
"Aku akan menanggung resiko itu dan aku akan berhati-hati, hanya minta anakmu agar mau membantuku."
Shirley kembali menangis, "Terima kasih, Sara. Aku bahkan baru mengenalmu tapi kamu sudah mau membantuku sedemikian rupa."
Mata Sara ikut berkaca-kaca mendengarnya dan hatinya merasa sesak karena melihat wanita lainnya kembali tersakiti. Seperti apa yang dialami oleh mamanya dulu dan Sara berharap dia tidak akan terlambat menolong Shirley seperti dia terlambat menolong mamanya.
"Aku tidak bisa berdiam diri saat mendengar wanita lain menderita tanpa membantunya dan apa kamu lupa? Aku adalah sahabatmu dan sahabat akan saling membantu di saat susah ataupun senang."
"Terima kasih, Sara," ucap Shirley dan memeluk Sara.
"Ya, bersabarlah dan berdoalah agar Tuhan membantu kita. Saat kamu tahu dia akan menyiksamu jika sempat beritahukan kepadaku agar aku bisa bersiap-siap menyusup ke rumahmu karena aku harus meminjam mobil sepupuku agar dia merasa yakin jika aku adalah anak orang kaya."
"Baiklah, Sara. Aku harus segera kembali sebelum Bill mencariku karena aku melarikan diri dari pengawalnya saat ini."
"Hmmm."
Sara mengantarkan kepergian Shirley yang tampak begitu ketakutan dengan perasaan tidak tenang.
Semoga aku bisa membantunya dan aku mohon Tuhan agar semua rencana kami dapat dimudahkan.