“Jujur! Lo jadian ya sama Redo?” tanya Wiska sambil menarik ujung seragam Auryn. “Beneran?” bisik Wiska seolah kepo.
“Bacot lo!!” maki Auryn ke Wiska dengan suara kencang.
Suasana kelas mendadak berubah. Bu Armin bahkan menghentikan penjelasaan setelah mendengar makian Auryn. Hampir seluruh siswa IPA dua menatap ke arah Auryn yang masih memejamkan mata. Sedangkan Wiska memilih pura-pura tak tahu.
“Kamu mengatai saya bacot, Auryn!!” kata Bu Armin dengan suara kencang.
Sontak Auryn menegakkan tubuhnya. Mata hitamnya bertemu pandang dengan tatapan tajam Bu Armin. Auryn lalu menoleh ke sekeliling, melihat teman-temannya yang menatap ke arahnya.
“Bukan, Bu,” jawabnya.
Bu Armin menunjuk Auryn. “Kamu tukar posisi sama Lika!”
Auryn sontak memberenggut. “Nggak perlu, Bu! Saya nyaman duduk sini.”
“Nggak ada bantahan, Auryn!!”
Mendengar perintah itu Auryn menghela napas. Terpaksa dia harus bertukar tempat. Auryn lalu menarik tasnya. Dia menoleh, mencari gadis yang bernama Lika itu. Saat melihat gadis berambut pendek berdiri, Auryn ikutan berdiri.
Duh gue jadi duduk di depan.
Auryn melangkah ke tempat duduk Lika. Saat hampir sampai di tempat duduk barunya, Auryn terkejut. Pasalnya dia harus duduk sebangku dengan Virgo.
“Cepat duduk, Auryn!” perintah bu Armin melihat Auryn yang masih berdiri.
Bola mata Auryn bergerak mendengar perkataan Bu Armin yang tak ada sabar-sabarnya itu. Auryn lalu duduk di samping Viro. Gadis itu duduk sambil menyangga dagu. Bersiap-siap jika sisa perlajaran akan semakin membosankan.
“Oh ya untuk praktikum minggu depan, buat kelompok yang terdiri dari dua orang. Sama teman sebangku saja biar mudah.”
Perkataan Bu Armin membuat Auryn sontak menoleh. Gadis itu menatap cowok berahang tegas yang fokus menatap buku. Auryn lalu mengangkat tangan. “Bu, kelompoknya pilih sendiri saja,” protesnya.
“Tiga kali kamu mengacau kelas saya, Auryn!!”
Bibir Auryn mencibik. Dia lalu menoleh ke Virgo. Satu alis Auryn terangkat, melihat Virgo yang mengulas senyum seolah mengejeknya.
“Gue nggak mau ya sekelompok sama cowok songong kayak lo,” desis Auryn.
Tanggapan Virgo hanyalah mengangkat bahu. Membuat Auryn berdecak kesal.
“Meski kata anak-anak lo pinter, gue nggak mau kelompokan sama lo,” kata Auryn lagi.
Virgo menghela napas panjang. Gadis di sampingnya ini cerewet sekali? tak seperti Lika yang lebih banyak diam. Tadi saat mendengar bu Armin meminta Auryn tukar tempat dengan Lika, Vrigo sempat kaget. Cowok itu menebak kalau Auryn pasti banyak omong. Dan sekarang terbukti.
“Sekarang coba kalian diskusi dengan teman sebangku untuk praktikum minggu depan,” pinta Bu Armin.
Beberapa siswa langsung berdiskusi. Sedangkan Auryn hanya menopang dagu. Dia tak mau berdiskusi dengan Virgo. Pun Virgo.
“Auryn, Vrigo. Kenapa diam saja?” tanya Bu Armin melihat dua orang itu sibuk sendiri. Auryn sibuk bertopang dagu sedangkan Virgo sibuk membaca buku.
Sontak Virgo menegakkan tubuhnya. Dia lalu menoleh ke Auryn yang tampak bosan itu.
“Kita pura-pura diskusi,” kata Virgo membuat Auryn langsung menoleh.
“Oke. Lagian mana mau gue sekelompok sama lo,” balas Auryn.
***
“Kakak sakit apa, Kak?”
“Gue nggak sakit!”
Auryn berjalan masuk UKS. Dia membaringkan tubuhnya di brankar lalu memejamkan mata. Belum sempat terlelap, dia merasa ada seseorang yang menyentuh keningnya. Sontak Auryn membuka mata tajam.
“Ngapain lo sentuh-sentuh? Gue nggak sakit!!” makinya ke siswa PMR yang berambut gelombang itu.
“Maaf, Kak. Cuma mastiin aja,” jawab gadis itu.
Auryn membuang napas sebal. Dia lalu memejamkan mata. Suasana istirahat membuat suasana UKS tak setenang biasanya. Suara bising dari luar masih terdengar cukup kencang. Padahal Auryn butuh suasana tenang. Sebelum bel istirahat dia dibuat kesal karena Virgo yang sok itu. Mengajak pura-pura diskusi tapi cowok itu hanya diam saja. Mana ada diskusi seperti itu? atau cowok itu terbiasa diskusi dalam hati?
“Ck!” Auryn berdecak ingat dengan cowok itu.
Tak lama ada seseorang masuk ke UKS. Siswa yang berjaga UKS langsung mengajukan pertanyaan. “Kakak kenapa?” tanya siswi yang tadi juga menanyai Auryn.
“Jariku kena ring basket. Ada obat merah?”
Suara itu sangat tak asing di telinga Auryn. Dia membuka mata lalu menatap cowok yang berdiri miring itu. “Yohan!” panggilnya.
Yohan yang berdiri di depan pintu seketika menoleh. Dia kaget melihat pacarnya berbaring di brankar. “Loh. Lo kenapa, Ryn?” tanya Yohan sambil berjalan mendekat.
Auryn melirik ke dua siswi yang menatapnya itu. Jelas sekali jika dia siswi itu tak suka dengannya. Auryn tersenyum miring, sadar jika dua siswi itu pasti fans Yohan.
“Gue pusing. Ngantuk,” jawab Auryn setelah itu menatap Yohan.
“Maaf, Kak. Tangan kakak harus diobati dulu,” kata siswi berambut gelombang.
Bola mata Auryn berputar. Bosan melihat kemodusan adik kelas itu. “Sini-sini obat merahnya! Biar gue yang obatin!” kata Auryn setelah itu bangkit. Dia mengambil obat merah dan plester dari gadis di depannya itu.
“Makasih ya,” jawab Yohan ke siswa itu. Jelas perkataan Yohan semakin membuat Auryn sebal. Apa tidak bisa Yohan tak selalu bersikap ramah? Membuat cewek di luar sana kebaperan sendiri.
“Sopan banget sih!”
Mendengar nada ketus Auryn, Yohan terkekeh. “Kenapa sih kok marah-marah?”
“Heran, ada gue ceweknya masih aja dia modus. Lo juga gitu sopan banget ke dia. Pasti dia seneng,” gerutu Auryn sambil menatap dua siswi yang menunduk tampak sibuk sendiri itu.
Yohan mengartikan jika Auryn tengah cemburu. Bisa dibilang, Auryn selalu tak suka kalau Yohan bersikap lembut dan sopan ke cewek lain. Aneh memang, harusnya Auryn bangga punya pacar seperti itu. Namun, dia tak ingin kebaikan Yohan disalah artikan oleh para cewek-cewek di luar sana.
“Gemes banget kalau lagi cemburu gini,” kata Yohan sambil mencubit pipi Auryn.
Auryn ingin marah, tapi bibirnya malah mengulas senyum. “Sini tangannya!” perintahnya untuk melupakan kejadian barusan.
Tangan kanan Yohan terulur, memperlihatkan jari manisnya yang terluka. Auryn dengan sigap mengusap luka itu dengan obat merah. Setelah itu menutupnya dengan plester.
“Lo mau di sini? gue temenin ya,” ucap Yohan. Dia balik badan, menarik kursi yang berada di ujung ruangan mendekat ke brankar lalu duduk menghadap Auryn.
“Udah berbaring! Katanya tadi pusing sama ngantuk.”
Auryn menuruti ucapan Yohan. Gadis itu berbaring dengan kepala menoleh ke Yohan.
“Lo nggak latihan? Biasanya istirahat masih main basket.”
Yohan menyentuh puncak kepala Auryn dan mengusapnya lembut. “Kali ini enggak deh. Pacar gue habis cemburu, masa gue tinggal.”
“Bisa aja lo!”
Tangan kiri Auryn mengacak rambut Yohan pelan. Saat itulah ekor mata gadis itu melihat dua siswi itu menatapnya. Sontak Auryn menoleh, menatap dua orang itu. “Jangan lihat-lihat gue bukan tontonan!”
“Sstt!! Udah tidur,” kata Yohan tak ingin ada pertengkaran.
Auryn memberenggut. Dia lalu memejamkan mata karena rasa kantuk yang semakin menyiksa.
“Emm. Gimana kondisi mama lo?” Auryn ingat dengan pesan Yohan semalam.
Gerakan tangan Yohan terhenti. Dia menatap ke jendela luar dengan pandangan menerawang. “Udah membaik kok. Mama gue kena magh.”
“Kenapa lo nggak bilang ke gue?”
Meski Auryn dan Yohan tak pernah memperkenalkan ke orangtua masing-masing, mereka cukup terbuka dengan kondisi keluarga mereka.
“Nggak mau ngerepotin lo,” jawab Yohan. “Tapi sekarang mama gue udah sembuh kok.”
Auryn tersenyum, ikut senang mendengar kabar itu.
“Oh ya gue punya sesuatu buat lo,” kata Yohan sambil berdiri. “Lo tunggu sini,” lanjutnya setelah itu berlari keluar UKS.
Melihat kepergian Yohan, Auryn mengernyit. Entah kenapa cewek itu mulai panik. Dia berharap Yohan tak memberi kabar buruk.
Drtt!!
Tiba-tiba ponsel di saku kemeja Auryn bergetar. Dia mengambil benda itu dan membuka pesan dari Redo.
Redo: Lo ngapain di UKS?
Auryn: kok lo tahu?
Redo: barusan gue ngintip. Lo sakit?
Auryn: Enggak. gue cuma ngantuk.
Redo: sial banget Yohan yang tahu duluan. Kalau gue yang tahu dulu pasti gue nemenin lo.
Ibu jari Auryn bergerak hendak membalas pesan itu, tapi derap langkah itu terdengar. Buru-buru Auryn meletakkan ponsel di samping tubuhnya. Dia menatap Yohan yang berjalan ke arahnya dengan kedua tangan berada di belakang.
“Coba tebak gue bawa apa?” tanya Yohan.