Dua malam terakhir ini, Eiji sering di ganggu oleh suara auman yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya. Dan ketika ia memejamkan mata, kadang ia melihat bayangan makhluk buas namun tak begitu jelas. Semilir angin yang tiba-tiba menggerakkan penutup jendela di dalam kamar membuat ia tanda tanya? Dan ketika Eiji memeriksa suara langkah kaki yang ia dengar di luar kamar, tapi ia tak menemui apa pun.
Eiji rasa teror yang datang selama dua malam berturut-turut ini padanya memang ada kaitannya dengan dosen Eliosia. Bahkan ia meyakini di balik pertemuannya dengan Eliosia sudah di atur rapi oleh dosen tersebut, hingga buktinya besok mereka Eiji akan pergi bersama dengan Eliosia. Eiji juga sangat meyakini dosen itu bukan manusia biasa tetapi makhluk buas karena ia pengguna kekuatan Dark Eyes yang mampu melemahkannya pada hari lalu dan mungkin juga dosen itu adalah musuh atau dari kalangan makhluk buas lain.
Sementara untuk Eliosia, bisa saja ia hanya di manfaatkan oleh dosennya itu, dan bisa saja ia adalah komplotan dari mereka. Tetapi melihat tingkah laku dan cara dia berbahasa, jauh dari tanda-tanda bahwa Eliosia adalah makhluk buas, itu menurut pandangan Eiji. Maka ia menyimpulkan bahwa dosennya memperalat Eliosia sebagai perantara untuk mendekatinya. Dan mungkin juga dosen tersebut memiliki tujuan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan Eiji melalui Eliosia.
Jam satu siang pada hari minggu di musim semi, berdasarkan janji yang telah mereka sepakati. Akhirnya mereka pergi ke festival the Berlin Carnival of Cultures. Karnaval Budaya merayakan keragaman budaya di Berlin. Kostum, tarian, musik, ritual - karnaval adalah kesempatan besar bagi anggota kelompok etnis Berlin untuk membuat budaya mereka terlihat dan bagi semua orang untuk melihat dan merayakan keragaman budaya.
Sorotan dari Carnval of Cultures parade jalanan Pentakosta di Kreuzberg di mana ribuan penari, musisi dan artis tampil dan sekitar setengah juta orang dari seluruh dunia berbaris di jalanan. Pawai dimulai pada siang hari di Yorckstraße / Großbeerenstraße dan bergerak ke timur di Gneisenaustraße dan Hasenheide menuju Hermannplatz di Neukölln.
"Ekspresi identitas budaya hibrida yang membanggakan.” Ucap salah satu pengunjung.
Selama empat hari Karnaval Budaya, festival jalanan berlangsung di Blücherplatz di distrik Kreuzberg. Di beberapa panggung, panggung Musik Dunia Berlin dan band internasional memainkan konser. Stiltwalker, akrobat, dan pesulap mengundang pengunjung untuk menguji kemampuan mereka sendiri. Sekitar 300 kios pasar menarik pengunjung dengan godaan kuliner, seni, kerajinan tangan, dan masih banyak lagi. Puncak dari festival ini adalah parade jalanan Karnaval Budaya pada Minggu Pentakosta, yang menampilkan ribuan penari, musisi, dan seniman jalanan yang tampil di hadapan setengah juta penonton.
“Nikmati saja beberapa tahap dengan konser dan pertunjukan Internasional, paviliun dengan makanan dan minuman. Pasar seni dan kerajinan. Dimana kita dapat menjelajahi harta dari seluruh dunia.” Ucap Eliosia dengan keras pada ketiga temannya.
Melihat gemuruh riuh, Nicholas menari-nari meniru tarian pengunjung di tepi festival. Sesekali dia menari di depan Kayshifa sambil tersenyum, “Ayo Kayshifa, nikmati acara megah ini!” Ucapnya. Jelas wanita berdarah biru itu menolaknya.
Sementara Eiji bagai bule dari luar Jerman yang sengaja berkunjung dalam acara festival, setiap dia melihat sesuatu yang tidak ia ketahui, ia tanyakan pada Eliosia. Apalagi hari ini Eliosia terlihat paling cantik ketika mengenakan Dress berwarna merah muda selututnya, rambut hitamnya di kepang dan berkacamata hitam. Membuat Eiji betah memandangnya.
Ketika Eiji dari tadi bergumam tentang keinginan dalam hatinya, seketika itu pula Eliosia mengajaknya berdansa di tengah keramaian pengunjung. Eliosia tersenyum lalu berkata “Ayo kita nikmati musim semi dengan berdansa.” Eiji malah menggelengkan kepala, ia menolak dan mengatakan tidak tahu bagaimana caranya berdansa. Ini bukan film Bollywood, dimana Eiji pura-pura menyembunyikan keahlian berdansanya dan nanti ia akan tiba-tiba membuat kaget Eliosia karena ternyata ia memandu penari ribuan di festival ini. Bukan, tetapi Eiji itu layaknya sebuah pohon, bila di terpa angin maka akan gerak, tetapi jika tidak, dia akan lebih diam dari pada sebuah patung.
Eliosia berulang kali memaksa dan meyakini Eiji bahwa dansa itu adalah gerakan yang cukup mudah, kaki hanya di maju Mundur kan, samping kanan kiri kan dan pinggul sedikit di gerakkan, agar mantap, ikuti irama musik, selesai. Berdansa itu bukan sesulit pernyataan tentang kenapa ikan tidak bisa memanjat pohon? “Dan lagi pula kita tidak sedang berdansa di atas panggung di tonton ribuan orang, jadi kita berdansa sewajarnya saja,” Kata Eliosia sambil tersenyum.
“Ikan Mudskipper bisa memanjat pohon Eliosia, itu bukan hal yang sulit. Yang sulit itu berdansa ini,” Sanggah Eiji sambil mengangkat tangan.
“Sudahlah Eiji. Buang dulu sisi kegelapan mu, sekarang keluarkan sisi kecerahan mu! Aku tahu kamu seorang pendosa,” kata Eliosia sambil berpura-pura jadi malaikat pencabut nyawa.
“Baiklah,” Sahut Eiji. Setelah itu Eliosia akhirnya mengulurkan kedua tangan dan di sambut pula dengan cepat oleh Eiji.
Eliosia sambil memandu Eiji tentang tempo gerakan kaki serta pinggulnya. Tetapi tetap saja gerakan kakinya kaku dan setiap kali salah, namun mereka tetap menikmatinya. Saat Eliosia ingin memutar gerakan dansanya. Eiji sangat kaget, ia kira itu bukan gerakan dansa tetapi sesuatu kecelakaan. Eiji langsung menarik Eliosia dengan kuat hingga mendarat keras di dekapannya, Sampai kepala mereka saling berbenturan dengan keras.
Eliosia mengerang kesakitan. Ia langsung bertindak mengelus pelan di bagian titik kepala Eliosia yang sakit sambil mengucapkan maaf.
“Oh, tidak apa-apa. Aku yang minta maaf memaksa orang yang sangat kaku,” Sahut Eliosia sambil mengajak ke tempat berikutnya. Sambil berjalan, Eiji membatin “Ternyata benar.”
“Hei, aku memiliki rencana,” kata Kayshifa teriak pada Eiji dan Eliosia di depannya. Keduanya berhenti melangkah, lalu menoleh pada arah Kayshifa, “Aku tidak terlalu senang dengan keramaian. Bagaimana jika kita habiskan musim semi ini dengan berjemur ke pantai?” Sambungnya.
“Setuju,” teriak Nicholas dari belakang. Setelah mereka berkumpul di tengah keramaian, Nicholas langsung melanjutkan pendapatnya “Tetapi festival ini terlalu megah untuk kita tinggalkan. Bagaimana rencana itu kita lakukan minggu depan saja?” tanya Nicholas pada Kayshifa.
Eliosia sedikit keberatan meninggalkan festival, lalu berkata “Lagi pula kita belum ke tempat berikutnya. Kalian tahu, di ujung sana ada minuman favorit ku. Aku yakin lidah kalian juga menyukainya.”
Sampai di ujung tempat minuman favorit Eliosia, ia pun memesan minuman dengan bahasa Jerman ke satu kedai yang di jaga oleh cewek-cewek pirang asli Jerman. Banyak sekali minuman tradisional Jerman, namun Eliosia memilih dan menyarankan agar teman-temannya memilih minuman yang sama. Karena ia tahu minuman ini belum pernah di kenal oleh masyarakat luar Jerman. Yaitu Schorle minuman tradisional Jerman.
“Schorle ini terdiri dari campuran jus buah dan air mineral. Sama halnya seperti punch. Minuman ini juga biasa dinikmati saat olah raga dan kegiatan-kegiatan lain yang memerlukan fisik.” Jelas Eliosia sambil.
“Jadi cocok untuk kita,” ucap Eliosia kembali.