Eliosia Zanquen

1033 Words
Bermula ketika musim gugur tiba, yang berlangsung pada bulan September. Dengan daun-daun yang berwarna kuning, merah, hingga cokelat dipadukan dengan pemandangan yang sangat indah. Eiji menemui Uzimi di bawah pohon dimana bunga-bunga seruni berjatuhan.  Apa yang di khawatirkan Eiji benar terjadi, setelah hatinya di sambut baik oleh Uzimi, kini gadis yang ia kenal dua bulan lalu itu memiliki niat untuk melupakan segala cerita selama berhubungan dengannya. “Maafkan aku,” ucap Uzimi sambil menangis di antara bunga berguguran. Hubungan mereka di ketahui oleh tua Uzimi, sementara di kalangan masyarakat banyak cerita beredar bahwa keluarga Eiji adalah mafia besar yang tak segan membunuh orang bila permasalahan tak bisa di atasi dengan baik, dari itu orang tua mengkhawatirkan Uzimi jika berhubungan terlalu larut dengan Eiji.  “Apa yang kamu katakan?” Eiji terheran. Jelas di matanya menampung kepedihan. Namun Uzimi enggan memberitahu alasannya memutuskan hubungannya dengan Eiji secara jujur, ia hanya mengatakan bahwa usia mereka terlalu dini untuk berpacaran. Padahal di balik bola mata indah Uzimi tersirat suatu penderitaan yang sangat mendalam. Kemudian Uzimi pergi meninggalkan Eiji sendirian, langkahnya diiringi tangisan dan bunga-bunga indah berguguran. “Hei Uzimi,” teriak Eiji. “Apa kamu lupa pernah tersenyum bahagia di hadapan mu, kamu tunjuk pada ku tentang kegemaran mu. Apa yang kamu pikirkan tentang itu? Ketika kamu mengucapkan hal itu pada ku dengan tulus, aku juga merasakannya dengan tulus bahwa memang kamu benar-benar cinta pada ku. Uzimi... Di bawah pohon musim gugur itu Eiji mengucapkan ikrarnya bahwa sampai kapan pun ia tak akan menyukai wanita, semenjak itu pula perubahan karakter terjadi pada dirinya. Ia selalu diam, menyepi sendiri dan tak pernah lagi melakukan suatu keusilan.  Di kantin kampus saat ini, di antara gaduh dan ramainya suara para pengunjung kantin, di depan Kayshifa dan Nicholas Eiji terdiam dengan tatapan kosong sambil mengetuk meja dengan jarinya. Eiji memikirkan apakah ia mempertahankan ikrar sumpah serapahnya atau melanggarnya. Sesekali benaknya berkata bahwa ikrar itu adalah ikrar palsu yang ia ucapkan ketika tidak tahu menahu tentang cinta, tentang suatu perasaan terhadap wanita. Kalau itu selain menganggap Uzimi sebagai pacarnya, ia juga menganggap Uzimi teman satu-satunya sebab Eiji lebih merasakan puncak dan keistimewaan memiliki seorang teman yang peduli padanya. Ia pun menyadari betapa menyedihkannya dia, kenapa di musim gugur kala itu ia menggugurkan tangisannya pula hanya gara-gara di tinggal wanita.  Eiji mulai bingung dengan isi pikiran dan batinnya. Di lain sisi, ketika ia melanggar ikrarnya berarti warisan keluarga yang memegang teguh keyakinan ketika mengucapkan ia langgar. Bagi keluarganya itu perlakuan seorang pengecut dan selama ini keluarganya tidak pernah melanggar janji yang di ucapkan oleh lisannya sendiri. Untuk membuyarkan lamunan Eiji, Kayshifa tak berani dan enggan melakukannya. Ia anggap lamunan adalah fantasi terhebat manusia dari itu biarkan Eiji tenggelam dalam lamunannya dan akan terbit pada waktunya. Dan Nicholas sendiri sebenarnya ingin membuyarkan lamunan Eiji, tetapi ia berpikir lagi ketika Eiji ia ganggu maka bisa saja ia tidak bisa menikmati wajah cantik Kayshifa.  Nicholas selalu tersenyum sendiri ketika memandangi Kayshifa Hingga kegilaan Nicholas itu membuat Kayshifa risih dan tambah jengkel padanya. Saat Kayshifa sudah tidak bisa membendung amarahnya, ia mengangkat gelas di depannya dengan geram, ketika ia ingin melemparkan gelas di tangannya itu pada Nicholas, sapa wanita misterius di belakang Eiji.  Seakan sapaan wanita itu adalah gema lonceng yang berhasil membuyarkan lamunan Eiji dengan cepat. Seakan pula Eiji telah mengenali bau harum wanita itu hingga ia tersadar dan langsung menoleh padanya. “Hei, maafkan aku,” ucap wanita itu. Eiji rasa dia seharusnya yang minta maaf padanya karena dengan lancang ingin mencampuri urusannya. Lalu Eiji mempersilahkan wanita itu duduk bersama mereka.  Mereka bercerita, wanita yang memperkenalkan dirinya bernama Eliosia Zanquen itu berasal dari keluarga seniman, lahir pada tanggal 20 November 1997 di Munchen, Jerman. Mereka baru tahu, ternyata Eliosia seangkatan dan satu Fakultas dengan mereka, hanya saja Eliosia di kelas yang berbeda. Katanya, di hari pertama ia memasuki pintu kampus, datang ketiga bandit-bandit kemarin menghampirinya. Mereka Memaksa hingga mengancam akan mengganggu Eliosia terus-menerus jika ia tidak memenuhi permintaan mereka.  Akhirnya Eliosia menyepakati hingga menjadi ekor ketiga bandit-bandit kemarin. Sebelum ke kantin mereka membawa Eliosia keliling kampus, lalu memamerkannya pada semua mahasiswa bahwa mereka memiliki w***********g lalu menunjukkan Eliosia. Wanita berdarah asli Jerman itu memang cantik, ia berwajah oval, memiliki mata bulat dan bibir yang segar. Apalagi mengenai bentuk tubuhnya, tinggi semampai memesona bagai seorang malaikat yang memang turun dari tempat paling indah.  Eliosia mengucapkan beribu-ribu terima kasih pada kelompok Eiji terutama pada Nicholas, karena selama dia di pamerkan keliling kampus tidak ada yang berani membela dan menantang tindakan mereka. Baru setelah mereka masuk ke kantin ada yang berani melawannya. Ketika ditanya alasan kenapa Eliosia tidak marah dan malah menghalangi Nicholas menghajar ketiga bandit-bandit kemarin, ia menjawabnya tidak sama sekali marah dan malah kasihan pada mereka. Dan berkat mereka, nama Eliosia di kenal dan dapat mengobrol langsung dengan pria yang Eiji temui di kelas. Katanya, pria itu adalah dosen yang ternyata kebetulan adalah teman akrab ayahnya. Dosen itu mengancam akan memberitahukan ayah Eliosia mengenai perlakuan pelecehan oleh bandit-bandit itu padanya, supaya para bandit itu di keluarkan dari kampus.  Tetapi Eliosia menolaknya, memang benar ia di permalukan tetapi ia masih memiliki empati dan memandang bahwa orang tua para bandit itu sangat berharap anak mereka bisa menyandang gelar sarjana di kampus megah ini. Maka dari itu ia tidak ingin menjadi penyebab air mata orang tua mereka jatuh lantaran mereka di keluarkan dari kampus. Eliosia teringat, ketika ia masih kecil pernah bertemu dan berkenalan dengan pria yang selalu membuatnya kaget. Setiap sore hari pria sebaya dengannya itu selalu bercerita tentang keluarganya. Ia mengaku tak betah di rumah karena selalu di mendengar kegaduhan pertengkaran kedua orang tuanya. Eliosia juga mengaku bahwa ia pernah mendatangi keluarga pria itu lalu ia menangis di depan ibu dan ayahnya dan meminta supaya mereka menghentikan pertengkaran. Eliosia juga bercerita tentang keinginan temannya bahwa jika kedua orang tuanya tak kunjung berdamai maka ia berencana meninggalkan rumah selamanya. Namun akhirnya mereka tersadar dan menangis di pelukan Eliosia, Mamanya berkata bahwa pertengkaran mereka di akibatkan karena hanya beda pendapat mengenai anak mereka nanti akan di sekolahkan dimana.  “Tapi sudahlah, itu sama sekali tidak penting. Bagaimana demi menebus kesalahan ku, aku ajak kalian keliling Jerman,” rayu Eliosia sambil tersenyum. “Setuju.” Sahut mereka bertiga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD