Sejatinya apapun yang mampu terindra, pada detik bergulirnya waktu, semua sudah berubah. Waktu terus berderap maju, bahkan berlari seperti deret ukur. Tak ada yang sama, tak terkecuali perasaan. Tapi, dengan semua pencapaian ini, Ayu merasa gamang. Terlalu diliputi kalut. Dia mematah-matahkan jarinya beberapa kali untuk mengusir rasa yang menganjal itu.
“Ada, continuity …?”
“Nope!”
“Seriously …? Takutlah dekat, you.”
“Just sample size, Bei.” Ayu berusaha meyakinkan senior engineer berkacamata minus tebal itu. Meski sebenarnya ia lebih dari gemetar. Suhu ruangan yang mencecah 19 derajat celcius membuat giginya gemeletuk.
Dari depan handler dan mesin tipe symtex yang digunakan, pria itu dengan langkah panjang, sedikit terburu-buru, memutar ke arah depan tester. Dia bersedekap, mengamati layar juga pergerakan binner dengan seksama. Semua unit masuk dalam binner 1 dan 3. Artinya, semua unit pass, tanpa reject.
“You tadi baca doa, ya? Atau, jangan-jangan, tester tak connect dengan mesin?” sengih A Bei persis 'Babe The Sheep Pig', dalam versi masa puberitas.
Dasar, babi sialan. Ternyata sekian tahun berlalu, senyumnya masih saja mengerikan, umpat Ayu dalam hati.
“Hai, you tau, Andara masih kerja sini?”
Dalam hitungan menit, nama itu langsung tercetus. Ayu hanya menanggapi dengan mengedikkan bahu. Yah, dia tahu pria ini memang miang bin jelalatan. Tak heran di lingkaran pertemanan A Bei, Andara dianggap perempuan gatal. Yang herannya, bisa-bisanya dia naksir pada tipe kalem bidadari calon penghuni surga. Bisa dibilang Andara hanya berbicara kalau perlu. Mendata beberapa trial lot atau yang sifatnya urgent.
"Taulah. You masih minat dia, ke?"
A Bei meringis, lagi-lagi mirip 'Babe The Shpee Pig'.
Oke, dari belakang A Bei terlihat seperti Jay Chou, tapi dari depan dengan jarak sehasta, seiras dengan Cut Pat Kay. Jadi, tahu alasan kenapa dia tak pantas mendapatkan bidadari. Banyak orang memerli. Semua pembicaraan A Bei kalau itu berhubungan dengan Andara, pasti menjadi bahan lelucon.
“Kalau you maukan Andara, harus rela memotong Mr.Perkutut!” ungkap Azlan salah satu teknisi senior.
“Biar, betoi!” ujar A Bei tak mau kalah. Sok keras, meski seperti biasa, hanya menepis ketakutan. Dia pucat. Seandainya ada pisau untuk menoreh, pasti tak ada darah di sana.
Namun, sekembalinya dia dari San Jose, California. Yah, customer Power Red berasal dari San Jose, USA. Sebagai engineer paling expert, IQ mumpuni, meski sebenarnya bagi beberapa orang, Mustafa lebih mumpuni. Yah, bukan rasis, tapi A Bei mendapat sokongan dari lebih banyak orang besar.
Waktu itu, A Bei tiba-tiba saja mengajak beberapa orang berkumpul, beberapa teknisi. Seperti Raj, Azlan juga Imran. Minus Andara, tentu saja. Diskusi tentang, sunat. Untung saja, hanya kasak-kusuk. Dia mendapat pencerahan tentang sunat. Ternyata mayoritas warga USA, meski bukan muslim, tetapi melakukan sunat. Dengan tujuan kesehatan. Dia bahkan menyibukkan diri dengan mengulik data.
“A Bei. Saya nak tanya, boleh?” Pertanyaan nakal itu tiba-tiba saja melintas di kepala Ayu. Memandang tempat yang sama. Persis sama seperti bertahun silam.
A Bei menjuih bibir, sambil mengedikkan bahunya. “Mestilah boleh. Nak, tanya ape? Tapi kena bayar, tau. Maklum, bonus tahun ini kena sunat. One question, dua ringgit.”
Ayu memutar bola matanya sebagai bentuk protes. Dia memandang persekitaran. Lampu-lampu handler yang menjulang berwarna hijau yang bermakna mesin sedang running. Banyak juga yang berkedip kuning atau merah, menandakan mesin dalam keadaan tak baik.
“Pada jaman dahulu, balik saja dari San Jose, em …. Oke, you ... jadi sunat, ke? Saya, lupalah.”
A Bei langsung memukul kepala Ayu dengan gulungan kertas A4. Entah bila masa pria itu mengulungnya. Kertas summary unit IC yang sedang testing.
“Dah balik kampung sekian tahun, otak you tak kena calibrate, ke?”
“Fuyooo … jangan marah! Oke. Jadi, belum upgread lah?” kekeh Ayu rancak.
“Kao bei! Mulut busuk!
A Bei mengarahkan lagi gulungan kertas summary, menyambit kepala Ayu. Meskipun terlihat pelan, tetapi suara pekikan tertahan itu membuat beberapa orang yang melewati mesin mereka tersenyum sendiri. Mungkin mengangap hal tersebut adalah satu sesi reuni.
“Berembus, sana! Ben dan!” Tawa Ayu menyembur, karena berhasil membalas u*****n b******k itu. Meski sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Wajah A Bei seketika memerah, bukan karena marah, lebih kepada terkejut karena makian kasar yang termuntah begitu saja dari mulut Ayu.
“Just tell me, what should I do to help you? You, rindukan Mustafa atau Andara? Dasar b***k kecik, miang!”
Postur A Bei yang tinggi tegap itu memang mengintimidasi siapapun. Hampir 190. Ayu yang berdiri berhampiran dengannya seakan pokok pisang dengan tunasnya.
"Yup! Miang, ya.” Ayu menghamburkan tawa, meski sesaat tadi dia sempat terkedu mendengar penuturan seniornya tersebut. Seakan dihantam palu godam, lalu muncul pecahan bintang yang tak ingin dihitung berapa jumlahnya.
Seketika, dia teringat Andara. Yang tak pernah menyuarakan perkataan kesat. Ya, gadis itu selalu memilah setiap tutur katanya. Namun, ketika perang dingin itu berlangsung, Andara meluahkan kata keramat itu.
“Kamu tahu, perempuan baik-baik pun senantiasa dilingkupi fitnah keji, ketika dia memutuskan keluar dari cangkang paling nyaman, yaitu rumah. Jadi, tak payah bersusah diri untuk menjadi sosok miang. Mengatal sana-sini. Sayang! Kamu masih muda. Berbuat keji lagi unfaedah macam, itu!”
Seingatnya dahulu, keadaan keruh itu karena Andara dekat dengan Mustafa. Menyukai orang yang sama, dan dirinya merasa kalah telak. Namun, Andara senantiasa berkelit, bahwa tak akan ada kisah melankolis selama dia bekerja di sini.
Tidak ada lagi suara handler yang mendeteksi unit IC. Baik A Bei maupun Ayu sama-sama terdiam. Sesekali terdengar helaan napas mereka.
A Bei seperti tanggap. Ayu merespons lain, dengan apa yang tiba-tiba melintas dalam kepalanya. “Sorry, ya. I gurau, je. Jangan ambik hati, ya, Kecik!” katanya sambil menepuk kepala Ayu. Hanya sebuah jawaban asal untuk menutupi keriuhan dalam hati.
Ada yang tidak sama lagi ketika Ayu sudah berada di sini. Tempat dahulu dirinya mencari makan. Meski dia patut bersyukur, tiga bulan masa trainingnya bukan di Neutech Batam, tapi justru di Neutech Malaysia. Ini adalah peluang untuk kembali bangkit, meski dibayangi kekhawatiran, cabang Batam akan tutup.
Yah, tidak banyak yang tahu kalau Ayu merantau ke negeri jiran dengan dokumen palsu. Dia datang saat usianya belum genap 16 tahun. Tanggal lahir dan ijasah palsu. Hanya foto, nama, juga sidik jari pada paspor saja yang asli. Kenapa bisa? Tanyakan pada agen tenaga kerja yang merekrut.
Ah, apa keberadaannya di sini dahulu, termasuk human traffic? Mungkin? Bisa iya, bisa juga tidak. Meski tidak menolak besaran nominal yang dia dapat. Toh, banyak agen yang benar-benar melakukan survei kondisi syarikat yang dituju, apakah cukup valid. Jenis pekerjaan, fasilitas gaji, asrama yang tak kalah penting adalah asuransi.
Bersyukurlah, orang yang pertama mengetahui keberadaannya sebagai buruh migran di bawah umur adalah Andara. Semua terbongkar, saat Ayu mengalami menstrual pertamanya. Andara terperanjat, ketika menelusuri bahwa semua dokumennya adalah palsu. Nasib baik, semua yang tahu akhirnya tutup mulut.
Masa di mana sebelum Andara melempar diri pada departemen tes.
Dipandang dari sudut manapun, harusnya kerja di HRD lebih nyaman. Entah apa yang ada di benak Andara waktu itu, Ayu tidak cukup keberanian untuk menanyakan. Dia hanya merasa tak enak hati, andai hal yang menyebabkan Andara keluar dari zona nyaman itu karena dirinya. Ya, meski ketika masuk line, level dia langsung mentereng. Engineer Operator, yang kedudukannya satu tingkat di atas leader.
Dia juga satu dari dua orang yang mati-matian mendorong Ayu untuk tidak berlama-lama di sini. Mendorong harapan agar melanjutkan sekolah. Minimal SMA, nasihatnya kala itu. Kalau ada rejeki, kenapa tidak menggapai impian untuk sampai menara gading juga.
Meski semua terasa berat. Karena Ayu anak bungsu dari tujuh bersaudara. Sedangkan semua saudaranya, tidak ada satupun yang mengenyam pendidikan lebih dari sekolah lanjutan pertama.
Diam-diam Ayu begitu memuja Andara. Cantik, pintar, dan pandai menjaga diri. Meski beberapa kali ada benturan dengan beberapa orang, dia selalu yang pertama melafaskan kata maaf. Prinsipnya; ada yang suka alhamdulillah, ada yang membenci ya, disyukuri. Dipuji tak akan terbang, dihina pun tak akan tumbang.
“Hidup di negeri orang, kenalah hati-hati.” Nasihatnya kala itu. Andara adalah sosok idolanya.
“Woi … melamun.” A Bei memetik jari persis di depan wajah Ayu, menghancurkan kastil lamunannya. “Janganlah marah, nanti tak comel.”
A Bei melangkah ke depan mesin. Mengambil tube, menekan binner 1, membuat unit meluncur ke dalam tube, lalu dengan plug hijau dia menutupnya. Mengulangi lagi sampai selesai. Memilah menjadi dua. Memberi label, binner 1 dan 3. Mengikatnya menjadi satu dengan getah, lalu mengangsurkan Ayu.
“Dala sekarang di shipping. Extention dia, 566, atau 565. Jaga beberapa customer. Dia itu, jenis b***k shipping yang suka sangat hilir mudik. Mungkin rindukan, I.”
Tanpa menunggu jawaban Ayu, A Bei melangkah menuju meja supervisor. Sepanjang jalan, dia memamerkan lagi sengihan maut khas 'Babe The Sheep Pig'. Tentu saja, trial lot berjalan lancar tanpa ada kendala.
Harusnya, mereka melakukan surat menyurat di PC atau laptop masing-masing. A Bei memang pengecualian. Pria itu langsung duduk menekuni LCD 15 inchi tersebut, larut mengetik umpan balik tanpa mengindahkan keberadaan sosok yang mengekorinya sejak tadi. Membuat Ayu mendekus kesal. Namun tak lama, hati gadis itu mekar juga, ketika ikut melabuhkan diri di samping pria itu. Apalagi melihat namanya yang dicatut dalam kolom kopi karbon email. Apakah dengan melihatnya seperti ini, Andara akan lega, mesra seperti dahulu lagi?
“Berapa lama you, training?” A Bei menaikan alisnya.
“Kenapa tiba-tiba melemparkan pertanyaan bodoh. Ada email. Tak paham baca?”
A Bei menepuk ruang kosong itu, tak endah atas kemarahan Ayu. Jari pria 35 tahun itu cepat saja menari di atas butang telepon yang terletak persis di samping PC. Lebih tepatnya terjepit antara PC dan printer. Dia mendial nomer yang baru saja disebutnya sebentar tadi.
Entah kenapa, tiba-tiba perasaan Ayu menjadi gerun. Sebenarnya sejak awal, di sela-sela training sudah mengekori keberadaan Andara dari jauh. Masalahnya, dia mengikuti semua perjalanan trial lot dari assembly hingga testing. Tentu saja, belum ada kesempatan untuk bertatap muka secara langsung.
“Shipping, here?”
“Can I speak with Andala Puti?” laung A Bei sedikit keras sambil menyerahkan gagang telepon. Namun, Ayu memohon, sambil mengangkat tangannya, menyilang di d**a. Dia belum sepenuhnya siap. Entahlah, Ayu merasa suasana hatinya menjadi kelabu, diterjang gugup.
“Andara, not here!” jawab suara di seberang.
“Merayau kat mana, dia, hah?” gumam A Bei. Ia menduga Andara jalan-jalan tak tentu arah ke mana.
Ada suara mesin printer yang masuk pada saluran telepon, membuat A Bei sedikit menjauhkan gagang telepon.
“Sorry, Andara ada di line others! Ambil lot MST,” laung satu suara menyahut di talian.
Ayu mengangkat mukanya berhadap-hadapan dengan A Bei yang tersenyum penuh makna. Jeritan mesin yang jamming, suara ketukan jarum robotik yang beradu dengan unit IC, terdengar lebih nyaring ketika Ayu melepas ear plugs.
“Bila dia ada kat line, Andara tak akan lepaskan peluang jumpa, I.” A Bei mengedipkan sebelah matanya. Sedang Ayu memutar mata jijik.
------------