Drama

1664 Words
"Awak, umur berapa?" "Dua puluh dua." Anak baru itu menguntumkan senyuman, sewajarnya tanpa dibuat-buat, tanpa pemanis. Setiap ada orang baru, Andara selalu berpikir, apa ia dahulu juga seperti itu? Culun dan nyeleneh. Tapi, yang ini memang manis, imut. Dia mengamati dari jarak sekitar lima meter. Gadis itu terlihat lucu dengan uniform miring. Ketika dia menoleh berapa anak rambutnya terjuntai keluar. Gadis itu tampak tergagap, setiap kali mesin jamming, lalu suara alarm berdenging. Mesin hanya akan berhenti bila sumber kemacetan tersebut disingkirkan. Dia beberapa kali bertanya, memastikan tombol yang dipencet adalah betul. "Dah, kawin? Ups ... menikah maksudnya?" tanya Hasnida ingin tahu. "Belum." “Puan Hasnida, harap kembali ke mesin sendiri, ye!” laung Sazali sambil lalu. Supervisor shif normal bermata galak itu mengerling ke arah Andara yang maksudnya: tolong awasi! Perempuan berbibir tebal dengan gincu warna merah cabe itu asik bertanya tanpa melihat pada mata gadis itu, yang kini terlihat mulai gerun. Hasnida fokus pada monitor 14 inchi di atas mesin Ismeca yang menampilkan marking unit. "Sebelum ni, kerja kat mana?" lanjutnya bertanya. "Pabrik garmen." "Oh ... first time keja Malaysialah?" Ketidak nyamanan itu membuat si gadis hanya menjawab sebagai bentuk basa-basi, selebihnya, memilih mengangguk saja. Akhirnya, Andara berjalan mendekat, bukan karena ia kasihan, tetapi semacam panggilan hati. Merasa tidak rela anak baru diintimidasi, hanya karena parasnya yang rupawan. Kalau dibiarkan, sama artinya menanam ranjau kekacauaan. Benar-benar drama. "Puan Nida ... pegi kejo oi, payah macam acara temu duga," laung Andara. Menyuruh Nida melanjutkan kerjanya. Hasnida langsung mengerucutkan bibir. Jari telunjuknya bergerak hilir mudik pada dua mesin yang dia jaga, seakan seorang cikgu sedang menerangkan materi pada muridnya yang sedikit bebal. Sazali yang sedang menekuni sebuah summary dari meja supervisor berjarak sekitar sepuluh meter terkekeh melihat kelakarnya ketiga perempuan di depannya. Apalagi saat mendengar Andara mulai melaung mengalahkan bunyi jeritan mesin Ismeca ketika jamming. Jarang-jarang Andara berteriak. Mungkin karena Hasnida yang tak berhenti bertingkah. "Kamu sudah dapat, Big Sister?" tanya Andara pada gadis itu, yang disambut gelengan tak paham. Andara meraih lencana yang tergantung di d**a sebelah kiri anak baru itu, mencatat nomernya. “Kalau jaga mesin, badge ini harusnya ada di saku, bukan di dada.” Gadis itu mengangguk ragu. "Kamu ikut Kak Nida! Sudah training, tahu apa itu handler, ‘kan? Tipe Ismeca, lumayan sulit, kena hati-hati, tetapi kamu belajar dengan pakarnya," putus Andara. Tatapannya beralih pada empunya mesin. "Kak Nida, jaga b***k baru, jangan bully!" Hasnida yang sedang merekatkan tape pada reel yang telah selesai dihitung dan diberi label menjuih. “Iye! Siyap, Bos!” Hasnida memutar matanya seakan biji gundu dalam mangkok, sambil melepas kepergian Andara. Dia kembali menoleh pada gadis itu. Berniat kembali bersembang. “Unit yang aku suruh detape, sudah dikerjakan? Urgent itu!” Andara kembali merapat. "Proses memasukan unit ic dalam tape baru tanpa melalui tester. paham, ya?" ujarnya pada anak baru itu. Hasnida menganguk, menyerahkan reel dan kotak pizza pada Andara. “Awak tahu Dara, kalau buku prosesing lot ini penuh retest, detape, alamat tak dapat output. Nanti, Sazali mengomel.” “Iya, saya yang bagi alasan, Puan Nida.” Andara melangkah pergi. Sambil membawa kotak itu menuju bagian inspeksi. "Andara itu, orang Indonesia juga. Setakat ni, paling tahan godaan pria.” Hasnida menyuruh anak baru itu mendekat. “Kerja kat sini, meski itu jantan bagi kedip mata, senyum tak jelas, payah layan, ok! Bukan apa, Akak sayang kamu. Banyak b***k datang sini mau cari duit, eh, pulang bawa bayi. Paham apa saya cakap! Macam temanmu itu. Siapa nama, lupa .…" "Mbak Rini. Iya, saya paham, Kak!" Gadis itu tahu siapa yang dimaksud. "Nama kamu, siapa?” "Siti Farida." "Ida panggilnya?" Hasinda mengedikkan bahu. "Kau orang ni, muka macam b***k dajah 6. Oh, ya. Nama Akak, Hasnida binti Md Idris. Panggil, Kak Nida cantik!" "Panggil saja, Ari, Kak." Satu yang membanggakan, biasanya orang Malaysia terkecoh muka orang Indonesia yang katanya imut dan awet muda. Berbeda dengan wajah mereka yang tampak menua lebih awal. Andara masih mendengarnya lamat-lamat. Hasnida mengatakan, wajah Siti Farida seperti anak kelas enam SD. Andara terkekeh. Namun segera terdiam, mengamati gadis itu, ketika dia mengatakan berasal dari Klaten. Klaten, satu kota yang mengingatkannya pada beberapa sosok yang mengorbit di kepalanya. Ibunya. Meski hanya sebaris nama, jelas orang sana. Andara hanya sempat menemui keluarga Pakde, atau kakak dari ibunya. Tidak banyak yang mereka ceritakan. Entahlah, seperti ada yang sengaja mereka sembunyikan. “Kau orang tahu, boleh menikah masa terikat kontrak, tetapi tak boleh hamil.” Petuah Hasnida selayaknya juru runding. Memang banyak juga pekerja yang pulang bercuti dua bulan, lalu menikah, dan kembali bekerja tetapi menunda kehamilannya. Namun, Kusrini adalah salah satu contoh perempuan bahlul, yang dibelenggu nafsu sesaat. Dia memilih jalan haram. Lupa daratan karena bertemu buaya, sedang dirinya bukan kancil si cerdik. Si d***u kenapa berkawan dengan buaya? Si d***u yang bahkan rela ditiduri, jadi tukang masak, tukang basuh baju hingga pingan mangkuk. Nasib malang? Rasanya bukan. Lebih kepada teguran dari Allah. Bermain dengan paku berkarat penghabisannya, ya, tetanus perutnya. Hasnida melanjutkan sesi ceramahnya. “Dengar, yang uniform putih dia ada lingkaran hitam itu, Sazali, dah beristri, anak dua. Yang ... hitam manis, ensem, pake kaca mata, uniform biru itu dah bertunang. Namanya Jagesnatan, dia …." Andara mendengkus mendengar isi ceramah Hasnida. Dia tahu-tahu sudah meraih buku prosesing lot, lalu menulis alasan untuk lot yang tadi retest. Gadis itu memandang tajam pada Hasnida. Ini sudah masuk kasus perundungan, batinnya. Seingatnya Andara, dia dahulu tidak pernah ditanya sampai hal kecil. Walaupun sedikit bocoran, tidak perlu daging wagyu atau ham di atas pingan porselen untuk membuat segerombolan pemakan bangkai mendekat lalu mendengungkan cibiran, ghibah sana-sini. Anggap mereka hanya lambat untuk menyadari bahwa dia lumayan teguh. Toh, pesona jasmani, hanya bertahan berapa lama? Hati budi yang akan bicara. Kenapa sedap saja orang mengata, hanya karena dirinya pendatang. Putaran waktu menjawab semua, meski selentingan selalu ada. Kasus terberatnya hanya dengan Mustafa, yang itupun tak lama, juga A Bei, yang tak terbukti sama sekali. Selanjutnya, banyak yang mendakwa dia penyuka sesama jenis. Bahkan ada yang menayakan, apakah Andara tidak sunyi, tanpa pacar? Lebih baik gadhul bashar, menundukkan pandangan istilahnya. Bila saatnya ada jodoh, datang selayaknya magnit. Ya, setidaknya Andara menyempatkan diri memperdalam tsaqofah Islam saat kuliah. Itu yang mendorongnya teguh sampai pada titik ini. Keluarga Bagus Saptono, ayahnya, mungkin banyak mengajarkan nilai moral universal, yang artinya janji baik, diimbangi ibadah mahdhah, beres. Namun, Andara merasa itu tidak cukup kuat untuk membuatnya berdiri, apalagi saat tahu dirinya hanya anak adopsi. Ketidaksengajaan mengikuti kajian Islam soal adopsi anak, membuatnya terperanjat. Meski getir, dia harus mulai merubah pandangannya. Apakah dirinya yang ingin taat, adalah sebuah kesalahan? Baik saja tidak cukup, karena tolak ukur perbuatan seorang mukmin itu adalah hukum syara. Dia bahkan mengambil program peminatan pada hukum perdata, saat kuliah. Padahal, ayahnya lebih mendorongnya untuk mengambil hukum pidana. Semua itu membuat Andriana, kakaknya meradang. Mengatakan yang Andara semakin lama semakin aneh. Ini tak boleh, itu haram, apapun jadi dosa. Memang hal itu menjadi gunting tajam hubungannya dengan keluarga angkatnya. Bukan tidak bersyukur, tetapi Andara hanya perlu batasan fisik, karena apa yang dia mafhum, keluarga yang amat dia cintai itu hanya sebatas saudara seiman. Ayah, dan Septian, bukan mahrom yang dapat menjadi walinya kelak. Sisa takwa yang enggan Andara lepas, itu suluh terakhirnya, meski sekarang jauh dari kajian, dia mengamati terlebih dahulu, orang per orang, mengenal hati budi masing-masing. Karena yang paling penting, matlamatnya tercapai. Jangan sampai dia berpatah balik. Banyak yang telah terkorban untuk mengejarnya. Ya, mencari keberadaan sang ibu kandung. Seperti Gajah Mada dengan Sumpah Palapa. Dia baru akan melepas puasanya terhadap hal dunia setelah Nusantara bersatu di bawah Majapahit. Demikian pula Andara, meski tanpa melafaz sumpah, ada keinginan membuncah untuk menyeret orang-orang itu datang tunduk, berterima kasih pada ayah dan maminya. Sosok yang membuatnya lahir kemudian membuangnya seakan seonggok daging busuk. Betapa air lebih kental dari darah. Peribahasa usang itu seakan mengalami mutasi bahasa. Dia tak mengenal langsung ibu bapaknya. “Ambek ayor … !” Andara menoleh ke arah Hasnida yang pucat pasi, menyuruh mengambil air. Baru saja dia memikirkan hubungan dengan ibu kandungnya di depannya kini, jari anak baru itu, jarinya terjepit jarum robotic. Darah membuak keluar. “Harusnya, Kak Nida, panggil, Tech!” laung Andara langsung mematikan panel di belakang ismeca, mesin yang seukuran bemo itu. Dia menepuk bahu gadis itu, menenangkannya. Andara segera berlari mencari Jagesnatan, lalu menunjuk ke arah mesin tua yang sudah memangsa korban seorang operator baru. “Ada, apa?” “Operator baru, jarinya tersepit jarum. Ngeri, aku!” Andara mengosok hidungnya yang mulai gatal, suhu ruangan ini cukup dingin untuk menyiksanya lahir batin. “Lantas, kenapa Hasnida minta, ayor?” Sazali ikut bicara. Tak tampak khawatir. “Yalah, dia panik. Kalau panik, dia minta air minum.” Andara bersama Jagesnatan, teknisi yang khusus memegang handler Ismeca berlalu cepat menuju mesin, di mana gadis itu sudah dikerubuti operator lainnya. “Dara … phone! Pakwe awak. Bei Kiat Kah!” Pacar? Dengan tegas Andara menyilangkan tangannya ke atas saat Sazali mengacungkan telepon. Dia sudah terlambat. Lot itu harus segera dikirim sebelum pukul tiga. “Kenapa?” “Sibok! Aku kena balik shipping." "Hai, Encik Sazali, itu operator baru accident. Rasanya, kena hantar klinik luar, bukan klinik syarikat,” teriak Jagesnathan mengesat keringat. Padahal udara di ruangan produksi itu di bawah 20°C. Sazali mengangguk, tanpa menutup telepon, dia mengikuti langkah Andara, melihat keadaan Siti Farida. “Kamu, ada teman di sini?” “Ada … dia jaga mesin yang pakai tube.” “Oh, Kusrini. Sebentar aku panggil untuk temankan kamu.” Sazali memanjangkan leher, mencari keberadaan Kusrini. Andara melirik pergelangan tangannya. Dia tidak ada masa untuk berlama-lama di tempat ini. A Bei menghubunginya dan pria itu bersama Pamuji Rahayu. Malas, entah apa rencana gadis itu. Departemen penuh drama ini harus segera ditinggalkan agar pikirannya waras. “Sazali, aku pergi dahulu, ye.” Supervisor yang seumuran dengannya, tetapi sudah pun beranak dua itu menoleh sesaat lalu melambaikan tangan. Andara ingat, dahulu saat masih SMA dia pernah mengantung cita-cita. Menikah sebelum usianya melebihi 27 tahun. Masa itu sebentar lagi akan dia lampaui. Ibunya belum ditemukan, dan yang terpenting, belum ada satu nama pun yang menyelinap dalam hatinya, yang ia langitkan bersama doanya, agar nama itu menemaninya dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Andara tak payah risau soal jodoh, ‘kan? Karena jodoh pasti bertamu bila waktunya tiba. --------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD