Muka Masam Si Asam Gelugur

1470 Words
Manusia tidak luput dari kesalahan. Seorang ahli ibadah terkadang tergelincir, orang bijak bisa terpeleset. Jadi ketika Andara berlari secepat chettah, meski di berbagai sudut berserak caution board entah itu larangan bermain, berlari, sampai himbauan untuk melangkah hati-hati. Ya, tempat ini adalah production line, bukan tadika tempat bermain. Dia tidak berniat melarikan diri, apalagi bermain drama seperti yang barusan terlintas di benaknya. Meskipun sempat membatin tentang drama pertemuan dirinya, Ayu dan Kusrini di tempat ini. Setelah sekian tahun. Sudah lama Neutech tidak mengambil pekerja dari Indonesia. Baik level tukang bersih-bersih, operator, warden asrama, satpam, perawat, kerani, atau HRD. Level engineer, hampir tidak pernah. Jadi, satu pertanyaan menyelinap, tentang keberadaan Ayu. Apakah dia diantar training oleh Neutech Batam? Bisa dihitung jari Andara kembali masuk line. Kalau ikutkan hatinya, dia teramat nyaman di shipping tanpa harus lari sana sini. Desember ke Januari, itu waktu yang terlalu pendek. Beberapa trial, urgent lot silih berganti. Adanya trial lot bermakna bisnis baru. Bisa customer baru, package atau produk baru. Beberapa hari yang lalu setelah berjumpa Kusrini, dibantu Priya, Andara membagikan tiga paket sembako untuk tiga rumah. Gadis itu tahu bagaimana rasanya jadi anak rantau, apalagi untuk pertama kalinya. Kebanyakan pekerja yang datang masih hijau, satu dua yang usianya mencecah di atas duapuluhan tahun, selebihnya masih di bawah itu. Mereka bahkan kesulitan beradaptasi dengan Bahasa Melayu, meski iras dengan Bahasa Indonesia. Seandainya bahasa Melayu orang tempatan sejelas percakapan Upin dan Ipin saat bertekak dengan Kak Rose, Andara tidak akan kebingungan. Yah, dia dulu memang hanya bermodal semangat, wawancara, dinyatakan lulus. Andara pernah magang di kantor Om Jamil, sehingga tahu perekrutan, dan penempatan tenaga kerja. Seperti halnya pekerja Indonesia yang hendak bekerja ke luar harus dibekali kemampuan bahasa negara tujuan, Andara sempat terkagum-kagum dengan pekerja asal Bangladesh. Mereka fasih berbahasa Inggris sekaligus Melayu. Mereka menjadikan Malaysia dan Singapura batu loncatan menuju negara Paman Sam untuk mengisi priuk nasinya. Negara miskin yang tanpa harapan, sedangkan Kusrini dan teman-temannya berasal dari negara kaya, yang katanya tongkat kayu jadi tanaman, tetapi pahit yang dirasa di negeri sendiri. Tongkat kayu telah lapuk. Tekad kuat mereka untuk kembali lagi dan lagi. Mencari remahan di negeri orang. Andara kembali mengosok hidungnya. Dia selalu menghadapi ini, bila terlalu lama berada di ruangan ber-air cond dengan suhu terlampau rendah, udara terlampau kering. Andara memukulkan bagde pada pintu ruangan produksi. Namun, ia mengalami sedikit kesulitan karena membawa tiga lot dalam kotak pizza ukuran besar, juga tangannya terasa mulai kebas. Jangan di sini, batin Andara gemetar. Seseorang dengan bau wangi, yang berada di belakangnya mengulurkan tangan untuk membuka pintu, mereka berdua akhirnya bisa keluar menuju changing room. “Ada banyak CCTV yang merekam bagaimana kelakuan cuaimu, Cik Andara!” herdik pria itu. “Thanks, Daniel. Saya tergesa-gesa. Urgent shipment, belum ke surau pula,” ujar Andara mengerling jam di pergelangan tangannya. Dia sudah melepas sepatu ESD memasukkan ke dalam tas selempang. Tas selempang wajib di miliki oleh semua pekerja visitor yang tidak memilik loker di sekitar departemen test, atau sememangnya bukan pekerja bagian final test. Sebenarnya Andara memiliki loker di sini, tapi sudah lama tidak dia gunakan. “Lot itu bisa jatuh, reject! Awak bisa gunakan troli. Lagipula, belum jam tiga. Masih sempat ke surau.” “Lain kali aku tak akan buat. Oke! Case closed, Encik Daniel!” Andara melipat uniform-nya, memasukkan dalam tas, membelakangi Dayong yang justru sedang memandanginya lewat cermin. Ketika Andara menunduk ada cairan merah menetes pada permukan kotak lot yang tadi dia bawa. Persis mengenai bagian label. “s**t! Dara ….” Daniel mendorong tubuh Andara untuk duduk pada permukaan kabinet menjorok penyimpanan uniform. “Buka mulut, tunduk!” perintahnya sambil memicit hidung mungil itu, tepatnya memberi tekanan pada bawah tulang bagian ujung, lalu dilepaskan perlahan-lahan. “Aku ambil, ice batu dulu, ya.” “Tak payah, Dan!” pinta Andara. “Sudah biasa. Terlalu lama di ruangan ber-air cond. Lumayan beku di tempat lot ini.” Dayong melepas penutup kepalanya, namun belum melepas uniform. “Atau, awak terlalu lelah, holiday ke sana, ke mari, hemm?” Andara tak merespons, malah melihat hal buruk yang baru saja dia lakukan. Lot yang dia bela dengan sepenuh jiwa raga agar shipment sebelum pukul tiga, nasibnya sangat mengenaskan. “Encik, sila beri hukuman,” lirih Andara minta belas kasihan. Dayong mengikuti pandangan Andara. Benar saja, keadaan kotak pizza itu sangat memprihatinkan. Terdapat totol-totol darah mimisan milik Andara. Dayong mengusap dahinya. Sekadar mengganti kotak baru itu semudah menjentik jari. Akan tetapi mengganti kotak baru dengan label, bermakna melakukan prosedur ulang sampling. Print label baru, mengisi form untuk isu re-screen lot, oleh QC. Artinya, dia harus membuat tembusan untuk QC yang terkenal cerewet, karena double record. Lalu menghubungi semua bos, terutama customer, bila hari ini lot tak jua keluar. “Seingatku, Andara itu, begitu cantik, cekal, smart. A Bei begitu memuji kerjamu. Dahulu. Sekarang, apa yang awak pikirkan? Sembahyang?” “Sorry. You, maki hamun, boleh naikkan nama saya.” Baik Andara maupun Dayong mulai menyebut panggilan yang tak biasa. Awak, you, lalu saya. “Kalau nama awak naik, masalah bisa settle? Awak bukan sehari kerja di sini. Shipping lebih mudah dari FT, Dara. Please!” “Bagi saya lima menit.” “Kamu mau pinjam stempel A Bai untuk lari dari masalah? Shipping bukan bagian dari test!” “Memang bukan bagian dari, test. Akan tetapi bagian dari Neutech. We are a team!” Mereka berdua bersitegang hingga tidak mengetahui satu sosok masuk ke changing room. Yah, tempat itu terbuka bagi siapapun yang ingin masuk ke FT II, asalkan punya akses ke sana. "Siang, Da ... la." Nada panggil itu turun satu oktaf. Mukanya persis ekspresi orang sembelit. Seharusnya tidak, ketika sosok itu mengidamkan menjadi seorang vegetarian. Yah, pencapaian tertinggi seorang Budhis pengikut Dewi Kwan Im. A Cheng, sering berkomentar tentang banyak hal, terutama hal peribadi tentang religi, juga hal remeh lainya. "Siang, Cheng." Andara tersenyum manis, semanis madu hitam dari pedalaman Borneo. Tak mengendahkan Dayong yang menatapnya sengit. “Ni hao. Anggap rumah sendiri, ye. Jangan hirau, I.” A Cheng dadah-dahah sambil menyarungkan uniform-nya, tergesa memasang sepatu ESD busuk yang mungkin sudah lima tahun tak pernah ganti atau sekadar dicuci. Dia naik pada lempeng ESD checking, setelah warna hijau keluar, turun, tetapi matanya masih tak lepas mengamati Andara dan Dayong. A Cheng adalah section head maintenance, khusus test. Dia sosok yang bertanggung jawab setiap ada mesin yang tak bisa lagi diperbaiki oleh teknisi. Bertanggung jawab apabila ada mesin baru masuk, merangkai sampai release, diserahkan pada departemen test. Meski bos, isi kepalanya persis rakyat jelata. Selain memprotes Andara setiap raya haji karena memakan sapi, berulang kali dia juga menanyakan, beberapa hal sensitif. Kenapa memakan, Tuhannya, Jagesnathan? Sedangkan Jagesnathan sendiri iseng bertanya seperti apa rasa daging sapi? Tentu, Andara hanya menjawab ‘yummy’. Ah, sinting semuanya! Atau, berondongan pertanyaan unik lain, tetapi tak pernah bermutu. Seperti dunia politik Indonesia, seakan Malaysia baik-baik saja. Menayakan kabar Megawati juga SBY, yang terus berseteru. Lha, memang Andara kerabat mereka. Dia juga begitu mengidolakan Gus Dur, sampai bercita-cita nyekar ke Tebu Ireng. Dahulu, hampir setiap pagi, Andara selalu berpapasan di lorong antara test dan developing engineer. Ya, sebelum melempar diri ke shipping. “You, kat sini, ada yang urgent? Lama tak pergi surau, ye?" “Ini mau pergi. Encik Daniel Young sedang marah. Boleh tolong saya?" bisiknya yang masih didengar oleh Dayong. “Daniel, bagi Dara pigi surau. Tak boleh menyekat apa-apa yang jadi hak asas pekerja.” “Hak untuk berjumpa dengan Tuhan!” laung Andara, sarat sindiran. Dayong entah apa agama asalnya. Tebakan Andara dia agnostic atau atheis. Kepercayaan kaum urban. Percaya, atau tidak dengan Tuhan adalah urusan pribadi. Mengelikan sekali. Memangnya Encik Daniel yang ensem, lahir dari bongkahan batu? Sedangkan langit dan bumi adalah ciptaan Allah. Tuhan yang maha segalanya. Dunia seisinya. “Bagi sini, lotnya. Aku settle. Namun, kamu hutang satu penjelasan. Noted!” “Terima kasih, Encik! Panjang umur, sehat selalu.” “Amboi … banyak cakap, ye, Andala!” Goda A Cheng. Dayong tak mengindahkan tingkah Andara yang sok bermanis. Dia menyarungkan penutup kepala, berlalu membawa tiga kotak pizza itu kembali masuk ke dalam ruang produksi. Andara tersenyum dikulum. “Apa, dah jadi? Daniel larang you pergi surau buat sembahyang?” Pertanyaan ini sudah sering A Cheng lontarkan sejak lama. Tak imaginer langsung. Tak ada revisi sama sekali. Rev 1.1 atau 1.2 yang biasa dimainkan orang-orang electrical engineer dalam beberapa kasus reject. A Cheng pernah berapa kali, dia pergi surau? Apakah bos tak marah. Kalau pergi terus ke surau, tak payah kerja! Hah, ini memang rasis. Namun, Andara tidak pernah memasukkan dalam hati. Toh pekerjaannya beres. Pelangan tidak pernah secerewet, A Cheng. Oh, ada satu customer yang cerewetnya luar biasa, MST. Midspeed Technologis, lot hantu yang setahun hanya running empat kali. Lot yang saat ini under set up. Mungkin karena bapaknya juga menyebalkan. Siapa lagi kalau bukan Daniel Young. Padahal, biasanya problem bisa selesai lewat email. Hanya untuk satu lot ini, dan Andara harus mengembara. Entah kenapa hari ini dia mendapat ujian maha berat. Andara menepuk jidatnya keras. MST ... MST, dan muka Daniel Young yang asem-asem jutek menjelma. Semacam, asam gelugur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD