Prolog

1055 Words
Seorang wanita berlari tergesa-gesa melewati koridor lantai lima sebuah gedung perkantoran. Helaian rambut sebahunya menari seirama gerak langkahnya yang cepat. Matanya sesekali melirik jam tangan berwarna hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. "Terlambat, lagi?" sapa salah seorang karyawan yang juga teman beda divisi satu angkatannya. Ia mengabaikannya dan tetap berjalan cepat menuju salah satu ruangan di lantai tersebut. Cklek .... "Selamat pagi, maaf saya terlambat." Wanita itu menarik kursi yang masih kosong dan segera mendudukkan diri. "10 menit, rekor yang bagus, ada kemajuan dari minggu lalu," sindir seorang pria dengan rambutnya yang hampir semuanya memutih. Bukan karena sudah renta, bahkan usianya baru menginjak kepala empat namun apalah daya, helaian rambutnya membuatnya lebih tua dari usianya. Pak Raka namanya, pria yang menjabat sebagai kepala divisi dimana wanita berambut sebahu itu bekerja.  Sementara beberapa rekan kerjanya yang lain tampak memiliki kesibukan sendiri. Memeriksa berkas masing-masing juga menyiapkan bahan sebelum meeting. Diikuti wanita itu yang melakukan hal serupa. Dan tanpa disadarinya, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya saat ia memasuki ruangan. "Baiklah, karena anggota sudah lengkap rapat akan segera dimulai," ujar pak Raka yang mulai memasang wajah serius membuka rapat pagi ini. *** "Dasar, kau ini ceroboh sekali." Hentakan heels dan flatshoes berirama kala dua orang wanita melangkahkan kaki dengan santai. Rapat telah usai dan saatnya mereka kembali ke bilik kerja mereka masing-masing. "Ini semua salah Popon," balas wanita berambut hitam kecoklatan itu dengan mengerucutkan bibir cemberut. Kakinya masih lelah berlari dan kini giliran kepalanya yang pening memikirkan pekerjaannya yang menanti. "Sudah kukatakan, Anne, buang mobil rongsokan itu dan beli yang baru." Wanita berambut pirang itu menghentikan langkah dan menatap sahabatnya itu jengah. Anne Haruna, nama wanita yang kini hanya melirik sahabat pirangnya malas. Wanita berusia 25 tahun itu menjabat sebagai salah satu staf GA di perusahaan pemroduksi sepatu kelas dunia, ADR Group. Ia baik, karena tak pernah melakukan satu tindak kejahatan apapun. Ia juga bisa dibilang cantik, irish mata jernih dengan kulit putih bersih juga warna rambut hitam kecoklatan yang membuatnya semakin manis. Namun semua itu sepertinya tak cukup karena sampai saat ini ia masih menyandang status single alias tak punya kekasih. Pernah menyukai kakak kelas yang akhirnya menikah dengan temannya sendiri dan setelah itu, belum ada satu nama lagi yang mengisi hati. Ia tak begitu merisaukan hal itu, ia selalu berpedoman bahwa jodoh pasti akan datang dengan sendirinya.  "Untung saja pak Raka tidak menendangmu dari ruang rapat," kata Rosa, salah satu sahabat terbaiknya disini. Wanita bak Barbie itu kembali melangkah dan diikuti Anne yang juga kembali berjalan di sampingnya. "Popon itu teman sejatiku, aku tak akan membuang mobil tercintaku itu," balas Anne penuh kesungguhan. "Dan kau ingin terlambat selamanya?" Rosa menyentil kecil dahi Anne yang tertutupi poni menyamping dengan tersenyum jahil. "Awh … sh … kau!" Anne hanya mengusap dahi lebarnya dan mendesah kecil. Sahabatnya telah merusak poni yang sudah ia tata rapi guna menutupi dahinya yang cukup lebar. Meski hal itu sama sekali tak mengurangi nilai kecantikannya yang apa adanya. Tak ada bedak tebal, bulu mata palsu atau sulam alis layaknya semut berjajar. Bibirnya pun hanya dipoles liptint berwarna merah. Ombre, masih menjadi favorit menghias bibirnya yang kissable. "Sepertinya tadi ada orang baru, dia siapa?" tanyanya kemudian. Alis Rosa setengah mengernyit dan baru tersadar kala ingatannya ia putar ulang. "Oh … dia karyawan baru, namanya Sean. Makanya jangan terlambat dan kau akan ketinggalan berita," jawabnya dan kembali berniat menyentil dahi Anne. Anne pun segera menghindar dan membuat Rosa tertawa renyah. "Dasar!" Anne hanya menekuk wajah kesal dan menghentakkan kaki berjalan lebih cepat.  "Hei, tunggu dulu, Anne!" Rosa mengikuti langkah Anne dan mencoba menahan tawanya. "Maaf, maaf," ucapnya dengan mengatupkan tangan.  "Kau tahu? Aku merasa … seperti pernah melihatnya, tapi … dimana?" gumam Anne dengan mengusap dagunya. "Jangan berkhayal, mungkin karena dia tampan dan kau memang suka melihat pria tampan," jawab Rosa dan kembali tertawa hingga memegangi perutnya. Rasanya benar-benar menyenangkan menggoda sahabatnya. "Kalau itu kau," cibir Anne dengan memutar mata engah. "Dia dibesarkan di Singapore, Anne. Dan baru kembali ke Jakarta satu minggu yang lalu. Jadi, bagaimana mungkin kalian pernah bertemu?" Rosa meredam tawanya dan menghentikan langkah. "Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Tunggu! Darimana kau tahu?" Selidik Anne penasaran.  "Sudah kukatakan, makanya jangan terlambat dan kau akan ketinggalan berita." Rosa memasuki bilik kerjanya. "Dia memperkenalkan diri sebelum kau datang," imbuhnya saat telah mendudukkan diri di kursi kerjanya. "Oh ... kau benar, mungkin memang hanya perasaanku saja," gumam Anne dengan masih berusaha mengingat. Tak mendapat file yang dapat ia temukan sebagai pencerahan, ia kembali melangkah sampai bilik kerjanya yang berjarak dua bilik kerja dari bilik kerja Rosa. Membersihkan meja kerjanya kemudian duduk dan fokus pada layar komputer dihadapannya.  Jari-jari lentiknya menari di atas keyboard dengan lincah. Tak ada satu angka pun yang dapat lolos dari penglihatannya yang tajam kala menghitung biaya pengeluaran perusahaan. Sampai jari-jarinya berhenti menari kala matanya menangkap sebuah nama dalam layar. Nama pria yang coba ia hindari selama beberapa tahun terakhir. Ia menghela nafas berat, kenapa harus pria itu? Tentu saja karena pria itu yang menjadi vendor baru perusahaan ini.  Anne menggelengkan kepala cepat, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Cepat atau lambat ia akan bertemu pria itu, pria yang menjadi cinta pertamanya sejak bangku SMA dulu. Dan pria yang juga telah berstatus sebagai suami dari sahabatnya sendiri. "Tenang, Ann. Kalian bertemu untuk urusan pekerjaan, kau harus bisa melewatinya dan semua akan baik-baik saja," ucapnya pada dirinya sendiri. Ia selalu menyemangati dirinya sendiri kala rasa itu tiba-tiba muncul. Sesak, meski sudah bertahun-tahun, rasanya masih sesak saat mengingat pria yang ia cintai menikah dengan sahabatnya sendiri. Menegakkan punggungnya, ia kembali pada pekerjaannya, pekerjaannya jauh lebih penting daripada memikirkan suami orang. Tapi, jika masih memendam cinta, apa ia bisa tidak memikirkannya barang sejenak?  *** Kurang lima menit jam istirahat dimulai, Anne kini berjalan menuju toilet. Ia tak ingin membuat Rosa menunggu lama jika ia ke toilet saat jam istirahat. Brugh ... "Ah … maaf." Karena terlalu fokus pada smartphone di tangannya, tanpa sengaja Anne menabrak seseorang di lorong sebelum mencapai toilet. "Hm," gumam pria itu dan kembali melanjutkan langkahnya. Dan tanpa Anne ketahui, pria dengan model rambut emo itu menyeringai dibalik punggungnya. Anne yang melihatnya hanya terdiam seperti mengingat sesuatu. Pria itu adalah rekan kerjanya yang baru, tapi, ia seperti pernah melihatnya sebelum ini. Tapi, dimana? Sampai sebuah ingatan satu bulan yang lalu tiba-tiba berputar dan membuatnya menggeleng keras. "Itu tidak mungkin, Ann. Tidak mungkin," kata Anne meyakinkan pada dirinya sendiri. Ia menatap kepergian pria itu yang kini telah berlalu dan segera memasuki toilet wanita. Ia tidak ingin membuat Rosa menunggu dan akan mendapat celotehan darinya. TBC ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD