"Sayang ya, Bu? Sekarang emang nggak ada lagi sih yang jual lemari jati asli begini. Kalau pun ada, harganya pasti di luar nalar." ujar Ghazi sambil mengelus permukaan lemari kayu jati peninggalan neneknya itu.
Sebenarnya Ibu keberatan laci di bagian bawah lemari jati itu dibongkar bukan karena takut rusak, sayang karena lemari itu antik dan meninggalkan banyak kenangan, tapi karena ibu enggan apa yang ada di dalam situ ditemukan Ghazi. Ibu pun sama dengan Ghazi, tak pernah tau ada catatan apa yang ditinggalkan Ayah di sana. Hanya saja dulu Ayah selalu berpesan, kalau terjadi apa apa dengan dirinya, berikan kunci laci itu pada Pak Herdi, rekan seperjuangan Ayah sesama jurnalis. Tapi belum sempat Ibu memberikannya pada Pak Herdi sudah lebih dulu meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal yang merebut nyawanya.
Alasan Ibu tak ingin membuka laci itu adalah agar Ghazi tak usah melihat apa isi catatan itu. Ibu ingin Ghazi lebih baik tidak tau tentang siapa yang terlibat dalam peristiwa tragis yang menimpa Ayahnya. Ibu tidak ingin Ghazi menyimpan dendam. Ibu inginmereka sekeluarga hidup dengan tenang dan nyaman tanpa harus diganggu oleh masa lalu yang buruk. Toh, saat ini Ayah sudah tenang di sisi Allah. Ghazi juga sudah mendapat pekerjaan yang bagus, Sevilla sudah lulus, dan Anaya sedang kuliah kedokteran, seperti cita cita Ayah dulu. Mereka juga sudah kembali ke rumah yang sarat akan kenangan ini dengan hati yang jauh lebih tenang. Kalau boleh memilih, Ibu ingin Ghazi melupakan saja peristiwa yang menimpa mereka di masa lalu, dan lebih fokus pada masa depannya sendiri dan juga masa depan adik adiknya.
Tapi Ghazi memiliki pendapat yang berbeda dengan Ibu. Peristiwa itu sangat mengganjal di benaknya. Seperti sebuah puzzle yang tiap kepingannya tercerai berai entah di mana. Ghazi ingin menuntaskannya, menyusun kembali tiap kepingan yang akan menyatukan petunjuk tentang peristiwa itu hingga nantinya menjadi gambar yang jelas dan menuntaskan rasa penasaran Ghazi.
"Bu?" Ghazi menyebut nama Ibu, menanti jawaban, karena Ibu hanya mematung tanpa reaksi.
"Hah? Apa, nak?"
"Ini, lemari jatinya, Bu. Ibu takut rusak ya? Sayang ya, Bu, karena sekarang pasti susah cari yang sama.." keluh Ghazi memancing helaan nafas Ibu.
"Ghazi.. Ini harus dibuka ya?"
"Iya, Bu. Kan Ayah bilang catatannya ada di sini? Tapi kuncinya ibu lupa di mana. Kenapa Bu? Ibu keberatan?" tanya Ghazi.
"Iya, nak. Ibu keberatan. Tapi bukan karena lemarinya. Ibu keberatan dengan catatan itu. Ibu tidak ingin kita kembali mengorek luka lama, Ghazi. Kita tidak pernah tau keterlibatan siapa saja yang tercatat dalam buku itu. Kita juga tidak tau peristiwa apa yang Ayah tuliskan dalam catatan itu. Bagaimana kalau isinya ternyata sesuatu yang membahayakan? Atau ternyata sesuatu yang mengejutkan dan nantinya malah mengganggu ketenangan kita?" tanya Ibu dengan nada getir.
Ghazi tersenyum dan mengurungkan niatnya untuk mengambil linggis dan mencongkel laci itu. Ia malah merangkul pundak Ibu dan mengajak Ibu duduk di kursi. Seperti biasa, untuk membujuk Ibu tak bisa terburu buru. Harus perlahan dan tenang. Membuat Ibu memahami tujuan Ghazi bukanlah perkara mudah.
"Bu.. Ghaz bukan ingin mengorek luka lama. Tujuan Ghazi hanya satu, mengetahui apa yang membuat Ayah harus diperlakukan seperti itu oleh orang tak dikenal. Ibu tau kenapa? Supaya Ghazi tidak mengalami hal yang sama dengan apa yang Ayah alami. Bu, saat ini pekerjaan Ghazi sama dengan Ayah. Ghazi hanya ingin belajar dari pengalaman. Ghazi tidak ingin apa yang menimpa Ayah juga menimpa Ghazi nantinya." jawab Ghazi perlahan sambil menatap mata Ibu.
Ibu menunduk, menekuri garis lantai. Dalam hati Ibu membenarkan ucapan Ghazi. Ibu tak terpikir bahwa alasan Ghazi membuka laci itu adalah untuk tujuan belajar dari pengalaman yang menimpa Ayah. Ibu pun lantas mengizinkan laci lemari itu dibongkar.
* * *
Herman Rustandi, Hendra Setiawan, Rudi Nugroho, Bahar Junaidi, Gerry Hartono, Ari Suhardi, dan Leo Fernando. Tujuh nama itu berputar putar membentuk pusaran di kepala Ghazi. Ghazi mendadak nyaris limbung setelah membaca catatan catatan yang ditinggalkan Ayah. Tujuh kurcaci? Mereka tujuh kurcaci?
Ghazi membuka laptopnya dan mencari tau tentang nama pertama : Herman Rustandi. Nama itulah yang Ayah sebutkan pertama kali. Dan Herman Rustandi juga yang memicu trauma Ayah, menyebabkan Ayah mengamuk dan kambuh, lantas merasa dikejar kejar hingga Ayah nekat melarikan diri dari pusat rehabilitasi dan berujung dengan kematian tragisnya. Sekarang Herman Rustandi menjabat sebagai Menteri Sosial.
Nama kedua yang muncul di kepala Ghazi adalah Hendra Setiawan. Mantan kepala badan intelejen negara bepangkat Jendral ini sekarang menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Ayah menyebut orang ini sebagai otak dari penyerangan terhadap dirinya malam itu. Dan entah bagaimana, Ghazi yakin bahwa Hendra Setiawan juga turut andil dalam peristiwa kecelakaan yang menimpa Om Herdi.
Nama selanjutnya yang dibaca oleh Ghazi dalam catatan Ayah adalah Rudi Nugroho. Ia mantan aktivis di masa mudanya. Suaranya selalu terdengar lantang di setiap demonstrasi menentang pemerintah pada masanya. Namun saat ini, orang itu adalah pemimpin partai terbesar di negeri ini sekaligus menjabat sebagai Menteri Keuangan.
Lalu ada nama Bahar Junaidi. Sama seperti Rudi Nugroho, Bahar Junaidi yang satu almamater dengan Rudi Nugroho itu juga menjabat sebagai ketua umum partai besar yang tentu saja berkoalisi dengan partai yang dipimpin Rudi Nugroho mendukung pemerintah saat ini. Ia juga menjabat sebagai Ketua dewan rakyat.
Nama berikutnya sangat tidak asing di telinga Ghazi. Ia adalah Gerry Hartono, ketua komisi pemilihan. Ya, dia bertanggung jawab penuh untuk mengatur jalannya pemilihan umum di seluruh negeri. Namanya sangat tidak asing di telinga Ghazi karena Ghazi berkali kali menghadiri seminar dengan nara sumber Gerry Hartono semasa kuliahnya dulu.
Lalu nama terakhir yang dilihat Ghazi adalah Leo Fernando. Orang terakhir yang menjadi anggota tujuh kurcaci itu saat ini menjabat sebagai Menteri Kehakiman. Mantan Hakim Agung itu juga sering wara wiri di beberapa acara di kampus Ghazi dan sering menjadi narasumber di beberapa seminar yang Ghazi ikuti.
Sekarang Ghazi sudah mengantongi nama nama itu sekaligus juga alasan kenapa Ayahnya takut pada mereka. Mereka, disebut tujuh kurcaci oleh Ayah dan Om Herdi lantaran mereka bertujuh adalah target Ayah dan Om Herdi untuk dibeberkan kejahatannya hadapan khalayak. Mereka bukan orang biasa, mereka adalah orang orang yang selama sepuluh tahun terakhir punya andil besar dalam semua situasi yang ada di istana kepresidenan.
Dalam buku yang ditinggalkan Ayah, satu persatu kejahatan yang mereka perbuat tertulis dengan rapi. Semua kejahahatan yang terorganisir dengan baik meliputi segala bidang tengah mengancam negeri ini. Dan Ayah serta Om Herdi telah mencatatnya dan mengorbankan nyawa mereka untuk memberantasnya.
Ghazi mengepalkan tinjunya. Darahnya mendidih.
Aku akan menghabisi mereka!