Bab 16. HARTA KARUN YANG TERSEMBUNYI

1047 Words
"Makan dulu, nak.." Ibu menepuk pundak Ghazi yang masih sibuk menekuri laptopnya. Ghazi menoleh sekilas dan mengiyakan ajakan ibu untuk mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. Semangkok sayur lodeh, ayam goreng, sambal terasi dan kerupuk udang terhidang di meja bersama dengan nasi panas yang asapnya masih mengepul. Ghazi yang tadinya tak nafsu makan mendadak terbit selera makannya melihat lauk pauk yang terhidang di meja makan. Tanpa banyak bicara, Ghazi menyantapnya dengan lahap. Ibu menatap Ghazi dengan tatapan iba. Ghazi tampak kurus, berat badannya turun drastis pasca kepergian Ayah. Ibu sendiri juga sempat terpukul dengan kematian Ayah yang tragis. Tapi di satu sisi ibu lega, Ayah tak lagi menderita, dan anak anaknya tak lagi menaruh harap akan kesembuhan Ayah seperti sedia kala. Ibu ikhlas dengan kepergian Ayah. Ibu sadar, tempat terbaik Ayah saat ini mungkin memang tak lagi di sisi mereka melainkan di sisi Allah. "Keputusanmu sudah bulat, nak?" tanya Ibu. "Sudah, Bu. Ghazi ingin kembali ke rumah kita yang dulu. Sebentar lagi Sevilla lulus, biar dia kuliah di sana saja. Anaya juga sudah di sana. Biar kita berkumpul lagi, Bu. Tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan. Ayah juga sudah nggak ada, situasi sekarang juga sudah nggak seperti dulu, Bu.." jawab Ghazi sambil membereskan piringnya setelah menuntaskan makan malamnya. "Bukan itu maksud Ibu. Pertanyaan Ibu bukan tentang kepindahan kita. Tapi tentang kuliah kamu. Apa sudah bulat keputusan kamu untuk nggak jadi ngambil beasiswa itu?" tanya Ibu. Ghazi tak menjawab, ia berjalan ke tempat cuci piring dan meletakkan piring kotornya di sana, lalu mulai mencuci peralatan makannya sendiri. "Ghazi?" Ibu memanggil Ghazi, memastikan kalau anak sulungnya itu mendengar pertanyaannya tadi. Ghazi menghela nafas. "Ghazi mau kerja, Bu. S1 saja sudah cukup. S2 nanti aja kapan kapan." jawab Ghazi. "Ghazi, kesempatan emas ini hanya datang sekali. Kalau kamu lulus dari sana, kamu bisa diperhitungkan. Tak terlalu sulit untuk bersaing mendapatkan pekerjaan yang bagus nantinya. Kamu tau sendiri, di negara ini perusahaan mencari karyawan berdasarkan selembar kertas ijazah." Ibu memulai perdebatan ini. Lagi, dan lagi. Ghazi mengelap tangannya setelah selesai mencuci piring. Ia lalu berlutut di depan Ibu lalu menggenggam tangan Ibu sambil menatap matanya. Berharap ini terakhir kali ia akan menjelaskan ini pada Ibu dan selanjutnya Ibu dapat mengormati keputusannya untuk menolak tawaran beasiswa bergengsi itu. "Bu.. Dulu Ayah dan Ibu kan pernah bilang sama Ghazi, Naya dan Sevi, kalau rezeki itu diatur Allah dan tidak akan tertukar. Jadi, kita jangan menumpukan harapan kita pada manusia. Sekarang, Ghazi ingin sekali menuruti nasehat Ayah dan Ibu waktu itu. Ghazi yakin, rezeki sudah diatur Allah, bukan diatur selembar ijazah. Jadi, biarkan Ghazi melamar pekerjaan dengan ijazah yang ada saja ya, Bu? Ibu tolong doakan, semoga dengan ijazah yang ada ini, Ghazi bisa mendapat pekerjaan yang bagus dan rezeki yang berkah.." pinta Ghazi sambil menatap mata Ibu. Air mata Ibu menetes mendengar penuturan Ghazi, dan ia pun menangis sambil memeluk putra sulungnya yang sangat cerdas dan bijaksana itu. Ibu mendadak merasa malu. "Iya, nak. Ibu selalu doakan kalian, anak anak Ibu. Apapun jalan yang kalian pilih, Ibu Insyaa Allah selalu doakan.." jawab Ibu sambil menangis. Ghazi balas memeluk Ibu. Dalam hati ia bertekad, ia ingin bekerja sambil menuntaskan satu misinya yang tak akan pernah ia lewatkan : mencari tau tentang siapa dibalik peristiwa yang menimpa Ayah. Sejak kepergian Ayah, Ghazi selalu memutar ulang diam diam video saat terakhir Ayah bersamanya di pusat rehabilitasi. Ghazi mencatat semua yang Ayah katakan. Mulai dari nama nama orang yang Ayah sebut dengan tujuh kurcaci, sampai dengan sesuatu yang tersembunyi di lemari jati. Ya, lemari jati yang disebut Ayah dan sempat luput dari perhatian Ghazi. Lemari jati di rumah lama Ghazi terletak di ruang tengah. Lemari itu berisi barang barang lama peninggalan Nenek Ghazi. Ada piring piring keramik yang antik dan masih sangat bagus, ada pula peralatan makan dari kuningan, dan beberapa kain songket tenunan asli yang dulu ditentun langsung oleh Nenek. Ibu kandung dari Ibu Ghazi itu memang sangat rapi menyimpan barang barang kesayangannya, dan itu menurun pada Ibu. Barang barang yang ditinggalkan nenek pun dirawat dengan baik oleh Ibu. Namun ada satu hal yang mengganjal di benak Ghazi, tentang laci laci di bagian bawah lemari jati kuno itu. Tiga laci yang terletak di bagian bawah itu selalu terkunci rapat. Seolah ada harta karun yang tersembunyi di bawah sana. Seolah seseorang sengaja menyembunyikan sesuatu yang penting di dalam sana. Dan saat Ayah mengamuk seminggu sebelum peristiwa kematiannya, Ayah dengan jelas menyebut nyebut laci lemari jati itu. Laci kedua. Ada sesuatu yang ayah sembunyikan di laci kedua lemari jati itu. Ghazi berharap laci itu bisa menjawab semua tanda tanya yang memenuhi benak Ghazi. Itulah salah satu alasan kenapa Ghazi ingin kembali ke rumah lama mereka, karena ia ingin mencari catatan yang dimaksud Ayah. Rumah lama mereka saat ini kosong. Ghazi sempat menyuruh Anaya tinggal di sana, tapi karena letaknya cukup jauh dari kampusnya, Anaya menolak. Dia lebih memilih untuk kost di daerah dekat kampusnya. Lagipula rumah itu terlalu besar untuk dihuni Anaya seorang diri. Rumah itu juga membangkitkan kenangannya tentang Ayah. Anaya tak mau sedih sendiri di rumah yang sarat dengan kenangan indahnya akan Ayah, jadi Anaya menolak permintaan Ghazi. Ghazi maklum, ia memahami semua perasaan Anaya. Itu sebabnya ia tidak memaksa, dan membiarkan saja rumah itu kosong. Namun saat Ghazi mengatakan mereka akan kembali lagi ke rumah itu karena Ghazi ingin mencari pekerjaan di sana, Anaya langsung bersemangat. Ia ingin membersihkan rumah mereka dan teman teman Anaya bersedia membantunya. Ghazi bersyukur sekali mendengarnya. Sudah hampir enam tahun berlalu, pasti rumah itu sudah sangat kotor. Ghazi sempat kasihan pada Anaya, tapi adiknya itu justru bersemangat sekali. Ia mengatakan akan membawa sepuluh teman dekatnya untuk saling bantu membersihkan rumah mereka. Dan akhirnya Ghazi mengizinkan adiknya itu. Ghazi kembali menekuri laptopnya. Dia sudah mengajukan melamar pekerjaan di lima tempat berbeda di kota kelahirannya itu, Ghazi berharap semoga satu dari kelima perusahaan itu ada yang meliriknya dan mau menerimanya. Ghazi ingin secepatnya bekerja dan kembali ke kota asalnya. Ia ingin kembali ke rumah yang dulu ia tempati dengan perasaan hangat dan nyaman bersama keluarganya. Rumah yang menyimpan kenangan luar biasa. Dan yang paling penting, rumah yang di dalamnya terdapat harta karun tak ternilai harganya. Harta karun yang disembunyikan Ayah di laci kedua lemari jati di sana. Harta karun tersembunyi yang bisa mengungkapkan peristiwa tragis yang menimpa Ayahnya..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD