"Ghazi!"
"Abang!"
Ibu dan Anaya spontan meneriakkan memanggil Ghazi saat ia tiba di ambang pintu. Nafas Ghazi terengah engah. Ia masih mengenakan toga tanpa sadar. Ghazi langsung memeluk Ibu, Anaya, Sevilla dan langsung menanyakan kabar Ayah.
"Belum nak.. Mereka belum menemukan Ayah." jawab Ibu sambil menangis tersedu sedu.
Ghazi melirik jam di pergelangan tangannya. Sekarang sudah sore, berarti Ayah menghilang sudah hampir dua puluh empat jam. Kemana Ayah? Ghazi ingin memarahi pihak pusat rehabilitasi karena mereka lalai menjaga Ayah. Tapi Ibu melarangnya. Ibu bilang lebih baik fokus mencari Ayah daripada membuang buang energi dengan meluapkan kemarahan. Ghazi menuruti Ibunya. Ia memendam kemarahannya meski masih tetap membuang wajah kesal saat pihak pusat rehabilitasi meminta maaf padanya.
Pihak kepolisian beserta petugas pusat rehabilitasi masih terus mencari Ayah. Namun sampai detik ini belum ada kabar apapun. Ghazi bertanya detail kejadiannya pada petugas pusat rehabilitasi. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah? Kenapa Ayah sampai kabur dan melarikan diri? Padahal selama ini Ayah kalaupun mengamuk tidak pernah sampai berusaha melarikan diri.
Dan kenapa petugas pusat rehabilitasi gagal menjaga Ayah dan Ayah bisa kabur? Padahal kondisi fisik Ayah penuh keterbatasan. Ia kehilangan kedua kakinya dan harus memakai kursi roda. Itupun selama ini Ayah selalu dibantu orang lain, tak pernah Ayah menggerakkan kursi rodanya sendiri. Tapi sekarang? Kenapa Ayah bisa kabur? Apa ada yang membantunya keluar?
"Pak Syarvan terus menerus mengamuk sambil bilang kalau dia dikejar tujuh kurcaci, Mas." ujar salah seorang perawat.
"Iya betul. Sudah seminggu ini Pak Syarvan menyebut nyebut kalau dia mau dibunuh tujuh kurcaci, dan juga Pak Syarvan selalu menyebutkan nama nama para pejabat tinggi Pak. Katanya dia mereka mengejar dan akan membunuhnya." tutur seorang perawat dengan gugup. Ghazi mengusap wajahnya dengan tangan.
Itu lagi? Tujuh Kurcaci itu lagi? Para pejabat itu lagi? Apa mereka itu tujuh kurcaci yang disebut sebut Ayah? Kalaupun iya, apa hubungan mereka dengan Ayah? Ghazi membatin dengan rasa penasaran luar biasa.
"Sudah beberapa hari ini Pak Syarvan tidak bisa tidur, beliau terus ketakutan dan panik. Kami harus memberikan obat penenang agar Pak Syarvan bisa beristirahat dan tidur nyenyak setiap malam." ujar salah seorang petugas medis yang berdiri paling dekat dengan Ghazi.
Lagi lagi Ghazi mengusap wajahnya dengan tangan. Kali ini ia bahkan menangkupkan kedua tangannya di wajah selama beberapa detik. Ghazi sungguh kasihan pada Ayahnya. Ayahnya pasti sangat menderita. Dan Ghazi juga menyesal, kenapa ia tak mau mendengarkan Ayah saat itu dan malah mengabaikan semua perkataannya hari itu.
"Bu.. Sepertinya, memang nama nama yang disebutkan Ayah di video yang Ghazi tunjukkan pada Ibu waktu itu memang ada hubungannya dengan Ayah. Ayah terus menerus menyebut nama mereka. Dan bahkan sampai mimpi dikejar kejar. Nggak mungkin Ayah sampai seperti itu kalau bukan karena hal itu memang berkaitan erat dengan masa lalunya kan?" ujar Ghazi pada Ibu. Ibu mengangguk pelan.
"Ibu juga berpikir begitu Ghazi. Seandainya waktu itu kita lebih mendengarkan Ayah.." Ibu menunjukkan raut sesal di wajahnya. Selama beberapa menit setelahnya, mereka berdua terdiam sementara di benak mereka dipenuhi pusaran rasa sesal dan kata seandainya.. seandainya.. dan seandainya..
"Pak! Kursi roda Pak Syarvan ditemukan polisi!" salah satu staff yang baru saja menerima telepon berteriak memberitahu kepala pusat rehabilitasi. Ghazi, Ibu, Anaya dan Sevilla yang mendengar itu langsung bangkit berdiri.
"Gimana kondisi Pak Syarvan?" tanya kepala pusat rehabilitasi.
"Belum ditemukan Pak." jawab si petugas. Ghazi, Ibu, dan kedua adiknya kembali terduduk lemas. Pupus sudah harapan mereka untuk bertemu Ayah.
"Dimana kursi roda itu ditemukan?" tanya salah seorang dokter.
"Dekat jembatan biru, Pak.." jawab si petugas lagi.
Tak lama kemudian, terdengar suara sirine dan pihak kepolisian tiba di pusat rehabilitasi. Ghazi langsung berlari menghampiri mereka. Tampak salah seorang kepala polisi turun dari mobil dan menemui mereka.
"Selamat siang, Pak. Saat ini Pak Syarvan sudah kami temukan dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit pusat." kepala polisi melapor pada kepala pusat rehabilitasi. Ghazi langsung mendekatinya.
"Gimana kondisi Ayah saya Pak? Saya Ghazi, anak sulung Pak Syarvan." jelas Ghazi sambil bertanya.
"Pak Syarvan ditemukan sudah meninggal dunia..."
Ghazi terduduk lemas, Anaya dan Sevilla berteriak keras, sementara Ibu mendadak pingsan..
* * *
Ghazi tak pernah menyangka, hari bahagianya harus berakhir duka. Hari wisuda yang dinantikannya berubah menjadi hari pemakaman Ayah. Suasana ceria yang dipersiapkan untuk merayakan kelulusan Ghazi, keberhasilannya meraih nilai tertinggi di kampus, dan kesuksesannya meraih beasiswa ke luar negeri, harus terganti menjadi suasana duka dan penuh air mata.
Ghazi menatap gundukan tanah merah yang masih basah. Jasad Ayah terbaring di sana. Ayah tutup usia dengan cara yang sangat tragis. Ia ditemukan di bawah jembatan dalam kondisi sudah tak bernyawa, tak jauh dari pusat rehabilitasi.
Diduga kuat, Ayahnya menjadi korban tabrak lari. Kursi rodanya ditemukan tersangkut di antara semak semak di sekitar jembatan dalam kondisi ringsek. Dan Ayah, ditemukan beberapa meter dari sana dalam kondisi berlumuran darah. Sepertinya Ayah tertabrak keras dan terlempar dari kursi rodanya.
Ghazi menghapus air matanya dengan punggung tangan. Rasa sesal menyeruak memenuhi benaknya. Berkali kali Ghazi meminta maaf pada Ayahnya di dalam hati. Ghazi sangat menyesal. Hatinya sakit seolah teriris iris saat mengingat saat terakhirnya bersama Ayah minggu lalu. Ghazi menyesal sekali, ia menyesal mengapa tak sungguh sungguh mendengar semua perkataan Ayah.
Kepala Ghazi dipenuhi penyesalan sekaligus pertanyaan yang tak terjawab. Andai saja ia tak mengabaikan ucapan Ayahnya, dan langsung mencari tau tentang tujuh kurcaci dan nama nama yang disebutkan Ayahnya, mungkin saja saat ini Ayah masih ada bersama mereka dan Ghazi bisa memecahkan semua misteri tentang kejadian yang menimpa Ayahnya beberapa tahun yang lalu. Ghazi mengepalkan tangannya kesal dan penuh sesal.
"Ghazi.." Ibu menepuk pundak Ghazi pelan. Ghazi menoleh ke arah Ibu, air matanya kembali mengalir deras. Ibu menghapusnya dengan tangannya dan memeluk Ghazi.
"Sudah, Nak. Ikhlaskan kepergian Ayah. Jangan menyesal, jangan menyalahkan diri sendiri. Apapun yang kamu lakukan pada saat itu memang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Ajal Ayah sudah ditentukan Allah, dan tak ada satupun yang bisa menundanya. Jangan pernah berpikir dan berandai andai, kalau saja kalau begini kalau begitu, jangan Ghazi, semua itu tidak ada gunanya. Saat ini lebih baik kamu doakan Ayah Husnul Khotimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah.. Ya nak.." pesan Ibu pada Ghazi.
Ghazi tergugu, air matanya membuncah, tapi hati dan perasaannya jauh lebih lega. Ibu benar, saat ini hal terbaik yang harus dilakukan Ghazi adalah ikhlas. Ghazi berbisik dalam hati sambil menghela nafas berat, namun penuh kelegaan..
Selamat jalan Ayah.. Ghazi Ikhlas.. Sampai bertemu di Jannah - Nya Allah...