Bab 14. WISUDA

1055 Words
"Bu, Ghazi hari ini nggak bisa ke tempat Ayah. Kemarin ada telepon dari pihak kampus. Ghazi diminta datang karena orang orang dari pihak pemberi beasiswa datang untuk wawancara sore ini." ujar Ghazi tergopoh gopoh mengambil sepatunya dan langsung mengenakannya sambil berdiri. "Nggak sarapan dulu Ghazi?" tanya Ibu. "Nggak sempat, Bu. Nanti ketinggalan kereta." jawab Ghazi cepat. Ia buru buru mencium tangan ibu dan berpamitan. Ibu masih sempat menyelipkan dua buah lontong dan satu butir telur asin ke tas Ghazi sebelum putra sulungnya itu pergi. Ghazi terburu buru berlari ke arah ojek yang sudah menunggunya di depan rumah. Ia pun meluncur di antara dinginnya udara selepas subuh. Ghazi pagi ini harus naik kereta jam enam pagi, supaya tepat waktu sampai di kampusnya dan melakukan wawancara. Dari rumah kontrakan Ibu ke kota dimana kampusnya berada memakan waktu kurang lebih lima jam dengan kereta api. Dan Ghazi harus tiba di kampus pukul dua belas tiga puluh siang, sebab tepat pukul satu siang, wawancara sudah dimulai. ' Pihak kampus lupa mengabarkan berita wawancara itu pada Ghazi. Ghazi sendiri mengetahuinya dari salah seorang temannya yang juga mengikuti program beasiswa yang sama. Dan saat Ghazi tau kabar wawancara itu, jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh malam. Tak ada lagi kereta yang berangkat selarut itu. Terpaksa Ghazi berangkat pagi pagi sekali menuju stasiun dan membeli tiket kereta paling pagi. Tiba di kampusnya, Ghazi langsung berganti pakaian dan melakukan sesi wawancara singkat. Dan hasilnya akan diumumkan saat acara wisudanya pekan depan. Ghazi semalam sudah berdiskusi dengan Ibu, dan Ibu menyarankan Ghazi untuk mengambil salah satu dari ketiga beasiswa itu, karena kesempatan belum tentu datang dua kali. Ibu mengatakan kalau dirinya masih sanggup mengurus Ayah meski sendirian. Dan penghasilan Ibu dari berjualan masih sangat cukup untuk membiayai kedua adik Ghazi sekaligus kebutuhan Ibu sendiri. Akhirnya Ghazi memantapkan pilihannya untuk meneruskan studi nya di luar negeri. Pekan depan Ghazi wisuda. Seantero kampus sudah tau kalau Ghazi adalah peraih nilai tertinggi di kampusnya. Ghazi bahkan sudah diminta menyiapkan naskah pidato untuk naik ke podium mewakili teman temannya yang lulus pada hari itu. Ghazi sudah menyiapkan uang dan tiket untuk mengundang Ibu pada hari wisudanya. Anaya dan juga Sevilla sudah jauh jauh hari mengosongkan jadwal. Anaya, meski sedang sibuk tetap mengatur jadwal sebisanya agar bisa menghadiri wisuda Ghazi. Rencananya, sepulang dari acara wisuda, mereka semua kan mengunjungi Ayah dan merayakan wisuda Ghazi di tempat rehabilitasi Ayah sambil membawa makanan untuk tim medis di sana yang dibuat sendiri oleh Ibu. Ghazi tersenyum senang sekali membayangkan hai wisudanya nanti. Akhirnya ia lulus, dan semoga ilmunya nanti bis bermanfaat untuk mencari nafkah dan mengembalikan kondisi keluarganya. Dan yang paling penting, Ghazi ingin meneruskan karir Ayahnya sebagai jurnalis yang bersih dan jujur. Ia ingin menjadi pengabar berita pada khalayak dengan mengedepankan fakta yang apa adanya, seperti ayahnya dulu. * * * "Ghazi Ammar Satria." terdengar suara rektor memanggil nama Ghazi dan langsung disambut tepuk tangan hadirin yang hadir di acara wisuda Ghazi hari itu. Ghazi bergegas naik ke podium. Wajahnya pucat, dan keringat membanjiri dahinya. Semua kata kata yang sudah ia persiapkan jauh jauh hari sebelum ini untuk disampaikan dari atas podium di depan seluruh tamu undangan buyar sudah. Ghazi gugup luar biasa. Lututnya lemas, seolah kedua tungkainya terbuat dari agar agar. Sampai di atas podium. Ghazi melihat ke satu titik. Dan kegugupannya bertambah dua kali lipat. Ia sampai terengah engah dan suaranya bergetar. Lagi lagi Ghazi menatap ke satu titik itu. Tiga kursi di deretan tengah baris ke lima. Kursi tempat Ibu, Anaya, dan Sevilla seharusnya duduk manis menyaksikan prosesi wisudanya yang sudah mereka tunggu tunggu. Tapi hari ini, ketiga kursi itu kosong. Ibu, Anaya, dan Sevilla tak ada di sana. Semua orang mengira kegugupan Ghazi karena ia grogi berbicara di ruangan sebesar itu, dengan hadirin yang ramai memenuhi tiap sudut ruanga, juga dihadiri jajaran petinggi kampus, bahkan menteri pendidikan. Mereka semua mengira Ghazi gugup karena hal itu. Tapi bukan itu penyebabnya. Saat ini Ghazi tak tau harus bicara apa di depan podium. Kemarin sore, Ibunya mengabarkan tidak bisa datang karena Ayah mengamuk, jadi mereka bertiga harus terus memantau kondisi Ayah. Ibu meminta Ghazi untuk tetap tenang dan terus saja menjalani prosesi wisuda meski tanpa kehadiran mereka. Ghazi pun menuruti permintaan ibunya. Hari ini ia tetap mengenakan toga, dan berjalan ke aula kampusnya meskipun dengan langkah yang berat dan hati yang luar biasa was was. Ia sangat ingin mendengar kabar tentang Ayahnya. Tapi Ibu tak menjawab panggilan telepon Ghazi sejak semalam. Dan pagi tadi, selepas subuh, Ibu mengirim pesan singkat ke ponsel Ghazi, bahwa Ayah sudah tak lagi mengamuk, jadi Ghazi bisa meneruskan acara wisudanya sampai selesai, lalu nanti segera pulang setelah selesai wisuda. Ayah sepertinya butuh perhatian lebih. Begitu kata Ibu. Ghazi akhirnya menuruti perintah Ibu dan meneruskan mengikuti acara wisudanya hari ini, meski dengan pikiran bercabang ke tempat keluarganya berada. Ghazi menyelesaikan pidatonya jauh lebih singkat dari apa yang sudah ia persiapkan selama ini. Untunglah ia masih bisa menyelesaikan pidatonya sampai akhir dengan baik. Dan saat Ghazi kembali ke tempat duduknya, tiba tiba ponselnya berbunyi. Ibu. Ghazi buru buru keluar ruangan dan mencari tempat yang lebih tenang untuk menerima panggilan telepon dari Ibu. "Halo? Assalamualaikum?" Ghazi menjawab panggilan telepon setelah berlari ke bawah tangga di samping aula. Di sana sepi, dan suara ibu bisa terdengar lebih jelas. Nafas Ghazi terengah engah. Ia tak sadar sudah berlari kencang menuju tempat itu. "Waalaikumsalam.. Ghazi.. Wisudanya sudah selesai belum, Nak? " terdengar suara ibu yang bergetar menahan tangis. "Sudah, Bu.. Sudah hampir selesai. Ada apa, Bu?" tanya Ghazi. "Pengumuman beasiswanya juga sudah belum?" tanya Ibu lagi, suaranya makin bergetar membuat Ghazi semakin panik. "Sudah, Bu. Ghazi lulus. Ada apa Bu? Ibu nangis? Ayah kenapa Bu?" tanya Ghazi panik. "Kalau sudah selesai, kamu cepat pulang ya, Nak.." Ibu mulai terdengar terisak. Di belakang Ibu, Ghazi juga mendengar suara tangis Anaya dan Sevilla, kedua adiknya. Ghazi semakin panik tak karuan. "Iya Ghazi pulang sekarang. Sebentar lagi ke stasiun. Ada apa Bu? Ada apa dengan Ayah?" tanya Ghazi sambil berlari menuju keluar kampus. Ia tak peduli dengan acara wisuda yang belum selesai. Ia juga tak sadar masih mengenakan toga sampai ke pangkalan ojek, "Ghazi.. Ayahmu kabur dari pusat rehabilitasi semalam. Kursi rodanya juga tidak ditemukan. Ayah entah bagaimana bisa lolos dari penjagaan dan kabur ke jalan raya dengan kursi rodanya. Sampai sekarang belum ditemukan.." tangis Ibu pecah dan Ghazi terduduk lemah..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD