"Kak Moyaaaa!" Sevilla dan Anaya menghambur memeluk Moya saat Ghazi dan Moya tiba di rumah. Moya balas memeluk keduanya bergantian. Mereka tertawa lalu menangis. Tak lama, Moya juga memeluk ibu dan mencium tangannya.
"Ibu sehat?" tanya Moya sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Alhamdulillah sehat, nak. Moya sehat? Mama dan Khalila gimana kabarnya?" tanya Ibu dengan suara parau menahan haru. Mereka lalu duduk di ruang tengah sambil bercerita.
"Mama Alhamdulillah sehat, Bu. Lila juga sehat, dia sudah kuliah, Bu. Ini tahun keduanya." jawab Moya memberi tau kabar adik satu satunya itu.
"Masyaallah.. nggak terasa waktu berlalu. Dulu Lila kalau kesini sama Sevi masih pakai seragam SMP. Sekarang sudah kuliah aja. Kuliah di sini juga?" tanya Ibu.
"Iya Bu, Lila tinggal sama Moya di sini. Kalau Mama masih di kampung sama nenek." jawab Moya santun.
Cukup lama Moya bercerita dengan Ibu, Anaya dan Sevilla, mereka juga sempat melakukan panggilan video dengan Lila, suasana rumah mendadak penuh air mata. Tak lama kemudian, Ghazi minta izin pada Ibu untuk berbicara serius dengan Moya. Ada banyak hal yang mengganjal dan mereka berdua ingin menyelesaikan ini satu persatu.
Ghazi kemudian mengajak Moya ke lantai dua rumah mereka. Ia memberikan catatan yang dibukukan Ayah pada Moya. Moya membacanya sekilas dan terperangah.
"Ya Allah.. selama ini Papa nggak pernah cerita soal kerjaannya. Aku pikir Papa dan Ayahmu cuma meliput soal korupsi skala kecil. Ternyata ini yang selama ini mereka kerjakan. Hal sebesar ini yang mereka hadapi demi menguak semuanya ke publik." Moya bicara dengan suara bergetar. Reaksinya kurang lebih sama dengan Ghazi saat pertama kali membaca catatan catatan itu. Tangan moya mengepal. Ia terlihat geram sekali.
"Kamu juga berpikir sama dengan apa yang aku pikirkan kan?" tanya Ghazi cepat.
"Tentang apa? Tentang penyebab kecelakaan Papaku? Bahwa itu ada hubungannya dengan peristiwa tragis yang menimpa Ayahmu?" tanya Moya tegas. Ghazi mengangguk.
"Aku tau Ghazi. Aku bahkan memperingatkan Ayah saat Om Syarvan di rumah sakit. Aku dan mama tau, apa yang terjadi pada Om Syarvan pasti sudah bisa diprediksi Ayah. Malam itu Ayah juga mendapat panggilan telepon tapi kami mencegahnya." ujar Moya di luar dugaan Ghazi.
"Waktu itu Om Herdi juga menerima telepon? Malam itu ditanggal yang sama?" tanya Ghazi.
"Iya. Kurang lebih jam sepuluh malam. Saat itu Lila sakit dan Mama menangis, melarang papa pergi, takut terjadi apa apa pada papa dan juga Lila. Papa membatalkan rencananya malam itu. Dan saat itu Om Syarvan ke rumah kami."
"Ayah ke sana? Sebelum ia dipukuli?"
"Iya. Dan itulah yang ingin aku sampaikan ke kalian sejak dulu. Tapi mama melarangku. Sampai kita pindah. Mama bilang, jangan sampai kita menjadi penyebab kekacauan dalam hidup kamu dan keluargamu." jawab Moya.
Ghazi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia benar benar tak paham dengan apa yang dibicarakan Moya. Apa maksudnya? Apa yang ingin disampaikan Moya saat itu dan dilarang Istri Om Herdi? Apa yang menjadi penyebab kekacauan dalam hidup Ghazi dan keluarganya?
"Maksud kamu apa Moy?" tanya Ghazi bingung sekaligus penasaran.
"Saat itu, Papa menyimpan bukti penganiayaan yang menimpa Ayahmu. Tapi papa tau, pihak yang berwenang menutup kasus itu karena campur tangan penguasa. Mereka memerintahkan penyelidikan dihentikan. Dan Papa juga sadar, kalau mereka tau Papa menyimpan bukti, maka ia juga akan dihabisi. Jadi papa menundanya. Papa terus menyimpan bukti itu dan tidak harus berbuat apa dengan bukti di tangannya. Akhirnya saat itu Papa memutuskan untuk memberikan salinannya pada Om Dzikri dan salah satu rekannya di kantor cabang di luar kota. Saat itu kecelakaan itu terjadi, Papa sedang dalam perjalanan ke sana."
"Bukti apa Moya? Bukti apa yang dipegang om Herdi saat itu?"
"Bukti penganiayaan yang menimpa Ayahmu Ghazi."
"Apa? Buk.. bukti.. bukti.. semua itu ada buktinya?" tanya Ghazi. Ia sampai tergagap karena terkejut luar biasa. Ia tak menyangka, bertahun tahun ia mencari bukti sekaligus dalang di balik kasus yang menimpa Ayahnya, ternyata bukti itu dekat sekali.
"Ada. Om Dzikri juga menyimpan bukti itu. Namun dia memilih membuangnya. Alasannya sama dengan yang diutarakan Mama padaku. Maaf Ghazi, tolong jangan menyalahkan mereka. Mamaku dan juga Om Dzikri tidak mau bukti itu pada akhirnya justru jadi sesuatu yang berbahaya dan mengancam nyawa kita semua." ujar Moya memohon pengertian Ghazi.
Ghazi masih tak sanggup bereaksi. Berbagai macam perasaan tumpang tindih di benak Ghazi. Ia sama sekali tidak tau harus bersikap seperti apa. Ia bahkan tidak tau apa yang saat ini mendominasi pikirannya. Jujur, ia sedikit kecewa dengan Om Dzikri yang bersikap seolah ia tak tau apapun padahal ia menerima salinan bukti itu. Tapi di sisi lain, ia mengerti dengan apa yang dilakukan Om Dizkri, tentu saja ia ingin keselamatan semuanya, mengingat mereka berurusan dengan orang orang yang berkuasa dan tak segan melenyapkan nyawa dengan sekali perintah saja.
"Tunggu sebentar Moya.. Kamu bilang Om Dzikri hanya menerima salinannya kan? Lalu dimana bukti aslinya sekarang? Apa Mamamu juga sudah membuangnya?" tanya Ghazi dengan nada nyaris putus asa.
"Nggak, mama nggak membuangnya." jawab Moya membuat Ghazi bernafas lega.
"Lalu dimana bukti itu sekarang?" tanya Ghazi dengan nada mendesak.
"Ada padaku. Aku menguburnya."
"APA??"
* * *
Sebuah kotak kayu seukuran kotak sepatu diserahkan Moya pada Ghazi. Tangan Ghazi bergetar menerimanya. Saat Moya kembali ke kota ini lagi, ia menggali kotak kayu yang dikuburnya selama bertahun tahun ini di bawah pohon di bawah gazebo di rumahnya yang lama. Rumah itu saat ini ditempati kerabat Om Herdi, dan Moya meminta izin untuk menggali sesuatu di bawah sana. Untungnya mereka tidak bertanya macam macam.
Dan setelah sekian tahun, Moya baru membuka lagi kotak itu. Ia menemukan berbagai macam foto di sana, juga sebuah memory card sangat penting berisi bukti percakapan Ayah Ghazi dengan Papanya saat peristiwa penganiayaan itu terjadi. Bukti nyata yang saat ini Moya serahkan pada Ghazi.
"Saat peristiwa penganiayaan itu terjadi, Ayahmu dan Papaku terhubung lewat panggilan telepon yang tidak diketahui mereka. Dan Ayah merekam semua suara yang terjadi pada saat itu. Dari sana aku tau detik detik yang menimpa Ayahmu, sekaligus siapa dalang dari peristiwa itu Ghazi. Tak hanya itu, di dalam kotak itu juga terdapat banyak sekali foto. Foto itu adalah bukti bahwa apa yang dicatat Ayahmu itu benar.." ujar Moya sambil berbisik.
Ghazi menerima kotak itu dan memeriksa isinya. Dan saat ia mendengar suara Ayahnya di detik detik terakhir saat ia dianiaya, Ghazi pun tak sanggup lagi menahan diri, ia mengamuk sambil meraung.
"KUBUNUH MEREKA SEMUA!!!"