Ghazi geram sekali. Ia bertekad menghabisi nyawa mereka dengan caranya sendiri. Darahnya mendidih, nafasnya sesak. Catatan di buku terakhir Ayah membuat Ghazi sampai tak sanggup membacanya. Hendra Setiawan adalah seorang pembunuh yang tak terlihat. Ia memiliki begitu banyak kaki tangan dan pengikut setia. Dari luar, Hendra terlihat seperti sosok gagah yang siap membela negara dan menumpahkan darahnya demi bangsa ini. Tapi di balik itu, belasan, puluhan, bahkan ratusan orang meregang nyawa atas perintahnya. Orang itu bisa membunuh tanpa menyentuh!
Ia tinggal mengangkat telunjuknya dan menunjuk salah satu pasukannya untuk menghabisi nyawa seseorang. Ia tak pernah turun tangan sendiri. Dan catatan yang ditulis Ayahnya, terhitung sejak masih menjabat sebagai tentara aktif, sudah ratusan aktivis ia habisi. Dan mereka adalah orang orang yang menentang kebijakan pemerintah. Mereka juga orang orang yang secara tidak langsung bersinggungan dengan Hendra dan kelompoknya. Mereka yang terbunuh adalah orang orang yang mengetahui kejahatan terorganisir yang dilakukan Hendra dan kelompoknya, dan mereka yang meregang nyawa adalah orang orang berusaha mengungkap kejahatan itu ke permukaan. Siapapun yang berani bersuara, harus siap kehilangan nyawa!
Ghazi mulai memprediksi. Ingatannya kembali ke tujuh tahun yang lalu. Saat Ayahnya terbaring tak berdaya, penuh luka, dan nyaris kehilangan nyawa di kebun tebu pada pukul dua dini hari. Menurut cerita Ibu, saat itu Ayah menitipkan buku buku itu pada Ibu dan memberikan kuncinya, lalu mengatakan pada Ibu untuk memberikan buku buku itu pada Om Herdi jika terjadi apa apa pada diri Ayah. Namun setelah kejadian itu, Ibu lupa lantaran keadaan terlalu kacau. Kondisi Ayah yang mengenaskan, Ibu yang shock lalu ikut dirawat di rumah sakit, dan anak anaknya yang tak terurus, membuat Ibu lupa akan janjinya pada Ayah untuk memberikan buku buku itu pada Om Herdi. Dan sebulan kemudian, Om Herdi meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal yang ia alami di luar kota. Hal itu membuat Ibu lupa dan sampai kini buku itu utuh tanpa tersentuh.
Ghazi merunut ulang semuanya. Malam itu menurut Ibu, Ayah mendadak menerima telepon dari seseorang, setelah sebelumnya Om Herdi juga menelepon Ayah. Ayah bergegas pergi dan berpesan pada Ibu untuk berhati hati. Hari itu sudah larut malam, dan Ghazi menduga, Ayah dijebak oleh pasukan Hendra Setiawan dan disiksa. Ghazi menduga, mereka sudah tau kalau Ayah menyimpan bukti kejahatan mereka dan berniat memberitakan semuanya ke khalayak melalui media tempat Ayah dan Om Herdi bekerja. Dan saat itulah mereka menjebak Ayah melalui panggilan telepon dan Ayah masuk perangkap.
Mungkin Ayah memang sengaja tidak dibunuh karena mereka mencari bukti bukti tentang kejahatan mereka yang Ayah simpan. Ghazi melihat buku ini lagi. Catatan ini memang detail dan sangat lengkap. Tapi bagaimanapun juga, catatan ini bukanlah sebuah bukti yang kuat. Ini hanya lah sebuah catatan Ayah yang tidak akan bisa membuktikan apa apa. Ghazi menduga, Ayah memberikan bukti itu pada Om Herdi, atau memang sejak awal Om Herdi yang menyimpannya. Mereka membagi tugas dalam menguak kasus ini. Dan kuat dugaan Ghazi, bukti itu mungkin berupa foto, video, atau rekaman percakapan yang terjadi saat mereka melakukan kejahatan. Dan mungkin setelah itu mereka berhasil menemukan bukti itu, hingga mereka menyingkirkan Om Herdi dan menghabisi nyawanya dalam kecelakaan tunggal yang mereka rekayasa.
Kepala Ghazi berdenyut. Satu demi satu benang kusut yang ia simpan selama hampir tujuh tahun ini mulai terurai satu persatu. Semakin banyak Ghazi menemukan fakta, darahnya semakin menggelegak. Ia sangat marah. Ia sangat ingin menghabisi mereka satu persatu dengan tangannya sendiri. Emosi menguasainya.
Ghazi menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Ia masih berada dalam pusaran pertanyaan. Dimana ia bisa menemukan bukti bukti dari catatan yang diberikan Ayah? Kemana ia harus mencari jawabannya?
* * *
"Moya?"
"Ghazi?"
"Kok bisa di sini? Apa kabar Moya?"
"Alhamdulillah baik. Ya Allah lama banget nggak ketemu. Aku udah setahun balik lagi ke sini Ghazi. Aku kerja di sini. Kamu sendiri kok ada di sini? Pindah lagi ke sini juga?"
"Iya, aku, Ibu, Anaya dan Sevilla pindah ke sini lagi. Baru sekitar enam bulanan."
"Oooh.. Ya ampun, nggak nyangka ketemu lagi. Ibu sehat kan? Anaya dan Sevilla kuliah di mana?"
Ghazi larut dalam obrolan bersama Elmoya. Gadis yang akrab disapa dengan panggilan Moya itu adalah putri sulung Om Herdi. Mereka nyaris sebaya, usia Moya hanya terpaut satu tahun di atas Ghazi. Seingat Ghazi, saat Om Herdi meninggal dunia, Moya baru saja memasuki tahun kedua kuliahnya sementara Ghazi baru saja lulus SMA dan bersiap ke bangku kuliah. Dulu mereka cukup akrab, keduanya sering bertemu dan mereka berteman. Hampir tujuh tahun yang lalu, Elmoya ikut Ibu dan adiknya ke kampung halaman Ibunya sepeninggal Om Herdi. Sejak itu, Ghazi dan Moya tak pernah bertemu maupun berkomunikasi lagi.
Dan saat ini, keduanya sama sama tak menduga, mereka berdua akan bertemu kembali di kota ini, saat Ghazi tengah meliput acara pameran property dan Elmoya salah satu staff di sana.
"Maaf, aku nggak tau Ghazi, kupikir Om Syarvan masih ada.." tutur Moya dengan nada penuh penyesalan. Ia menanyakan kabar Ayah pada Ghazi dan sangat terkejut mendengar jawaban Ghazi. Ia pun menyampaikan turut berbela sungkawa.
"Nggak apa apa, Moya. Mungkin ini memang yang terbaik buat Ayah, bertahun tahun Ayah menderita dengan kondisi fisik dan mentalnya yang tak sehat." jawab Ghazi sambil menghela nafas. Moya mengangguk angguk dengan ekspresi sedih.
"Ayah kita pahlawan Ghazi.." tutur Moya dengan nada getir.
"Iya mereka mengorbankan nyawa untuk sebuah tugas mulia yang berbahaya." jawab Ghazi pelan.
"Kamu juga tau sesuatu?" tanya Moya.
"Loh? Kamu juga tau?" tanya Ghazi terkejut. Setau Ghazi, Ibu tidak pernah memberikan catatan ini pada Om Herdi maupun keluarganya. Tapi kenapa Moya tau? Apa ia punya salinan catatan itu? Apa Om Herdi juga punya catatan yang sama?
"Moya, kynya kita harus nerusin pembicaraan ini di tempat lain." ujar Ghazi memelankan suaranya. Moya mengangguk cepat. Dari raut wajahnya Ghazi tau Moya juga menyimpan kekhawatiran yang sama.
Akhirnya mereka sepakat untuk ke rumah Ghazi. Mereka harus saling memberi informasi dan menuntaskan tanda tanya besar di kepala mereka selama ini. Tanda tanya besar yang terus menggantung di kepala selepas peristiwa tragis yang menimpa Ayah mereka berdua. Dalam perjalanan, Moya menceritakan sedikit tentang catatan yang ditinggalkan Om Herdi.
"Papa selama ini nggak pernah sama sekali nyeritain apapun soal kerjaannya sama kami semua Zi. Papa selalu menyimpan rapat rapat semuanya dengan alasan keselamatan kami semua. Tapi di saat saat terakhirnya, Papa menyebutkan satu nama pada kami. Nama yang kata Papa harus kami hindari seumur hidup. Ini yang mau aku ceritakan sama kamu Zi. Nanti sampai di rumah kamu, aku ceritakan semua yang pernah papa sampaikan sama kami. Dan aku punya buktinya. Bukti tentang mereka, terutama satu orang itu." ujar Moya.
"Siapa?" tanya Ghazi penasaran.
"Hendra Setiawan. " bisik Moya.
Ghazi terkesiap. Ia sudah menduganya. Hendra Setiawan, Jendral besar yang mampu membunuh tanpa menyentuh.