Bab 19. IBLIS BERTOPENG MALAIKAT

1012 Words
"Abang sekarang di kamar terus Bu, ada apa?" tanya Anaya sambil membantu Ibu mengemas baju baju jahitan Ibu yang besok siap di antar ke para langganan. Gadis itu sedang libur semester dan sudah seminggu ini dia pulang ke rumah. "Mungkin sedang sibuk sama kerjaan barunya. Namanya juga wartawan, pasti butuh banyak informasi dan data untuk menulis berita. Mungkin Abangmu sedang sibuk mencari informasi itu." jawab Ibu sambil melirik ke arah kamar Ghazi. "Memangnya Ayah dulu gitu juga ya, Bu?" kali ini pertanyaan lain datang dari si Bungsu Sevilla yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ibu menggeleng pelan. "Kalau Ayah dulu justru kebalikannya. Lebih sering di luar rumah. Mungkin karena jamannya kan beda. Waktu jaman Ayah dulu internet belum seperti sekarang. Kalau sekarang kan mencari informasi bisa sambil duduk di kamar, kalau Ayah dulu, harus berkeliling mencari tau kesana kemari." jawab Ibu. Anaya dan Sevilla hanya mengangguk angguk mendengar penjelasan Ibu. Memang sudah beberapa hari ini Ghazi mengurung diri di kamar. Yang ia lakukan bukan mencari informasi demi kepentingan pekerjaannya seperti kata Ibu. Ghazi memang tengah mencari informasi melalui situs pencarian di internet, tapi bukan untuk pekerjaan kantornya, melainkan melanjutkan menelusuri catatan yang ditinggalkan Ayah dan mencari informasi tambahan melalui internet. Ghazi sangat penasaran dengan tujuh kurcaci yang sangat ingin Ayah angkat beritanya ke khalayak sampai mengorbankan nyawanya sendiri dan juga nyawa Om Herdi. Banyak sekali kejahatan luar biasa yang Ghazi temukan di catatan Ayah. Rentang waktunya sekitar sepuluh sampai dua belas tahun yang lalu. Berarti, Ayah sudah menyelidiki kasus kasus yang melibatkan mereka bertujuh sejak Ghazi masih duduk di bangku SMA. Pantas saja di tahun pertama Ghazi masuk SMA, Ayah mulai sering liputan ke luar sampai larut malam. Ternyata yang disorot Ayahnya tidak main main. Herman Rustandi dan kawan kawannya saat itu adalah orang orang biasa yang tak disangka bisa berbuat sejauh itu untuk menggulingkan kekuasaan sebelumnya. Kejahatan mereka nyaris menyentuh semua aspek. Dan semua sangat terorganisir, sangat rapi, dan juga sangat bersih. Tahap awal kejahatan mereka di mulai dari menguasai media. Berbagai pencitraan sudah mereka lakukan sejak awal. Saat mereka belum diperhitungkan di kancah politik. Saat mereka semua masih terbilang anak bawang di kursi pemerintahan. Beberapa di antara mereka sudah membangun image pahlawan, bahkan malaikat di mata rakyat. Salah satu diantara mereka berperan sebagai penegak hukum yang adil dan jujur. Ghazi sendiri masih ragu, Leo Fernando, sang Hakim yang adil itu apakah saat awal karirnya memang betul betul seorang penegak hukum yang jujur dan bersih, tapi kemudian berbalik menjadi pendusta dengan memutar balikkan fakta demi kepentingan politik, ataukah memang sejak awal ia adalah orang yang culas namun berkedok hakim yang jujur dan cerdas? Ghazi tak tau itu, tapi yang jelas, di catatan Ayahnya, Leo Fernando bukan sekali dua kali mengetukkan palu dan menjatuhkan hukuman berat kepada orang tak bersalah yang berseberangan dengan kepentingannya, dan tak sedikit pura orang orang bersalah yang berpihak padanya ia bebaskan dari semua tuduhan meskipun perbuatan jahat mereka luar biasa. Iblis bertopeng malaikat lainnya datang dari mantan aktivis yang sangat vokal pada masanya, namun justru sekarang paling rakus dan haus akan harta saat menduduki jabatannya. Rudi Nugroho. Ia adalah mantan aktivis yang selalu berteriak lantang menentang kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat. Ia dan rekan rekan mahasiswa mengepung istana kepresidenan pada masanya, meneriakkan jeritan hati rakyat dan meminta pemerintah saat itu turun dari jabatannya. Namun saat ini, Ghazi geleng geleng kepala membaca catatan Ayah. Rudi Nugroho melakukan korupsi besar besaran di banyak sektor yang menutupinya dengan pajak yang tinggi dan hutang luar negeri. Ghazi bergidik ngeri. Hutang hutang yang dikumpulkan Rudi Nugroho dan orang orang di sekitarnya selama menjabat sebagai menteri keuangan jumlahnya sangat fantastis. Kasihan anak cucu yang hidup di negeri ini. Merekalah yang nantinya akan menanggung hutang negara sebanyak itu. Pencitraan lainnya datang dari Herman Rustandi. Sejak masih menjadi anggota dewan rakyat, Herman Rustandi sudah terlihat bagai malaikat yang selalu berpihak pada rakyat kecil. Sejak dulu ia selalu menciptakan image dermawan dan baik hati. Dan saat menjabat sebagai menteri sosial, ia selalu terlihat dekat dengan orang orang yang butuh disantuni. Senyumnya selalu terlihat tulus dan ramah. Dan ia juga sangat perhatian pada mereka yang membutuhkan. Tapi di balik itu semua, Herman Rustandi adalah iblis rakus yang memakan harta orang orang yang seharusnya ia beri bantuan. Ia tega menggelapkan dana bantuan sosial untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Ghazi sampai mengepalkan tinju sambil membaca catatan tentangnya. Dua lainnya, Bahar Junaidi dan Gerry Hartono adalah dua bagian yang tidak bisa dipisahkan. Yang satu adalah ketua dewan rakyat, dan yang satu lagi adalah ketua komisi pemilihan. Sejak masa mudanya, mereka berdua sudah menjadi satu tim yang solid. Satu sama lain saling membantu sejak dulu. Dan sampai sekarang keduanya pun bahu membahu dan saling tolong menolong dalam kecurangan dan kejahatan. Bahar Junaidi bukanlah ketua dewan yang dipilih rakyat. Ia kalah dalam pemilihan. Berbagai macam kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan, membeli suara, sampai menyuap kepala kepala daerah untuk memaksa rakyatnya memilih dirinya dalam pemilihan umum tak membuahkan hasil. Jalan terakhir adalah memanipulasi jumlah suara. Dan disanalah andil dari Gerry Hartono. Ia yang menjabat sebagai ketua komisi pemilihan mengatur sedemikian rupa agar Bahar Junaidi terpilih dalam dua periode sebagai ketua dewan rakyat. Sungguh kerjasama yang luar biasa. Tak hanya itu, mereka juga mengatur jumlah penghitungan suara agar para kepala daerah semua berasal dari pihak mereka, dari partai yang berada di bawah naunan Bahar Junaidi. Culas, licik dan manipulatif! Ghazi mengumpat dalam hati. Dan terakhir, orang yang paling jahat berhati iblis namun berpenampilan malaikat adalah Hendra Setiawan! Mantan kepala Badan Intelejen yang saat ini menjabat sebagai menteri pertahanan. Ia terlihat sangat berwibawa dan tegas menumpas kejahatan dan mengamankan negara. Namun di balik itu, ia adalah otak dari pembunuhan dan menghilangnya para aktivis di negara ini. Para aktivis vokal seperti Ayahnya, menentang pemerintahan saat ini yang dinilai menyengsarakan rakyat. Ya, Hendra Setiawan dan orang orangnya membungkam para aktivis dengan cara melenyapkan nyawa mereka dan membuat mereka semua tak lagi bisa berbicara! Termasuk Ayah Ghazi! Hendra setiawan adalah otak dari peristiwa yang menimpa Ayah pada malam itu! Ia yang membuat keluarga Ghazi menderita selama ini. Dialah yang paling membuat Ghazi ingin membalas dendam!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD