BAB 10. ROBOT GHAZI

1048 Words
"Abang kirim uang lagi ya?" tanya Anaya dengan nada getir. Ia kasihan pada Abangnya yang tak hanya sibuk belajar tapi juga sibuk mencari nafkah menggantikan Ayah. Hasil kebun tak seberapa sementara kebutuhan terus meningkat. Ibunya memang memiliki pekerjaan sebagai penjahit, tapi di kampung mereka rata rata orang orang hidup dengan perilaku sederhana yang jauh dari kata konsumtif, jadi mereka pun tak terlalu banyak membeli baju baru ataupun menjahit pakaian. Mereka lebih memilih menggunakan uang mereka untuk kebutuhan kebutuhan lainnya yang dirasa jauh lebih penting. Ghazi memahami itu. Itulah sebabnya ia tak keberatan membantu Ibunya mencari uang tambahan untuk kebutuhan sehari hari keluarganya, biaya perawatan Ayah, sekaligus kebutuhan dirinya sendiri dan juga kepentingan pendidikan adik adiknya. "Abang.. Uang aku masih ada, Ibu juga masih ada uang, Sevi juga belum ada kebutuhan apa apa. Abang nggak usah kirim dulu juga nggak apa apa Bang. Abang fokus aja ke kuliah Abang." saran Anaya hati hati. Takut menyinggung hati kaka sulungnya itu. "Abang fokus kuliah kok Nay. Alhamdulillah nilai abang semester ini bagus. Itu Abang kirim uang karena kebetulan kemarin Abang menang lomba debat bahasa Inggris. Hadiahnya uang tunai, Nay. Uangnya lumayan, bisa untuk dikirim ke kalian." jawab Ghazi dengan nada riang. "Abang harusnya tabung aja untuk kebutuhan Abang sendiri. Abang pasti banyak kebutuhan juga. Kita di sini sih di kampung serba murah, nggak terlalu banyak yang dibutuhkan Bang, semua Alhamdulilah masih cukup. Makan juga kan dari kebun sendiri." sahut Anaya. Ia sungguh kasihan pada Ghazi. "Nggak apa apa Nay. Kamu simpan aja uang itu. Kamu kan sebentar lagi lulus, pasti banyak kebutuhan. Buku buku, baju dan perlengkapan lainnya. Kamu pakai aja." ujar Ghazi. Anaya menghela nafas. Ia kasihan pada Abangnya. Tapi kalau Ghazi sudah bersikeras, artinya ia tidak punya pilihan kecuali menerima saja semua uang pemberian Abangnya itu baik baik dan menggunakannya seperlunya saja. "Kamu gimana Nay, belajarnya lancar?" tanya Ghazi. "Alhamdulillah lancar, Bang. Mudah mudahan nanti tes masuknya nggak terlalu sulit. Aku pengen nyusul Abang. Mau kuliah satu kampus sama Abang." jawab Anaya. "Aamiin.." Ghazi segera mengaminkan doa adiknya. Ia pun berharap Anaya bisa kuliah di sini, jadi ia bisa mengawasi adiknya itu. Meski pasti sulit sekali masuk ke kampus ini. Apalagi Anaya sekolah SMA saja tanpa pernah bimbingan belajar atau apapun. Selama hampir tiga tahun ini, selama Anaya sekolah SMA, ia tak pernah tau bagaimana prestasi adiknya itu di sekolah. Begitu juga dengan Sevilla, adik bungsunya. Ghazi sama sekali tak pernah tau perkembangan prestasi belajar kedua adiknya itu, meski Ghazi yakin mereka berdua sangat rajin belajar. "Nay.. Sayang banget di sana nggak ada bimbingan belajar. Kalau ada, pasti sudah Abang daftarkan kamu untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi." sesal Ghazi. "Nggak apa apa Abang. Belajar sendiri Insyaa Allah cukup. Aku berusaha banget biar bisa lulus. Uang dari Abang juga lebih dari cukup untuk membeli buku buku pelajaran. Hampir setiap pekan aku ke kota sama Paman, ikut ke toko buku, beli banyak buku latihan soal. Mudah mudahan cukup untuk persiapan belajar Bang.." jawab Anaya dengan nada riang yang justru membuat Ghazi sedih. Dalam hati ia bertekad untuk bekerja lebih keras agar kedua adiknya mendapat pendidikan yang layak. "Ya udah.. Udah dulu ya Nay, Abang mau belajar. Tahun depan kan Abang target lulus. Jadi harus banyak belajar. Apalagi abang sudah mulai masuk persiapan skripsi." ujar Ghazi. "Iya Bang.." "Oh iya, Abang belum bisa pulang Nay. Tolong sampaikan ke Ibu ya.." pesan Ghazi. "Iya nggak apa apa Bang. Ibu juga pasti ngerti. Abang kan sibuk kuliah dan kerja macem macem." jawab Anaya. "Kamu nggak keberatan kan bolak balik ke tempat Ayah?" tanya Ghazi dengan nada iba. "Nggak apa apa Bang. Aku malah seneng, kan sekalian ke kota. Bisa sekalian refreshing dan nyari buku buku." jawab Anaya dengan nada riang. Ghazi bersyukur mendengarnya. "Ya udah, titip Ibu sama Ayah ya Nay.." pesan Ghazi sebelum menutup telepon. "Iya Bang, Insyaa Allah.." jawab Anaya. "Assalamualaikum.." "Waalaikumsalam.." Setelah menutup telepon, Ghazi kembali mengamati langit langit kamarnya sambil merebahkan diri. Lagi lagi tahun ini ia tak bisa pulang. Selain menghemat ongkos, Ghazi juga harus bekerja dan belajar agar bisa mempertahankan prestasinya sekaligus mempertahankan beasiswanya. Ia juga harus mengejar agar bisa lulus tahun depan. Ghazi menargetkan skripsinya rampung sesegera mungkin agar ia bisa lulus kuliah dengan cepat dan segera mencari pekerjaan tetap. Ghazi tak berlama lama berbaring. Ia segera mengambil laptop nya dan menyelesaikan tugas sekaligus menyelesaikan pekerjaannya. Ia tak punya waktu beristirahat apalagi bermain main atau melakukan hal hal yang tidak bermanfaat. Ia tak pernah pulang kuliah sekedar nongkrong bersama teman temannya meski hanya beberapa menit. Hidupnya berkutat dengan rumah - kampus - tempat bekerja sambilan - perpustakaan - rumah lagi - kampus lagi - tempat bekerja lainnya - tempat bekerja yang satu lagi - perpustakaan atau toko buku - rumah lagi - kampus lagi - dan begitu seterusnya. Ia sudah terbiasa dengan rutinitas itu. Tubuhnya pun seolah sudah terprogram. Bangun pagi, beribadah, beraktivitas sesuai jadwal, lalu pulang, bekerja, kuliah, dan begitu seterusnya sampai waktunya sudah menjelang malam dan ia kembali beristirahat meski hanya beberapa jam. Ghazi seperti robot. Hidupnya pun sudah terprogram seperti robot. Ia tak pernah sedikitpun keluar dari program yang sudah ia rencanakan dengan detail dan terperinci, tanpa terlewat satupun. Tak apa apa, Ghazi menghibur dirinya sendiri. Tak masalah ia sekarang menjadi robot Ghazi. Tak menjadi persoalan kalau ia disebut sebut teman temannya kehilangan masa mudanya untuk hal hal yang terlalu serius untuk dijalani pemuda seusianya. Ghazi tak keberatan menjalani hidup rutin dan terencana seperti robot tanpa jiwa itu. Ia yakin, ini adalah kerja keras yang harus ia jalani demi masa depan yang baik. Ia yakin, saat ini ia tak apa apa menjalani kehidupan yang sulit, namun suatu saat nanti, ia akan memetik hasilnya, membuat dirinya berhasil mencapai impiannya, membahagiakan ibunya, sekaligus membawa kedua adiknya menjalani hari hari yang lebih baik. Ada satu niat lagi di benak Ghazi. Satu hal yang menjadi salah satu tujuan hidupnya saat ini. Ia ingin mengupas tuntas kasus yang menimpa Ayahnya. Ia harus membalas semua perbuatan mereka yang tega mencelakai Ayahnya dan membuat hidup mereka sekeluarga berantakan. Ghazi merasa kalau kasus yang menimpa Ayahnya seperti puzzle yang tak tuntas karena ia kehilangan keping terakhirnya. Ia akan mencari kepingan puzzle itu sampai ke ujung dunia sekalipun! Adzan isya berkumandang. Ghazi segera menuju tempat ibadah dan kembali menjalani rutinitasnya sehari hari. ia kembali menjelma menjadi robot Ghazi yang tak punya jiwa...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD