"Ibu nggak apa apa. Kamu nggak usah pulang Ghazi. Ibu cuma kelelahan."
"Tapi sampai dirawat. Artinya parah kan Bu? Kalau memang Ibu nggak apa apa, pasti dokter udah bolehin ibu pulang ke rumah."
"Nggak Ghazi, itu karena kata dokter masih perlu observasi, kan rumah kita jauh. Biar nggak bolak balik rawat jalan."
"Ah? Masa gitu sih bu?"
"Iya. Udah kamu tenang aja. Ibu nggak apa apa. Nih, kan kedengeran dari suara Ibu kan? Ibu jauh lebih baik. Nggak lemes."
"Bener Ibu nggak apa apa?"
"Nggak apa apa! Ih, dibilangin! Itu kemarin Naya cuma panik aja. Lagian apa apa harus lapor kamu sih. Padahal kan cuma masalah sepele gini?"
"Sepele gimana, Bu? Orang Ibu sampe pingsan kayak gitu? Gimana Naya nggak panik dan langsung telepon ke abang?"
Ghazi mendengar suara Anaya menyanggah omongan Ibu. Adik Ghazi itu terdengar berdebat dengan Ibu di seberang telepon. Keduanya tampak saling menyalahkan.
"Halo? Bu? Ibu? Ya udah ya udah.. nggak usah berdebat lagi.. Ya udah ya udah.. Kita tunggu aja hasil observasi Ibu. Ntar kan jadi tau ini ibu sakit apa sebenernya. Ghazi nggak pulang nggak apa apa ya Bu?"
"Iya Ghazi.. Ibu nggak apa apa. Kamu nggak udah pulang. Fokus aja sama kuliahmu. Jangan sampai nanti malah jadi terganggu kuliahmu karena keseringan pulang."
"Iya Bu.."
"Ya udah, kamu baik baik di sana, jangan tinggalkan sholat, rajin ngaji walau sesibuk apapun kamu belajar. Ingat itu ya nak.."
"Iya, Bu.. Insyaa Allah.. Ya udah, Ghazi tutup dulu ya, Bu. Ibu baik baik ya.."
"Iya Nak.."
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Ghazi meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur. Ia berbaring sambil menatap langit langit kamar. Observasi? Kata itu terasa tak asing di telinga Ghazi. Ia bahkan sangat muak mendengar dan mengingat lagi bagaimana dulu dokter Dzikri menyebut kata observasi sebagai alasan untuk menunda memberi tahu Ghazi bagaimana kondisi Ayah yang sebenarnya pasca peristiwa penganiayaan itu.
Mau tidak mau ingatan Ghazi kembali ke masa masa itu. Masa masa dimana ia sangat trauma dengan apa yang menimpa Ayah. Tiba tiba Ghazi kembali memikirkan semuanya tanpa sadar. Ingatan tentang hari itu kembali menyeruak dari benaknya.
Ada banyak tanda tanya dalam benak Ghazi yang belum terjawab hingga hari ini. Hanya secuil informasi yang ia dapat dari almarhum Om Herdi. Sementara dokter Dzikri, tak pernah tau apapun terkait kejadian itu, kecuali kondisi Ayah dari sisi medis. Ibu? Apalagi Ibu. Ayah tak pernah menceritakan semuanya pada Ibu.
Ini sudah berbulan bulan sejak peristiwa mengerikan itu terjadi. Tapi tak satu pun pertanyaan Ghazi terjawab. Siapa yang menganiaya Ayahnya? Kenapa? Apa kesalahan yang Ayahnya lakukan? Dendam apa yang orang lain miliki pada Ayah sampai tega membuat kondisi Ayah mengenaskan seperti itu? Kenapa polisi tidak juga bisa menangkap pelakunya hingga saat ini? Kenapa aparat tak bisa mencari informasi tentang hari itu? Ada apa sebenarrnya?
Dan Om Herdi. apa kecelakaan yang menimpa Om Herdi disengaja? Kenapa waktunya sangat pas? Kenapa Om Herdi meninggal dunia saat Ghazi dan Om Dzikri hampir saja mendapat informasi tentang peristiwa yang menimpa ayah darinya? Apa kecelakaaan yang menimpa Om Herdi ada hubungannya dengan peristiwa tragis dan misterius yang menimpa Ayah? Apa pelaku penyerangan dan rekayasa kecelakann itu dilakukan satu orang? Siapa dia? Kenapa dia tega?
Ghazi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan gusar. Benaknya terus berputar putar mengingat semua informasi dan memutar balik waktu, kembali ke saat saat ia kehilangan ayahnya dan Om Herdi. Yang paling Ghazi sesali adalah kenapa pihak kepolisian tidak juga berhasil mengungkap siapa pelakunya?
Ghazi menggeretakkan gigi. Kalau sudah begini, ia butuh pengalihan, butuh pelampiasan. Ghazi menarik laci mejanya yang paling bawah dan mengeluarkan sebuah kotak. Kotak itu berisi kepingan kepingan puzzle yang belum dirangkai. Ghazi baru saja mendapatkannya dari salah seorang kolektor puzzle setelah menerima tantangannya untuk menyelesaikan sebuah puzzle dalam waktu yang ia tentukan. Dan Ghazi berhasil menyelesaikannya tiga puluh detik sebelum waktu yang telah ditentukan. Itu sebabnya puzzles 1000 pieces itu bisa jatuh ke tangannya. Ghazi memang bergabung dalam komunitas pencinta puzzle sejak ia duduk di bangku SMA. Dan puzzle adalah hobinya sejak kecil.
Untuk Ghazi, puzzle adalah healing. Penyembuh yang paling cepat saat hatinya kacau moodnya berantakan. Ia sangat menyukai tantangan di setiap keping puzzle yang harus ia tuntaskan. Dan seringkali, ketika perasaannya kalut, pengalihan Ghazi adalah puzzle. Seperti saat ini, saat ia kesal, penasaran, sedih, dan teringat akan peristiwa tragis hari itu, Ghazi memilih menuntaskan puzzle dan mengalihkan semua pikiran pikiran nya tentang peristiwa hari itu.
Sambil menyusun puzzle benak Ghazi terus berputar. Ia tak jadi membeli laptop. Uangnya kembali habis. Sebagian ia gunakan untuk biaya berobat ibu, sebagian lagi untuk memindahkan Ayah ke pusat rehabilitasi yang baru. Masih ada sisa uang tabungan Ghazi, tapi ternyata Anaya lebih butuh, begitu juga dengan Sevilla. Ghazi baru tau dari ibu kalau sepanjang malam Anaya begadang mencatat pelajaran di buku tulis karena ia tak mampu membeli buku pelajaran ataupun mem fotocopy buku temannya. Ghazi sangat iba mendengarnya. Dan ternyata Sevilla juga melakukan hal yang kurang lebih sama. Bahkan kerudung Sevilla sudah banyak yang lusuh. Ghazi tak tega dengan kondisi kedua adiknya. Ia pun merelakan uang tabungannya untuk membeli buku buku dan kerudung baru untuk kedua adiknya. Ia mengurungkan niatnya membeli laptop. Toh masih bisa ke rental komputer untuk menyelesaikan tugas tugas kuliahnya.
Tangan Ghazi dengan cekatan terus menerus merangkai puzzle di depannya. Ingatan tentang hari itu masih terus bergulir. Ghazi berkutat dengan pikiran 'kalau saja' di benaknya. Kalau saja hari itu Ayah tidak liputan malam itu, Ayah tidak akan diserang oleh orang tak dikenal. Kalau saja Ayah tidak diserang, kehidupan mereka tidak akan seperti sekarang. Dan ratusan kalimat kalau saja kalau saja yang lain berputar putar di benak Ghazi.
Tiba tiba raut wajah Ghazi berubah mengeras. Ia tanpa sadar menyimpan dendam di alam bawah sadarnya. Ia bertekad menuntaskan rasa penasarannya. Ia bertekad ingin mencari tau siapa yang mencelakai Ayahnya. Ia juga ingin membalas perbuatan siapapun yang telah menyerang Ayahnya malam itu dan membuat keluarga mereka terus menerus menderita.
Sambil terus bermain susun menyusun puzzle di depannya, ingatan tentang hari itu terus bergulir di benak Ghazi, membuatnya makin ingin tau siapa yang bertanggung jawab akan kondisi Ayahnya, dan membuatnya bertekad ingin membalas perbuatan mereka.
Mereka harus membayar semua perbuatan mereka pada Ayah!
Mereka harus merasakan penderitaan yang sama seperti yang Ayah derita!
Aku harus membalas semuanya!