"Ghazi!"
"Oi, Jun!"
"Kemana aja? Sibuk banget udah ngalahin artis papan atas."
"Hahaha.. nggak lah. Biasa ini, jadi padat jadwal kuliah."
"Yaah, belum bisa jahit lagi ya? Kapan nih bisa ngukur?"
"Kainnya udah ada Jun?"
"Udah siap. Tinggal ngukur aja ini. Bulan depan aku mau ke nikahan sepupu Zi, makanya butuh cepet."
"Oh..oke deh kalo gitu. Besok bisa. Ke kost aja. Tapi sorean ya? Aku ngajar les siang."
"Naah.. siip.. Oke."
Ghazi mengacungkan jempolnya ke arah Juna. Sudah dua minggu ini ia gagal membuat temu janji dengan Juna karena padatnya jadwal kuliah dan aktivitas Ghazi mengajar les privat di beberapa tempat. Belum lagi jahitan di rumah kostnya yang semakin menumpuk.
Juna adalah salah satu dari sekian banyak teman kampus Ghazi yang langganan menjahit pakaian dengannya. Ya, untuk menghidupi dirinya sendiri sekaligus membantu ibunya membiayai sekolah Anaya dan Sevilla, Ghazi terpaksa kuliah sambil mengais rezeki dimana mana dan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah menjahit.
Selama di kampung, Ghazi banyak membantu ibunya . Ibu yang sejak dulu memang seorang penjahit mewarisi ilmunya pada Ghazi dan Ayana. Dan keduanya dengan cepat memperlajari teknik jahit menjahit. Dan sekarang, mulai dari rekan sesama mahasiswa sampai dosen, antri berlangganan menjahit pakaian dengannya. Lumayan untuk membantu ibu membiayai sekolah kedua adiknya sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Ghazi sendiri kuliah dengan beasiswa. Ia tak terlalu mengkhawatirkan biaya kuliahnya sendiri.
"Ghazi?" suara seseorang memanggil Ghazi.
"Eh.. Bu Wita? Iya ada apa, Bu?" tanya Ghazi sopan. Bu Wita adalah salah seorang dosennya yang cukup dekat dengan Ghazi.
"Kamu masih ngajar privat?" tanya Bu Wita.
"Masih, Bu." jawab Ghazi dengan nada santun. Ia sangat menghormati Bu Wita, salah satu dosen yang dikenal tegas.
"Setiap hari ya?" tanya Bu Wita lagi.
"Iya, Bu. Setiap hari."
"Weekend juga?"
"Iya Bu. Termasuk Weekend. Karena justru hari sabtu dan minggu saya lebih senggang karena kuliah libur." jawab Ghazi sambil mengangguk sopan.
"Mmm.. Ibu sebenarnya ada tawaran untuk kamu.. Tapi itu kalau kamu masih senggang. Kamu masih ada waktu luang nggak? Ibu dengar selain mengajar privat, kamu juga menjahit baju?" tanya Bu Wita hati hati. Khawatir Ghazi merasa terusik karena Bu Wita mengungkit masalah pribadinya.
"Oh.. Iya bu, saya juga menjahit. Tapi sekarang jahitan juga nggak terlalu banyak, Bu.." jawab Ghazi sambil tersenyum ramah.
"Ibu ada tawaran untuk kamu, mengajar bahasa Inggris di bimbingan belajar milik adik ibu. Hanya untuk kelas malam. Kamu bisa?" tanya Bu Wita tanpa banyak basa basi lagi.
"Wah.. Tempatnya dimana dan kapan mulainya, Bu?" tanya Ghazi antusias.
"Nanti kamu datang aja langsung, temui adik ibu. Ini alamatnya. Nanti kamu bicarakan aja semuanya termasuk masalah gaji, jadwal, dan lain sebagainya. Ibu hanya membantu adik Ibu yang sedang mencari tenaga pengajar, nanti selanjutnya kamu langsung saja temui sendiri ya.." ujar Bu Wita ramah. Ghazi mengangguk dan menerima kartu nama dari Bu Wita dengan antusias.
"Baik Bu.. Terimakasih banyak ya Bu.."
"Sama sama Ghazi. Semoga lancar ya.."
"Aamiin.." Ghazi mengaminkan doa Bu Wita dan sekali lagi mengucapkan terimakasih.
Ia bersyukur sekali dengan datangnya tawaran ini. Selama ini ia mengajar setiap hari selama dua sampai tiga jam di beberapa rumah. Tapi hanya siang sampai sore hari. Sementara malam ia tak punya terlalu banyak kesibukan kecuali menjahit. Dan sekarang ini jahitannya sudah mulai berkurang. Sementara Ghazi butuh uang untuk membeli banyak buku dan laptop baru untuk tugas tugasnya. Laptopnya yang lama sudah sering mati sendiri.
Uangnya cukup untuk membeli laptop, tapi beberapa hari yang lalu, Anaya mengeluhkan keadaan Ayah. Anaya ingin Ayah dipindahkan ke pusat rehabilitasi yang lebih aman dan nyaman. Karena yang sekarang, Ayah seperti kurang terurus. Bahkan terakhir, Ayah menderita penyakit kulit yang membuatnya gatal gatal dan harus menggaruk sepanjang waktu. Hal itu membuat kulit Ayah banyak menderita luka lecet akibat terlalu banyak digaruk.
Tidak hanya itu, Ayah juga ditempatkan di ruangan yang bersebelahan dengan pasien yang selalu berteriak teriak. Hal itu membuat Ayah sering terkejut, tak bisa tidur, dan beberapa kali Ayah ikut mengamuk karena kaget. Anaya dan ibu khawatir Ayah akan semakin tidak baik kesehatan fisik maupun mentalnya.
Sebab itulah Ghazi bersyukur sekali tadi Bu Wita datang menemuinya dan memberinya tawaran mengajar di bimbingan belajar. Mudah mudahan ia bisa menabung lebih cepat untuk memindahkan Ayahnya ke pusat rehabilitasi yang baru, yang lebih layak untuk dihuni dan membuat Ayah lebih nyaman.
* * *
"Mau yang merk apa?" tanya Daus. Teman Ghazi satu kost ini memang lumayan ahli di bidang komputer dan sering dimintai saran oleh rekan rekannya dalam memilih laptop ataupun komputer. Kali ini Ghazi mendatanginya karena besok rencananya akan membeli laptop. Uangnya sudah cukup, dan tugasnya kian menumpuk. Kalau harus berlama lama di rental komputer, Ghazi merasa kurang nyaman. Lagipula ia harus keluar biaya lagi. Kalau menggunakan komputer perpustakaan, antiannya panjang sekali. Makanya Ghazi bekerja keras dan berinisiatif membeli laptop sendiri untuk menunjang pekerjaan nya menyelesaikan tugas tugas kuliah.
"Yang bagus merk apa?" tanya Ghazi lagi,
"Ya banyak yang bagus.." Daus menyebutkan beberapa merk terkenal yang sering Ghazi dengar. Ia juga menyebutkan spesifikasi dari berbagai merk merk itu. Ghazi menyimaknya dengan serius.
"Yang terakhir kayaknya bagus, Us."
"Iya, aku juga rekomendasikan itu. Ya udah, besok beli di toko temenku aja. Bisa dapat diskon. Mau bareng? Sekalian aku juga mau ke sana beli beberapa perlengkapan." ajak Daus yang langsung diiyakan Ghazi. Kapan lagi bisa dapat diskon?
"Oke. Besok kabarin aja. Ya udah, aku balik ke kamar dulu. Jahitan banyak." ujar Ghazi cepat sambil berjalan keluar pintu.
Ghazi membayangkan besok akan membeli laptop baru dan membuat waktu luangnya akan bertambah. Ghazi juga berencana ingin menulis artikel dan mengirimkannya ke beberapa media. Honornya lumayan, biasa untuk menambah pundu pundi uangnya.
Ghazi sekarang bernafas lega. Ia banyak pekerjaan sampingan. Siang hari mengajar privat, malam hari tiga kali seminggu mengajar di bimbingan belajar adik Bu Wita, dan masih ada sisa waktu di malam hari mengerjakan jahitan. Tak apa mengurangi jam tidur, yang penting kebutuhan keluarga terpenuhi. Begitu prinsip Ghazi. Ia memang tidur hanya dua sampai tiga jam setiap harinya, tapi ia bersyukur masih diberi kesehatan.
Ghazi mengunci pintu kamarnya dan mulai menghitung uang tabungannya. Cukup untuk beli laptop, dan juga cukup untuk memindahkan Ayah ke pusat rehabilitasi yang baru. Ia bisa tidur nyenyak sekarang. Tapi baru saja merebahkan diri di kasurnya, ponsel Ghazi berdering. Anaya.
"Halo?"
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.. Iya Nay?"
"Bang.. Ibu Bang.."
"Ibu kenapa Nay?"
"Ibu masuk rumah sakit!"
"APA?"