"Ayah di bawa ke pusat rehabititasi, bang.." Anaya menceritakan pada Ghazi sambil terisak isak melalui sambungan telepon. Ghazi yang baru saja selesai sholat Isya terpekur menatap ujung sajadahnya. Hatinya remuk. Ayah ternyata bekum sembuh.
Beberapa bulan lalu, saat sadar dari koma, Ayah berteriak teriak ketakutan dan panik. Dokter Dzikri dan tim medis yang lain mengira Ayah shock kehilangan kedua kakinya. Tapi ternyata, amukan Ayah tak berhenti sekali dua kali. Saat itu, Ayah tak pernah lepas dari obat penenang. Sebab setiap kali Ayah bangun dari tidurnya, Ayah selalu mengamuk dan berteriak ketakutan.
Dari sanalah tim dokter sadar, Ayah mengalami skizofrenia paranoid, yang diakibatkan pengalaman traumatis yang menimpanya. Bagaimana tidak, saat ditemukan, kondisi Ayah benar mengenaskan. Siapapun mungkin saja akan mengalami hal yang sama dengan yang ayah alami. Selain luka tusuk hampir di sekujur tubuh, Ayah juga kehilangan kedua jari kelingkingnya yang dipotong sepanjang satu ruas. Telinga Ayah juga mengalami luka robek, dan hampir semua giginya tanggal kecuali geraham. Yang paling membuat Ghazi sedih adalah kedua tempurung lutut Ayah hancur seperti dihantam benda keras berkali kali, dan dari betis ke bawah, tulangnya nyaris remuk karena dilindas kendaraan roda empat. Bahkan di wajah Ayah banyak terdapat luka bakar bekas rokok. Namun Ayah kuat sekali, dan Tuhan masih menyelamatkan nyawanya. Meski kritis dan sempat koma berhari hari, kondisi fisik Ayah lambat laun mulai pulih. Meski kakinya harus di amputasi, meski wajahnya banyak bekas luka bakar, meski satu ruas jari kelingkingnya sudah tak ada, dan bobot tubuhnya juga jauh menyusut, tapi Ayah mulai pulih.
Namun ada satu yang tak bisa pulih. Kondisi mentalnya. Saat itu Ghazi masih tak percaya. Ia yakin Ayahnya hanya belum menerima kenyataan akan kedua kakinya yang diamputasi. Tapi ternyata, sudah berminggu minggu Ayah dirawat, beliau masih saja bermimpi buruk setiap malam, berteriak ketakutan setiap kali bertemu orang lain. Ayah pernah menangis dan menjerit sampai suaranya parau saat mendengar suara mobil pick up pengangkut pasir yang lewat di depan rumah. Mobil itu membawa bahan material milik tetangga yang sedang merenovasi rumah. Sayangnya, mobil pick up itu terperosok di selokan dan tak bisa maju. Sang pengemudi berkali kali menginjak pedal gas namun roda mobil tak bergerak. Pengemudi pick up itu terus menerus menekan pedal gas dan menimbulkan suara mesin mobil perpadu decitan ban yang menggesek pinggir selokan. Saat itu Ayah berteriak panik sampai tubuhnya kejang kejang dan ia pun pingsan. Mungkin Ayah teringat bagaimana kakinya dilindas berkali kali oleh ban mobil dan suara mobil pick up pengangkut material itu mengingatkannya akan peristiwa mengerikan itu. Ayah terus menerus mengamuk dan berteriak panik oleh berbagai macam hal, sampai akhirnya, Ayahnya tak lagi mengamuk, namun ia tak lagi mengenali siapapun. Ia bahkan tak pernah lagi merespon lawan bicaranya.
Meski tak lagi mengamuk dan berteriak, sekarang justru tak pernah berbicara, dan hanya menatap kosong sepanjang waktu. Ghazi menghibur diri dengan mengatakan bahwa kondisi Ayah yang sekarang lebih baik dari sebelumnya, setidaknya ia tidak mengamuk dan berteriak teriak ketakutan.
Tapi lambat laun Ghazi sadar, Ayahnya tak lagi sama. Kondisi fisiknya terus meningkat, tapi mentalnya justru menurun. Saat Ibu memberitahu kabar buruk tentang Om Herdi, Ayah bahkan tak merespon sama sekali. Pun saat Ghazi memberitahu kabar baik pada Ayah tentang kelulusannya dan ia diterima di salah satu universitas terbaik ni negeri ini, mengikuti jejak Ayah kuliah di jurusan jurnalistik, Ayah pun tak menunjukkan gelagat apapun. Hanya diam dan menatap jauh dengan pandangan kosong.
Ghazi sadar, kecil sekali kemungkinan Ayah untuk kembali seperti dulu. Ibu dan Ghazi sudah hampir menyerah, bahkan Sevilla yang masih kecil pun tau, sulit untuk Ayah pulih menjadi seperti Ayah yang dulu.
Hanya Anaya yang tak pernah putus asa. Hanya Anaya yang selalu meluangkan waktu setiap hari mengajak Ayah bicara macam macam dan terus menerus berharap bahwa Ayah akan pulih, Anaya menolak menyerah meski tak ada perubahan apapun pada kondisi Ayah meski ia sudah berusaha sekuat tenaga. Anaya memang paling dekat dengan Ayah. Dari dulu ia selalu dekat dengan Ayah. Itu sebabnya, Anaya yang paling terpukul dengan kondisi Ayah. Meski begitu, Anaya pula yang berjuang paling keras untuk merawat Ayah. Jadi wajar kalau saat ini Anaya tersedu sedan mengabarkan pada Ghazi bahwa Ayah terpaksa di bawa ke pusat rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa. Karena Ayah mengamuk dan nyaris membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.
"Kenapa, Nay? Kapan dibawanya?"
"Awalnya Ayah ngamuk lagi waktu Pak Dhe Furqon, tetangga sebelah rumah mengantar ubi dan jagung ke rumah, Bang. Ayah berteriak ketakutan, minta tolong sambil meraung raung memegang kakinya. Ayah sampai jatuh dari kursi roda."
"Ya Allah.. Tapi Ayah nggak apa apa?"
"Alhamdulillah Ayah nggak apa apa, Bang. Tapi ada kejadian lain.."
"Kejadian apa lagi, Nay?"
"Suara truk pengangkut sayuran, Bang. Sekarang sudah masuk musim panen, banyak sekali truk hilir mudik mengangkut sayuran di sekitar rumah."
"Ayah teriak teriak lagi?"
"Bukan cuma teriak.. Ayah memaksa kabur dari rumah dan menggerakkan kursi roda sendirian. Saat itu Ibu lagi ke pelanggan, nganterin jahitan, dan aku lagi sekolah. Yang jaga Ayah tetangga Pak Umar. Waktu Ayah panik, Pak Umar mencoba mencegah Ayah. Tapi Ayah malah menabraknya dengan kursi roda, setelah itu mereka berdua jatuh bergulingan di depan rumah, sampai ke tepi jalan raya, untung nggak ditabrak kendaraan lewat.." jelas Anaya sambil terus menangis. Ghazi menghela nafas.
"Tapi Ayah dan Pak Umar baik baik saja kan?" tanya Ghazi khawatir.
"Ayah baik baik aja, Bang. Cuma luka memar di bahu dan beberapa luka lecet di tangan. Tapi Pak Umar lukanya lumayan parah, keningnya harus dijahit dan tulang panggulnya cedera." jelas Naya penuh sesal. Lagi lagi Ghazi menghela nafas mendengarnya.
"Gara gara kejadian itu aparat desa meminta kita membawa Ayah ke pusat rehabilitasi supaya dapat perawatan. Ibu nggak bisa menolak karena memang ayah sudah membuat celaka dirinya sendiri dan orang lain.. Jadi.. Jadi.. Ayah.. barusan tadi dijemput ke pusat rehabilitasi di kota.. Ayah harus dirawat intensive di sana katanya.. Ayah nggak boleh tinggal di rumah lagi, Bang.." Anaya mulai tersedu sedu lagi. Ghazi paham betapa terpukulnya Anaya. Adiknya itu tak pernah bisa jauh dari Ayah. Apapun kondisi Ayah, Anaya selalu ada di sampingnya.
"Ibu gimana?"
"Ibu ikut anterin Ayah ke pusat rehabilitasi.."
"Ya udah, Naya tenang ya.. Jangan sedih, Ayah nggak apa apa. Justru Ayah akan mendapat perawatan dari tenaga ahli, supaya bisa pulih lagi.." bujuk Ghazi pada adiknya. Berusaha menenangkannya meski jarak mereka terpisah berkilo kilo meter jauhnya.
"Abang.. Ayah nggak apa apa kan meskipun terpisah jauh dari kita?" tanya Anaya.
"Insyaa Allah nggak apa apa. Ayah justru akan mendapat perawatan. Anggap aja perpisahan ini cuma sedikit pengorbanan kita untuk kesembuhan Ayah.." ujar Ghazi lagi. Ia mendengar suara tangis adiknya mulai mereda. Ghazi bernafas lega.
Saat telepon ditutup, Ghazi bersujud lagi di atas sajadahnya, memohon kesembuhan Ayahnya, memohon agar tak ada lagi perpisahan yang terjadi di antara mereka...