Jendela itu seperti sebuah pigura besar yang membingkai tubuh Ayah. Lelaki yang laing dikagumi Ghazi itu sedang duduk di kursi rodanya, persis di ambang jendela, menatap kebun sayur hijau yang terhampar di depan matanya dengan pandangan kosong.
"Kita sekarang di sini Yah.. Pindah ke negeri di awan. Ada banyak kebun sawi di bawah sana. Ada buncis juga yah. Eh terus ada singkong. Bisa bikin singkong rebus kesukaan Ayah.."
"Nay.."
"Yah.. Dulu waktu Naya kecil, Ayah sering cerita soal gunung ini.. Kata Ayah, nanti kita jalan ke sini, negeri di awan, banyak pohon cemara, ada desa yang penduduknya berkebun sayur sayuran, jalannya curam, ada telaga yang berasal dari sepasang suami istri yang berubah jadi naga setelah makan telur, dan menghuni pulau di tengah telaga. Dulu Ayah sering cerita itu ke Naya kan yah? Kita di sini Yah.. kita tinggal di negeri awan."
"Anaya.."
"Yah.. Kata Ayah, di gunung ini ada seribu cemara. Pintu dari seribu cemara itu tempat orang orang mendaki sampai ke puncak gunung. Ayo Yah.. kita mendaki juga.. Kita udah deket banget sama gerbang seribu cemara. Kita harus buktikan sama Sevi kalau cemara di sana memang jumlahnya seribu. Ayah yang hitung, nanti Naya yang catat Yah.."
"Anaya.. Dek.." Ghazi memeluk adiknya itu saat Anaya mulai meneteskan air mata. Hati Ghazi tercabik cabik melihat Anaya masih terus berusaha mengajak Ayahnya berbicara, berharap Ayahnya merespon dengan canda dan tawa seperti dulu. Namun hasilnya nihil, meski setiap hari ber jam jam Anaya, Ghazi, Sevilla maupun Ibu mengajak Ayah bicara, respon Ayah tetap sama. Ia hanya diam tanpa ekpresi. Menatap ke luar jendela, dengan pandangan kosong.
Sejak Om Herdi meninggal dunia dalam kecelakaan yang lalu, keluarga Om Herdi memutuskan untuk pulang ke kampung halaman Istrinya di pesisir pantai. Sementara keluarga Ghazi memilih pulang ke kampung halaman Ayah di kaki gunung. Semua itu atas saran dokter Dzikri. Dokter Dzikri sendiri memilih memboyong keluarganya untuk pindah ke Malaysia, ia mendapat tawaran untuk bekerja di salah satu rumah sakit di sana.
Ghazi tau, kepindahan mereka ini bukan tanpa sebab. Ada sesuatu yang disembunyikan Ayah dalam tugasnya bersama Om Herdi. Sayangnya Ghazi tak sempat bertanya tugas apa yang sedang mereka jalankan pada saat itu. Dan Om Dzikri pun sama kebingungannya dengan Ghazi. Karena berbeda profesi, dokter Dzikri tak pernah tau apa yang tengah diliput kedua sahabatnya yang berprofesi sebagai jurnalis itu.
Namun di saat terakhirnya, seperti ada firasat, Om Herdi meminta dokter Dzikri untuk menjaga keluarganya dan keluarga Ayah Ghazi seandainya terjadi apa apa pada dirinya. Semua itu karena tugasnya kali ini berhubungan dengan orang orang yang bisa saja mengancam nyawa mereka kapan saja. Hanya itu yang diceritakan Om Herdi pada dokter Dzikri. Ia berjanji setelah pulang dari luar kota, ia akan membuat janji temu dengan dokter Dzikri, menceritakan semuanya, dan meminta saran sarannya. Namun takdir berkata lain, dalam perjalanan pulang dari luar kota, mobil Om Herdi mendadak tergelincir dan terjun ke jurang sedalam belasan meter. Tak ada pertemuan, tak ada cerita, dan tanda tanya besar di kepala dokter Dzikri tak pernah terjawab.
Akhirnya, dokter Dzikri mengambil kesimpulan bahwa apapun yang tengah dikerjakan kedua sahabatnya itu berbahaya dan bisa saja sewaktu waktu mengancam nyawa. Sebagai orang yang paling dekat dengan mereka, dokter Dzikri mulai merasa tak aman. Ia pun mengambil keputusan untuk mengamankan seluruh keluarganya dan juga keluarga kedua sahabatnya. Dokter Dzikri pun mulai mengatur rencana.
Pertama, ia mengatur kepindahan Ayah Ghazi ke tempat rehabilitasi psikiatri di kampung halamannya. Lalu ia juga mengatur kepindahan kedua adik Ghazi ke sekolah yang baru, terutama Anaya. Anaya duduk di kelas 1 SMA. Dia naik ke kelas dua dan pindah ke sekolah baru. Sementara Sevilla yang lulus SD, bersedia masuk ke pesantren putri dengan kemauannya sendiri. Kebetulan, tak jauh dari kampung halaman Ayahnya, sebuah pondok pesantren terbaik dan terbesar di negara ini ada di sana. Tak sulit untuk Sevilla lolos seleksi penerimaan. Ia cerdas dan pengetahuan agamanya sangat baik. Ia pun sudah menghapal Al Qur'an sejak kecil. Sementara Ghazi, ia baru saja lulus SMA dan diterima di salah satu universitas terbaik di negara ini. Letaknya tak jauh dari kampung halaman Ayahnya meski Ghazi harus tinggal di asrama nantinya.
Lalu dokter Dzikri juga memindahkan keluarga Om Herdi. Istri dan anak anak Om Herdi kembali ke kampung halamannya yang sangat jauh di pesisir pantai seberang pulau. Setelah semua selesai, ia pun mengatur kepindahannya sendiri ke Malaysia dan memboyong seluruh keluarganya. Mereka berpisah dengan penuh haru. Dan Ghazi membuat janji dengan dokter Dzikri untuk tetap saling berkabar satu sama lain.
Begitulah perpisahan dramatis mereka terjadi, dan sekarang ia dan keluarganya berada di sini, pindah ke negeri di atas awan...
***
"Jaga diri baik baik Nak.. Jangan tinggalkan sholat dan jangan jauh dari Al Qur'an." pesan Ibu sambil memeluk Ghazi. Ghazi balas memeluk ibu, sambil perpesan agar Ibu selalu menjaga kesehatannya.
"Abang.." Anaya mulai tak kuat menahan tangis. Remaja yang dulunya selalu bertengkar dengan Ghazi ini sekarang terlihat paling tak ingin berpisah darinya. Ghazi memeluk adiknya itu sambil memaksakan senyum.
"Nay, belajar yang rajin. Nanti nyusul Abang kuliah di sana ya. Dua tahun itu nggak lama. Abang tunggu yaa.." ujar Ghazi sambil mengacak rambut panjang adiknya itu. Hanya Anaya yang melepasnya pergi, karena Sevilla sudah lebih dahulu berangkat ke pesantren dua minggu yang lalu.
"Yah.." Ghazi mendekati Ayahnya, lalu berlutut dan duduk di hadapan Ayah. Ayahnya memandanginya dengan tatapan kosong. Tak ada reaksi apapun.
"Ghazi berangkat ya Yah.. Doakan Ghazi bisa belajar dengan baik dan cepat lulus. Ayah cepat sembuh ya Yah.." Ghazi memeluk Ayahnya erat, sementara sang Ayah tetap tak menunjukkan reaksi apapun.
Ibu menghela nafas. Wajahnya murung, tapi ia tetap memaksakan senyum. Ibu tak ingin Ghazi melihat kesedihannya. Ia ingin si sulung berangkat dengan hati yang tenang.
Selah semua siap, Ghazi pun naik ke mobil pamannya, salah satu adik Ayahnya yang juga bekerja di kota tempat Ghazi nantinya menimba ilmu. Ia bersyukur pindah ke kampung halaman Ayahnya. Adik adik Ayahnya bisa menjaga ibu dan Anaya selama ia tak ada.
Sekali lagi, Ghazi menatap sekeliling. Rumah barunya yang dikelilingi kebun sayur itu membuat Ghazi merasa sesak. Ia merasa berat meninggalkan Ibu, Ayah dan Anaya di sana. Tapi Ghazi sadar, masa depannya harus cerah agar ia bisa mengembalikan kondisi keluarganya seperti dulu. Ia harus belajar giat.
Roda mobil perlahan meluncur meninggalkan rumahnya, orang tuanya, adiknya dan kampung halaman yang indah ini. Ghazi membuka jendela mobil selebar lebarnya. Dadanya sesak oleh perasaan pilu.
Selamat tinggal negeri di awan..