"Ibu mau kemana?" Ghazi buru buru bangkit dari tempat duduknya saat melihat Ibu sudah berpakaian rapi, berdandan, dan berjalan menuju ke arah pintu.
"Bu? Ibu kemana malam malam begini?" Ghazi mengulang pertanyaannya lantaran tak mendapatkan respon dari Ibu.
"Mau ke rumah sakit." jawab Ibu singkat sambil menyingkirkan tangan Ghazi yang menciba menghalangi jalannya.
Ghazi menghela nafas. Ini bukan kali pertama ia berusaha sekuat tenaga mencegah ibunya pergi ke rumah sakit. Tapi selalu saja ibunya mengabaikan dan tetap mencoba menemui Ayahnya meski Ghazi bersikeras melarang.
"Bu.. Percuma Ibu meminta ke sana. Di rumah sakit pun Ibu nggak akan bisa menemui Ayah. Ayah masih di ICU, Bu. Ibu harus bersabar sampai kondisi Ayah jauh lebih baik." pinta Ghazi dengan nada nyaris putus asa. Sang ibu seperti biasanya, hanya berdiri mematung di ambang pintu dengan pandangan kosong.
"Lagipula ini sudah malam, Bu. Waktu kunjungan udah habis. Nanti Ibu udah jauh jauh ke sana, malah disuruh pulang lagi. Kan lebih baik kita nunggu aja kabar dari Om Dzikri." saran Ghazi sambil merangkul pundak ibu dan memintanya kembali ke dalam. Ibu diam saja tapi mengikuti langkah Ghazi masuk ke kamar.
"Bu.. Ayah pasti akan segera pulih.." ujar Ghazi lirih. Ia mendudukkan Ibu di tempat tidur sementara dirinya sendiri berlutut di hadapan Ibu dan menatap mata Ibu dalam dalam. Ia sungguh tak tega melihat Ibu yang setiap hari masih saja menangis meski ini sudah hampir sebulan sejak tragedi yang menimpa Ayah.
Setelah kejadian itu Ibu banyak sekali berubah. Ibu yang biasanya cerewet dan periang, sekarang selalu murung dan tak banyak bicara. Ibu benar benar bicara seperlunya. Meski tetap pada rutinitas harian seperti memasak, mencuci, membereskan rumah, berbelanja, dan menjahit, semua itu ibu lakukan tanpa banyak bicara. Ibu hanya berbicara jika ditanya atau ingin bertanya hal yang sangat penting. Selebihnya ibu selalu bungkam dan murung. Kalau biasanya setelah menghidangkan makanan di meja Ibu selalu berteriak teriak menyuruh Ghazi, Anaya dan Sevilla segera makan, tapi sekarang teriakan itu tak pernah terdengar. Mereka bahkan makan masing masing, tak lagi makan di satu meja sambil bercanda.
Tante Erin, istri Om Herdi, dan Tante Rifka, istri Om Dzikri, sering berkunjung ke rumah mereka untuk sesekali melihat kondisi Ibu sambil membawakan berbagai macam makanan dan keperluan lainnya. Ibu hanya mengucapkan terimakasih dan tak banyak bicara pada mereka berdua. Padahal sebelumnya, kalau mereka bertiga bertemu, selalu riuh layaknya ibu ibu arisan yang berkumpul.
Hanya keluarga Om Herdi dan Om Dzikri yang rajin berkunjung. Mereka sudah seperti keluarga sendiri untuk Ghazi. Kakek dan nenek Ghazi dari pihak Ibu sudah lama meninggal dunia, bahkan sebelum Ghazi lahir. Begitu juga dengan kakek dan neneknya dari pihak Ayah, keduanya sudah meninggal dunia. Terakhir Ghazi bertemu kakeknya saat usia lima tahun, dan bertemu neneknya dua tahun yang lalu. Sementara semua saudara Ayah dan saudara Ibu jauh di kampung. Saat kejadian itu menimpa Ayah, Ghazi semua saudara Ayah dan Ibu hanya bisa memberi dukungan melalui telepon. Karena memang kampung mereka sangat jauh.
Ghazi menutup pintu kamar Ibu setelah memastikan Ibunya sudah terlelap. Ia melirik jam dinding di ruang tengah. Sudah lewat lima menit dari jam sebelas malam. Ghazi berkeliling rumah memastikan semua pintu terkunci, kompor dimatikan, dan peralatan elektronik sudah dicabut dari sambungan listrik. Terakhir ia mematikan lampu dan berjalan menuju kamarnya sendiri.
Ghazi merebahkan diri di tempat tidur. Ia lelah sekali. Sangat lelah secara fisik maupun mental. Dalam sekejap kehidupannya berubah total. Perlahan Ghazi memiringkan kepalanya dan melirik ke arah kalender bergambar Tim Nasional Sepakbola yang terpajang di meja belajar di samping tempat tidurnya. Ada satu tanggal yang sudah sejak lama ia lingkari dengan spidol biru. Tanggal dua belas. Tanggal hari ini.
Ya, hari ini seharusnya Ghazi mengikuti audisi pencarian bakat bintang sepakbola yang dihadiri banyak petinggi klub klub sepakbola terkenal dan juga pelatih pelatih hebat. Hari ini seharusnya ia menginjak anak tangga pertama menuju gerbang impiannya. Tapi sekarang, ia terpaksa mengubur dalam dalam semua impiannya tentang sepakbola. Ia tak boleh lagi menempatkan sepakbola dalam urutan pertama yang ingin dicapai. Ia saat ini punya skala prioritas. Ayahnya, Ibunya, adik adiknya, keluarganya.
Apa yang menimpa Ayah adalah pukulan telak untuk Ghazi. Di usia sangat muda, ia harus mulai belajar menggantikan posisi Ayah sebagai kepala keluarga. Ghazi adalah anak tertua sekaligus anak lelaki satu satunya. Ia punya tanggung jawab yang besar untuk menjaga keluarganya dan memastikan mereka semua baik baik saja. Meski Ayah masih hidup, tapi kondisinya sangat memprihatinkan. Ia tak mungkin menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga. Praktis, Ghazilah yang harus menggantikan posisinya.
Dalam satu bulan ini, kondisi fisik Ayah mengalami kemajuan. Luka lukanya sudah mulai banyak yang pulih, namun yang terparah, adalah bagian kaki, dan tulang panggulnya. Dan karena kedua tungkai Ayah itu sudah hancur, tim dokter dengan sangat terpaksa mengamputasi kedua kaki Ayah. Seumur hidupnya Ayah akan mulai bergantung pada kursi roda.
Tapi bukan hanya itu yang membuat Ghazi sangat iba pada Ayahnya. Tapi penyakit mental yang di derita Ayah. Saat itu Om Herdi dan dokter Dzikri berupaya keras menyembunyikan fakta itu dari Ghazi. Sampai tak sengaja Ghazi melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ayah berteriak teriak dengan mata terbelalak, mengamuk dan tim dokter terpaksa mengikatnya agar tak ada yang terluka. Saat itulah untuk pertama kalinya Ghazi mempertanyakan dimana keadilan Tuhan.
Berhari hari Ghazi menolak makan setelah mengetahui Ayahnya didiagnosa menderita skizofrenia akibat pengalaman traumatis yang menimpanya. Hanya Om Herdi yang selalu mengunjungi Ghazi, menghibur dan menguatkannya. Om Herdi setiap hari selalu menyiapkan kebutuhan mereka saat Ibu masih dalam kondisi lemah dan masih belum banyak bergerak. Om Herdi bagai pengganti Ayah untuk mereka. Om Herdi adalah Ayah kedua. Ghazi sangat berterimakasih pada sahabat Ayahnya itu.
Om Herdi benar benar Ayah kedua baginya. Berkat Om Herdi, Ghazi sedikit terhibur dan merasa tak kehilangan sosok seorang Ayah. Ghazi berjanji, jika nanti keadaan sudah mulai pulih, ia kan belajar keras agar nantinya bisa membalas jasa Om Herdi, Om Dzikri, dan semua yang selalu di sisinya di saat saat tersulit seperti ini.
Ghazi baru saja akan memejamkan matanya ketika tiba tiba saja terdengar ketukan di pintu depan. Lebih tepatnya orang yang menggedor pintu rumahnya. Ghazi terkesiap, jantungnya berdegup kencang. Ia seketika berlari ke arah pintu dan mengintip ke arah luar melalui jendela. Beberapa orang petugas kepolisian tampak di depan rumahnya. Buru buru Ghazi membuka pintu rumah dengan tangan gemetar. Ada apa lagi ini?
"Ghazi? Maaf, Bapak harus bicara sama kamu. Ini penting sekali." Pak Sugianto, kepala polisi yang memimpin penyelidikan kasus Ayahnya langsung mengajak Ghazi berbicara. Ghazi mempersilahkannya masuk, sementara beberapa anggotanya tampak berjaga jaga di luar. Sebagian dari mereka sedang sibuk berbicara melalui handie talkie.
Anaya dan Sevilla tampak mengintip dari kamar mereka. Ghazi segera menyuruh mereka masuk dan menunggu di dalam kamar. Tak lama kemudian, Ibu juga tergopoh gopoh ke ruang tamu.
"Ada apa ini?" tanya Ibu dengan wajah pucat. Seluruh tubuhnya gemetar. Ghazi tau ibu belum pulih dari traumanya.
"Bu Syarvan, Ghazi, sepertinya kami harus berjaga di sini malam ini.."
"Ada apa, Pak?" tanya Ibu.
"Kami mendapat kabar Pak Herdi mengalami kecelakaan dua jam yang lalu. Dan kami khawatir ini ada hubungannya dengan kasus yang menimpa Pak Syarvan." ucap kepala polisi pelan. Ghazi langsung merasa lututnya lemas, sementara Ibu mulai menangis.
"Kecelakaan dimana pak?"
"Kecelakaan mobil di jalan perbukitan luar kota, mobilnya terperosok ke jurang. Beruntung kami dibantu warga masih bisa mengevakuasi mobilnya."
"Lalu kondisi Om Herdi gimana, Pak?"
"Beliau meninggal dunia.."
Ibu berteriak, sementara Ghazi merasa dunianya runtuh. Ayah keduanya itu sekarang sudah tak ada..
Untuk pertama kali dalam hidupnya Ghazi merasa kiamat datang lebih cepat..