Om Herdi berjalan bersisian dengan Ghazi menuju ruang praktek dokter Dzikri. Jantung Ghazi berdebar debar, ia ketakutan, gelisah, dan khawatir luar biasa dengan keadaan Ayahnya. Tapi setengah mati dia mencoba tenang. Ia tak mau Om Herdi maupun dokter Dzikri mengurungkan niat mereka untuk menceritakan semuanya, dan menjelaskan kondisi sebenarnya yang terjadi pada Ayahnya.
"Kamu siap Ghazi?" tanya Om Herdi.
"Siap Om." Ghazi mengangguk mantap, suaranya lantang. Meski Om Herdi tau Ghazi seperti itu hanya karena ia mencoba terlihat kuat dan tegar.
Anak ini, meski tubuhnya sangat tinggi, meski sikapnya terlihat sangat tenang, tapi Om Herdi tau ia masih anak anak. Masih remaja berusia tujuh belas tahun yang belum tentu siap mendengar kenyataan yang terjadi pada Ayahnya. Namun, setelah menelepon dokter Dzikri dan berdiskusi sebentar, mereka memutuskan untuk percaya pada Ghazi yang menceritakan semua kondisi ayahnya, sekaligus apa yang terjadi dan kenapa Ayahnya bisa jadi korban penganiayaan seperti sekarang.
"Kamu benar benar sudah siap dengan apapun yang nantinya akan kamu lihat dan kamu dengar?" tanya Om Herdi lagi. Ia sangat takut Ghazi menjadi kalap. Om Herdi sendiri saat pertama kali melihat kondisi Ayah Ghazi langsung lemas dan tak kuat. Tapi ia berusaha untuk percaya sekaligus berharap bahwa Ghazi lebih kuat dari apa yang ia bayangkan.
Om Herdi mengetuk pintu ruang kerja dokter Dzikri. Suara ketukan pintu berpacu dengan suara jantung Ghazi yang berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Masuk.." suara dokter Dzikri terdengar pelan. Ghazi dan Om Herdi masuk, keduanya menunjukkan ekspresi berbeda. Ghazi yang antusias, tapi Om Herdi terlihat sangat tidak nyaman dan khawatir.
"Duduk Her.. Ghazi, sini duduk di depan Om.." ujar dokter Dzikri. Ghazi melihat dokter Dzikri sebagai sosok yang berbeda sekarang. Bukan lagi sosok sahabat Ayahnya yang ramah, jenaka, dan sering menemaninya bermain sepakbola. Saat ini dihadapannya, Om Dzikri adalah sosok seorang dokter yang tenang, berwibawa dan bersikap sangat profesional.
"Ghazi siap?" tanya dokter Dzikri pada Ghazi. Ghazi menangguk mantap.
"Siap Om. Apapun yang nanti Om sampaikan, aku siap mendengar semuanya." ucap Ghazi dengan tenang. Ia tak boleh gentar. Ia tak boleh menangis, ia tak boleh rapuh.
Aku lelaki, dan aku harus kuat.
Aku sudah dewasa, dan aku harus tenang.
Ya, aku lelaki dewasa. Aku harus kuat dan tenang.
Ghazi mengafirmasi diri sendiri dalam hati, sambil menunjukkan sikap tenang dan mental yang kuat pada Om Herdi dan dokter Dzikri. Ia harus menunjukkan pada mereka bahwa dirinya lelaki dewasa yang kuat dan tenang agar mereka percaya dirinya sanggup menerima kenyataan yang menimpa Ayahnya, sepahit apapun itu.
"Ayahmu kemungkinan besar akan mengalami kelumpuhan Ghazi." kalimat pertama yang diucapkan dokter Dzikri langsung menghantam kepala Ghazi. Membuatnya pusing seketika.
"Ghazi?" tanya Om Herdi memastikan keadaan Ghazi. Ghazi menghela nafas.
"Iya Om, aku dengar, aku nggak apa apa Om. Om Dzikri bisa teruskan."
"Ghazi kuat kalau Om jelaskan satu persatu apa yang terjadi pada Ayah?" tanya Om Dzikri perlahan. Memastikan bahwa Ghazi baik baik saja dan dia tetap tegar.
"Iya, Om. Aku siap mendengarnya, Om boleh ceritakan semuanya secara detail." ujar Ghazi memancing rasa kagum Om Herdi dan dokter Dzikri. Anak ini benar benar cerdas. Bagaimana mungkin anak semuda ini bisa mengelola emosi dengan sangat baik? Padahal yang ia dengar ibarat palu godam yang menghantamnya dengan kuat.
"Punggung Ayahmu terdapat dua belas luka tusuk. Sebagian besar di sekitar bahu. Bagian d**a hanya ada lima luka tusuk. Namun di lengannya ada banyak sekali luka robek. Kemungkinan besar Ayahmu menghalangi tusukan tusukan bertubi tubi itu dengan tangannya. Beruntung, karena itulah tidak ada satupun luka tusuk itu yang merusak organ dalamnya. Hanya merobek otot dan sedikit mengenai tulangnya." jelas dokter Dzikri dengan suara parau.
Bukan main terkejutnya Ghazi. Ia merasakan ngilu yang teramat sangat di sekujur tubuhnya mendengar semua penderitaan Ayahnya yang disampaikan tadi. Setengah mati Ghazi bertahan untuk tidak menangis.
"Tulang tengkoraknya retak terkena hantaman benda tumpul. Sekujur tubuhnya memar memar. Banyak sekali tulangnya yang patah. Ayahmu bukan dipukuli dengan tangan kosong Ghazi, ayahmu dihantam benda tumpul yang berat. Kami menduganya itu semacam pipa besi, kalau dilihat dari luka lukanya. Dan Ayahmu tidak dipukuli oleh satu orang. Pasti lebih dari satu orang." lanjut dokter Dzikri. Ghazi nyaris gemetar mendengarnya, lagi lagi ia menahannya. Ia ingin dokter Dzikri melanjutkan semuanya sampai serinci rincinya.
"Ghazi kamu baik baik saja? Ini bisa dilanjutkan?" tanya Om Herdi lagi. Ia bertukar pandang dengan dokter Dzikri. Mereka berdua mendadak ragu. Memang, kondisi Ayah Ghazi sangat mengenaskan. Bahkan Om Herdi yang lelaki dewasa, dan Om Dzikri yang seorang dokter saja tak tega melihat kondisi sahabat mereka itu. Masih beruntung nyawanya bisa diselamatkan.
"Aku baik baik aja Om.. Aku kuat.. Aku.. Aku harus tau kondisi Ayah Om.." jawab Ghazi dengan nafas terengah engah dan kalimat yang terbata bata. Tapi rasa ingin taunya mengalahkan ketakutannya. Ghazi tidak mau menyerah, ia harus kuat.
"Ghazi, yang selanjutnya akan Om sampaikan ini sangat mengerikan. Ghazi siap mendengarnya?" tanya dokter Dzikri perlahan. Ghazi mengangguk dengan cepat.
"Iya Om. Aku siap. Aku nggak apa apa Om." jawab Ghazi dengan suara yang lagi lagi dibuat selantang mungkin. Dokter Dzikri dan Om Herdi menghela nafas nyaris bersamaan.
"Kakinya, Ghazi.. Kaki Ayahmu.. Ya Allah.."
"Kaki Ayah kenapa Om?"
"Kamu tau kenapa Ayahmu terancam lumpuh? Karena kedua kakinya hancur Ghazi.." ujar dokter Herdi lirih. Ghazi membelalakkan mata, mulutnya menganga, ia nyaris menangis mendengarnya.
"Kami menemukan kondisi kakinya penuh darah, tulang kaki ayahmu banyak yang patah, tempurung lututnya hancur. Dan sebabnya sangat jelas. Kami menemukan jejak jejak roda kendaraan di pakaian Ayahmu. Mereka melindas kakinya dengan kendaraan roda empat, berkali kali.." kali ini Om Dzikri tak kuasa menahan emosinya.
Ghazi tak lagi terdiam. Ia nyaris berteriak, ia menangis tersedu sedu. Seluruh tubuhnya ngilu, seolah ia merasakan semua rasa sakit yang dialami ayahnya. Ia tak lagi bersikap seperti lelaki dewasa yang menahan emosinya. Ghazi tak lagi peduli, emosinya meledak.
Om Herdi dan dokter Dzikri terpaksa memeluknya untuk menenangkan anak sahabat mereka itu. Ghazi mengamuk dan berakhir dengan berlutut dilantai, lalu muntah muntah hebat. Ia terus menangis.
Om Herdi dan dokter Dzikri memapahnya ke sofa. Mereka membiarkan Ghazi meluapkan emosinya. Tak tega melihat remaja itu menangisi nasib Ayahnya yang sangat ia kagumi dan sayangi, harus dianiaya dengan cara yang sangat sadis.
Diam diam Om Herdi dan dokter Dzikri bertukar pandang. Ada satu hal yang belum mereka ceritakan pada Ghazi terkait kondisi Ayahnya. Tapi Om Herdi menggeleng. Ia melarang dokter Dzikri mengatakan hal terakhir itu pada Ghazi. Nanti saja, di saat yang tepat, setelah emosi Ghazi mereda.
Dokter Dzikri menuruti saran sahabatnya itu. Ia mengurungkan niatnya menceritakan kondisi Ayah Ghazi. Kondisi yang ia nilai paling menyedihkan dari semuanya.
Kondisi mental Ayah Ghazi yang berbeda..
Ia didiagnosa menderita skizofrenia..