---------******--------
"Aaaaaa a a" celoteh sikecil sembari menerjang2 kaki kecilnya
"A apa sayang" guman oliv kagum karna inilah celotehan paling jelas sang anak, maklum saja umurnya baru menginjak 10 bulan
"Aaaaaa ihi iii hi "
"A aa" sikecil melanjutkan celotehnya dengan wajah imutnya
"Ayah hmpz" gumannya oliv pelan, bisa jadi kata itulah yang hendak sang anak katakan, mendengar kata "ayah" sikecil malah terkikik geli khas bayi membuat sejuk hatinya, namun tidak jika mengetahui kenyataan bahwa kata pertama sang anak adalah panggilan ayah, ayah, bukan bunda, padahal selama ada sosok itu tidak pernah ada disisinya, menjaganya saat ia dikandungan sang bunda atau menyaksikannya tumbuh hingga saat ini.
Kilasan masa dimana sang anak mengucapkan kata pertamanya membuat oliv menatap dalam malaikat kecilnya yang kini tengah bergelung manja dalam dekapannya, wajah itu, sangat serupa dengan laki2 itu, laki2 yang selalu sang anak panggil ayah meski tak pernah melihat rupa sang ayah, sampai saat ini oliv sendiri bingung dengan malaikatnya ini, kenapa ia bisa begitu mencintai sosok ayah yang bahkan sedikitpun tak pernah memberinya kasih sayang.
"Kenapa selalu memikirkan ayah sayang"
"Kamu kangen ayah ya"
"Tapi kamu ngak tau nak"
"Ayah tak pernah menginginkan kita"
"Itulah kenapa bunda pergi"
"Bunda bahkan tak punya satupun foto ayah yang bisa bunda tunjukkan pada kamu"
Entah sudah berapa kali oliv mengatakan hal tersebut kala sikecilnya terlelap.
*****
"Unda pigi yok, ain tu dicana, lamai, anyak olang" pinta sikecil azi pada sang bunda yang sedang asik dengan rajutan ditangannya
"Bentar ya nak" guman oliv lembut membuat sikecil mendengus
"Bental bental muyuk dali adi"
"Adi bental uga, cakalang bental uga, ii unda nyi ee " rengeknya malas
"Iih anak bunda"
"Mukanya gitu amat"
"Ni bentar lagi selesai topinya"
"Biar kesayangan bunda ngak kepanasan" ucap oliv menunjukkan rajutan topinya
"Iii tak auk la patai itu"
"Gilii"ucap sikecil merinding melihat topi rajutan sang bunda, mendengar ucapan sang anak spontan saja tangan oliv mencubit gemas pipi gembul sang anak.
-----------*****----------
"Pranggggg"
"Hampir 5 tahun tak sedikitpun informasi yang kalian dapat hah" teriak seseorang di sudut gelap yang terletak di rumah mewah berlantai 3 tersebut
"Sudah aku katakan, jangan tampakkan wajah kalian dihadapanku jika belum menemukannya bodoh" teriaknya garang dan kembali melayangkan lampu pas bunga berukuran jumbo tersebut kearah beberapa orang yang kini tengah menunduk takut diambang pintu.
Ia adalah Javier Arkanan Fawwazy anak muda yang dulunya hanya tau menghamburkan harta orang tua sudah menjelma menjadi laki-laki dewasa yang sukses, bukan hanya latar belakang keluarga yang berada, ia sukses tak lepas dari usahanya sendiri yang bekerja tak tau waktu, meski itu ia lakukan salah satunya untuk membuatnya lupa akan kesalah yang dulu ia pernah lakukan, kesalahan yang sampai saat ini belum dapat ia perbaiki, dulu ia tak pernah menyangka, kenakalannya berubah menjadi petaka, dan lebih parahnya lagi, saat ia menyadari kesalahannya, semua sudah terlambat, saat ia ingin memperbaiki namun Tuhan tak memberinya kesempatan sampai saat ini, penyesalan terdalamnya mengetahui ia telah menyakiti orang yang ia cintai tanpa ia sadari dan fakta lain adalah ia tidak hanya kehilangan satu orang melainkan dua orang sekaligus.
"Aaarrrrgggggtttt" teriaknya kencang dan mencengkram kuat rambutnya
"TUHAN"
"BRENGGSEKK"
"DIMAANA DIA"
"TUNJUKKAN PADAKU HAH"
Teriaknya kencang membuat wanita paruh baya yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu mengurut dadanya kuat.
"Ya Allah"
"Hamba sangat tau, bagaimana penyesalan tuan, mohon jangan jadikan jiwanya kelam, pertemukanlah kembali ia dengan wanita itu agar ia bisa menebus kesalahannya" do'a sang wanita paruh baya itu dan beranjak meninggalkan ruangan gelap sang tuan.