Part 12

1418 Words
------***------ Oliv pov "Unda ain yok, tampat oom" entah sudah berapa kali sikecil merengek minta main dengan om-omnya yang tak lain adalah laki-laki itu, entah mengapa sampai saat ini aku belum bisa menyebut namanya secara lepas seperti dulu. "Nanti sayang. Oom lagi ada urusan sama opa" "Kan tadi opa bilang, kalau hari ini opa akan bahas kerjaan sama oom" ucapku berkilah tapi bukan juga sih, karna memang hari ini papa ada pertemuan dengannya bisa jadi bahas kerjasama perusahaan mereka. "Eee tanapa cih opa pelgi cendilian?Tanapa ndak tunngu aji ni mangun?" protesnya sangat lucu, wajahnya yang menggemaskan semakin terlihat menggemaskan dengan wajah cemberutnya "Salah sendiri bangunnya kesiangan"ucapku menggoda menoel pipi gembulnya. "Naaa belalti unda yang calah, Tanapa ndak bangunin Aji?" "Kok bunda sih"jawabku seolah perotes, wajahnya benar-benar menggemaskan saat ini, jika tidak mengingat anak sendiri sudah aku gigit pipi tembamnya sedari tadi, mengingat anak sendiri, entar nangis repot sendiri makanya ku urungkan niatku untuk mengigit pipi gembul itu. Wajahnya saat ini sama persih dengan dua tahun silam, saat dimana ia berteriak karna kodok meloncat kearahnya, ia terlihat kesal dan geli lalu mengoceh tak jelas dengan bahasa antah berantahnya sebelum akhirnya ia menangis histeris, sejak itulah kodok adalah salah satu musuh bebuyutan sikecil sampai saat ini. "Ya undala!Tanapa ndak anguni Aji?"ucapnya tetap tak mau kalah membuatku terkekeh. "Ya deh, bunda minta maaf, nanti kita keluar! Sekarang bunda mau masak ayam goreng madu untuk kesayangan bunda" ucapku lembut dijawab anggukan oleh sikecilku meski mulutnya masih mengkerucut menandakan kekesalannya yang memuncak. -------***------ Selama memasak, sikecil dengan setianya menunggu dikursi kecil yang memang khusus di belikan untuknya kala menungguku saat masak, mengingat disekitar sini tidak terlalu banyak anak kecil, jadi ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersamaku, salah satunya didapur, disini memang banyak pelayang, tapi untuk anakku, aku selalu turun tangan sendiri sejak dulu. Bukan tidak ada anak kecil sih, ada !!! Tapi kadang mereka membedakan sikecil karna sikecil cucu pemilik pulau ini, mereka segan untuk bermain dengan sikecil, kalaupun bermain mereka akan menyerahkan mainannya pada sikecil dan seolah takut untuk bermain seperti anak pada umumnya, seperti merasakan apa yang mereka rasakan, sikecil kadang lebih memilih dirumah ketimbang bermain. "Uda ciap ndah" ucapnya sudah terdengar pelan, sepertinya moodnya sudah membaik "Udah" "Mau mamam" ucapku sembari mengelus pelan pipinya "Auk, thapiy talual ya nda"ucapnya semangat, aku tau akal pintarnya tengah berfikir cara keluar dan bertemu oomnya itu, karna ia tau betul kebiasaan ibunya yang takkan menolak apapun permintaannya asalkan mau makan. Ya!!! Dia memang kadang susah makan, meski sudah memasak makanan kesukaannya seperti ayam goreng madu atau ayam bakar madu seperti ini, entah mengapa ia sangat menyukai dua jenis makanan tersebut. "Ya sudah" ucapku menurut ketimbang anakku tak makan, begitulah kami kaum ibu, akan melakukan apapun agar anak kami mau makan, lagian sepertinya orang itu takkan muncul, karna jika papa mengadakan pertemuan penting seperti ini paling tidak sorenya baru selesai. -------***-------- Entah sudah berapa lama kami duduk dipinggir pantai ini, nasi sikecil masih nyisa separuh, dengan sabar aku membujuknya agar menghabiskan makanannya namun tetap saja ia tak mau dan lebih memilih memainkan pasir padahal cuaca saat ini lumayan panas. "Kenapa kau tak pernah hitam sayang. Padahal kerjaanmu main pasir sambil panas-panasan" ucapku terkekeh "Kau tau betul mengapa ia takkan pernah hitam bukan" suara itu membuatku menoleh cepat "Ayahnya masih keturunan kulit putih, jadi seterik apapun matahari diatas kepalanya takkan membuat kulitnya menghitam seperti yang lainnya" sambungnya lagi. Dan tanpa menolehpun aku sudah bisa menebak siapa yang berbicara itu, ya !!! Dia disana, yang aku ketahui salah satu orang tuanya memang bukan asli orang pribumi, masuk akal yang ia katakan, yang membuatku ingin berteriak mengapa ia menyebut nama ayah, aku takut sikecilku mendengarnya. "Jangan sebut kata itu didepannya" gumanku datar "Kenapa" jawabnya sembari mengangkat satu alisnya, menyebalkan pikirku dalam hati "Karna ia tak punya ayah" jawabku cepat "Apa aku harus menunjukkan siapa ayahnya padamu"jawabnya enteng, laki-laki ini benar-benar gila, apa novel yang selama ini aku baca semuanya tipuan belaka, ia sih pikiran manusia, tapi memang logikanya jika orang ada diposisi laki-laki ini saat ini, pasti akan meminta maaf, paling tidak jangan angkuh, lah ini, sudah ngak ada rasa bersalahnya angkuh pula, ya Tuhan, apa ia dulu aku mencintainya, apa aku buta karna cinta, tapi rasanya tidak mungkin, masa mata aja udah empat masih saja buta, ahh entahlah, seandainya aku bisa berubah jadi mahluk jahat sudah ku terkam laki-laki angkuh didepanku ini saat ini, menyebalkan sungguh sangat menyebalkan. "Kau tidak perlu menunjukkannya, karna ia tak butuh itu" selaku cepat "Kenapa"tanyanya sendu membuatku mengkerutkan keningku, yang aku lihat ia selalu memperhatikan gerak gerik sikecil, saking asiknya main sikecilku sampai-sampai tak menyadari kehadiran orang yang sangat ingin ia temui ini, kadang hatiku nyeri sendiri melihatnya asik bermain sendiri seperti saat ini, seharusnya tidak seperti ini, seharusnya ia tertawa itu bersama temannya, tapi ia tertawa sendiri dan asik sendiri membuatku kadang ingin menjerit. "Kau sendiri yang tak menginginkannya" ucapku pelan tidak sedatar tadi, melihat wajah sendunya seakan mengingatkanku padanya saat kami masih bersama, walau berandalan aku tau ia orang yang kurang kasih sayang, meski sudah mengetahui apa yang telah ia lakukan terhadapku hanyalah sebuah taruhan, entah mengapa aku merasa, ada saat-saat dimana apa yang ia lakukan bukanlah sebuah topeng, itulah salah satu selain cinta yang membuatku sulit membencinya, jika sekarang aku menolaknya itu semata-mata karna aku tidak mau jatuh pada lubang yang sama, dan saat ini bukan hatiku yang aku takutkan akan terluka tapi hati malaikat kecilku. Beberapa saat hanya keheningan diantara kami, sehingga jeritan sikecil memecah kehenaningan itu, ia menjerit dan langsung berlari memeluk kaki laki-laki itu erat, ia pun duduk dan membawa sikecil kedalam gendongannya, sesuatu yang tak pernahku bayangkan sebelumnya, sebelumnya aku bahkan sempat berfikir anakku takkan pernah melihat wajah ayahnya sampai ia tiada, namun Tuhan punya jalannya sendiri. Yang terjadi selanjutnya adalah aku dilupakan, anakku tampak asik didalam dekapan ayahnya, sehingga tak menghiraukan keberadaanku, aku memang tak berniat memisahkannya, etahlah, melihat kekecewaan anakku bukanlah hal yang menyenangkan, biarlah aku yang mengalah dan membiarkan keduanya. Entah karna mengantuk atau kelelahan ditambah perut sudah berisi, hanya butuh waktu kurang lebih setengah jam kini sikecil sudah terlelap dalam dekapannya, aku sendiri bingung, mengapa anakku sangat mudah terlelap dalam dekapannya dan ia yang saat ini juga berbeda, tak terasa aura menankutkan seperti sebelumnya. "Mengapa ia tak mengenali wajah ayahnya" gumannya pelan "Aku tidak ingin ia terlalu berharap"ucapku takkala pelan "Dan aku juga tak punya satupun poto ayahnya" sambungku lagi, aku mendengar ia terkekeh dan itu membuatku jengah, ia dengan aura menakutkan itu yang saat ini aku lihat, Ya Tuhan, kenapa ini orang seperti memiliki keperibadiaan ganda, berganti sifat seenak jidatnya. "Aku rasa mantan kutu buku sepertimu bukan orang bodoh Oliv" "Profil orang sepertiku pasti berterbaran dimedia, kau bilang tak punya potoku"ucapnya terbahak, namun melihat mahluk mungil itu menggeliat dalam dekapannya membuatnya berhenti terbahak dan menenangkan sikecilku dengan mengelus lembut pipi gembulnya. "Aku tau kau sengaja menyembunyikannya" desisnya kali ini ada kilatan aneh dimatanya membuat bulu kudukku merinding. "Kau benar"ucapku datar berusaha menyembunyikan rasa dalam diriku "Katakan yang sebenarnya padanya atau aku yang akan mengatakannya sendiri" ucapnya lalu berdiri dan berlalu, aku masih tak bergeming ditempatku, otakku seolah sudah mencerna apa yang ia katakan, sesaat aku tersadar karna memikirkan mahlakuk kecilku, dan Astaga anakku, ucapku lalu berlari mengejar keduanya. -------****-------- Laki-laki gila, tak ada kata lain selain kata itu, bagaimana tidak, ia mengancam akan membawa sikecil pergi jika aku tak menjelaskan pada sikecil siapa dirinya, dan batas waktunya hanya sampai matahari terbenam, laki-laki itu, dimana otak dan hatinya. Ini sudah lewat dari waktu yang ia tentukan, aku masih gelisah dengan karna ancamannya, sementara sikecil sedang asik bermain dengan pistol-pistolannya tanpa berniat untuk tidur. "Sayang, bobok yuk"ucapku pelan menyamakan duduk kami "Bental ya nda, Aji macih auk ain" jawabnya lembut dan akupun memilih menemaninya meski pikiran tentang ancaman laki-laki itu masih menari-nari dibenakku. Entah mengantuk atau bagaimana aku hampir saja terlelap, namun suarah gaduh jet membuatku kembali terbangun, sepertinya bukan hanya satu jet, kenapa terdengar ada beberapan jet diatas pulau ini, apa papa mengadakan pertemuan dadakan, entahlah!!! dan disana sikecil sudah berdiri dibalkon sembari cekikikan sembari meloncat-loncat kecil entah apa yang kini tengah ia lihat. Perlahan aku mendekat kearah sikecil dan melihat apa yang ia lihat kebawah, tubuhku langsung bergetar hebat menyaksikan apa yang tengah terjadi disana, disana, mereka saling mengarahkan pistol satu sama lainnya, dan banyak lagi yang lainnya, di belakang papa aku sudah mengenal semuanya adalah anak buah papa dan yang lainnya, apa itu anak buah Javi, kenapa jadi seperti ini, apa jet tadi adalah mereka, lalu mengapa posisi mereka saat ini sangat menankutkan, Ya Tuhan apa yang mereka lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD