-----****-----
Kejadian menegangkan tadi pagi akhirnya berakhir juga, dan kini bocah lucu itu tengah merengek pada sang bunda agar diizinkan bermain dengan om gantengnya, tentu saja sang bunda takkan mengizinkannya, namun saat melihat tatapan mengerikan laki-laki yang tak lain oom ganteng sang buah hati, ia pun akhirnya mengizinkannya, entahlah, entah mengapa hatinya mengatakan takkan terjadi apapun dengan malaikatnya itu, ia juga benci dengan hatinya yang seperti merasa jika laki-laki yang tak lain adalah ayah dari anaknya itu juga takkan berani menyakiti darah daginnya sendiri, entah dari mana perasaan bodoh itu, ia juga tak mengerti.
Dulunya ia sempat berusaha membenci laki-laki itu, namun tetap saja ia tak bisa, rasa cinta yang ia miliki mengalahkan rasa yang hendak ia tumbuhkan tersebut, sampai saat ini ia juga tidak pernah membenci laki-laki yang dulu sempat ia cintai itu, namun saat ini ia juga sudah tidak memiliki rasa cinta itu, tapi ini hanya kemungkinan, karna melihat tatapan lembutnya menatap buahati mereka membuat perasaannya menghangat, namun ia tak mau menyimpulkan jika ia masih mencintainya, jika pun ia dia masih mencintai laki-laki itu, ia akan butuh waktu lama untuk kembali kesisinya, banyak hal yang harus ia pikirkan, apalagi jika mengingat bagaimana dulu laki-laki itu memperlakukannya.
"Kenapa kau memberi izin padanya Liv" ucapan itu membuat Oliv menoleh dan mendapati sang papa tengah menatapnya tajam
"Papa cuma pergi sebentar dan kau menyerahkan cucu papa padanya"
"Papa memang bilang dia takkan berani selama masih dipulau ini, tapi bukan berarti kamu bisa menyerahkan dengan mudah pangeran papa dengan laki-laki itu" sambungya
Ya!!! Setelah kejadian dimeja makan tadi pagi, sang papa langsung pergi karna ada urusan penting yang mengharusnya terbang keseberang pulau.
"Aku yakin dia takkan menyakitinya Pa" jawab Oliv lembut
"Apa kau lupa bagaimana ia dulu ia tega menyakitimu nak. Mungkin saja ia datang kembali untuk melakukan hal yang sama"
"Papa kenapa ngomongnya kayak gitu"pekik seseorang menyusul masuk kekamar Oliv
"Mama jangan teriak-teriak"ucap sang suami tak suka, moodnya bernar-benar hancur saat ini, tak peduli teriakkan itu salah satu penyemangatnya selama ini, namun memikirkan akan masalah yang akan ditimbulkan laki-laki gila itu membuatnya mengindahkan perasaannya yang lain.
"Papa kenapa sensi. Kan mama udah bilang, pasti ngak bakal terjadi apa-apa"
Ucap sang istri mengkerucutkan bibirnya, namun sang suami hanya membalasnya dengan tatapan datar membuat kamar itu diselimuti aura yang menakutkan.
"Anak itu setengah waras, yang papa tau ia tidak segan-segan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang ia mau"
"Kemarin papa sudah menyuruh orang-orang papa mencari informasi lebih mengenai sepak terjangnya didunia bisnis, dan ternyata informasi yang papa terima sangat memcengangkan, bukan hanya menjalankan kekuasaan keluarga Fawwazy, namun ia juga membangun kekuasaannya sendiri dalam kurun waktu yang sangat singkat"
"Satu yang dapat papa simpulkan, ia tipe orang yang memiliki obsesi tinggi pada sesuatu, jika ia sudah menginginkan sesuatu, maka ia akan mendapatnya apapun caranya"
"Papa hanya takut, jika obsesinya ditujukan pada kalian. Kau dan anakmu nak" ucap Atmaja memecahkan ketegangan yang tadi menyelimuti mereka.
-------*****------
Oliv pov
"Anak itu setengah waras, yang papa tau ia tidak segan-segan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang ia mau"
"Kemarin papa sudah menyuruh orang-orang papa mencari informasi lebih mengenai sepak terjangnya didunia bisnis, dan ternyata informasi yang papa terima sangat memcengangkan, bukan hanya menjalankan kekuasaan keluarga Fawwazy, namun ia juga membangun kekuasaannya sendiri dalam kurun waktu yang sangat singkat"
"Satu yang dapat papa simpulkan, ia tipe orang yang memiliki obsesi tinggi pada sesuatu, jika ia sudah menginginkan sesuatu, maka ia akan mendapatnya apapun caranya"
"Papa hanya takut, jika obsesinya ditujukan pada kalian. Kau dan anakmu nak" ucap Atmaja memecahkan ketegangan yang tadi menyelimuti mereka.
Kata terakhir papa tadi membuatku benar-benar tak bisa menahan diri lagi, tanpa pikir panjang aku langsung berlari keluar dari kamar dan mencari keberadaan malaikatku, sungguh diluar dugaan, sosok yang dulu bukanlah tipe manusia yang memiliki sifat seperti itu sekarang sudah jauh berubah, benar kata papa, bagaimana jika ia terobsesi dengan mahluk mungilku itu, tidak, aku tidak akan membiarkan itu, aku rela kehilangan apa saja, asal jangan anakku, melihat tatapannya setiap bertemu dengan sikecil entah mengapa hatiku mengatakan hal yang terakhir yang papa katakan sudah terjadi, ia menginginkan anakku, entah itu dalam arti apa aku tidak tau.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan dimana keberadaan mereka, dari sini tampak keduanya tengah bermain pasir di ujung sana, aku berlari sekuat yang aku bisa, membayangkan jika benar ia menginginkan anakku membuatku takut.
Sesampainya didekat keduanya aku langsung meraih tubuh sikecilku kedalam dekapanku lalu memeluknya kuat.
"Unda tanapa" tanya sikecil, bisa jadi ia bingung dengan kelakuan bundanya
"Ngak papa sayang" ucapku senormal mungkin dan menganggap seolah tak ada orang disana akupun langsung melangkah meninggalkan tempat itu, namun baru saja ingin melangkahkan kakiku, tubuh tegap itu kini menghadang langkahku
"Apa yang kau lakukan"desisnya pelan
"Sudah waktunya makan siang. Aku hanya ingin memberinya makan"ucapku tanpa melihat wajahnya
"Kau pikir aku orang bodoh" ucapnya remeh
"Kau mengambilnya seolah-olah aku akan menyakitinya" sambungnya kali ini dengan rahang mengeras
"Tanapa cih nda, tok unda cama oom balantem, tan toleh balantem" ucap anak itu sembari menoleh kearah kedua orang tuanya dengan tatapan bingung.
"Ngak kok nak, Bunda ngak berantem. Kita pulang ya!Azy kan belum mamam" ucapku mengalihkan pembicaraan kami
"Yok"jawabnya bersemangat dan tanpa diduga laki-laki ini menggeser tubuhnya agar tak menghalangi jalan kami, sedari tadi aku tau, ia selalu menatap lembut mahluk mungil dalam gendonganku ini, ya Tuhan bagaimana ini, batinku dan melangkah meninggalkannya berdiri mematung disana.
"Da da o om" teriak anakku
"Anti ain agi " ucapnya bersemangat.
--------***--------
Malam ini sikecil tengah terlelap memeluk guling kesayangannya, wajahnya tampak lelah namun guratan bahagia tampak jelas tercetak di wajah mungilnya.
"Kau bahagia nak" ucap perempuan itu lembut dan mengecup pelan pipi sang anak
"Bunda bisa lihat kau sangat menyukainya, tapi bunda tidak mau kamu mendapatkan kesakitan yang sama jika berdekatan dengannya" ucapnya lagi
"Bunda takut ia mendekatimu lalu saat kau mencintainya ia akan meninggalkanmu sama seperti yang ia lakukan pada bunda" ucapnya gemetar dengan genangan air mata di pelupuk mata indahnya, jika sudah begini, hal yang ia ingin lupakan akan kembali muncul di otaknnya kejadian beberapa tahun silam, kejadian yang merubah jalan hidupnya.
Pagi itu gadis cupu dengan kaca mata bulatnya itu tampak tengah terduduk lemas di hadapan dokter yang kini tengah menatapnya iba, kertas ditangannya membuat hatinya melocos, tubuhnya bergetar dan airmatanya jatuh dengan kasar.
Beberapa hari ini ia selalu mengalami gelaja seperti kepala pusing dan mual-mual, ia sudah meminum obat seperti biasanya namun tetap tak ada perubahan, akhirnya ia memutuskan untuk kerumah sakit untuk mengecek apa yang tengah terjadi pada dirinya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya ia pun mengetahui apa penyebab mengapa ia mengalami gejala-gejala aneh itu, pasian atas nama Olivia Azzira di nyatakan positif hamil, itulah yang tertera dikertas putih tersebut.
-----****-----
"Gue pemenang taruhannya, jadi kesiniin kunci mobilnya" teriakan itu menggema disalah satu ruangan yang diketahui memang tempat beberapa anak muda itu berkumpul.
"Oke kita kalah, ini kuncinya"ucap salah satu dari pemuda tersebut
"Tapi beneran lo udah dapatin cewek cupu itu" lanjutnya
"Haha bukannya itu salah satu syaratnya"
"Jadi ya sudah dong" jawab suara itu bangga
"Wah gila lo, jadi lo udah emhem ehem sama tu mahluk cupu" ucap salah satunya tak percaya
"Kaliankan yang membuat perjanjiannya, dekati, dapati dan tinggali" udah dong jawab suara pertama sembari memainkan kunci mobilnya
"Is kamu itu, aku kira kamu bakalan mikir-mikir"
"Hahaha, ngak la, ngapain!! Rugi ngak nikmat ia, masak mau dilewatkan begitu saja, lo tau kan walau cupu gitu, ternyata dia bisa buat gue melayang ucap Javi terbahak.
Ya!!! Anak muda itu dikenal dengan panggilan Javi dan kini tengah berkumpul di tempat yang ia jadikan tempat pertemuan mereka kala dikampus, dari tadi ia tak berhenti terbahak karna telah memenangkan taruhan, dimana taruhan tersebut harus mendapatkan gadis cupu yang hidupnya hanya bersama buku, tanpa siapapun, ia pun menutup dirinya untuk siapapun apalagi laki-laki, itulah mengapa Javi cs membuat taruhan siapa yang bisa mendapatkan gadis cupu itu akan di berikan sebuah mobil sport keluaran terbaru dan gadis cupu tersebut tak lain tak bukan adalah Olivia Azzira.
" wah lo, selamat lo pemenangnya, tapi lo ehem ehem kemaren pake pengawan"
"Kepo"
"Entar anak orang hamil gimana"
"Tinggal suruh dia aborsi" jawab Javi enteng
"Wah gila lo, itukan darah daging lo"
"Ya kali bro gue harus tanggung jawab dan nikah ama tu gadis cupu, amit amit dech punya anak dari tu orang, bapaknya boleh kayak gue, lah maknya, lo liat ndri gimana, amit amit punya anak dari tu orang, kasian anak gue entarnya"ucapnya terbahak seolah yang ia lakukan hal yang sangat lucu
"Wah lo parah"
"Habis tu cupu juga ngak tau diri sih, udah tau javi sang idola kampus, logikanya aja dech masak ia dia suka ma bentuk yang begitu, udah cupu sok cantik lagi dengan pedenya mau nerima macan" ucap suara lainnya membela dan tertawa bersama, namun tidak dengan Aslan yang sedari tadi hanya terdiam
"Lo kenapa lan" salah satu temannya
"Ngak papa, hanya saja rasanya omongan kalian keterlaluan, dan lebih parah lagi omongan kalian didengar oleh orangnya" jawab Aslan pelan dan semuanya menoleh bersamaan kearah tunjuk aslan, disana ia berdiri dengan tubuh gemetar, wajah memucat terlihat kacau, mata mereka bertemu sebelum ia berlari meninggalkan tempat itu.
"Hanya Tuhan yang tau bagaimana sakitnya saat itu nak" isak Oliv memeluk tubuh buah hatinya tersebut
"Bunda tidak mau kamu merasakan hal yang sama" lanjutnya dan terus memeluk tubuh mungilnya itu hingga iapun terlelap dalam tidunya.
Hanya beberapa waktu ia terlelap, banyangan itu muncul dari sudut gelap itu dan mendekat keranjang keduanya, ia tampak membenarkan posisi tidur wanita dan mahluk mungil miliknya, miliknya Ya!! Ia sudah mengklaim keduanya miliknya sejak beberapa tahun silam.
Setelah membenarkan posisi keduanya ia pun duduk disisi ranjang itu dan memperhatikan keduanya dengan tatapan sendu, tangannya terulur mengelus pipi keduanya dengan lembut tanpa berniat mengganggu keduanya.
Sampai tengah malam ia masih duduk disana memperhatikan keduanya dengan tatapan sendunya, perlahan ia berdiri dan mencium lembut bibir wanitanya lalu beranjak ke pipi gembul mahluk mungil miliknya sebelum akhirnya ia beranjak meninggalkan kamar tersebut.