-----***-----
Dalam kegelapan, seseorang tengah duduk disudut ruangangan tanpa cahaya itu, matanya merah dan berair, namun sebelum airmata itu sempat jatuh seringai mengerikan sudah muncul dijawah tampannya, tangannya tampak terkepal kuat sehingga buku jarinya memutuh, sebelum ia melangkah dari ruangan itu ia tampak menelpon seseorang seperti tengah merencanakan sesuatu.
"Apapun resikonya. Aku tidak peduli"
Itulah kata terakhir yang terdengar sebelum ia mengambil sesuatu dalam ranselnya, barang itu selalu ia bawa kemanapun ia pergi, seseorang sepertinya membutuhkan itu untuk berjaga-jaga, jika sesekali musuh datang secara tak terduga.
Oliv pov
Pagi ini kondisiku sudah mulai baikan meski belum pulih benar, aku terbangun dan tersenyum ternyata laki-laki itu tak lagi berada disini, aku tidak membencinya, bukannya sudahku katakan, perlahan tapi pasti aku sudah melupakan apapun yang ia lakukan dimasalalu, aku hanya takut ia kembali membuat ulah dihidupku, sungguh itu adalah hal yang tak ingin aku lihat.
Jagoanku perlahan membuka matanya secara perlahan, bulu matanya yang lentik, alis tebal, hidung mancung serta rambutnya yang kritingnya ini sangat mirip dengannya, bagaimana mungkin ia percaya akan ucapanku.
"Unda" rengeknya menggemaskan lalu melingkarkan tangan mungilnya di leherku, ini sudah jadi kebiasaannya dari kecil.
"Uuuu auk acem" ucapku dan menciumi seluruh permukaan wajah tampannya.
"Halum. Olang temalen Aji manji" protesnya membuatku terkekeh, anak ini memang tak mau jika di bilang bau, katanya orang bau itu jorok, pernah sekali ia mengamuk sejadi-jadinya karna di kerjai, aku dan opanya mengatainya bau, alhasil dia ngambek tidak mau makan selam seharian, sangat jelas diotakku bagaimana reaksi omanya saat mengetahui sang cucu ngambek karna kami kerjai, ia membawa sikecil keseberang dan menginap dihotel selama 2 hari, kami sebenarnya juga menyusul karna malamnya mereka tak pulang, namun tetap mereka tidak mau kami temui, yang lebihnya sih si omanya, karna aku tau sigembul ini takkan pernah bisa berpisah jauh dariku, bahkan sampai sekarang ia masih mimik, mimik dalam arti kata, ia hanya memegangnya saja sampai ia tertidur pulas, kadang geli sendiri mengingat umurnya masih mimik begitu, tapi kata omanya itu hal lumrah dan akan berhenti kala akalnya tumbuh.
"Mandi sama siapa kemaren hmpz" ucapku gemas dan menyelipkan rambut kritingnya dibelakang daun telinganya, ia sangat tidak mau jika orang lain memandikannya, dari kecip cuma aku dan omanya yang memandikan paling jika tiba manjanya baru ia minta mandikan opanya.
"Pasti oma"sambungku dan menggesek-gesek hidung kami
"Butan" jawabnya cepat
"Opa???"
"Butan duga" jawabnya lagi membuatku mengkerutkan keningku.
"Terus"
"Cama om danteng"jawabnya singkat membuatku mematung.
"Oom yang mana"tanyaku lagi, bisa jadi orang yang ia maksud bukan laki-laki itu.
"Oom yang tayak Aji ni, tuma lambutnya ndak kliting" jawaban bibir mungil itu benar-benar diluar dugaan, mana mungkin ia memandikan anak kecil, rasanya tidak mungkin, e tunggu, apa kata anakku barusan
"Oom yang tayak Aji ni, tuma lambutnya ndak kiting"
Astaga apa anak kecil ini menyadari kemiripan mereka, ya Tuhan jangan sampai otak cerdasnya mencerna yang tidak-tidak.
"Mana ada om-om mirip anak bunda. Anak bundakan paling tampan sedunia"ucapnya girang dan segera mengangkatnya kekamar mandi, aku tau, percakapan ini akan panjang jika aku masih disini.
------****------
"Anak bunda paling ganteng, mana kissnya untuk bunda?" ucapku setelah selesai mendandaninya
"Uuuaaaccchhh" hidung mungil itupun menyentuh pipi kanan, kiri dan keningku, ini kebiasaan kami dari dulu, ia juga melakukan ini pada oma dan opanya
"Sayaaang"
Alaram itu sudah berbunyi, bukan alaram beneran melainkan omanya yang pasti sudah duduk manis dimeja makan dan menunggu kedatangan cucu kesayangannya.
"Oma" beo sikecil
"Hmpz" ucapku dan membiarkannya keluar kamar, sedangkan aku kembali mengenakan pakaian, setelah siapku menyusul keruangan makan, namun langkahku terhenti melihat apa yang ada dihadapanku saat ini, disana, laki-laki itu tengah tersenyum lembut menyuapi mahluk mungil dedapannya, ingin rasanya berlari kesana dan menjauhkannya, namun entah kenapa rasanya potret bahagia yang entah kapan aku lihat itu benar-benar nyata kulihat saat ini, anak itu tampak bahagia, sesekali terkikik, oh Tuhan anakku.
Aku berjalan pelan mendekat kemeja makan, aura disini sangat mencekam, hanya sikecilku yang tak merasakannya, terbukti ia tampak bahagia dengan makan sangat lahapnya, padahal anak ini termasuk anak yang susah makan.
Papa, mama memasang wajah yang sulitku artikan sementara aku yang kini tengah duduk dikursi tepat berada didepan sikecil ikut-ikutan terdiam.
"Tanapa paja jiam cih" celoteh sikecil bingung membuatku menampilkan senyum palsuku, sementara laki-laki itu tampak tersenyum mengejek kearahku seolah berkata hey aku tau itu senyum palsu belaka.
"Ngak papa sayang. Opa, oma sama bunda lagi sariawan" jawab laki-laki dihadapanku ini dengan santai, aku dapat melihat papa mengcengkram kuat tangannya, ini pertanda buruk, hatiku meneriakkan itu, tapi yang aneh apa laki-laki ini tidak takut , sekuat apapun dia, posisinya saat ini tetap saja lemah, papa meski sudah tua begitu, tapi aku sangat tau kemampuan bela dirinya, ditambah lagi beberapa pengawal pribadinya, apa laki-laki ini tidak takut dicincang papa dan di buang kelaut sana.
"Laa adi unda nomong cama Aji dikamal" ucap sikecil membuat pikiranku tentang laki-laki didepanku terbang entah kemana
"Oma duga pandil Aji tan ma" sambungnya sembari menganggukkan kepala kecilnya, nah, sudah aku katakan sebelumnya jika bocah ini berotak cerdas, mana mungkin dia percaya begitu saja atas apa yang diucapkan laki-laki yang saat ini sudah seperti orang singting, mana ada orang normal berlaku seperti dia, sudah tau berada dalam perut hiu, masih saja membanggakan taringnya, aku ngomong apasih!!! Entahlah, berhadapan dengannya membuat kepalaku mau pecah.
Sarapan pagi ini dilewatkan dengan suasana memcekam, tak ada yang terdengar kecuali dentingan piring dan kekehan sikecil, semuannya tegang ditempat masing-masing termasuk aku.