"Kenapa kamu meninggalkanku lagi? Kamu bahkan baru kembali. Apa aku sudah tidak sepenting itu untukmu?" Sofia meneteskan airmata seraya memeluk Aiden yang masih terdiam di tempatnya.
"Aiden menemani Mama semalam, jangan marah padanya." Grezia menyahuti pertanyaan dramatis itu dengan ketus.
"Anakku sekarat, dan sebagai mertua kamu malah memanggil anakmu?" Vera membentaknya.
"Semalam juga mendesak, aku tersedak. Suamiku tidak di rumah! Siapa yang bisa ku hubungi selain anak? Sofia ada kamu kan?"
"Ma, Sofia, Aiden mau bicara." Ujarnya menghentikan pertengkaran antara ibu dan ibu mertuanya. “Sebenarnya Aiden ingin menyampaikan bahwa, Aiden ingin berpisah----”
"Aiden, aku sudah menemukan anak kita! Aku sudah menemukan informasi!" Sofia lebih dulu memotong ucapan Aiden. "Akhirnya aku menemukan jejak anak kita!"
"Apa maksudmu?"
"Kata Mama, ada pria yang menculik anak kita! Istri pria itu keguguran di malam aku melahirkan, Mama sedang mencari tahu identitasnya!"
"Ma, benarkah itu?" Aiden menatap mertuanya yang tampak kebingungan, namun akhirnya mengangguk setuju. Sofia benar-benar membuat jantungnya hampir copot. Kenapa Sofia asal bicara, tanpa memberitahunya lebih dulu?
Sebenarnya, tidak sulit untuk Vera mencari tahu. Tapi Vera masih enggan bertemu cucunya yang cacat itu. Keluarganya yang terpandang, pasti akan menjadi perbincangan buruk banyak orang. Vera mengutuk keras hal itu! Kenapa putrinya itu bodoh sekali? Dia hanya tinggal hamil anak lagi dengan Aiden. Untuk apa dia memaksa untuk menemukan anaknya yang sudah ditakdirkan hilang?
"Benar, Aiden. Mama baru saja mendapat informasi. Mama sedang mencari tahu identitasnya." Vera mengusap pundak menantunya. "Sebentar lagi, pernikahan kalian akan kembali utuh!"
Aiden meneteskan airmata, lalu memeluk Sofia dengan erat. Ia tidak menyangka jika pencariannya selama bertahun-tahun akhirnya menemukan titik terang.
Sedangkan Grezia, ia tersenyum sinis. Setelah melihat apa yang terjadi, kini ia paham siapa dalang dari hilangnya cucunya. Mereka tak lain adalah ibu kandungnya sendiri, dan neneknya yang biadap itu. Grezia akan mengikuti permainan mereka. Grezia ingin tahu apa rencana mereka selanjutnya.
"Tapi kalian juga harus tahu satu hal tentang Aiden!" Grezia melipat tangannya di d**a.
"Apa maksudmu?"
"Aiden punya simpanan yang sedang hamil." Ucap Grezia yang membuat semua orang membola.
"Mama!" Aiden melotot.
"Biarkan, biarkan semua orang tahu faktanya. Jangan pernah salahkan Aiden dalam hal ini! Karena anakmulah yang membuat Aiden frustasi dan mengambil jalan pintas!"
"Itu benar?" Sofia tersedu-sedu. "Kamu menghianatiku?" Sofia memukulinya seraya menangis terisak dan menjerit histeris.
"Kamu mendukung perselingkuhan putramu? Kamu sangat tidak bermoral!"
"Lalu bagaimana dengan putrimu yang sama sekali tidak menghargai Aiden selama lima tahun terakhir? Kurang sabar apa kami menghadapi sikap tidak sopannya? Asal kalian tahu! Niatan Aiden datang untuk membicarakan perceraiannya dengan Sofia!"
"Aiden, katakan jika itu tidak benar!" Sofia menggeleng frustasi. "Jangan lakukan itu padaku! Anak kita akan segera ketemu, ayo jalani rumah tangga kita dengan benar! Jangan seperti ini! Aku janji akan berubah, aku akan merawat anak simpananmu! Tolong jangan tinggalkan aku dengan cara seperti ini!"
"Sofia----"
"Tidak ingatkah kamu Aiden, berapa lama kita bersama? Sampai akhirnya memutuskan untuk menikah? Badai dahsyat yang menerpa rumah tangga kita akan segera berakhir. Jangan menyerah!" Sofia memeluknya. "Aku akan memaafkanmu, merawat anak simpananmu, aku mohon pikirkan lagi tentang pernikahan kita!"
Grezia menatap putranya yang sepertinya akan goyah. Tapi tak apa, Grezia akan berada di pihak Diandra apapun yang terjadi, karena dia telah mengetahui faktanya. Jika Aiden asal membuat keputusan, Grezia akan memberinya pelajaran yang sangat berharga karena kebodohannya dan tidak berhati-hati.
"Yang berhak atas anak itu adalah Diandra." Grezia menyela. "Jika kalian mau kembali, kembalilah dan cari anak kalian yang hilang. Tapi anak yang di kandung Diandra, akan tetap menjadi miliknya."
"Ma, Mama tahu kesepakatannya bukan?"
"Mama tidak peduli Aiden. Sekarang, Diandra akan berdiri di belakang Mama. Cepat nikahi dia secara sah, dan jadikan istri keduamu."
"Ma, kenapa mama begitu membenci Sofia? Jangan lakukan ini!" Sofia memohon pada mertuanya.
"Senang tidak senang, Diandra akan menjadi istri kedua Aiden yang juga mengandung cucu keluarga Danuarta. Aku tidak mau cucuku lahir dari perkawinan siri. Nikahi Diandra minggu ini juga!"
"Aku akan menentang pernikahan itu!" Vera membentaknya.
"Tentang saja jika berani! Aku sudah mengalah dan diam saat anakmu membentakku seenaknya selama lima tahun terakhir! Sebagai mertua, aku bahkan tidak pernah di hormati! Sekarang jika aku menemukan menantu yang lebih menghormatiku, Sofia harus terima!"
"Kamu ini tidak punya adab sama sekali!"
"Kamu juga sama, tidak pernah menghargaiku sebagai besan. Semua orang selalu kamu anggap rendah dan berada di bawahmu!"
"Mama sudahlah, jangan seperti ini!" Aiden membentak ibunya yang dirasa sudah keterlaluan.
"Kamu membentak ibumu?" Grezia menamparnya. "Jika kamu tidak mau menikahi Diandra, aku akan mengeluarkanmu dari kartu keluarga Aiden. Mama tidak akan mengaggapmu sebagai putra. Mama serius tentang ini!" Grezia tersenyum tipis, lalu meninggalkan semua orang.
******
Diandra menatap putranya yang sedang bermain dengan mata yang terus berair. Diandra menyesal pernah berurusan dengan Aiden. Andai saja dia tidak menerima kesepakatan itu, maka Hero tidak akan pernah bertemu dengan ayah kandungnya. Diandra sangat takut jika Hero diambil dari hidupnya.
Diandra masih ingat betul bagaimana perjuangannya dan Ryo untuk membuat Hero dapat berbicara dan berjalan. Diandra masih ingat bagaimana langkah pertamanya terjadi. Kata pertama yang Hero ucapkan setelah dia dapat bicara.
Bagaimana bisa Diandra membiarkan Hero diambil darinya setelah perjuangannya selama ini?
"Mama, kenapa menangis?" Hero menghampiri sang ibu dan mengusap airmatanya.
"Tidak apa, Mama hanya senang Hero sudah besar sekarang! Sudah pintar membaca, bermain bola, menyanyi, bermain drama, Mama sangat bangga pada Hero!" Diandra memeluknya.
"Kan sebentar lagi aku lulus TK! Jelas saja aku sudah besar!" Hero memberi tahu ibunya dengan tatapan polosnya yang lucu.
"Hero, akan selalu di samping Mama, bukan? Hero akan bersama Mama terus?"
"Tentu saja! Mama adalah orang yang paling Hero sayang di dunia ini!"
"Benarkah?"
"Iya! Hero sayang Mama!"
"Pintarnya cucu nenek!" Grezia yang baru datang menghampiri mereka seraya membawakan snack dan ice cream. “Sayangi mama terus ya?”
“Hero janji!” Hero kembali memeluk ibunya.
"Nenek bawakan snack dan mainan baru! Sana di buka!" Grezia menunjuk ke arah ruang tengah.
"Yeayyyy!!!" Hero pun berlari ke arah yang neneknya tunjuk, dan mulai membuka bingkisan yang begitu banyak. Bocah itu sibuk memakan camilan dan membuka mainan barunya dengan antusias.
"Jangan menangis, dan takut seperti itu. Aku akan berada di pihakmu. Aku sudah tahu siapa yang membuang Hero. Kita ikuti saja permainan mereka."
"Tante, Hero adalah duniaku. Aku sangat menyayanginya!"
"Aku tahu." Grezia memeluk Diandra yang menangis tersedu. "Bersiaplah untuk pernikahanmu dengan Aiden. Kamu akan menjadi istri keduanya yang sah!"
"Apa maksud tante?"
"Kamu tidak mau berpisah dengan Hero dan anak dalam kandunganmu, bukan? Menikahlah dengan Aiden secara resmi. Aku yang akan berdiri di belakangmu mulai saat ini."
"Tapi---"
"Lagipula, aku tidak mau Aiden terus-terusan bersama penipu seperti mereka. Kita buka kedok mereka secara perlahan."
"Terimakasih." Diandra menatap Grezia dengan tulus. Ia tidak menyangka jika anita itu akan sangat baik padanya.
"Besok kamu akan bertemu dengan Sofia, istri pertama Aiden." Grezia memberitahu. "Kamu sudah pernah bertemu dengannya saat itu. Kamu pasti punya gambaran bagaimana dan apa yang akan terjadi besok."
"Aku mengerti." Diandra mengusap airmatanya.
"Jangan pernah mundur, apapun yang terjadi. Mereka licik dan manipulatif! Aiden saja selalu tertipu olehnya! Jangan mau mengalah! Jika kamu tidak mendengarkanku, kamu akan kehilangan anak-anakmu. Ini kesempatan terakhirmu! Mereka punya power yang kuat! Hanya dipihakku kamu bisa menang!"
"Aku akan mengingat kata-kata Tante."
"Kamu sudah terlanjur terjun, jadi menyelam saja sekalian. Menjadi kejam untuk orang yang kejam tidak menjadi masalah. Aku harus terus mengingatkanmu karena kamu itu bodoh, dan lemah. Jangan sakit hati dengan perkataanku, karena itu fakta." Grezia tersenyum sinis.
"Kamu diberi Aiden kartu kredit kan, pakailah untuk berbelanja pakaian. Semua bajumu sudah lusuh dan kuno! Untuk apa kamu sok naif tidak mau menggunakannya? Padahal kamu melakukan tugasmu untuk mempunyai anak darinya?"
"Tapi aku sudah membuat perusahaan Aiden rugi."
"Kesepakatan itu telah membuatnya lunas. See, kamu itu naif dan bodoh. Jika kamu terus seperti ini, anak-anakmu akan diambil! Kamu akan dibuang seperti barang bekas yang hina!"
Grezia mencengkram wajah Diandra dengan kuat dan remeh. "Jadilah cantik dan menarik! Jangan buat aku kecewa dan malu mengakuimu sebagai menantu! Pergilah berbelanja, aku akan menjaga Hero."