A Secret

1360 Words
Grezia menatap foto Aiden dan Hero yang tergantung di dinding, mereka terlihat sangat bahagia dan memiliki hubungan yang sangat dekat. Bahkan mereka tidak terlihat seperti ayah dan anak sambung. Melainkan keluarga yang utuh dan bahagia. Grezia juga menggendong Hero yang tengah menangis, seraya mengawasi dokter yang sedang memeriksa Diandra. Bahkan dokter pribadi keluarga mereka lebih dulu mengetahui rahasia ini. "Sayang, sudah jangan menangis ya?" "Kenapa Mama diperiksa dokter? Kenapa Papa tidak pulang?" Isaknya tersedu-sedu. "Sayang, Papa pergi bekerja! Papa tidak bisa pulang beberapa hari." Diandra menjelaskan dengan suara lemasnya yang serak. "Kenapa Papa tidak bilang padaku?" "Hero, nanti kita telfon Papa. Jangan menangis ya?" Grezia ikut membujuk. “Tidak mau! Kamu kan teman tante jahat! Kenapa ke sini? Papa harus memarahimu! Mama pasti sakit karena kamu memukulnya!” "Sayang ini nenek, Mama dari Papa Aiden! Papa menyuruh nenek ke sini selama dia ada pekerjaan! Nenek juga bukan temannya tante jahat!" Grezia kembali membujuk. "Sudah-sudah anak tampan! Mama tidak sakit! Sebentar lagi kamu akan punya adik!" Dokter itu menjawil pipinya. "Apa maksud dokter?" Diandra dan Grezia berseru secara bersamaan. "Selamat Bu, anda hamil. Memasuki bulan pertama! Saya akan resepkan vitamin dan obat penguat kandungan." "Anda serius, Dok?" Grezia bertanya padanya. "Benar Bu Grezia, jika ingin USG bisa dilakukan di rumah sakit!" Grezia tersenyum dengan mata berair. Ia memeluk Hero yang kini sudah tidak menagis lagi. "Kamu dengar, kamu akan punya adik!" Ujarnya memberi tahu, lalu mendekat ke arah Diandra. "Besok aku antar cek ke dokter kandungan terbaik!" Grezia mengusap perut Diandra dengan lembut. "Kalau begitu saya pamit!" Ujar dokter itu yang hanya di balas anggukan saja oleh semua orang. "Jadi Hero akan punya adik kecil?" Hero bertanya dengan raut wajah yang bahagia. "Hero akan punya teman bermain dong?" "Maka dari itu, Hero tidak boleh cengeng! Hero harus menjadi kakak yang baik!" Grezia mencubit pipi gembulnya. "Tapi Hero kangen Papa!" "Nanti nenek bilangi Papa untuk cepat pulang. Sekarang, Hero bermain dulu ya? Nenek mau bicara sama Mama!" "Janji? Nenek akan bilangi Papa?" "Janji! Ayo cium nenek dulu!" Grezia mendekatkan pipinya, dan Hero langsung mengecupnya. Hero juga langsung berlarian keluar menuju kamarnya sendiri untuk bermain. Setelah hanya tinggal berdua saja, Grezia langsung menatap Diandra dengan seksama. Ia duduk disamping istri siri putranya itu dengan tarikan nafas panjang. "Aku sudah mencari tahu tentang kamu. Jadi kamu orang yang salah menulis harga di surat penawaran? Apa Aiden memekasamu menikah karena hal itu?" "Benar." Jawab Diandra dengan takut-takut. "Aku hanya diminta untuk melahirkan anaknya." "Tapi bukan itu yang aku lihat Diandra. Kamu tahu jika Aiden sudah sebulan lebih tidak pulang kan?" "Aku tidak pernah memaksa Aiden. Kita bersama karena kesepakatan, aku hanya menuruti apa maunya. Jika dia bilang akan tinggal, aku tidak bisa berbuat apa-apa." "Kamu sepenurut itu dengan putraku?" "Jika aku melawan, dia akan marah sepanjang hari. Aiden juga berkata sudah membeliku dan berbagai kata-kata kasar lainnya. Aku hanya tidak memiliki pilihan lain." Grezia tertawa kecil seraya memijit peilipisnya. "Aiden bukan orang seperti itu. Sadarlah, Aiden seperti itu karena tak memiliki alasan lain untuk menutupi gengsinya. Dia menyukaimu!" "Jujur, aku ingin Aiden memiliki keluarga kecil yang bahagia seperti ini. Melihatnya bersih dan terawat karena ada yang memerhatikan, tubuhnya sedikit berisi karena makannya juga terjaga! Aiden sudah tidak lagi murung dan berdiam diri di ruangan kerjanya. Tapi di sisi lain, aku juga sedih mengetahui hubungan kalian adalah sebuah kesalahan." "Tante, hubunganku dengan Aiden tidak sedekat itu. Kami hanya sebatas kesepakatan." "Kalian berdua itu saling mencintai, kalian sudah terjebak dengan perasaan satu sama lain. Mama tahu sekali jika fokus Aiden dari dulu hanya untuk Sofia. Tapi sejak sejam di sini, aku melihat ponselmu berdering dan terus menampilkan pesan dari Aiden." Ketika ponsel Diandra berbunyi, Grezia langsung mengangkatnya. Menghidupkan pengeras suaranya dan mendengarkan bersama apa yang Aiden katakan. "Sayang, bagaimana keadaanmu? Are u fine? Maaf aku nggak bisa pulang. Hero bagaimana? Apa dia menangis?" Seru Aiden dari sebrang sana. "Istrimu sekarat." Ujar Grezia yang spontan membuat Aiden terdiam dari sebrang sana. "Ma?" Aiden berkata dengan terbata-bata. "Mama serius, Diandra tidak sadarkan diri dan sesak nafas." Grezia tersenyum licik ke arah Diandra yang terlihat cemas. "Hero juga pingsan karena terus menangis dan memanggil namamu di sepanjang malam." Setelah mengatakan hal itu, Grezia menutup panggilan itu dan mematikan ponsel Diandra. "Mari kita lihat, siapa yang Aiden prioritaskan. Sofia yang juga sedang sekarat di rumah sakit, atau kamu dan Hero! Jika dia memilih untuk datang ke sini, aku akan meminta dia menceraikan Sofia dan segera menikahimu. Dia harus segera memutuskan dan memilih salah satu diantara kalian!" "Aku lihat meja makanmu belum tersentuh, ayo makan malam dulu. Kehamilan pertama itu butuh nutrisi. Jangan lengah!" Grezia keluar dari kamar dan memanggil Hero untuk mengajaknya makan malam. Diandra bangkit berdiri dan melihat ibu mertuanya yang sedang menuangkan nasi untuk Hero. Dia juga membuka bingkisan yang di bawanya saat datang ke rumah. "Nenek bawakan coklat untuk Hero! Tapi makan malam dulu ya?" "Yeayyyyy!!!" "Hero senang?" "Iya!" Ujarnya seraya memilah coklat yang ada di kantung kertas besar itu. Saat pilihannya jatuh kepada coklat kacang, Diandra langsung berlari menghampirinya. "Jangan yang kacang, Sayang, kamu alergi!" Diandra pun memilih coklat yang tidak mengandung kacang. "Dia alergi kacang?" "Hero tidak bisa makan kacang. Badannya bisa sampai membiru jika sampai kecolongan!" Diandra memberitahu Grezia. "Hero juga tidak bisa makan ikan, badannya bisa gatal-gatal. Tapi anehnya, saat makan udang dia baik-baik saja!" Diandra mengusap puncak kepala putranya. Grezia menarik Diandra menjauh dari meja makan, lalu berbisik sembari menatap ke arah hero dan memastikan jika bocah mungil itu tidak mendengar ucapannya. "Hero anak kandungmu?" Tanya Grezia. "Tentu saja!" "Kamu tahu jika Aiden juga memiliki alergi itu? Kacang? Semua ikan-ikanan kecuali udang?" Ucapan Grezia membuat Diandra membola. "Ryo juga memiliki alergi itu." Balasnya dengan jutek. "Tidak usah menjawab, aku akan mencari tahu. Jika ketahuan dia adalah cucuku yang hilang, kamu hutang penjelasan dariku. Cucuku hilang karena insiden pencurian!" Tatapan Grezia menjadi sangat tajam dan berbeda dari sebelumnya. Tatapannya begitu mengancam dan penuh peringatan. "Apa maksudmu? Aku tidak pernah mencuri bayi siapapun! Hero putraku! Aku yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang!" "Kenapa kamu menjadi secemas itu? Kamu mencurinya? Jika terbukti aku akan merebutnya kembali! Kamu melakukan hal yang tidak pantas!" "Ryo mendapatkannya dari tempat sampah di hari setelah aku keguguran! Ryo memungutnya dari tempat sampah! Hero berada di dalam kantung plastik dengan wajah yang sudah membiru dan hampir tiada! Banyak saksinya!" Diandra menarik Grezia ke kamar, lalu menguncinya dari dalam. Ia mengambil kotak kecil berisi dokumentasi milik Hero yang ia simpan. "Lihat, ini foto saat pertama kali aku menemukannya! Pejabat setempat yang mengijinkan kami mengadopsinya!" Diandra terisak. "Dia terlahir cacat bukan? Kamu tahu usaha apa yang aku dan Ryo lakukan hingga dia bisa berjalan dan bicara? Berapa aset yang kami jual untuk pengobatannya di Amerika? Aku yang menemaninya terapi, menemaninya berobat hingga Tuhan memberi keajaiban. Hero baru bisa berjalan dan bicara di umur dua setengah tahun! Beruntung telinganya tidak mengalami masalah!" Diandra menarik nafas panjang menahan sesak. Ia mengusap airmatanya yang terus bercucuran. "Kau tau jika konsekuensi dari kesembuhannya adalah kematian Ryo? Suamiku?! Ryo mengabaikan pengobatannya untuk kesembuhan Hero. Dia berusaha membuat Hero sembuh dengan harapan setelah dia meninggal karena penyakitnya, Hero bisa menjaga ibunya!" "Diandra---" "Mereka baru saja bisa bermain bola bersama, bertukar cerita walau Hero belum lancar bicara, tapi Ryo sudah diambil saat Hero ulang tahun yang ke tiga. Perjuanganku membesarkannya sangat panjang! Apakah adil jika kalian mengambil anakku begitu saja? Hanya karena aku bukan ibu kandungnya?" Grezia membaca dan menatap semua berkas-berkas yang Diandra berikan. Diandra tidak berbohong. Bahkan ada surat adopsi lengkap dari dinas sosial dan foto-foto yang menunjukkan jika bayi itu memang di temukan dari tempat sampah. Apa selama ini cucunya bukan hilang, melainkan di buang? "Dengar ini tante, maaf jika aku tidak sopan. Tapi aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil putraku. Siapapun! Bahkan nyawaku sekalipun, akan aku pertaruhkan!" "Rahasiakan semuanya dulu." Grezia memasukkan kembali berkas-berkasnya, lalu menyimpannya kembali di kolong ranjang. "Rahasiakan sampai aku bisa menemukan siapa yang membuangnya." Tepat setelah perkataan Grezia, pintu kamar itu dibuka menggunakan kunci cadangan. Aiden masuk ke kamar tersebut dan segera menarik Diandra kepelukannya. "Ma, kenapa Diandra menangis? Mama mengancamnya? Dengar, ini tidak seperti yang Mama bayangkan. Aku---" "Segera jatuhkan pilihan. Diandra atau Sofia? Karena sekarang, Diandra hamil anak kamu." Grezia membentaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD