"Kenapa kamu menikah diam-diam? Kenapa tidak bilang padaku? Kamu juga menikah secara siri dengan pria beristri? Apa yang ada dipikiranmu Diandra?"
"Ceritanya panjang, Gavin. Ini juga bukan pernikahan dan hubungan seperti yang kau bayangan."
"Apa dia mengancammu?"
"Gavin, aku paham kamu khawatir. Kamu adalah orang yang dimintai tolong untuk menjagaku dan putraku oleh Ryo sebelum meninggal. Tapi aku juga tidak bisa merepotkanmu terus-terusan. Kamu juga harus berumah tangga dan menyusun masa depanmu sendiri." Diandra mengusap pundak Gavin dengan lembut.
"Aku baik-baik saja Gavin, jangan khawatir." Lanjutnya seraya tersenyum sendu.
"Aku siap menjadi ayahnya Hero, Diandra. Aku akan menjaga kalian! Aku sangat mencintai kalian! Kamu wanita baik-baik, kamu pantas untuk dihargai!"
"Gavin, itu bukan cinta! Itu hanya karena janjimu pada Ryo!" Diandra melangkah mundur saat Gavin mendekat. "Menjauhlah dari kami dan jemput masa depanmu sendiri. Aku yakin masih banyak wanita single yang cocok untuk menjadi pendampingmu."
"Tidak Di, aku benar-benar mencintaimu! Menikahlah denganku secara resmi. Kita bangun keluarga kecil yang bahagia!"
"Ada apa ini?!" Sebuah suara tegas menyela percakapan itu. Aiden langsung melempar tas kerjanya dan berlari ke arah istri dan pria asing yang tak dia kenal. "Apa maksudmu dengan menikah?"
"Jadi kamu suami sirinya?" Gavin menghampiri mencengkram kerah kemeja Aiden. "Ceraikan Diandra, dia akan menikah secara resmi denganku. Jangan perlakukan dia seperti wanita yang tidak punya harga diri!"
"Apa urusanmu? Yang menjalani hubungan ini aku dan Diandra! Kami memang menikah secara siri, tapi aku bertanggung jawab penuh atas dia! Aku menjaganya!"
"Bulshit!" Gavin memperkuat cengkramannya.
"Jangan bertengkar, aku tidak mau Hero bangun dan mendengar pertengkaran kalian!" Diandra mengenggam tangan Gavin, dan menarik pria itu keluar. "Aku memberitahu alamat baruku agar kita tetap menjaga hubungan baik sebagai teman. Bukan ikut campur dalam kehidupanku."
"Diandra---"
"Gavin, sudah saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri. Jangan ikut campur lagi!"
Diandra menutup pintu dengan mata terpejam frustasi. Diandra tahu jika setelah ini hubungannya dengan Gavin akan memburuk. Tapi biarlah, Diandra tidak mau terus membebaninya.
"Siapa itu?" Aiden menatap Diandra dengan tajam dan menuntut jawaban.
"Bukan siapa-siapa."
"Jawab Diandra, siapa dia?!"
"Dia teman baik Ryo! Dia memang selalu ada untuk aku dan Hero semenjak suamiku meninggal. Dan aku tidak mau merepotkannya lagi."
"Aku tidak mau kamu berhubungan dengannya. Aku tidak mau dia tau alamatmu! Akan aku belikan kamu rumah baru!"
"Kamu apa-apaan sih? Tidak perlu seperti itu, aku akan menjaga jarak!"
"Aku tidak percaya!"
"Lagipula untuk apa kamu melakukan itu? Kita juga akan bercerai setelah aku hamil dan melahirkan! Kamu juga tidak perlu ikut campur dalam urusanku!"
"Selama kamu menjadi istriku, aku berhak ikut campur Diandra! Walau hanya siri, kamu tetap istriku! Kamu milikku!" Tegasnya.
Diandra memeluk Aiden dengan tubuh lemasnya. "Terserah kamu, tapi jangan marah hari ini Aiden, aku tidak punya tenaga. Kepalaku pusing sekali!"
"Kamu sakit?" Aiden menangkap wajah pucat Diandra dengan khawatir.
"Hanya merasa tidak enak badan."
"Aku akan telfon dokter pribadiku!" Aiden mengambil ponselnya dari saku, lalu segera melakukan panggilan.
Namun sayang sebelum itu terjadi, ponselnya lebih dulu berbunyi. Nama Sofia terpampang di layar itu, dan membuat Aiden terpaksa mengangkatnya lebih dulu.
"Iya Sofia, ada apa? Aku tidak bisa pulang!" Ujar Aiden dengan ketus.
"Ini Mama, Aiden cepat ke rumah sakit! Sofia bunuh diri!" Suara cemas mertuanya membuat Aiden merinding. Bunuh diri?
"Mama nggak bercanda kan? Keadaannya bagaimana?"
"Dia overdosis obat penenang! Aiden cepat kemari!" Vera menangis histeris, lalu memutus panggilan sepihak.
"Diandra---"
"Apa ada hal mendesak? Tidak apa Aiden, pergilah. Aku hanya tidak enak badan biasa, tidak perlu dokter." Diandra memotong ucapannya.
"Nggak, kamu perlu dokter. Aku akan tetap memanggilnya untukmu." Aiden terlihat mengotak-atik ponselnya untuk mengirim pesan. "Badanmu memang hangat Di, jangan diabaikan."
Aiden memeluk Diandra setelah berhasil mengirim pesan pada dokter pribadinya untuk datang. Ia sedikit menyesal karena malam ini, Aiden tidak bisa menginap seperti biasanya.
"Aku pamit, kunci pintunya. Sepertinya aku tidak bisa pulang selama beberapa hari."
"Hmmm, aku mengerti."
"Beritahu Hero jika aku sedang ada perjalanan bisnis. Telfon aku jika Hero menangis." Aiden mencium keningnya, lalu pergi meninggalkan Diandra yang hanya diam terpaku menatap kepergiannya.
Diandra pun menatap makan malam yang belum sempat tersentuh. Ternyata tanpa Aiden, semuanya terasa hambar. Sepertinya Diandra mulai terbiasa dengan kehadirannya sebagai suami.
Ting! Suara bell pintu yang berbunyi membuat Diandra segera keluar. Perasaan belum semenit Aiden pergi. Apa pria itu ketinggalan sesuatu?
Saat pintu utama rumah itu terbuka, Diandra dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tak lagi asing untuknya.
"Aiden apa ada yang ketinggalan---"
"Kita bertemu lagi, Diandra!"
*****
"Kenapa kamu berbuat seperti ini, Sofia?" Aiden mengenggam tangan istrinya itu dengan erat.
"Aiden---"
"Apa yang kamu pikirkan sehingga melakukan hal semacam ini?" Aiden membelai rambut sang istri dengan lembut. "Aku sudah minta kamu buat cerita, kan? Utarakan apa yang kamu inginkan! Jangan membuatku bingung!"
"Maaf Aiden, jika aku bersikap buruk. Aku stress dan ingin menghindarimu jika mengingat anak kita. Aku selalu merasa bersalah. Aku membiarkannya di curi oleh orang."
"Aku sudah bilang jika kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu kan? Sudah cukup! Ayo move on!"
"Aiden, maafkan aku!" Sofia memeluk suaminya dan menangis tersedu. "Aku siap memperbaiki semuanya. Ayo kita punya anak! Aku akan menebus semua rasa bersalahku karena telah mengabaikanmu dan bersikap egois!"
Aiden terdiam saat kata-kata itu terlontar. Seharusnya ia bahagia Sofia mau berubah dan akhirnya setuju untuk memiliki anak. Tapi kenapa hatinya justru terasa ganjal?
"Aiden, kenapa kamu diam saja? Kamu menginginkan ini bukan? Aku akan berubah! Ayo kita mulai dari awal, ayo kita punya anak!"
"Kita bicarakan itu nanti. Okey? Sekarang fokus pada kesembuhan kamu dulu!"
Aiden merenungi apa yang terjadi saat ini. Aiden sepertinya sudah terlanjur nyaman dengan kehadiran Diandra dan Hero. Aiden sulit untuk melepas mereka. Memilih antara mereka atau pernikahannya dengan Sofia.
"Aiden---"
"Kenapa?" Aiden bertanya dengan perhatian.
"d**a aku terasa sesak." Lirinya seraya memeluk dadanya sendiri dengan nafas yan terengah-engah.
"Biar aku panggilkan dokter!" Aiden memencet tombol emergency.
"Aiden--- berjanjilah jika kamu tidak akan meninggalkanku!"
"Apa maksudmu?"
"Kamu berubah---" Sofia menangis tersedu.
"Berubah apa maksudmu? Aku selalu di sini untukmu! Dari dulu aku selalu mencintaimu!" Kamu yang berubah dan selalu membuatku bingung. Lanjut Aiden dalam hati.
"Bisakah kita memulainya dari awal?" Tanya Sofia dengan airmata yang terus berlinang. Sebelum Aiden menjawab, seorang dokter dan suster berdatangan. Segera memeriksa Sofia yang mengalami sesak nafas dan mengecek kondisinya.
Aiden berjalan menjauh dan keluar dari ruangan. Ia meremas kepalanya dengan kuat dan merasa sangat stress dengan semuanya.
"Aku harus segera membuat keputusan, harus!" Aiden berkata lirih. "Kenapa disaat aku memiliki kesempatan untuk memperbaiki pernikahanku, aku merasa semua sudah terlambat?"