"Dari mana? Kenapa kamu tidak pernah di rumah? Pelayan bilang kamu tidak pernah pulang saat malam hari. Kamu hanya kembali saat pagi, sebelum ke kantor." Sofia menatap tajam ke arah Aiden yang sibuk mengambil beberapa berkas di ruangan kerjanya.
"Jawab aku, Aiden!"
"Bukannya kamu juga melakukannya? Tidak pernah pulang, sibuk party, pulang hanya untuk mandi, lalu pergi lagi sesukamu. Aku hanya mengikuti gaya hidupmu!" Aiden menjawab tanpa menatapnya. Respon Aiden sangat berbeda dari biasanya.
"Aiden---"
"Aku akan berangkat ke kantor. Aku juga tidak pulang malam ini, silahkan kalau kamu mau bertemu temanmu atau party di rumah ini seperti biasanya. Aku tidak akan ikut campur lagi."
"Aiden, aku belum selesai bicara!" Sofia menahannya.
"Dan aku sudah selesai!" Aiden menepis.
"Aiden kamu kenapa sih?" Sofia kini mencengkram lengannya kuat-kuat.
"Aku hanya menuruti maumu, Sofia! Kamu melarangku ikut campur urusanmu bukan?" Bentaknya.
"Ada apa ini, kenapa ribut pagi-pagi? Kenapa kamu membentak putriku dan bersikap seperti itu Aiden?" Vera yang baru saja datang untuk berkunjung, menegur mereka.
"Sebaiknya mama tanya pada anak kesayangan mama itu, alasan kenapa aku membentaknya!" Aiden menepis dengan kasar cengkraman Sofia, lalu meninggalkannya begitu saja.
"Mama sudah peringatkan kamu untuk tidak terus-terussan bersikap acuh tak acuh pada suamimu! Mama paham kamu merasa bersalah, dan itu membuatmu stress. Tapi kamu juga harus memikirkan Aiden! Kalau dia dapat wanita baru yang lebih perhatian, kamu akan dibuang!" Vera memeluk putrinya.
"Ma, aku tidak bisa berhenti memikirkannya!"
"Lagipula apa yang kamu lakukan sudah benar! Kata dokter, anak kamu berkemungkinan tidak bisa bicara! Kamu hanya perlu hamil lagi lalu melahirkan anak yang sehat dan normal!"
"Tapi jika Aiden tahu bagaimana? Aku sangat cemas saat memikirkan hal itu! Aku akan gila jika terus seperti ini!"
"Dia tidak akan tahu!"
"Aku tetap tidak bisa tenang, Ma!" Sofia menjambak rambutnya. "Waktu aku membuangnya ke tempat sampah rumah sakit, mama sempat melihatnya kan? Mama yang mengurusnya bukan? Ke mana bayi itu?"
"Ada seorang pria yang kehilangan bayinya. Anak pria itu meninggal dalam kandungan, dan pria itu langsung setuju mengadopsinya. Mama tidak tahu ke mana pria itu berada sekarang."
"Kenapa mama membiarkannya? Tolong cari bayiku, Ma! Aku ingin dia kembali! Aku hanya emosi sesaat malam itu! Aku ingin bayiku kembali!" Sofia menangis tersedu-sedu.
"Sofia, jangan seperti ini! Ayolah, jangan terlalu takut dan memikirkan anak itu terus-terussan! Lagipula apa kamu siap menjadi bahan cibiran banyak orang karena memiliki anak yang tuna wicara? Kamu siap?"
"Aku hanya ingin tahu kabarnya, Ma. Tolong cari identitas pria itu! Janji padaku jika Mama akan mencarinya!"
"Baiklah-baiklah, akan mama usahakan! Tapi mama juga tidak janji! Mama saja lupa wajahnya! Mama waktu itu mengabaikannya, karena mama pikir ya itu solusi terbaik!" Vera mengusap puncak kepala putrinya. "Sekarang kamu tidak boleh mengabaikan Aiden lagi! Bersikaplah lebih perhatian, kalau bisa punya anak lagi! Jika kamu tidak mendengar nasehat Mama yang ini, bersiaplah untuk kehilangan suamimu!"
*****
Dengan masker hitam yang menutupi wajahnya, Aiden duduk di kursi penonton bersama Diandra, menatap panggung di mana Hero sedang tampil. Sorot lampu panggung memancar memperlihatkan panggung yang dipenuhi dengan dekorasi alam pedesaan.
Saat ini mereka tengan menghadiri pentas seni sekolah Hero untuk memperingati hari pendidikan. Aiden memperhatikan dengan penuh antusias kepada Hero yang kini berperan sebagai seorang penggembala domba, mulai menceritakan kisah anak gembala dan serigala.
Dia tersenyum melihat cara Hero menyulap dirinya menjadi karakter yang lucu dan menghibur. Kostumnya yang sederhana namun menggemaskan membuat Aiden terpesona. Dia terbawa oleh alur cerita yang dituturkan oleh Hero, seolah-olah terhanyut dalam dunia imajinasi yang diciptakan di atas panggung.
"Ya Tuhan Hero lucu sekali!" Bisik Aiden pada Diandra.
"Kamu benar, dia juga sudah sangat besar dan pintar! Aku bangga sekali!"
Semua penonton terus tertawa gemas melihat pertunjukkan anak-anak mereka di depan sana. Walau belum lancar membaca, tapi mereka berhasil menceritakan kisah itu dengan sangat baik. Memainkan peran masing-masing dengan sempurna.
"Makna dari cerita ini adalah... kita tidak boleh berbohong! Jika berbohong, orang-orang tidak akan percaya lagi!" Hero menutup cerita dengan menyampaikan amanat cerita. Suara pelonya yang khas membuat semua orang gemas. Tatapannya terus terarah pada ayah dan ibunya yang bertepuk tangan dengan heboh.
"Sekian penampilan dari kelas TK B! Terimakasih!" Sang guru yang merangkap menjadi MC ikut bertepuk tangan bangga dengan anak didiknya.
Setelah tampil, Hero langsung berlari ke arah ayah dan ibunya. Meminta Aiden untuk menggendongnya dengan sangat manja. "Papa, Mama, bagaimana penampilanku?"
"Sangat luar biasa!" Aiden dan Diandra memeluknya secara bersamaan. Menciumnya dari sisi kanan dan kiri hingga membuat Hero merasa lengkap dengan kasih sayang kedua orangtuanya itu.
"Hero, jadi itu papamu?" Tanya teman-teman Hero yang ikut datang menghampiri tempat duduknya.
"Iya! Aku tidak berbohong, kan? Ini Papaku!" Hero menjulurkan lidah.
"Om, benar Om papanya? Bukan pamannya?" Tanya salah satu teman Hero dengan nada ketus.
"Om adalah papanya Hero!" Aiden mengusap kepala anak-anak itu satu-persatu sebelum menasehtinya. "Alvian, Kevin, Cyo, Jangan nakal sama Hero! Om sudah hafalkan wajah dan nama kalian!"
Anak-anak itu langsung berlarian pergi menghampiri orangtuanya masing-masing setelah peringatan itu Aiden katakan. Mereka terlihat ketakutan dengan ucapan Aiden yang mengandung ancaman.
"Papa sangat hebat! Anak-anak nakal itu takut!" Hero tertawa terbahak seraya memeluk ayah sambungnya.
"Papa sudah menghafal nama dan wajahnya! Kamu hanya perlu melaporkannya pada papa, jika mereka nakal! Okey?"
"Siap!" Hero berseru.
Diandra tersenyum senang melihat Hero sebahagia itu. Hero terlihat sangat antusias! Kehadiran Aden di hidup sang anak benar-benar seperti pelangi yang mewarnai hidupnya.
"Ayo kita beli ice cream! Karena Hero tampil dengan hebat, kita harus merayakannya! Papa juga akan membelikan mainan!"
"Ayooooo!!!"
"Makan siang dulu ya?! Tidak boleh makan ice cream sebelum makan siang dengan sayur!" Diandra menyentil hidung putranya.
"Baik Mama! Hero akan makan sayur!"
"Pintarnya!" Aiden memuji sikap Hero yang begitu penurut.
"Sini tas Hero taruh di punggungku saja!" Aiden menegur Diandra yang baru akan menyandat tas kecil itu di punggungnya.
"Tidak apa, ini tidak berat."
"Biar aku saja Di, kamu tampak lesu dan tak sehat hari ini!"
"Sepertinya kamu lupa siapa penyebabnya!" Diandra menggerutu pelan, dan membuat bibir Aiden melengkung. Mereka memang lembur semalam. Aiden tak melepaskannya sedetikpun!
"Hero, Mama marah tuh! Ayo bujuk Mama!" Aiden menarik pinggangnya, dan mengecup pipi Diandra yang masih cemberut.
"Mama, jangan marah dong!" Hero membujuk. "Mama cantik sekali!"
Diandra spontan tertawa kecil seraya mencubit pipi putranya setelah ucapan itu terlontar. Anaknya sudah pandai menggombal ternyata!
"Iya, kamu cantik sekali hari ini! Apalagi jika tersenyum seperti itu!"
"Iya, Mama cantik!"
"Sudah-sudah!" Diandra berjalan lebih dulu dengan wajah memerahnya.
Hero dan Aiden saling bertos ria setelah berhasil membuat Diandra tersenyum dan memperbaiki moodnya.
Namun tanpa sadar, dari kejauhan seseorang memotret kebersamaan mereka. Foto-foto mereka di kirim kepada Grezia yang telah menunggu informasi dari sebrang sana.
"Sudah kuduga!" Lirihnya seraya menatap foto-foto itu dengan seksama. Setelah sebulan lebih mencari bukti, akhirnya ia mendapatkan apa yang dia cari. "Aiden, Aiden! Siapa yang mengajarimu bersikap seperti ini? Ayahmu adalah pria yang setia! Kenapa kamu melenceng?"
Grezia memperhatikan salah satu foto yang menunjukkan Aiden menggendong seorang anak kecil, dan mencium Diandra dengan mesra. Entah kenapa baginya, itu pemandangan yang indah. Tapi dalam hati kecilnya, Grezia juga merasa marah dan menganggap ini adalah sebuah kesalahan. Grezia diambang kebimbangan.
"Aku harus bagaimana sekarang? Aku harus menemui Aiden dan mengajaknya bicara." Grezia berujar pelan. "Kepalaku pusing sekali memikirkannya!"