Rencana

1094 Words
"Kamu lebih cantik seperti ini!" Aiden memeluk Diandra yang baru saja selesai mandi dan tengah memakai piyamanya yang kebesaran. "Tidak, sekarang aku lebih suka berdandan! Mulai besok aku akan berdandan! Aku sudah membeli banyak lipstik yang warnanya bermacam-macam." "Diandra, kamu tidak bisa menolakku!" "Aku akan telfon mama jika kamu mengancam dan bersikap jahat padaku!" Diandra mengancam seraya mengambil ponselnya. "Ohhh jadi senjata kamu mama? Kamu pikir aku takut?" Aiden mendekap pinggang Diandra dengan erat. Tatapannya menjadi sangat tajam dalam sekejap. "Jangan bersikap semena-mena!" "Kalau kamu tidak mau menikahiku ya sudah, kembalilah pada Sofia dan biarkan aku pergi dengan anak ini serta Hero." "Kesepakatanmu denganku, bukan dengan mama!" "Tapi mama mau melindungiku!" Diandra tersenyum santai. "Kamu benar-benar membuat kesabaranku habis!" Sebelum Aiden berbuat sesuatu padanya, Diandra lebih dulu mendekap perutnya dengan tatapan melas. Selain ibu mertua, dia juga punya senjata lain, sang jabang bayi di perutnya. "Jangan mengelabuiku!" "Aiden, perutku terasa tidak enak." Diandra mengusap perutnya dengan nada yang dimanja-manjakan. "Sudah ya, jangan marah!" "Lalu kamu ingin apa? Ke dokter? Atau ada obat yang harus kamu minum?" "Tahu tidak, jika orang hamil selalu ingin yang tidak-tidak? Berdandan adalah salah satunya. Mungkin anak kamu perempuan, aku sangat ingin terlihat cantik!" Diandra memeluk lengan Aiden dengan manja. "Dia juga ingin selalu dekat-dekat ayahnya!" "Kamu----" "Tanya saja pada dokter saat pemeriksaan USG kalau tidak percaya!" "Iya, kamu boleh dandan!" Jawab Aiden ketus. Aiden sudah paham modus Diandra! Dia pasti memanfaatkan kehamilan itu untuk memperdayanya. Tapi di sisi lain entah kenapa, Aiden juga takut jika itu sungguhan. "Aiden, sekarang aku ingin makan gula kapas." "Tadi siang sudah, kan? Itu makanan tidak sehat, jangan makan lagi! Kamu bisa kena diabetes! Itu bahaya buat kamu dan anak kamu!" "Kamu bahkan hanya memberiku secuil tadi siang!" "Secuil pun, gulanya sudah banyak!" "Berisik banget! Dulu Ryo tidak sepertimu!" Diandra berteriak hingga airmatanya keluar tanpa direncana. Niatnya ingin membuat Aiden kesal, tapi endingnya dia sendiri yang kesal. Mood ibu hamil memang tidak bisa di tebak. "Aku bukan Ryo! Aku akan mengawasi semua yang kamu makan! Aku takut terjadi sesuatu! Jika bayi itu celaka, kamu juga akan celaka. Sejak kamu memutuskan untuk hamil, kamu juga sedang mempertaruhkan nyawa. Aku hanya ingin menjaga kalian!" Diandra meneteskan airmatanya dan terisak pelan. Iya, dulu bayi dalam kandungannya meninggal juga karena Diandra tidak hati-hati. "Jangan menangis, maaf aku membentakmu." Aiden memeluknya. Membelai kepalanya dengan lembut dan penuh kasih. "Aku ibu yang jahat ya? Egois?" Diandra tersedu-sedu di pundak Aiden dan memeluknya seerat mungkin. "Kenapa kamu jadi seperti ini----" "Aku jahat ya?" "Okey, ayo kita beli gula kapas! Tapi ingat, makannya secuil saja!" "Lalu membahayakan bayiku? Aku akan makan sayuran saja!" "Boleh kok, sedikit!" Aiden akhirnya mengalah dan tidak enak sendiri karena telah membuat mood Diandra memburuk. "Tidak mau! Aku mau tidur saja! Tapi, aku mau tidur dengan Hero." Diandra melepas pelukannya, lalu berjalan meninggalkan kamarnya. "Diandra, kamu boleh makan lagi, sedikit! Jangan seperti ini!" "Kamu kenapa sih? Tadi kamu bilang khawatir jika aku dan bayiku kenapa-napa karena makan gula kapas! Sekarang kenapa maksa aku makan? Kenapa tidak konsisten?" Omelnya. "Ya, aku hanya----" "Dasar tidak konsisten!" Isaknya. "Jangan ikuti aku!" Bentaknya seraya mendorong pria di hadapannya dengan sekuat tenaga. Namun tetap saja, Aiden jauh lebih kuat. Bahkan sekarang, pria itu telah mengangkat tubuhnya menuju kulkas besar yang ada di dapur. Setelah sampai, ia mengambil dan membuka plastik gula yang Diandra makan siang tadi. Gula kapas itu sudah mengecil dan tinggal satu suap saja. Aiden sangat bersyukur akan hal itu. "Ayo makan! Ini yang terakhir!" Aiden menyuapinya. "Nggak!" "Ini tinggal sedikit! Kalau semakin mengecil kita tidak bisa beli lagi, sudah malam." "Nggak mau!" "Yakin?" Aiden menempelkan gumpalan lembut dan manis di bibir Diandra. Membuat wanita itu tak tahan dengan godaan. Pada akhirnya, Diandra menerima gula kapas itu dan memakannya secepat kilat. "Sudah, jangan menangis lagi!" Aiden mengusap airmata Diandra yang masih membekas di pipinya. "Sekarang makan apel, akan aku kupaskan!" "Coklat." "Mau?" "Boleh?" "Satu saja!" Aiden mengambilkan sebatang coklat yang spontan membuat bibir Diandra melengkung. "Bukain!" Diandra bertepuk tangan seperti anak kecil. Aiden menggeleng saja dengan tingkahnya yang di luar nalar sejak hamil. "Habis ini makan apel! Minum air putih!" Peringat Aiden saat Diandra mulai mengunyah coklat. Ia juga mengambil beberapa butir apel dan mengupasnya. Dalam keheningan, Diandra tiba-tiba memberi kecupan pada pipi suami sirinya itu. Memeluknya dengan manja dari belakang. Kini gantian dia yang menganggu aktifitas Aiden. Karena biasanya, Aiden yang melakukan hal tersebut. "Aku susah mengupas jika kamu begini!" "Anak kamu yang mau! Jangan protes dan diam saja!" Dandra tersenyum senang saat Aiden tak bicara lagi dan menurutinya. ***** "Kamu kalau bicara kenapa sembarangan? Mama belum ada gambaran di mana pria itu!" Vera mengomeli putrinya. "Kamu pikir mudah mencari orang yang sudah tidak terlihat selama bertahun-tahun?" "Lagipula untuk apa kamu mempertahankan Aiden? Masih banyak pria yang mau padamu! Biarkan saja dia menikah dengan simpanannya!" Mark menyahuti. "Dengan begitu kamu akan bebas! Jika kamu terus bersama Aiden dan suatu saat kebohonganmu tentang hilangnya anak itu terbongkar, kamu akan mendekam di penjara!" "Maka dari itu sebelum semuanya terbongkar, ayo kita cari anakku! Sofia tidak bisa menceraikan Aiden, kehilangan dia! Sofia sangat mencintainya! Lagipula aku yakin hubungannya dengan wanita itu hanya pelarian dan pelampiasannya saja! Jika aku kembali perhatian seperti dulu, Aiden akan melupakannya!" "Apa yang kamu harapkan dari pria yang sudah memiliki simpanan dan anak kandung dari simpanannya? Kamu bahkan mau diceraikan olehnya! Kamu itu kecintaan sendiri saat ini!" "Papa kenapa sih? Kenapa papa sepesimis itu? Mana mungkin Aiden menggantikanku dengan w************n itu?!" "Bicara denganmu memang melelahkan!" Bentak Mark, lalu pergi menuju kamarnya. Ia lelah dengan sikap putrinya yang keras kepala itu. "Sudah abaikan saja papamu! Mama akan bantu kamu menemukan anak itu!" Vera menarik Sofia kepelukannya. "Aiden tidak akan menggantikanku dengan wanita itu, kan Ma? Itu mustahil! Dia hanya w************n dan penggoda! Pasti Aiden di pelet olehnya! Aiden itu sangat setia!" "Iya sayang, kamu tenang saja! Mama akan segera membantu kalian kembali! Wanita itu tidak akan bisa mengambil posisimu!" "Janji ya, Ma! Aku tidak tahan memikirkan Aiden bersamanya!" "Mama akan bantu kamu sampai akhir! Kamu tenang saja!" Vera memeluknya dengan sangat erat. Sebagai ibu, dia tidak tega melihat Sofia sehancur itu. Walau benar itu semua salahnya karena bersikap tempramen selama lima tahun terakhir. Tapi jika Sofia ingin berubah harusnya masalah selesai kan? Sepertinya ini semua terjadi memang karena w*************a itu dan anaknya! Pasti dia memikat Aiden dengan anaknya yang bodoh dan menyebalkan itu! "Mama akan membantumu menyingkirkan Diandra dari pernikahan kalian! Jangan terus menangis dan cemas!" Tutup Vera dengan pelukan yang semakin erat. "Kalau perlu Mama musnahkan dia! Diandra benar-benar penghalang besar bagiku dan Aiden untuk bersatu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD