Setelah melewati proses panjang, akhirnya Aiden dan Diandra resmi menikah. Sofia menyetujui pernikahan mereka dan menjadi saksi sesuai dengan kesepakatan.
"Puas kamu? Bangga kan, sudah sah menjadi nyonya Danuarta yang kedua? Dasar murahan!" Sofia menunjuk wajah Diandra dengan tajam.
Diandra menutup mata frustasi. Sebenarnya hati nuraninya juga tak sanggup melakukan ini, dia merasa bersalah. Tapi Diandra juga harus melakukannya demi anak-anaknya.
"Kenapa? Kamu takut Aiden lebih memilihku daripada kamu?" Diandra tersenyum. "Lihat, Aiden menggendong putraku dengan penuh kasih sayang. Mereka saling menyayangi! Kamu punya apa untuk membuatnya di sisimu?"
Setelah mengatakan hal itu, Diandra meninggalkan Sofia dengan tubuh gemetarnya. Ia merebut Hero dari gendongan Aiden, lalu memeluknya seerat mungkin. Diandra sangat takut jika Hero diambil dari kehidupannya.
Hero sangatlah berharga. Hero lah yang menemani Diandra saat berada di titik terendah. Bagi Diandra, Hero sudah seperti nafas walau bukan darah dagingnya sendiri. Jika Hero pergi, Diandra tidak tahu apa dia bisa bertahan.
"Mama, kenapa menangis?"
"Kenapa Di? Ada keluhan? Perut kamu sakit?" Tanya Aiden dengan perhatian.
"Aiden, ayo pulang!" Sofia membentaknya dan memanggilnya dengan tatapan tajam.
"Itu kan tante jahat! Pasti tante jahat yang membuat mama menangis!"
"Kamu mengajari anak kamu sopan santun atau tidak?" Sofia menyindir dengan sinis. "Kamu dan anakmu sepertinya memiliki sifat yang sama, perebut milik orang! Kelak jika anakku ketemu, aku tidak akan membiarkannya merebut kasih sayang Aiden lagi!"
"Cukup Sofia!" Aiden membentaknya. "Aku memperingatimu!"
"Aiden, sebaiknya kamu pergi dengan Sofia. Dia juga berhak atas kamu. Aku tidak mau putraku melihat keributan diantara kita seperti ini."
"Tapi Diandra---"
Diandra langsung membawa Hero pergi tanpa menjawab. Aiden mengacak rambutnya dengan gelisah karena tak bisa menemani mereka pulang. Aiden khawatir membiarkan Diandra menyetir sendiri saat hamil.
"Aku sudah menyetujui pernikahan keduamu! Tapi sepertinya kamu sama sekali tidak punya empati terhadapku! Aku hancur, Aiden. Apa memang sudah sehambar itu pernikahan kita?"
"Dia hamil Sofia, Diandra hamil anak aku!" Aiden menatapnya dengan tatapan penuh permohonan dan pengertian. "Aku takut membiarkannya menyetir sendirian."
"Hanya dia yang kamu pikirkan? Lalu bagaimana dengan aku?"
Melihat mata Sofia yang bengkak dan wajahnya yang pucat, Aiden juga jadi merasa tak tega. Ia memeluk istrinya itu dan mengalah. Aiden harap Diandra baik-baik saja. Lagipula ibunya juga telah menunggu Diandra di rumah. Jika terjadi sesuatu, ibunya pasti mengabarinya.
"Matikan ponselmu. Aku ingin waktu yang berkulitas denganmu." Sofia merebut ponsel Aiden dan mematikannya.
"Kamu jangan kekanakan!"
"Kamu bersamanya dua hari! Sekarang aku ingin bersamamu tanpa gangguan. Apa itu salah?"
“Tidak dengan mematikan ponsel!” Ujarnya seraya kembali merebut ponsel itu dan menghidupkannya. Sepertinya Aiden akan gila jika terus seperti ini. Aiden tidak pernah terpikir akan memiliki dua istri dalam hidupnya. Tapi apa yang harus ia lakukan? Mau menceraikan Sofia pun, Aiden juga belum sanggup. Keadaan Sofia tidak baik-baik saja.
“Kamu jahat tau nggak? Jahat!” Sofia memukuli Aiden dengan brutal.
*****
Diandra mengendarai mobilnya sembari memandangi Hero yang tengah terlelap. Diandra merasa sangat nyaman mendengar dengkur nafasnya yang halus. Karena itu menandakan jika Hero masih di sisinya.
"Mama sayang sekali sama Hero. Mama tidak akan membiarkan siapapun mengambil Hero!" Lirihnya seraya mengusap pipi gembul Hero yang selalu membuat Diandra gemas.
Di saat ia kembali fokus menyetir, Diandra menyadari jika ada mobil lain yang sepertinya selalu mengikutinya sejak tadi.
Rasanya seolah-olah ada yang mengintainya, seolah-olah ada mata yang selalu mengawasinya dari kejauhan. Namun, dia mencoba untuk mengabaikan perasaan itu, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya paranoia belaka.
Namun, semakin lama perasaan itu semakin menguat. Ketika lampu-lampu lalu lintas berubah warna, Dia mendapati mobil yang berada di belakangnya tetap mengikutinya dengan jarak yang sama. Bahkan, setiap kali dia berbelok atau berubah jalur, mobil itu selalu mengikuti dengan presisi yang sama.
Diandra mencoba untuk tidak panik, mencari-cari alasan yang masuk akal untuk kehadiran mobil itu. Namun, ketegangan Diandra mencapai puncaknya saat dia melintasi jembatan yang sepi. Mobil di belakangnya semakin mendekat dan menyalakan lampu sorotnya. Diandra merasa seperti dikejar oleh sesuatu yang tidak diketahuinya. Refleksi di cermin spion mobilnya memperlihatkan wajah pria yang tidak dikenal baginya. Hati Diandra berdegup kencang, dia merasa ketakutan yang luar biasa.
Sebelum dia bisa mengambil tindakan apa pun, sebuah kejutan mengerikan menghantam mobilnya dari belakang. Tabrakan yang keras mengirimkan mobilnya berputar di atas jalan, sebelum akhirnya berhenti dengan kerasnya menabrak pembatas jalan.
Semua berputar-putar dalam pandangan Diandra. Yang bisa ia lakukan hanya terus melindungi putranya dan memastikan tidak terjadi sesuatu padanya.
"Mama---" Hero terbangun dari tidurnya karena hal mengejutkan tersebut. Anak itu sepertinya sangat cemas karena melihat sang ibu terluka.
"Hero tidak ada yang sakit kan?" Ujar Diandra seraya membuka seatbelt, lalu membawa Hero kepelukannya.
Walau merasakan sakit yang menusuk di seluruh tubuhnya, tapi Diandra masih bisa merasakan adrenalinnya memuncak.
Ketika dia mencoba untuk membuka pintu mobilnya, dia menyadari bahwa dia terjepit di dalamnya. Api mulai menjilat bagian depan mobilnya. Diandra mencoba untuk berteriak meminta pertolongan, tapi suaranya terdengar rapuh di tengah kekacauan tersebut. Sekujur tubuhnya terasa sakit, dan dia merasa seperti dalam mimpi buruk yang tidak berujung.
"Mama, Hero takut!" Isaknya.
"Tidak apa, jangan menangis. Kita akan segera keluar dari sini!"
Sementara itu, pria yang mengejar mobilnya keluar dari mobilnya sendiri yang rusak. Wajahnya terlihat tenang, seolah-olah ini adalah situasi yang sudah dia rencanakan dengan baik. Dia berjalan mendekati mobil Diandra dengan langkah-langkah yang mantap, sementara api semakin membesar di sekitar mereka.
"Tugas selesai! Dua mayat akan segera ditemukan!" Ujar pria itu dengan senyuman sinis yang menyeramkan.
Diandra mencoba untuk memahami apa yang diucapkan pria itu. Apa ada seseorang yang mencoba membunuhnya? Siapa yang menyuruhnya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benaknya saat dia merasa kehilangan kesadaran.
Ketika dia membuka matanya lagi, Diandra mendapati dirinya terbaring di atas ranjang rumah sakit. Seorang perawat yang ramah berdiri di sampingnya, memberinya senyuman lembut.
"Anda beruntung bisa selamat dari kecelakaan itu. Anak dalam kandungan anda juga begitu kuat!" Kata perawat itu. "Tapi Anda harus istirahat dengan baik sekarang. Dokter akan datang sebentar lagi untuk memeriksa Anda."
"Kalau Hero bagaimana? Di mana dia?" Tanyanya dengan panik dan gelisah.
"Mama!" Dari ujung ruangan, seorang anak kecil yang tadinya tertidur dengan selimut kecil berlari ke arahnya. Anak itu langsung ikut naik ke ranjang dan memeluk sang ibu dengan erat.
"Sayang, kamu baik-baik saja?"
"Hero baik-baik saja! Mama, mama tidak akan mati seperti Papa Ryo kan? Hero takut!" Bocah itu meneteskan airmata.
"Tidak, Mama tidak akan meninggalkanmu!" Diandra ikut menangis karenannya. Tubuhnya bergetar sangat hebat. Diandra masih terus bertanya siapa yang tega melakukan ini. Apa Sofia dan ibunya?
Sebelum dia bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu, seorang dokter memasuki ruangan. Wajahnya serius ketika dia mulai menjelaskan kondisi Diandra dan apa yang terjadi setelah kecelakaan itu.
Tak lama, ibu dan ayah mertuanya juga hadir. Mereka langsung menggendong Hero dan berkomunikasi dengan dokter untuk bertanya lebih lanjut tentang keadaan keduanya. Begitupula dengan Aiden yang langsung menghampiri istrinya dengan raut khawatir.
"Diandra, bagaimana keadaanmu? Inilah akibat jika kamu keras kepala dan sok mandiri!" Omelnya.
"Aku takut." Diandra hanya bisa mengatakan hal itu dengan bibir yang bergetar. "Seseorang sengaja menabrakku dan ingin membunuhku!" Tangisannya pecah seketika.
"Ssstttt tenanglah, aku akan mencari tahu semuanya. Polisi sedang menyelidiki dan mengejar pelaku yang kabur." Aiden memeluk seraya mencium keningnya. "Tidurlah, istirahat. Kamu dan Hero sudah aman. Aku akan menjaga kalian!"