Kedatangan Sofia Dan Ariel

1089 Words
"Kenapa Om masih kerja? Padahal sudah malam dan hujan deras! Nanti Om sakit loh!" Hero bertanya pada seorang pengantar pizza yang masih bekerja di tengah hujan. Pria itu terlihat mengenakan jas hujan lusuh dan helm yang juga sudah tidak begitu layak di pakai. "Sayang!" Aiden memberi kode kepada anaknya agar tidak bicara sembarangan dan menyinggung. Aiden pun menerima pesanannya seraya memberikan uang tips yang cukup besar kepada pengantar pizza tersebut. "Tunggu sebentar ya Om?!" Hero tiba-tiba berlari masuk ke dalam rumah. Membuat suasana antara Aiden dan pengantar pizza itu sedikit canggung. "Maaf ya Mas, jika anak saya menyinggung." Aiden tersenyum tak enak padanya. "Tidak menyinggung kok Pak, dia anak yang manis dan perhatian. Saya juga berterimakasih atas uang tips yang Bapak berikan." Tak lama, Hero pun kembali dengan tentengan di tangannya. Anak itu membawa handuk, plaster demam, obat demam miliknya, dan s**u kotak untuk diberikan kepada pengantar pizza tersebut. "Biasanya kalau kehujanan, mama memberikan ini! Aku akan memberikannya pada Om!" Ujarnya dengan polos yang membuat semua orang terharu. "Terimakasih ya, Dek!" Ujar pria muda itu dengan senyuman tulus dan mata yang memerah. Sepertinya ia merasa tersentuh dengan perhatian tulus tersebut. "Terimakasih juga Mas, sudah antar pesanannya!" Aiden menggendong Hero setelah pria itu berpamitan pergi. Ia menatap pria kecilnya yang masih berdada dan melambai ke arah pengantar pizza tersebut dengan kekaguman. "Papa bangga sekali sama Hero!" Aiden menciumnya. "Kata mama, kita harus saling menolong! Om tadi pasti akan demam karena kehujanan!" "Pintarnya!!!" Aiden menciumnya, lalu memeluknya dengan erat. "Hero kan sudah besar, mau lulus TK! Jadi harus pintar!" Jawabnya seperti biasa. Dia selalu menegaskan ke semua orang jika sebentar lagi dia akan lulus dari taman kanak-kanak dan masuk ke sekolah dasar. "Ayo kita makan pizza bareng!" Aiden dan Hero pun membawa dua box pizza ke kamar Diandra. Menghampirinya yang masih terbaring lemah setelah insiden kecelakaan kemarin. Diandra tidak nafsu makan setelah keluar dari rumah sakit. Dia terus mual dan muntah di sepanjang hari. "Aku belikan pizza untukmu. Kata Hero, kamu suka sekali makan pizza saat sakit atau demam." Setelah menurunkan Hero dari gendongannya, ia membantu Diandra bangkit dari ranjang. Diandra menatap pizza itu dengan air liur yang seolah ingin menetes. Ia memang sangat menyukai pizza. Hero memang paling mengerti kebiasaan ibunya. "Terimakasih Sayang!" Diandra memeluk Hero dan mengambil dua slice pizza untuk dia dan anaknya. "Hero aja? Aku nggak?" Aiden mendekatkan pipinya ke arah Diandra yang tersenyum malu diajak bermesraan di hadapan anaknya. "Cium papa dong, Ma! Seperti mama cium Hero!" Bocah kecil itu lagi-lagi berbicara dengan polosnya. "Papa juga mau disayang!" "Iya, benar kata Hero! Papa juga mau disayang!" Aiden masih menepuk pipinya. Aiden memang sering bersikap konyol semenjak Diandra hamil. Kadang dia kasar dan suka mengancam, memaksa. Tapi terkadang dia juga manis dan manja. Entah mana sifat Aiden yang sebenarnya. Cup! Pada akhirnya, Diandra memberi kecupan singkat pada pipi suaminya itu. "Aku mau juga!" Hero berseru menirukan ayahnya. Menepuk pipinya yang gembul dan meminta sang ibu menciumnya. "Anak mama genit banget sihhh!!!" Diandra memeluk dan menciumnya berkali-kali. Hero selalu saja memiliki seribu cara untuk menghangatkan hatinya. "Kamu benar-benar membesarkannya dengan sangat baik." Aiden tersenyum, lalu memberi Diandra ciuman. "Dia tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dan memiliki hati yang baik." "Hero kan mau lulus TK!" Mantra milik Hero itu spontan membuat Diandra dan Aiden tertawa secara bersamaan. Kini Diandra mengerti kenapa Aiden dan Hero mudah sekali dekat bahkan saling menyayangi. Rupanya, mereka memang ayah dan anak. Padahal dengan Gavin saja yang notabene sahabat Ryo dan sudah sering ketemu, Hero enggan menyapa. Ketiganya pun bercanda di sepanjang malam, berbagi cerita dengan hangat, hingga Hero terlelap di pelukan sang ibu dan juga Aiden yang sudah ikut merebah di ranjang yang cukup luas itu. Aiden dalam diam mengusap perut Diandra yang tengah mengandung buah hatinya. Aiden benar-benar bahagia. Ia merasa tidak memerlukan apapun lagi dalam hidupnya. "Kenapa menatapku seperti itu? Kamu mau mengancamku lagi?" "Jika kamu menurut dan tetap berada di sisiku, kamu akan aman." Aiden menjawabnya dengan singkat dan padat. "Kesepakatan kamu hanya denganku, jangan ajak ibuku. Aku tidak suka itu, Diandra!" "Tapi kamu pun, belum tentu melindugiku jika ada masalah." "Kita ini berhubungan karena kesepakatan, kamu lupa?" Ya, seharusnya seperti itu. Tapi keadaan berubah setelah Diandra tahu jika Hero adalah anak kandung Aiden yang hilang. Diandra tidak mau jika Hero diambil dari kehidupannya. "Kamu menangis? Sulit dipercaya! Apa akhirnya kamu menyukaiku dan ingin bersama denganku saja? Kamu lupa perjanjian kita?!" Aiden membentaknya dengan tatapan yang tajam. See, dia suka berubah-ubah. "Sudahlah diam, aku tidak mau bicara padamu!" "Kamu---" Sebelum Aiden lanjut bicara, suara Sofia mengejutkan mereka. Aiden segera bangkit menemuinya sebelum Hero terbangun karena keributan yang pasti akan terjadi. "Aiden!" Suara Sofia yang terdengar antusias membuat Diandra ikut penasaran. Karena kali ini suara Sofia tidak terdengar marah, melainkan bahagia. Untuk mencari tahu, Diandra pun mengintip dari balik pintu. Diandra merasa perlu memantau karena takut jika identitas asli Hero terendus olehnya. Tapi kejutan yang ia dapat, wanita itu justru membawa seorang anak kecil yang terlihat tidak bisa bicara. Apa Diandra salah paham? Bukan Hero anak mereka yang hilang? "Apa kamu yakin?" Aiden terlihat berjongkok seraya mengusap wajah anak itu. "Mama sudah memastikannya! Aku tidak tahu bagaimana cara mama menemukannya, tapi ini anak kita! Setelah ini, kita hanya perlu menunggu hasil tes DNA saja! Aku mengambil sample rambutmu dari sisir yang ada di kamar kita." "Ya Tuhan!" Aiden memeluk anak itu dengan isakan pelan. "Akhirnya kita menemukannya Aiden!" Sofia ikut memeluk anak itu bersama Aiden. Mereka seperti satu keluarga yang saling melepas rindu setelah sekian lama berpisah. Diandra berjingkrak-jingkrak di dalam kamar menyaksikan drama itu. Diandra lalu memeluk Hero yang sudah terlelap dengan begitu erat. Kini ia tidak perlu takut lagi jika putranya diambil. Diandra hanya perlu menyelesaikan kontraknya bersama Aiden, dan bernegosiasi untuk membesarkan anak dalam perutnya bersama. "Hero, mama senang sekali! Sampai kapanpun kamu adalah putra mama!" Diandra memeluk Hero seraya memejamkan mata. Seketika luka dan sakit di sekujur tubuhnya menghilang karena fakta baru yang ia ketahui. "Aku akan tinggal di sini, agar kita semua mendapat keadilan. Aku tidak mau kamu abai dengan Ariel." Suara Sofia yang terdengar menuntut, membuat Diandra kembali membuka mata. Tinggal bersama? "Jadi namanya Ariel?" "Iya! Jangan mengalihkan pembicaraan, aku dan Ariel harus tinggal di sini!" "Baiklah! Tinggallah bersama sampai Diandra melahirkan. Aku juga tidak mungkin meninggalkan salah satu dari kalian mulai hari ini. Sekarang kamu istirahat dulu, besok saja kita bicarakan lagi." Jawaban Aiden membuat Diandra resah. Bukan karena tidak terima Sofia tinggal bersama mereka. Tapi keributan pasti akan selalu terjadi setelah ini. Diandra harap ia dapat diberi kesabaran yang luas untuk menghadapi mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD