Tes Dna

1111 Words
"Hasil tes DNA sudah jelas! Anak ini adalah anak kalian!" Vera memberi surat hasil tes itu kepada semua orang. Di saat semuanya antusias untuk melihatnya, Grezia justru segera menarik Diandra pergi dari sana. "Hei, kamu tidak ingin bertemu cucumu?" Tegur Vera. "Cucuku hanya Hero dan anak yang dikandung Diandra. Aku tidak yakin Ariel adalah cucuku!" Jawab Grezia santai. "Kamu bahkan tidak percaya hasil tes DNA? Kamu malu mengakui cucumu sendiri? Aku jadi curiga jika hilangnya dia disengaja!" "Benar, aku juga curiga jika hilangnya cucuku disengaja. Karena malam hilangnya cucuku itu, Sofia juga hilang dari rumah sakit dan membuat kehebohan. Cctv rusak, bahkan cctv setempat ikut rusak! Aneh bukan?" "Kamu menuduh Sofia yang mengalami baby blues? Menuduh Sofia yang hampir hanyut di sungai karena berjalan tak tahu arah? Dia saja terus merasa bersalah sejak malam itu! Sofia sangat menyesal telah meninggalkan anaknya sendirian!" "Siapa yang menuduh Sofia?" Grezia tersenyum sinis, lalu segera membawa Diandra pergi menuju kamar dan tak mau lagi menjawab teriakan besannya. Setelah hanya berdua saja, Grezia memberi hasil tes DNA yang ia lakukan diam-diam terhadap Hero dan Aiden. Yang mengejutkan, hasil kecocokannya mencapai 98%. "Itu adalah hasil yang asli. Hero memang cucuku dan mereka mencoba memanipulasinya!" Diandra memeluk hasil tes itu dengan d**a berdebar. Baru saja ia merasa bahagia karena Hero bukan anak mereka. Sekarang, Diandra kembali dibuat was-was karena hasil tes DNA menunjukkan jika Aiden ayah biologis dari putranya. "Ma, jangan bongkar ini." Diandra terlihat memohon. "Suatu saat harus dibongkar. Tapi setelah kita mendapat bukti dari pelaku pembuangannya! Aku yakin pelaku itu adalah Sofia dan keluarganya. Siapa lagi yang memiliki kekuasaan untuk menghapus semua cctv sekitar rumah sakit?" "Apa pelaku pembunuhanku juga mereka? Cctv tol pun tidak bisa di akses. Pria yang menabrakku tidak dapat ditemukan." Diandra terduduk lemas dengan mata memerah yang terasa perih. Masalah yang ia hadapi saat ini, sepertinya cukup serius. "Maka dari itu kamu harus bertahan sampai semua terungkap. Memberi tahu Aiden tanpa bukti akan sia-sia. Yang ada, kamu akan dibenci olehnya." "ARGHHHHHH!!!!" Suara teriakan yang begitu kencang dari luar sana, membuat Diandra dan Grezia spontan berlari keluar. Diandra langsung berlarian menghampiri Hero yang terlihat di marahi oleh Vera karena telah membuat Ariel menangis. Sedanghan Hero sendiri, bahkan mengalami memar di bagian jidatnya. "Kamu memukulnya? Dasar anak nakal! Kenapa Ariel menangis?" "Putraku bahkan terluka, tapi kamu menuduhnya?" Diandra membentak Vera dengan lantang. Untuk masalah anak-anaknya, Diandra tidak akan memiliki toleransi. "Tapi aku tidak memukulnya! Ariel yang memukulku, lalu aku membalasnya! Kata mama, kita tidak boleh diam saja saat ditindas!" Hero mengatakannya dengan tatapan polos dan terus memeluk kaki ibunya untuk meminta perlindungan. "Dengar apa yang putraku katakan? Hero tidak pernah berbohong!" "Ariel tidak bisa bicara, maka dari itu dia tidak bisa mengatakan apa yang terjadi! Siapa yang bisa memastikan jika anakmu tidak berbohong?! Yang terjadi pasti sebaliknya! Jangan mentang-mentang putraku tuna wicara, kamu bisa menindasnya!" "Tante jahat jangan menuduhku! Jangan memarahi mamaku! Papa, tante jahat itu menuduhku! Ayo marahi dia!" Kini Hero berlari ke arah Aiden yang sedang memijit pelipisnya. "Kamu mau membela anak yang bukan darah dagingmu?" Sofia berteriak, lalu membawa Ariel pergi dari sana. "Dasar tidak tahu malu! Awas jika hal ini terjadi lagi!" Vera dan suaminya pergi setelah mengatakan hal itu. Aiden pun berjongkok dan menatap Hero yang entah kenapa terlihat jujur. Perilaku Hero sangat baik selama ini, hatinya lembut. Tidak mungkin Hero memukul jika tidak dipukul lebih dulu. Tapi Aiden juga takut jika itu terjadi karena Hero merasa terancam dengan kedatangan Ariel. "Sayang, lain kali jangan memukul ya?" Hero mengatakannya pelan. "Hero di pukul lebih dulu!" "Hero, Papa tetap sayang Hero! Jangan merasa iri---" "Cukup Aiden! Jangan menuduh putraku! Apa yang dilakukan Hero benar, aku memang mengajarkannya membalas jika dia ditindas!" Diandra menggendong Hero yang kini menangis dan memasang ekspresi sebal terhadap Aiden. "Aku hanya menasehatinya pelan-pelan. Hero bisa saja marah karena kehadiran anak lain di rumah kita. Itu wajar terjadi kepada anak-anak!" Aiden menjelaskan dengan hati-hati. "Aku yang lebih tahu putraku!" "Jangan denial, Diandra! Dengarlah masukan orang!" "Papa jahat! Papa menuduhku seperti tante itu! Hero tidak mau bicara lagi sama Papa!" Hero menangis tersedu-sedu. "Mama, ini sakit!" Hero menunjuk jidatnya yang memar. "Ayo Mama obati!" Diandra mencium keningnya, lalu membawa Hero pergi tanpa berpamitan. "Mama mau marah? Kenapa menatap Aiden seperti itu?" Aiden menatap ibunya dengan sinis. Grezia dan Yusuf hanya mengedikkan bahu, lalu pergi membuntuti Diandra. "Cepat telfon dokter Pa, cucu kita bisa demam! Mama juga takut jika terjadi sesuatu!" "Hero hanya lebam sedikit, sudah jangan khawatir berlebihan!" Yusuf menjawab. "Cucu kalian baru datang! Kenapa tidak kalian sapa? Mama dan Papa malu?" Aiden berteriak. "Apa kalian ada hubungannya dengan hilangnya anakku? Kalian takut dapat respon buruk dari kerabat dan rekan bisnis kita?" "Ayo, tuduhlah orangtuamu tanpa bukti!" "Apa sih, masalah Mama dan Papa dengan Sofia? Kenapa tiba-tiba begitu membencinya?" "Karena Mama yakin dialah pelaku hilangnya cucuku! Jika kamu bisa menuduh orangtuamu tanpa bukti, Mama juga bisa menuduhnya tanpa bukti! Biar adil!" Grezia melarang suaminya bicara, lalu membawanya pergi meninggalkan Aiden sendirian. "Sial!" Aiden meremat kepalanya. "Keadaan ini benar-benar membuatku hampir gila!" ***** Sofia mengusap wajah Aiden yang tengah gelisah seraya memeluknya. Mereka memandangi Ariel yang sedang terlelap sembari memeluk boneka kecil. "Akhirnya dia ketemu! Dia bersama kita lagi!" Sofia meneteskan airmata. "Ayo kita ajak dia terapi bicara! Kita berjuang bersama agar dia sembuh!" "Pasti!" Aiden membalas pelukan Sofia dengan erat. "Kita akan membuatnya dapat bicara dengan normal. Apapun caranya akan aku tempuh!" "Kamu bisa kan, fokus pada anak kita dulu? Dari lahir dia tidak mendapat perhatianmu! Perhatian kita! Jangan pedulikan anak yang bukan darah dagingmu!" "Tidak bisa begitu, aku harus adil. Mereka juga keluargaku, Hero juga anakku. Aku akan berusaha bersikap adil pada kalian." "Tapi Ariel lebih butuh kamu!" "Iya Sofia aku mengerti, sudah jangan berdebat lagi. Toh sekarang, kita juga tinggal bersama bukan?" Sofia terpaksa mengiyakan ucapan Aiden. Dia sudah memakai cara ini, tapi Diandra masih saja sulit diisingkirkan. Sofia yakin itu semua karena kehamilannya. Sofia akan melakukan berbagai cara agar Diandra keguguran! Aiden tidak boleh direbut oleh siapapun! Sofia juga terpaksa berbohong tentang Ariel. Hanya itu satu-satunya jalan agar Aiden kembali padanya. Melakukan pencarian sungguhan tidaklah mudah. Lebih baik ia berbohong sampai anaknya yang asli ketemu. Jika Sofia terus membiarkan Aiden bersama Diandra, bisa-bisa pernikahannya kandas dan dia akan dicampakkan! "Aiden aku rindu seperti ini. Aku ingin kita bersama lagi dan menjadi keluarga yang utuh bersama Ariel." Sofia menatap Aiden yang tampak tak bisa menjawab perkataanya. Sofial kesal sekali. Diandra pasti sudah mempengaruhinya. "Kita sudah menjadi keluarga yang utuh. Mau tidak mau, Diandra sudah menjadi bagian diantara kita." Aiden berkata pelan. “Jangan menindas Diandra, akurlah dengannya.” Walau bibirnya tersenyum, Sofia merasa sangat marah dalam hatinya. Menerima Diandra dan akur dengannya? Itu tidak akan terjadi!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD