Diandra terkejut saat dia membuka pintu, sudah terdapat Gavin di hadapannya. Ia tersenyum canggung saat pria itu memberinya bunga, dan kue ulang tahun.
"Walau mungkin telat, dan semalam kamu sudah merayakannya, aku tetap ingin mengucapkan dan memberimu kejutan kecil. Selamat ulang tahun ya, sahabatku! Aku harap kamu dan Hero selalu bahagia."
Diandra berkaca-kaca mendengar hal itu. Karena masalahnya dengan Sofia, Ariel, bocah nakal yang selalu membuat putranya tertuduh, Diandra jadi lupa dengan hari lahirnya sendiri.
"Terimakasih." Diandra menerima kue itu dengan airmata bercucuran. "Kita tetap temenan kan, Vin? Maaf ya jika aku membuatmu tersinggung kemarin."
"Di, kita tetap temenan kok!" Gavin mengeluarkan sapu tangan dan hendak mengusap airmata Diandra. Namun dengan cepat, Aiden mencegahnya.
"Untuk apa kamu ke sini?" Aiden mendorongnya keluar rumah.
"Aiden, sudah jangan ikut campur dan diam! Kamu masuk saja, aku ingin bicara dengan Gavin!"
"Diandra---"
"Om Gavin!!!" Suara mungil Hero memanggilnya. "Wahhh Om Gavin ingat ulang tahun Mama?"
"Ulang tahun?" Aiden mengerutkan alis.
"Papa lupa kan, sama ulang tahun mama? Papa sekarang berubah, sudah tidak seperti papa Ryo lagi! Hero tidak suka!" Hero beranjak memeluk Gavin dan bergelayutan di pundak pria yang kini menggendongnya. "Ayo kita pulang Ma, aku kangen rumah kita! Hero tidak suka tinggal bersama tante jahat dan anak bisu itu!"
"Ehhhh, jangan sembarangan ya kamu kalau bicara!" Teriak Sofia dengan kencang. Dia tadinya hanya ingin mengintip dan menyaksikan pertunjukkan. Namun ucapan kasar Hero tentang Ariel membuatnya tak terima. Lebih tepatnya, ucapan kasar itu akan Sofia gunakan untuk menjelekkan mereka.
"Aiden kamu dengar kan, dia nakal dan suka menghina! Anak kita dikatai bisu olehnya!" Sofia mendramatisir. Ia ingin memancing amarah Aiden agar pria itu segera mengusir Hero dan Diandra pergi.
"Itu fakta! Anakku hanya tidak tahu bahasa yang lebih bagus dari itu! Hero, lain kali gunakan kata tuna wicara."
"Aiden, Ariel itu anak kandung kamu! Dia sedang di hina! Kamu juga tidak marah melihat Diandra seenaknya menerima pria sebagai tamu tanpa izinmu?"
Aiden menarik nafas panjang mendengar ocehan mereka semua. Ia pun merebut Hero yang enggan ikut dengannya dari gendongan Gavin.
"Aku tidak mau! Aku mau pulang ke rumah Papa Ryo saja! Ayo Om Gavin, antar aku dan Mama pulang!"
"Hero, ayo ikut Papa! Kita bicara ya?"
"Tidak!"
"Hero, Papa akan jelaskan kenapa Hero harus tinggal dengan Ariel! Ayo bicara dulu sama Papa." Aiden membujuk.
"Jangan dipaksa jika Hero tidak mau!"
"Ini urusan rumah tanggaku, jangan ikut campur! Baiknya kamu pergi! Kehadiranmu tidak diterima di sini!" Aiden memperingati Gavin lalu kembali membujuk Hero. "Ayo sayang, ikut Papa!"
Pada akhirnya, Hero menurut dan memilih untuk pindah ke gendongan Aiden. Tanpa bicara apapun, Aiden juga langsung menarik Diandra pergi meninggalkan Sofia dan Gavin.
Aiden terlihat sangat marah melihat kue yang di bawa Diandra. Padahal, dia sudah menyiapkan kejutan dan berpura-pura lupa akan tanggal ulang tahunnya. Tapi ternyata, malah ada pria lain yang mendahuluinya.
"Buang kuenya!"
"Tidak, aku suka kue ini! Ada cream putih sama buah-buahan!" Diandra mengambil strawberry yang menjadi penghias kuenya. Ia memakannya dengan lahap. Diandra bahkan juga langsung menggigit kue itu tanpa memotongnya lebih dulu.
"Keras kepala sekali!"
"Kenapa aku harus membuang kue ini? Kamu bahkan tidak mengingat ulang tahunku! Tapi aku juga tidak berharap." Diandra menggerutu pelan.
Setelah mereka sampai di kamar tamu yang biasanya tidak terpakai, Aiden pun membukanya dengan kunci. Aiden mendorong Diandra masuk untuk menyaksikan kejutan yang telah disiapkannya. Balon, bunga-bunga yang berterbaran, serta kue besar yang terpasang dengan begitu rapi.
Ekspresi Diandra berubah seketika. Diandra pikir Aiden lupa dengan hari spesialnya, ternyata tidak. Padahal mereka tinggal satu rumah, tapi ia bahkan tidak tau kapan Aiden menyiapkan semua itu.
"Selamat ulang tahun!" Aiden mencium keningnya.
"Wah balonnya banyak sekali! Papa tidak lupa ulang tahun mama?!"
"Tentu saja tidak!" Aiden memeluk Hero dengan sangat erat. "Nanti kita buka kado untuk mama bareng-bareng. Okey?"
Walau sudah didahului oleh pria rese itu, tapi Aiden berusaha menahan emosinya. Ia tidak mau ada pertengkaran hari ini. Aiden akui, semua kekacauan yang belakangan terjadi itu karenanya. Dia tidak siap memiliki dua istri. Saat ini Aiden sedang berpikir keras siapa yang harus ia pertahankan.
"Hero tetap marah! Hero mau pulang!" Ucapnya dengan manja dan cemberut. "Papa selalu menyalahkanku dan membela Ariel! Hero tidak suka!"
"Sayang, maafin papa jika membuatmu kecewa. Tapi Ariel juga anak Papa. Jika Ariel nakal, maafkan ya? Hero tau jika Ariel memiliki kekurangan bukan?"
"Tapi dia sangat nakal!"
"Itu karena Ariel tidak normal seperti anak pada umumnya, seperti Hero. Kelak jika Ariel nakal, Hero bilangi baik-baik dan adukan ke mama atau papa! Bisa?"
"Baiklah!" Hero menunduk sedih. "Tapi Papa percaya kan, jika Hero tidak nakal jika Ariel tidak menyerang lebih dulu?"
"Tidak! Aiden tidak percaya! Enak saja! Kalian ini ibu dan anak sukanya memanipulasi orang!" Sofia menghampiri mereka dan segera merusak semua dekorasi ulang tahun yang Aiden siapkan untuk Diandra.
"Sofia!" Aiden menegur, dan Sofia tidak mendengarkan. Ia bahkan merubuhkan kue indah itu hingga ambruk dan berceceran di lantai.
"Kamu gila ya?"
"Mama, Hero takut dengan tante jahat ini!" Hero langsung memeluk sang ibu yang telah memasang wajah sinisnya.
"Aiden, sebaiknya keluarkan wanita itu dari rumah ini! Jika tidak, aku dan Hero yang akan keluar!"
"Kamu menyuruh Aiden untuk mengusirku? Istri pertamanya? Dasar tidak tahu diri!" Sofia menghardiknya. "Kamu itu hanya wanita kedua! Jalang murahan! Jangan berlaga menjadi nyonya!"
"Tapi aku juga istri sah Aiden dan kamu telah menyetujuinya! Aku juga nyonya di rumah ini! Apalagi, rumah ini dibeli atas namaku!"
"Lihat Aiden, lihatlah dia! Wanita kedua itu selalu memiliki hati yang busuk! Jika dia mengusirku, aku mau kamu bersamaku dan Ariel! Aku tidak mau berbagi!"
“Terserah! Pilihlah Aiden, aku atau dia! Aku sudah muak dengan sikapnya yang semena-mena! Kalaupun kami yang harus pergi, tidak apa kok! Aku masih punya rumah lama. Aku dan Hero sudah terbiasa mandiri! Toh sebelumnya, kami juga hidup tanpa kamu!”
"Tidak ada yang boleh pergi! Kalian berdua akan tetap di sini!"
" Aku sudah memberitahumu, Sofia! Diandra sudah menjadi bagian dari kita, dia juga sedang hamil anakku! Aku mohon terima dia! Aku tidak mau mendengar keributan yang disebabkan olehmu lagi!"
"Aiden!"
"Aku dan Diandra akan merayakan ulang tahun di luar. Jangan ganggu kami!" Aiden membawa Diandra meninggalkan Sofia yang langsung berteriak marah.
Sofia mengepalkan tangannya dengan kencang. Sofia tidak akan pernah terima penghinaan ini!
"Kamu dan Hero harus mati, Diandra! Mati! Aku akan membunuh kalian secara perlahan! Aku tidak akan rela kamu dan anakmu bahagia!" Sofia mengambil sebuah botol obat dari sakunya dengan cepat.
"Obat ini akan menyerang jantung secara perlahan. Dalam jangka panjang, orang yang mengkonsumsinya akan mengalami gagal jantung dan mati!" Sofia melirik kaleng s**u milik Hero, dan s**u hamil milik Diandra yang ada di meja. Haruskah Sofia memberi obat mematikan yang ia miliki kepada s**u itu?