Curiga

831 Words
Grezia langsung menyenggol suaminya seraya mengurut d**a setalah Diandra dan hero berjalan menjahuinya. "Kamu tahu apa maksudku kan, Pa? Itu cincin baru akan di rilis bulan depan sama perusahaan kita. Sampelnya hanya ada dua. Yang satu aku simpan, satu lagi disimpan sama Aiden." Yusuf mengangguk pelan dan mengerti apa maksud istrinya. "Tapi bisa saja cincin itu jatuh atau hilang, lalu di temukan oleh suami wanita itu! Jangan negative thinking!" "Kita harus cari tau, Pa." Grezia memijit keningnya. "Tapi bagaimana kalau memang benar, jika wanita itu simpanan Aiden?" "Mama mau bilang anak kecil tadi anak Aiden? Mana mungkin? Sudah, jangan berpikir yang aneh-aneh!" "Ya mungkin saja dia janda! Karena rindu memiliki anak, Aiden tertarik padanya!" "Pelan-pelan kita cari tahu." Yusuf menarik nafas panjang. "Kalau benar, papa sedikit kecewa. Seharusnya Aiden menceraikan Sofia terlebih dulu." "Tapi Aiden juga nggak salah, Pa! Papa tahu bagaimana sifat Sofia dan tidak sopannya dia? Aiden selalu mengalah selama ini!" Grezia mengomel pada suaminya. "Ya tapi apapun alasannya, hubungan itu salah! Tapi ini belum tentu benar, tidak usah berpikir yang tidak baik dulu!" "Sebelum terjadi sesuatu, kita harus cari tau yang sebenar-benarnya." Grezia mengepalkan tangan dengan gelisah, lalu berjalan menuju tempat acara anniversary pernikahan putranya dilaksanakan. Acara yang hanya di datangi sedikit orang, termasuk teman dan kerabat dekat. Grezia menghampiri putranya yang sibuk mengotak-atik ponsel sembari tersenyum. Grezia semakin curiga padanya. Karena biasanya jika ada acara, Aiden hanya fokus pada Sofia dan rekan bisnisnya. Baru kali ini Aiden memiliki kebiasaan baru. "Aiden!" Panggilnya. "Ya, Ma! "Cincin sample itu, kenapa tidak kamu berikan pada Sofia saja?" Ujar sang ibu. "Tidak usah, aku sudah membelikannya kalung yang indah!" "Cincinnya mana? Kayaknya mama mau tukar! Mama suka yang permatanya putih, lebih indah. Mama tidak suka warna pink!" "Dua bulan lagi kan produksi, Ma! Nanti pilih sendiri saja mau warna apa permatanya!" "Ya cincinnya mana? Dari pada nganggur?!" "Hilang! Aiden juga lupa di mana taruhnya!" Jawabnya masih dengan nada santai, dan pandangan yang terus fokus pada ponsel yang menampilkan apilikasi chatting tersebut. "Tahu tidak, tadi istrimu habis bertengkar dengan wanita muda dengan satu anak! Namanya siapa ya tadi......" Grezia berlaga mengingat. "Mama kayak baru kenal Sofia sehari-dua hari saja!" "Nama yang di tabrak Diandra! Punya anak kecil namanya----Hero! Duh kasihan! Wajahnya di lempar ice cream sama Sofia! Untung ada mama yang melerai!" Tepat setelah perkataan Grezia, Aiden langsung menutup ponselnya dan menatap sang ibu dengan serius. "Melempar wajahnya dengan ice cream? Diandra? Lalu bagaimana keadaan wanita itu?" "Kenapa kamu peduli? Kamu kenal?" "Ya kali aja, wanita itu mau nuntut ganti rugi! Biasanya itu yang dilakukan orang miskin sepertinya! Itu modus lama!" Jawab Aiden cepat, lalu kembali bermain ponsel untuk meutupi keresahannya. Aiden curiga saat ibunya bertanya sedetail itu. Apa ibunya bertemu dengan Diandra dan melihat cincin yang dia pakai? Jadi hari ini Sofia bertemu simpanannya secara tidak sengaja? Aiden harus lebih hati-hati lagi. Tampaknya semesta begitu berpihak dengan rahasia besar yang ia simpan saat ini. Sedangkan Grezia mengerutkan alis melihat respon putranya yang tampak biasa saja. Bajkan sangat ketus. Apa benar, itu semua hanya prasangkanya saja? **** "Papa!" Hero memeluk Aiden saat pria itu baru saja memasuki rumah. Pria kecil itu melompat ke gendongannya dengan antusias. "Papa tahu tidak, tadi mama di sakiti seseorang!" Adunya dengan tatapan yang seolah meminta perlindungan. "Hmmmm? Disakiti?" "Tante jelek dan jahat! Mama dilempar ice cream dan diteriaki! Aku lempar balik saja dia dengan mainanku!" Hero memberi tahu. Aiden mengepalkan tangan. Jadi mereka benar-benar bertemu hari ini? "Sudahlah Hero, Mama tidak apa!" Diandra menyahuti obrolan mereka. "Papa harus membalasnya! Dia menyakiti mamaku!" "Sudahlah Aiden, jangan dengarkan Hero! Itu hanya insiden kecil, lupakan saja. Lagipula aku yang salah, aku tidak sengaja menabraknya." "Tapi tante itu jahat, Mama!" "Hero sayang sekali ya, sama Mama?" Aiden memeluk anak itu dan mengecup pipinya. Aiden mengajak anak itu bicara dan mengalihkan pembicaraan. Bertukar cerita seru dilanjutkan dengan bemain bola di halaman belakang. Walau baru beberapa hari bersama, keduanya sudah tampak begitu akrab. Aiden tidak pernah mengeluh dengan sikap Hero yang kadang terlalu manja dan nakal. Walau Aiden sangat dingin dan dominan terhadap Diandra, tapi Hero menjadi pengecualiannya. Aiden adalah sosok ayah yang baik dan hangat. Setelah puas menemaninya bermain dan membuat Hero tertidur pulas, Diandra menghampiri Aiden yang tampak kelelahan seraya merebah di sofa. Ia membawa secangkir kopi dan sepotong kue buatannya. Diandra memang hobi sekali membuatkan bermacam-macam kue. Memiliki toko kuenya sendiri adalah cita-cita terbesarnya. "Terimakasih sudah mengajak Hero bermain." Ujar Diandra. Aiden menarik Diandra untuk duduk di pangkuannya setelah wanita itu meletakkan makanan itu di meja. Ia menatap wajah cantiknya dengan lekat, lalu mengusapnya dengan lembut. "Jadi kamu dilempari ice cream seseorang?" Aiden mengecup pipinya. "Aku yang menabraknya lebih dulu, dia tidak salah." Diandra mengalihkan pandangan dengan sangat gugup. Tumben sekali Aiden perhatian? Apa dia memiliki maksud terselubung? "Wanita itu meneriakimu?" "Sudah kubilang, aku tidak apa!" Aiden merenung sejenak. Aiden bingung dengan pilihan antara memberitahu tentang Sofia atau tidak. Jika memberitahunya, Aiden takut Diandra merasa takut dan tak nyaman. Walau mereka tidak sengaja bertemu, tetap saja itu akan sangat canggung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD