"Sebenarnya---" Aiden masih ragu-ragu untuk memberitahunya.
"Kenapa?"
"Tidak! Aku hanya khawatir!" Aiden langsung mengecup bibirnya, melumatnya dengan lembut dan hangat. "Apa sudah ada tanda-tanda kehamilanmu?"
"Kamu bercanda ya? Baru tiga hari berlalu."
"Benar juga, masih butuh banyak usaha!" Aiden mengangkat Diandra menuju kamar, lalu merebahkannya di ranjang.
"Kamu ingin melakukannya?" Tanya Diandra ketika pria itu melepas kemejanya. Bibir Aiden tersenyum mendengar pertanyaan dengan suara gagapnya yang menggemaskan.
"Kamu ingin?"
"Tidak!" Tolak Diandra dengan buru-buru.
"Aku tidak segila itu Di! Aku juga bukan seorang hyper! Aku hanya ingin memelukmu! Aku akan menginap, boleh kan?" Aiden ikut merebah di sampingnya, lalu memeluk Diandra erat-erat.
"Bagaimana dengan istrimu?"
"Aku sudah bilang jika ada lembur."
"Apa ini benar?"
"Jika aku bilang ini benar, maka ini benar." Aiden menenggelamkan wajahnya pada dadanya. "Aku lelah Di. Kalau pun aku pulang, aku tidak akan mendapat pelukan dari siapapun."
Diandra hanya diam tanpa berkata-kata untuk merespon. Itu bukan urusannya, Diandra tidak mau lancang dan membuat Aiden kembali marah. Selama tiga hari bersama, Aiden hanya datang saat dia butuh kepuasan. Baru malam ini saja Aiden sekedar butuh pelukan dan bertukar cerita.
"Kamu hangat sekali!" Aiden mengeratkannya, merapatkan tubuh mereka. "Aku selalu memikirkanmu hari ini, hampir setiap detik."
Deg! Diandra bergetar saat perkataan itu terlontar. Diandra masih tidak merespon atau mengatakan apapun. Namun, tangannya bergerak untuk mengusap puncak kepala Aiden dengan lembut.
"Tidurlah jika kamu lelah!" Diandra berbisik.
"Tapi aku belum mandi." Aiden merenggangkan pelukannya. "Lihatlah wajahku, bulunya sudah panjang. Bisakah kamu mencukurnya untukku?"
"Aku?"
"Keberatan?"
Diandra menatap Aiden dengan menyelidik. Apa-apaan dia? Tumben sekali menyuruhnya ini dan itu. Sikap Aiden itu benar-benar misterius sekali. Diandra pun bangkit mengambil alat cukur yang memang sudah tersedia sejak ia pindah ke rumah tersebut. Bahkan baju-baju Aiden juga sudah tertinggal beberapa pasang.
Setelah Diandra kembali, Aiden terlihat lelah dan stres. Sepertinya dia tidak berbohong saat mengungkapkan uneg-unegnya beberapa saat lalu. Tanpa berkata apa-apa, Aiden langsung merebahkan dirinya di pangkuan Diandra, sebagai seorang yang mencari kenyamanan dan pelukan.
Dengan penuh perhatian, Aiden menginstruksikan Diandra untuk mengoleskan cream pencukur pada wajahnya yang berbulu. Meskipun terlihat tegang, Diandra menuruti permintaan Aiden dengan hati yang bergetar.
Saat pisau cukur menyentuh kulitnya, Diandra dengan hati-hati mulai mencukur bulu-bulu halus di wajah Aiden. Dia berusaha sebaik mungkin agar tidak melukai wajah pria yang terlentang di pangkuannya itu.
Saat proses mencukur berlangsung, suasana di sekitar mereka menjadi lebih tenang. Diandra bisa merasakan betapa Aiden membutuhkan dukungan dan kenyamanan di saat-saat seperti ini. Meskipun tanpa Diandra ketahui, dia adalah penyebab dari sebagian besar tekanan yang dialami oleh Aiden hari ini.
Ya benar, Aiden memikirkan Diandra seharian penuh karena ibunya yang mulai curiga dengan permainan kotornya. Semesta mempertemukan mereka secara tidak sengaja. Aiden tidak habis pikir jika ketahuannya akan secepat ini. Bahkan di saat ia baru memulainya.
"Di----" Panggilan Aiden membuat Diandra menghentikan aktivitasnya seraya mengusap pipi Aiden dengan tissue.
"Hmmmm?"
"Sebenarnya, yang kamu temui hari ini adalah istri, orangtua, dan mertuaku. Wanita yang memakimu adalah istriku." Aiden mengatakannya dalam satu tarikan nafas.
Diandra terkejut bukan main mendengar hal itu. Pisau cukur ditangannya langsung terjatuh begitu saja ke lantai.
"Mulai sekarang, berhati-hatilah!" Aiden bangkit dari pangkuannya, lalu menangkap wajah Diandra dengan mesra.
"Apa sebaiknya kita akhiri saja sebelum terlanjur?" Tawar Diandra cemas.
"Kamu lupa jika semuanya sudah terlanjur terjadi?"
"Aku masih bisa minum pil---"
"Diandra!" Bentak Aiden. "Aku memberitahumu untuk memperingatimu supaya hati-hati, bukan mengakhiri hubungan!"
"Bagaimana jika mereka tahu? Belum apa-apa saja, istrimu memakiku dengan kasar! Sepertinya kebetulan hari ini adalah peringatan untuk kita akhiri semuanya!"
"Aku sudah bilang jangan bicara sembarangan! Jangan bicara lancang seperti ini! Hanya aku yang berhak memutuskan hubungan diantara kita!"
"Kalian baru saja merayakan anniversary. Dan kamu malah di sini?"
"Kamu pikir, istriku ada di rumah saat ini? Jika dia ada untukku, aku tidak akan menemuimu bodoh!" Cercanya.
Bersamaan dengan itu, ponsel Aiden berbunyi. Saat melihat nama Sofia di sana, tanpa basa-basi Aiden langsung mengangkatnya dengan pengeras suara.
"Sayang, aku tidak bisa pulang! Aku masih ingin bersama temanku! Jangan larang aku dan berisik! Kamu bisa tidur terlebih dulu!" Suara seorang wanita yang sedang mabuk dan latar musik yang keras terdengar dengan jelas. Ponsel itu juga langsung mati padahal Aiden belum merespon.
"Dengar? Kamu jangan terlalu percaya diri dan merasa aku mementingkanmu! Aku tidak akan mengenalmu jika hubungan kami baik!"
Diandra hanya diam dengan mata memerahnya. Ia langsung memeluk Aiden walau sebenarnya takut. Diandra tahu jika sebenarnya Aiden terluka dengan semua perlakuan istrinya. Aiden hanya mencari pelarian. Dan pelarian pria itu adalah dirinya.
Diandra tahu harga dirinya sangat menyedihkan sekarang. Tapi entahlah, Diandra merasa kasihan melihat Aiden seperti ini. Lagipula dari awal ia menyetujui kesepakatan yang Aiden buat, juga telah mengecilkan harga dirinya sendiri.
"Aku mengerti Aiden, sudah jangan bicara lagi!" Diandra mengusap wajah tampan itu. "Kamu ke sini untuk istirahat bukan? Istirahatlah! Maaf jika aku kembali berkata lancang dan membuatmu kesal!"
Aiden menarik Diandra ke dalam pelukannya tanpa bicara. Tangannya gemetar saat ia menggenggam erat bahu Diandra, mencari tempat untuk melepaskan semua emosinya yang tertekan. Bibirnya menemukan bibir Diandra, dan dalam gerakan impulsif yang dipenuhi dengan kekacauan emosional, dia menciumnya. Melumatnya dengan kasar, tak seperti sebelumnya.
Ciuman itu penuh dengan kebingungan, kemarahan, dan rasa putus asa. Di tengah semua kekacauan yang memenuhi pikirannya, ciuman itu adalah cara Aiden untuk meredakan gejolak yang melanda hatinya.
Bisikan-bisikan yang begitu berisik di kepalanya mendadak terhenti sejenak, digantikan oleh getaran-getaran yang muncul dari kontak bibirnya dengan Diandra yang membuatnya candu.
"Aku menginginkanmu Di----"