Akrab

715 Words
Aiden menerima minuman dari Diandra dan menenggaknya hingga habis. Nafasnya masih ngos-ngossan karena terbakar emosi. Masalahnya dengan Sofia selalu membuatnya stress dan naik darah. "Ada apa?" Diandra bertanya. "Kamu tidak lihat, aku sedang emosi? Kenapa masih bertanya?" Ketus Aiden. "Ayo bersiaplah, kita akan menikah." "Aku ganti baju dulu." "Kamu memintaku menunggu?" Kini Aiden bangkit berdiri dan berkacak pinggang. Diandra selalu membuatnya emosi. Diandra tahu betul jika hari ini ada acara pernikahan, tapi tidak bersiap sejak awal. "Kalau begitu aku akan memakai baju ini saja." "Daster jelek itu?" "Lalu aku harus apa? Disaat aku ingin ganti baju, kamu juga masih saja memarahiku!" "Ya sudahlah, sana ganti baju!" Aiden kembali mengomel setelah Diandra pergi dengan bibir cemberut. Sepertinya ia kesal dengan kedatangan Aiden yang penuh dengan emosi yang tidak jelas. Marah tanpa sebab dan menjadikannya tumbal! "Sepertinya aku tahu apa yang akan membuat moodku membaik!" Aiden berlari ke kamar Hero. Anak itu terlihat sedang menutup mata dengan ditunggui seorang suster khusus yang ia bayar. "Bagaimana keadaannya, Sus?" "Masih belum stabil. Tapi kabar baiknya, demamnya sudah turun. Hero juga sudah mulai doyan makan." Aiden duduk di samping ranjangnya, dan mengusap puncak kepala bocah itu sejenak. Ketika bola matanya mulai bergerak-gerak, bibir Aiden langsung melengkung. Sudah ia duga, hanya Hero obat termanjurnya untuk memperbaiki emosi. "Keluar sebentar, Sus! Aku ingin privasi!" Lanjut Aiden memerintahkan suster tersebut. Setelah hanya berdua saja, Aiden mengecup kening Hero dengan lembut. "Bagaimana keadaanmu, sayang?" "Papa!" Hero merentangkan tangan, meminta dipeluk. Dan tanpa berpikir panjang, Aiden langsung memeluknya dengan penuh perhatian. "Papa, kok samalam pergi?" Tanya Hero dengan raut sedih. "Papa harus bekerja, sayang! Maaf ya?" Aiden mengusap puncak kepalanya. "Hero kangen ya?" Ledeknya seraya menggelitik perutnyan dan Hero tertawa terbahak. "Kangen ya?" Aiden terus meledeknya, menggelitikinya, hingga kepala bocah itu mengangguk-angguk dengan cepat. Mengakui perasaan rindu yang terpendam dalam dadanya. "Kangen sekali!" Hero berseru dengan bahagia. "Besok kalau sudah sembuh, Papa ajak jalan-jalan!" "Aku sudah sembuh!" "Coba Papa cek dulu!" Aiden mendekatkan telinganya di perut Hero, lalu menyipitkan mata. "Ah bohong! Cacing jahatnya masih terdengar! Hero masih butuh istirahat katanya!" Ujarnya seraya kembali menggelitiki Hero, dan keduanya kini tertawa bersama. Diandra mengamati mereka dari balik pintu sembari tersenyum. Belum pernah ia melihat Hero sebahagia itu setelah Ryo meninggal. Sepertinya, putranya benar-benar merindukan sosok ayah. "Kenapa bengong?" Diandra terkesiap saat Aiden bertepuk tangan di depan wajahnya. "Ayo berangkat!" "T-tapi aku belum... " "Aku sudah izin dengan Hero, ayo segera berangkat sebelum dia berubah pikiran dan menangis. Nanti pulangnya, kita belikan mainan yang banyak untuknya!" Potong Aiden seolah tahu apa yang Diandra pikirkan. "Terimakasih banyak!" "Emmmmm." "Sejujurnya aku sangat takut." Diandra menghentikan langkahnya saat akan mencapai pintu keluar. "Takut?" "Kita akan menikah secara siri. Bagaimana kalau orang-orang membicarakan kita? Menyebarkan rumor ini? Lalu aku akan di hujat oleh semua orang! Padahal ini semua bukan mauku!" Sembari mendengarkan, Aiden mengurung Diandra pada sebuah tembok, lalu mendekapnya dengan erat. "Ini pasti modusmu untuk memintaku menikahimu secara normal. Kamu mau menjadi istri kedua? Idemu untuk menarik perhatianku bagus juga! Tapi sayang, aku tidak tertipu!" "Aku tidak pernah berpikir seperti itu!" "Atau mending kita langsung lakukan saja, tidak usah ada pernikahan!" Aiden mengangkat Diandra ke atas sofa, lalu menindihnya dengan senyuman smirk. "Aiden!" Diandra berteriak seraya memukulinya. "Iya, aku tidak akan bicara yang tidak-tidak lagi! Jangan seperti ini!" "Kenapa takut sekali? Bukankah kita juga akan melakukannya?" "Setelah menikah!" Diandra mendorongnya sekuat tenaga, namun Aiden tidak bergeming. "Kamu ini naif sekali! Memangnya, kamu tidak pernah melakukannya lagi setelah suamimu meninggal?" Aiden mengecup bibirnya dengan seringaian nakalnya. "Dengar ya, Aiden! Dengan menyetujui kesepakatan ini, bukan berarti aku akan bertingkah seperti p*****r. Pernikahan itu walau hanya siri atau apapun sebutannya, semata-mata hanya untuk menyelamatkan harga diriku! Aku bukan orang picik sepertimu!" "Sepertinya aku terlalu lembek padamu ya?" Aiden mencengkram lehernya. "Dengar baik-baik! Dengan menyetujui kesepakatan itu, kamu telah menjadi pelacurku dan telah kubeli! Pernikahan itu untuk menyelamatkan harga diri anakku! Tidak ada lagi harga diri yang tersisa dalam dirimu!" Aiden pun bangkit berdiri. "Kali ini aku lepaskan. Tapi setelah pernikahan itu terjadi, aku tidak akan segan menghukummu jika kamu melawanku. Jaga batasanmu! Jangan kurang ajar!" "Kita itu simbiosis mutualisme! Kamu menguntungkanku, aku menguntungkanmu! Jika kamu kurang ajar padaku, aku pastikan anak kamu tidak akan lahir! Kamu pikir, kamu saja yang bisa mengancam?" "Kamu menantangku rupanya!" Aiden mengangkat tubuhnya secara paksa menuju kamar utama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD