Bertengkar

967 Words
"Kamu--tidak pulang?" "Mengusirku?" Tanyanya dingin, masih dengan tatapan lekat nan misterius. Aiden tersenyum saat Diandra terlihat ketakutan. Sikap pemberontaknya yang terbungkus rasa takut itu membuatnya tergelitik. "Coba ceritakan tentang dirimu. Kita harus saling mengenal sebelum menikah kan? Kita akan punya anak dan tidur bersama. Aku ingin mengenal pasanganku." "Maksudnya, seperti interview?" "Istriku memiliki masalah mental sejak anak kita hilang lima tahun lalu. Dia menjauh dariku, mengabaikanku, tidak mau mendengarkanku. Bahkan sudah lima tahun kita tidak melakukan hubungan layaknya suami istri. Dia membuatku sangat bingung dan tidak berguna." Diandra terenyuh saat pria itu menceritakan tentang dirinya. Aiden terlihat menyimpan sejuta kesedihan saat menceritakannya. "Kenapa kamu tidak coba bicara dan memberinya dukungan?" Tanya Diandra hati-hati. Berharap ia tidak salah bicara lagi. Srekkk!!! Diandra terkejut bukan main saat tubuhnya ditarik menuju sofa, dan duduk di pangkuan Aiden dengan posisi wajah mereka yang bertatapan dengan lekat. "Jika dia mendengarkanku, aku tidak akan repot-repot mau bertemu denganmu. Berurusan denganmu!" Aiden menceritakan segala unek-uneknya. "Apa dia sudah tidak mencintaiku lagi?" "Mungkin kehilangan anak benar-benar membuatnya tertekan. Aku bisa merasakannya! Aku juga seorang ibu." "Jika sejak lahir anak kamu meninggal, apa kamu juga akan mengabaikan suamimu?" "Semua orang memiliki persepsi masing-masing. Tapi jika aku, aku akan memilih menghargai orang yang masih ada di sisiku. Berbagai kesedihan bersama. Kehilangan Ryo, juga satu hal yang sangat menyakitkan." "Jadi namanya Ryo? Suamimu yang sudah meninggal?" "Dia terkena kanker otak staidum 4 setelah kita baru saja berbulan madu. Setelah kebahagiaan, pernikahanku dihantam badai yang sangat besar. Dan pada akhirnya, Ryo meninggal di hari ulang tahun Hero yang ke tiga. Walau kenangan mereka hanya sebentar, tapi Hero terus mengingatnya." Diandra mengusap airmatanya. "Hanya Ryo yang aku punya. Kita sama-sama yatim-piatu. Kita berjuang dari sekolah menengah hingga kuliah. Mencari biaya bersama untuk menikah, dan meraih impian kita. Tapi di tengah jalan, dia diambil begitu saja dariku. Apa takdir memang selalu sekejam ini?" Aiden mengangguk pelan, lalu memeluknya. Aiden mengusap airmatanya, lalu perlahan mendekarkan bibir mereka. "Cukup, jangan lanjutkan lagi ceritamu. Aku memang ingin mengenalmu, tapi tidak yang terlalu dalam. Karena hubungan kita tidak seserius itu." Diandra mengangguk seraya mencoba mengatur emosinya yang terlanjur tersulut. Wajahnya terlihat pucat, dan matanya memancarkan rasa putus asa yang mendalam. Ia berusaha keras untuk menahan tangisan yang mengancam tumpah dari pelupuk matanya, tetapi nampaknya sangat sulit. Hingga secara tiba-tiba, bibirnya dibungkam dengan lumatan lembut dari Aiden. Perasaan takjub dan kebingungan melintas dalam pikiran Diandra saat bibir mereka bersentuhan dengan lembut. Kontak hangat itu memberinya sedikit kenyamanan dan ketenangan di tengah kekacauan emosionalnya. Aiden memegang wajah Diandra dengan lembut, membiarkan bibirnya tetap menyentuh bibir Diandra dalam sebuah keintiman yang tak terduga. Diandra merasakan denyutan jantungnya mereda sedikit demi sedikit, dan perlahan-lahan, air mata yang hendak tumpah itu berhasil dia tahan. "Jadi, yang bisa menahan airmatamu yang cengeng itu adalah sebuah ciuman?" Aiden berbisik di hadapan bibirnya dengan senyuman sinis yang menusuk, lalu kembali mengecup bibir itu sekilas. "Jangan lupa bersiap untuk pernikahan kita besok." ***** "Tahu berita yang viral akhir-akhir ini? Suaminya selingkuh dan anak-anaknya di bawa sama selingkuhannya? Jaman sekarang disebutnya apa Ning?" Seorang wanita paruh baya bertanya kepada sang asisten yang sedang memijit kakinya. Keduanya memang sudah terbiasa menggosip, bahkan hampir setiap hari. "Ani-ani atau pelakor, nyonya!" Naning, sang asisten menjawab dengan antusias. "Pada nggak tau malu memang, wanita jaman sekarang!" "Udah gitu, pelakornya pernah kena kasus prostitusi! Iya kan, Ning?" "Benar nyonya!" "Kamu jangan sampai kayak gitu lho, Pah! Aku potong itumu nanti!" Grezia menatap suaminya tajam, lalu beralih ke arah putranya. "Kamu juga Aiden, awas kamu kalau macam-macam!" Aiden memainkan ponsel sembari melirik ibunya. Ikatan anak dan ibu itu benar-benar kuat ya? Baru saja Aiden memutuskan untuk memiliki simpanan, tapi sang ibu sudah menyindirnya sekeras itu. Jika hubungannya dengan Diandra ketahuan, entah bagaimana nasibnya. "Kamu juga Sofia, jangan terpuruk terus! Ayo bangkit, jangan sampai kamu menyesal kalau Aiden kepincut sama--- apa Ning tadi?" "Ani-ani!" "Nah itu, ani-ani!" "Mama, sudahlah!" Suaminya mengingatkan. Yusuf tidak mau lagi ada keributan antar mertua dan menantu. Karena ujungnya, dia pasti ikut terpancing emosinya. "Kalau Sofia seperti ini terus, bisa aja Aiden khilaf! Life must go on! Come on!" Damn! Aiden semakin takjub dengan insting ibunya, sungguh kuat sekali. Tapi kali ini Aiden tidak ingin memikirkan hal itu dulu, ada yang lebih penting. Seperti wajah Sofia yang sudah memerah dan merengut misalnya. "Sampai kapan kamu mau berduka, sayang? Mama bicara seperti ini karena sangat menyayangimu! Mama ingin kamu bangkit!" "Mama dan Aiden kenapa sih? Selalu memaksaku untuk berdamai! Semua orang punya hati yang berbeda! Kalian tidak sesayang itu pada anakku, bukan? Sehingga waktu lima tahun membuat kalian begitu mudah melupakannya?" "Lalu kamu mau seperti ini terus?" "Mama itu orangtua, tapi kenapa tidak punya adap dan perasaan? Mama tidak mengerti apa yang aku rasakan!" Teriak Sofia sembari menggebrak meja. "Cukup!" Yusuf berteriak. "Jaga sopan santunmu, Sofia! Dia ibu mertuamu!" "Lihat Aiden, keluargamu menekanku! Aku sudah bilang, tidak perlu memenuhi undangan ibumu, karena ujungnya mereka hanya mau menyakiti perasaanku!" "Mama hanya memberimu nasehat, mereka sayang padamu. Dulu kamu tidak seperti ini, Sofia! Apa sih, yang kamu butuhkan? Apa yang kamu inginkan? Katakan pada kami! Jangan membuat kami bingung!" "Selalu saja ibu dan ayahmu yang kamu bela! Kalian sama saja! Tidak pernah menghargai perasaan seseorang! Kalau aku bilang belum siap, aku belum siap! Aku yang tahu hatiku sendiri!" Kesal Sofia, lalu pergi meninggalkan rumah. Aiden mencoba mengejarnya, tapi wanita itu berteriak dan melarang Aiden mengikutinya. "Lihat menantu pilihanmu itu!" Yusuf menyindir sang istri seraya menyendok nasi gorengnya. "Ehhhh, kok jadi aku?" "Kamu yang mengenalkan mereka, kan?" "Argghhhh sudahlah, Mama pusing! Mama juga menyesal telah mengenalkan mereka! Mulut Sofia seperti tidak pernah disekolahkan!" Grezia menenggak segelas air sembari mengurut d**a. "Mama ingin sekali gendong cucu! Kalau besok mama meninggal bagaimana? Impian mama tidak terwujud dong?" "Sekarang mulut mama yang seperti tidak pernah disekolahkan!" Yusuf menarik bibir istrinya agar tidak bicara sembarangan. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD