Deep Talk

759 Words
Diandra berlari menghampiri Hero yang sedang menangis tersedu-sedu dengan seorang suster di sampingnya. Ia langsung memeluk putranya erat-erat seraya bertanya apa yang terjadi. "Ada apa, sayang?" "Mama, tanganku berdarah tadi!" Adunya dengan airmata bercucuran. "Ayo pulang saja, di sini banyak orang jahat!" "Maaf bu, Hero tadi berontak dan menolak saat saya gantikan infusnya yang telah habis." Suster itu menjelaskan. "Hal itu menyebabkan lengannya terasa nyeri dan keluar darah!" Suster itu kembali menjelaskan apa yang terjadi, dan berpamitan pergi dari ruangan. "Mama bilang apa kemarin? Jika ingin sembuh harus apa? Kalau tangannya robek karena jarum bagaimana?" Diandra memarahinya. "Ayo coba pegang dahinya! Masih panas atau tidak? Tandanya Hero sudah sembuh atau belum?" Hero menangis histeris saat ibunya memarahinya. Sepertinya karena faktor kelelahan fisik dan mental, Diandra menjadi tidak dapat mengontrol emosi. "Mama... " Hero menangis semakin histeris saat Diandra hanya diam tanpa meresponnya. "Ehemmm." Aiden yang sejak tadi di sana, menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Aiden bingung harus bagaimana menyikapinya, terlebih ia belum pernah mengurus seorang anak. Aiden mencoba mendekati Hero, lalu mengusap keningnya yang memang terasa panas. Ia merasa iba melihat tangan kecilnya harus dipasangi jarum sebesar itu. Walau niat awalnya hanya basa-basi, melihat keadaanya seperti ini Aiden jadi tak tega. Hero mengingatkannya pada putranya. Andai putranya masih bersamanya, umurnya juga lima tahun. Mereka akan menjadi teman sebaya. "Hero pengen pulang?" Tanya Aiden hati-hati, dan Hero mengangguk. "Ayo pulang, tempat tidurmu memang kurang nyaman. Akan aku sewakan dokter pribadi terbaik untukmu!" "Apa maksudmu?" Diandra menyela. "Seperti yang kamu dengar. Kita pulang ke rumah baru, dan dokter pribadiku akan merawat Hero." Ujarnya seraya mengirim pesan pada anak buahnya. "Apa kamu papa baruku?" Hero memotong pembicaraan mereka dengan lantang. Membuat keadaan menjadi canggung dan hening sejenak. "Iya, benar, aku adalah calon papa barumu!" Aiden mengusap sisa airmata di pipi mungil bocah tersebut. "Papa, apa bisa kamu membuat mama tidak marah lagi? Dulu papa Ryo juga selalu membantuku!" Aiden menoleh ke arah Diandra, lalu mengelus kepalanya dengan gerakan kaku. "Mama, jangan marah lagi dengan Hero! Lihatlah, wajahnya sangat pucat. Wajar jika terkadang anak-anak bersikap sedikit nakal. Sudah ya?" Diandra menyipitkan mata melihat kelakuan Aiden. Apa-apaan dia? "Papa, bilang juga pada mama jika tanganku sakit!" "Tangannya pasti pegal dan sakit!" Aiden kini mengusap lengan Hero dengan hati-hati. "Lihatlah sampai bengkak begini!" "Iya! Tanganku tadi memerah dan berdarah! Suster tadi galak sekali!" Adunya dengan mata berkaca-kaca. Aiden mengangkat Hero dan menggendongnya dengan perlahan. Ia membiarkan anak itu meregangkan otot punggungnya yang sepertinya pegal setelah sekian lama merebah. "Pegal ya?" "Iya!" Jawabnya sembari memeluk Aiden dengan erat. Diandra meneteskan airmata melihat pemandangan itu. Ia merasa bersalah karena tidak menyadari ketidaknyamanan putranya sendiri. Lagi-lagi, suasana ini mengingatkannya pada Ryo. Andai suaminya itu masih hidup, keadaanya tidak akan seperti ini. Diandra juga menyadari satu hal bahwa ternyata, Aiden tidak seburuk yang dibayangkannya. "Papa!" Hero memanggilnya dengan nada lemas dan lirih. "Ya?" "Aku mengijinkanmu menjadi papaku!" Ujarnya dengan senyumam yang tulus. "Benarkah?" Aiden mengecup hidungnya sekilas. "Kita akan bermain setiap hari, kan? Seperti saat papa Ryo masih ada! Kita akan bermain bola!" Senyuman dan tatapan polos Hero membuat d**a Aiden terasa sesak. Ia mendadak luluh dan merasa sangat sayang padanya. Ternyata kerinduannya untuk punya anak tidak biasa diabaikan. ***** "Terimakasih!" Diandra meremas jemarinya gelisah. Ia merasa tak enak karena merepotkan Aiden hingga dini hari. Aiden benar-benar memindahkan Hero ke sebuah rumah mewah dengan satu kamar khusus untuk ruang perawatan medis. Mendatangkan dokter dan suster pribadi untuk merawat Hero seorang. "Aku melakukannya, hanya karena kasihan dan supaya dia mau menerimaku!" Aiden berujar dengan acuh tak acuh. "Ruangan medis itu juga aku sediakan untukmu saat hamil nanti. Aku tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu padamu." "Apapun alasanmu, terimakasih." "Ini tempat barumu, aku sudah membelinya atas namamu. Jadi setelah anak itu lahir, kamu dan Hero tetap bisa tinggal di sini. "Baiklah." "Hanya itu?" Ujar Aiden seraya menatap Diandra dari dekat. "Lalu aku aku harus ber--kata apa?" Diandra mengalihkan pandangan. "Aku pikir kamu akan protes atau meminta rumah yang lebih besar. Aku salah menilaimu." "Asal kamu tidak berbohong tentang uang gaji. Dan janjimu akan membukakan usaha untukku." "Memangnya kamu mau membuka usaha apa?" "Kue." Jawabnya dengan cepat. "Biasakah kamu memodalinya? Dengan begitu kamu tidak perlu memberiku uang. Rumah dan usaha saja cukup." "Hei, kita bahkan belum memulai apa-apa!" Aiden tersenyum smirk seraya menarik Diandra mendekat. "Kamu cukup antusias juga rupanya!" "Bukan seperti itu! Aku--" "Apa?" "Aku tidak akan meminta apa-apa lagi." Jawab Diandra seraya menelan ludahnya. Ia merasa sangat canggung saat Aiden memeluk pinggangnya seperti tempo hari. Pria itu juga terus menatapnya dengan sangat misterius. Apa yang dia pikirkan saat ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD