Aiden membuka mata dengan tatapan jengah saat di dalam rumah sudah terdapat Sofia dan teman-teman wanitanya, yang sedang menyalakan musik kencang dan berpesta di dekat kolam renang. Ia lelah sekali menasehatinya.
Dulu Aiden memaklumi karena Sofia masih berduka pasca kehilangan anaknya. Tapi mau sampai kapan itu berlangsung?
Dengan langkah kaki yang terburu, Aiden menghampiri keramaian itu dan mematikan musiknya.
"Apa ini Aiden?" Sofia bertanya dengan wajah kesalnya.
"Pergi kalian semua! Tinggalkan rumahku!" Bentaknya mengusir semua orang, lalu menarik Sofia yang telah mabuk menuju kamarnya.
"Aiden, kamu apa-apaan sih?"
"Sampai kapan kamu mau seperti ini?"
"Kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan!"
"Kamu mau apa? Apa kamu kesepian? Kamu butuh aku selalu di sisimu? Akan aku lakukan! Tapi jangan terus-terussan berduka dan melakukan hal-hal yang merugikan dirimu sendiri!"
"Teman-teman yang aku butuhkan! Jika hanya bersamamu aku akan mengingat anak kita! Aku lelah! Tolong jangan paksa aku!"
"Karena itu, sudah seharusnya kita memulai langkah baru, kehidupan baru! Jangan terus-terusan mengingat kejadian itu!" Aiden memeluk sang istri yang sudah menangis sesenggukan seraya memukulinya. "Ayo kita mulai lagi dari awal, ayo kita punya anak lagi supaya kamu tidak kesepian. Katakan apa yang harus aku lakukan agar bisa membuatmu nyaman!"
Aiden mengusap wajah Sofia dan berharap wanita itu setuju kali ini. Wanita itu mau berubah dan memulai langkah baru. Dengan begitu Aiden tidak perlu repot-repot memiliki hubungan dengan Diandra dan memintanya mengandung anaknya.
"Aku tidak perlu apa-apa darimu! Aku hanya butuh kamu memberiku ruang seperti biasanya!"
"Sudah lima tahun, masihkah kurang?"
"Kamu memang tidak akan pernah mengerti! Arghhhh!!!" Teriak Sofia dengan kencang.
"Jangan membuatku bingung Sofia, kamu membuatku merasa bersalah dan tidak pecus menjadi suami. Kamu selalu ingin menjauh dariku, kamu bahkan tidak ingin melakukan itu denganku. Apa yang kamu inginkan sebenarnya?"
"Jadi kamu menikah hanya karena ingin punya anak dan seks?"
"Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan sesabar ini. Walau kamu begitu menyebalkan selama lima tahun terakhir, rasa cintaku tidak pernah berubah. Tapi aku juga manusia biasa yang punya rasa lelah!"
"Jadi kamu mau bilang jika traumaku melelahkan bagimu? Kamu mau berselingkuh dariku?" Sofia kembali meneriakinya. Wanita itu mendorong Aiden dan mencari obat kecemasannya. Segera menelannya dengan terburu-buru.
"Kapan kamu akan menemui psikiater lagi? Aku akan antar. Sepertinya kamu butuh konsultasi dengan serius, bukan hanya sekedar menebus obat saja dan berpura-pura sudah membaik."
"Sekarang kamu menganggapku gila?"
"PERSETAN!" Teriak Aiden kesal untuk pertama kalinya, lalu membawa dompet dan kunci mobilnya meninggalkan rumah. Aiden lelah sekali dengannya. Semua yang dia lakukan selalu salah.
Aiden mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lama-lama dia juga harus ke psikolog jika terus-terusan seperti ini. Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk Aiden terus bersabar dan bersabar menghadapinya. Aiden juga butuh dimengerti kan?
Aiden sebenarnya ingin pulang menemui orangtuanya, tapi hal itu akan menimbulkan konflik yang lebih memusingkan. Pasalnya, sang ibu juga sudah sangat muak dengan sikap Sofia.
Sudah Aiden katakan, hanya dia yang sabar menghadapinya selama lima tahun ini.
Ibunya yang dulu sangat menyayangi Sofia, berubah begitu ketus jika bertemu. Aiden tidak bisa mengendalikan keadaan, karena dia sendiri juga sangat stress dengan semuanya.
Maka dari itulah dia tidak mau lagi memaksa Sofia untuk mendengarkannya. Biarkanlah semua tetap berjalan seperti demikian.
Tapi Aiden ingin punya anak! Jangan salahkan dirinya, jika memilih jalan pintas. Ini juga bukan maunya!
Aiden telah memutuskan untuk memilih Diandra untuk melahirkan anaknya. Dilihat dari riwayat selama dia bekerja, Diandra orang yang baik dan jujur. Dia juga tidak memiliki riwayat kriminal, penyakit menular, dan pecandu. Diandra hanya seorang janda dengan anak satu yang ekonominya terbatas.
Entah ide gilanya ini akan berjalan seperti apa kedepannya. Aiden tidak punya pandangan sama sekali. Ketika wanita itu membahas anak, ide itu langsung terbesit begitu saja.
Apalagi secara kebetulan Diandra membuat kesalahan yang melibatkan banyak uang, disitulah celah yang Aiden dapat agar wanita itu mau mengandung anaknya.
Aiden pun mengarahkan mobilnya ke rumah sakit, tempat di mana anak Diandra berada. Benar, Aiden baru ingat jika malam ini mereka memiliki janji untuk bertemu. Aiden juga ingin memastikan, benarkah jika anaknya sakit?
****
Setelah melewati kemacetan panjang kota Jakarta di hari jumat yang sibuk, akhirnya Aiden sampai di salah satu rumah sakit anak yang cukup bagus dan terkenal.
Aiden memandangi sekitarnya dengan mata berbinar sembari berjalan masuk. Ia melihat banyak sekali orang bersama anaknya sedang duduk di ruang tunggu.
Tempat itu cukup ramai dan banyak anak-anak yang berlarian. Sungguh suasana yang sangat ia rindukan. Saat ia baru saja akan menelfon Diandra untuk bertanya posisi, wanita itu sudah muncul di hadapannya.
Diandra terlihat memasuki lobi sembari membawa paperbag makanan dan balon karakter lucu, yang Aiden pastikan untuk diberikan pada anaknya.
"Jika anda tidak kasihan denganku, tolong pikirkan anakku. Anda pasti pernah merasakan betapa sakit dan kalutnya saat anak anda sakit. Hero hanya punya saya, saya juga hanya punya dia di dunia ini."
Kata-kata Diandra terus terngiang dipikirannya, saat melihat wajah cantiknya yang tampak sangat lelah.
Matanya menghitam dan membengkak. Diandra pasti sangat kalut saat anaknya harus dirawat tanpa pengawasan darinya.
"Pak--- Aiden?" Suara Diandra membuyarkan lamunannya.
"Ya, sesuai janji." Ketus Aiden.
"Anda harus bicara dengan anak saya, walau hubungan kita bukan hubungan yang semestinya. Saya tidak mau Hero kebingungan. Dia harus mengenalmu sebagai ayah barunya, walau hanya akan berjalan hitungan bulan."
"Bisakah berhenti memanggilku dengan sebutan saya?"
"Saya menghormati----"
"Tidak usah terlalu formal!" Perintahnya. "Mana anakmu? Aku mengerti apa maksudmu! Aku akan menjelaskannya! Tapi jangan paksa aku menjadi ayahnya, karena itu tidak akan terjadi. Ini hanya sekedar basa-basi. Kamu mengerti maksudku, kan?"