D U A P U L U H S A T U

1056 Words
Ardan dan Salma duduk di mobil. Sudah sepuluh menit mereka hanya berdiam diri, tak ada yang membuka suara. Kejadian tentang Alex sudah diselesaikan. Petugas keamanan klub melerai perkelahian Ardan dan Alex, lebih tepatnya menghentikan Ardan yang brutal memukuli Alex. Salma memilih untuk tidak membawa masalah itu ke jalur hukum, sehingga mereka menyelesaikan secara kekeluargaan dan Alex disuruh untuk minta maaf pada Salma. "Kamu ngga papa?" kata itu terucap dari bibir Ardan setelah pria itu merasa terlalu lama terjebak dalam situasi diam dengan Salma. Salma mengangguk. Dirinya mungkin sedikit terguncang atas kejadian yang menimpanya tadi. Itulah kenapa sedari tadi Salma tidak banyak bicara. "Makasih ya, udah nolongin gue," ucap Salma tulus. "Itu udah kewajiban aku buat ngelakuin itu. Akhirnya janji aku buat gantiin tangan kamu ngelampiasin amarah kamu ke dia terlaksana. Kejadian ini cuma jadi jembatan buat aku karena pada akhirnya tanganku bener-bener bakal kasih pelajaran ke dia." Salma tersenyum kecil. Dia tahu kalau perkataan Ardan malam itu serius, tapi dirinya tidak menyangka kalau Ardan akan se-effort itu untuk menepati perkataannya. "Tangan kamu ngga papa?" Salma melirik buku tangan Ardan yang lecet. Ardan melihat tangannya sendiri. "Aman ini, cuma lecet sedikit doang." "Mampir ke apartemen gue dulu ya, biar gue obatin tangan lo." "Ngga perlu, aku bisa ngobatin sendiri." "Ngga usah ngeyel, udah anterin gue ke apartemen sekarang." Ardan mau tidak mau mengikuti perintah Salma. Mobilnya melaju meninggalkan parkiran basemen menuju apartemen Salma. "Lo kok bisa ada di sana tadi?" Salma bertanya. "Ngga tau, feeling-ku ngga enak aja mikirin kamu. Jadi aku dateng ke Fable, berniat buat basa-basi jemput kamu. Waktu masuk dan nanya ke temen kamu, mereka bilang kamu turun ke dance floor, tapi aku nggak nemuin kamu dan entah kenapa feeling-ku makin ngga enak. Satu-satunya tempat yang terlintas di otak aku saat itu cuma toilet, jadi aku mutusin ke toilet dan ternyata bener, kamu ada di sana." "Gue menjijikkan banget ya waktu itu, lo pasti jijik kan liat gue." "Hei, hei. Kamu ngga boleh ngomong gitu, Sal. Ini semua bukan salah kamu." Ardan menghentikan mobilnya, menepi sebentar untuk menenangkan Salma. Dia paham saat ini Salma sedang dalam posisi terbawahnya, perempuan itu perlu ditenangkan dan diberi support. Ardan otomatis membawa Salma ke dalam pelukannya. Dia mengelus punggung perempuan itu, mencoba menenangkan. "Nangis aja kalo itu emang bikin kamu lega. Jangan ditahan, aku ada di sini." Dan tangis Salma langsung pecah begitu Ardan membisikkan kata-kata itu. Dia meraung-raung, melampiaskan apa yang dipendamnya dalam pelukan pria itu. Bahkan dia melampiaskan kekesalannya pada pria itu dan memukuli d**a bidang Ardan. Butuh setengah jam sampai Salma bisa meredakan emosinya. Selama itu Ardan hanya diam, pasrah dengan segala hal yang dilakukan Salma padanya. Bahkan dia merelakan bajunya yang basah terkena air mata perempuan itu dan menerima saja ketika Salma menjadikan tubuhnya sebagai samsak pelampiasan apa yang sedang dirasakannya. "Maaf, baju lo jadi kotor gara-gara gue." Salma melepaskan pelukannya dari Ardan, memandang prihatin pada baju pria itu yang sudah setengah basah. "Ngga papa, baju bisa diganti. Udah enakan?" Salma mengangguk. "Mau lanjut perjalanan atau masih mau nangis lagi?" Salma memukul pundak Ardan, merasa malu karena telah menunjukkan sisi lemahnya pada pria itu. Seumur-umur Salma tidak pernah menangis di depan pria manapun. Dia benci terlihat lemah, bahkan untuk masalah sebesar apapun Salma tidak akan membiarkan orang lain melihat air matanya. Baginya meneteskan air mata di depan orang lain sama saja menunjukkan sisi lemah dalam dirinya. Salma benci dianggap lemah, dia tidak suka ketika orang lain tau letak kelemahannya. Namun, dengan Ardan semuanya seakan berbeda. Pria itu berhasil membuat Salma menunjukkan sisi lemahnya yang selama ini dia tutupi dari orang lain dan membiarkan pria itu menyaksikan betapa lemahnya dirinya saat ini. "Udah anterin gue ke apartemen sekarang. Cepetan!" "Siapa yang bikin kita jadi lambat nyampe ke apartemen? Kan kamu sendiri." Ardan menggoda Salma. "Udah ih, lupain aja yang tadi, anggap aja lo ngga pernah liat gue nangis." "Kenapa si, apa salahnya dengan nangis? Kalau emang itu satu-satunya cara bikin kamu lega, kamu ngga usah malu mengakuinya. Kamu nangis bukan berarti kamu lemah. Percayalah, kamu perempuan paling kuat yang pernah aku kenal." "Ini kalo lo sibuk ngegombalin gue, kita ngga bakal nyampe-nyampe ke apartemen." Ardan tertawa terbahak kemudian mulai menyalakan mobil. "Dasar ya, padahal aku udah nyiptain suasana romantis, malah dirusak." "Gue anti sama gombal-gombal kaya gitu, udah kebal." "Masa? Tapi pipi kamu merah tadi." Salma otomatis memegang pipinya membuat Ardan makin terbahak. "Kurang ajar ngerjain gue! Udah cepetan jalan!" "Siap Ibu Negara!" *** Salma dengan telaten mengobati tangan Ardan menggunakan alkohol. Berkali-kali pria itu memekik keras, merasa perih ketika Salma terlalu menekan lukanya. "Udah selesai, tinggal dibalut plester. Bentar, gue ambilin dulu." Salma kembali beberapa menit kemudian membawa plester. Dia menempelkan plester tersebut di atas luka Ardan yang sebelumnya sudah diberi obat merah untuk mensterilkan lukanya. "Udah selesai." "Makasih ya." "Gue yang harusnya berterima kasih ke lo, gue ngga tau apa jadinya kalo lo ngga dateng tadi, pasti gue udah ditelanjangi sama Ale—" "Ssttt, udah ya, jangan dibahas lagi." Ardan benar-benar tidak suka ketika Salma mulai membahas hal menyangkut perempuan itu dengan pria lain. Ardan bahkan tidak sanggup membayangkan interaksi fisik antara Salma dengan mantan-mantannya yang membuat darah dalam tubuhnya seketika mendidih. Dia benci ketika sifat posesifnya mulai keluar. Membayangkan saja emosinya sudah muncul ke permukaan apalagi kalau Salma menceritakan secara langsung. "Kenapa si, lo selalu motong omongan gue kalo gue udah bahas sesuatu soal cowok lain." "Ngga papa, aku ngga suka aja bahas-bahas yang udah lalu. Yang udah biarin udah." Salma menyipit curiga. "Masa sih cuma itu alasannya?" "Ya memang kayak gitu." "Hmmm ... Atau jangan-jangan lo cemburu ya, kalo gue nyeritain soal cowok lain?" "Ngga ada pria yang ngga cemburu waktu perempuan yang disukainya nyeritain cowok lain. Maka dari itu, daripada overthingking mikir hal yang ngga ada ujungnya, lebih baik ngga usah denger sama sekali." "Emang lo ngga kepo soal hubungan gue sama mantan-mantan gue?" "Kepo, tapi aku ngga jamin setelah denger cerita kamu soal apa yang udah kamu lakuin sama mantan kamu aku bakal tetep sama." "Maksudnya?" Ardan diam sejenak, dia menikmati wajah penasaran Salma yang menatap tanya ke arahnya. Perlahan tubuh Ardan bergerak mendekat ke arah perempuan itu. Bibirnya berbisik di samping telinga Salma yang membuat perempuan itu langsung bergetar karena mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ardan. "Karena setelahnya aku bakal berpikir untuk menghapus semua jejak pria-pria lain di atas tubuh kamu." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD