Hubungan Salma dan Ardan semakin dekat dari hari ke hari. Setelah insiden yang menimpa Salma tempo hari, perempuan itu merubah sikapnya pada Ardan. Tak secuek dan sedingin seperti kemarin-kemarin, Salma sedikit demi sedikit mulai menerima Ardan di hidupnya. Hubungan mereka berubah menjadi hubungan dua arah, tak seperti dulu dimana Ardan yang selalu berusaha mengambil hati Salma sementara perempuan itu hanya diam menerima semua kasih sayang yang Ardan berikan.
"Hai, udah nunggu lama ya?" Salma masuk ke dalam mobil. Hari ini mereka berencana pergi jalan-jalan atas usul Salma. Perempuan itu menyayangkan weekend Ardan yang hanya diisi dengan rebahan di apartemen dan mempunyai ide untuk mengajak pria itu menikmati waktu weekend-nya.
"Ngga juga. Aku juga baru nyampe."
Salma menilai penampilan Ardan dari atas hingga bawah, kemudian mengomentari selera fashion pria itu.
"Emang kenapa sama baju ini? Bagus kok." Ardan memandangi baju yang dipakainya. Kemeja bergaris dari zaman dia kuliah dulu dan masih ada sampai sekarang. Ardan jarang sekali membeli baju baru, kebanyakan baju yang dipakainya adalah baju-baju ketika dia masih kuliah. Ibunya sering protes mengenai hal itu. Bahkan beliau sering menegurnya untuk membelanjakan uangnya untuk belanja baju. Namun, Ardan hanya mengiyakan tanpa pernah melakukan apa yang disuruh ibunya. Jadilah, baju-baju santai yang dipakai Ardan sekarang terkesan jadul.
"Ini tuh baju jadul banget. Baju dari zaman kapan sih?"
"Waktu aku masih kuliah dulu."
"Hah?! Seriusan?" Salma cukup terkejut mendengar jawaban Ardan.
Ardan hanya mengangguk.
"Gila banget masih ada sampai sekarang. Lo tuh ngga pernah belanja ya?"
"Jarang sih. Biasanya aku dibeliin sama ibu kalo masalah baju. Terlalu malas ke mall dan baju lamaku juga masih bagus-bagus, jadi ngapain beli baju."
"Pantesan aja. Penampilan lo itu sama sekali ngga menunjukkan seorang bos perusahaan tau! Harusnya lo juga mikirin penampilan sehari-hari. Karena first impression seseorang itu dilihat dari penampilannya dulu. Tapi ngga papa, karena sekarang udah ada gue, jadi gue yang bakal handle masalah outfit lo mulai dari sekarang. Oke, pertama kita harus ke mall dulu. Kita perlu baju-baju buat ngisi lemari lo. Gue yakin lemari baju di kamar lo pasti cuma satu, itupun isinya ngga penuh, iya kan?"
Ardan mengangguk, mengiyakan tebakan Salma.
"Udah gue duga. Oke, berarti sekarang kita otw ke mall. Enaknya kemana ya? Pondok Indah atau Pacific Place?" Salma berpikir sebentar sementara Ardan menunggu instruksi dari perempuan itu. Sedari tadi Salma seperti bertanya pada dirinya sendiri, seakan Ardan tidak diberi kesempatan untuk memilih.
"Ke Pacific Place aja deh. Nanti kita bisa sekalian makan siang atau nonton bioskop kalau senggang."
Ardan menuruti perintah Salma. Mobilnya melaju meninggalkan halaman gedung apartemen Salma menuju Pacific Place Mall seperti keinginan perempuan itu.
"Gue nyalain musik ya." Salma meminta izin tanpa menunggu jawaban dari Ardan dan langsung menghidupkan musik.
"Playlist lo kok lagu galau-galau semua sih, keliatan sad boy banget."
"Itu playlist-nya adik aku. Dia sering muter musik kalau lagi nebeng di mobil aku."
"Lo punya adik?"
Ardan mengangguk. "Iya, punya satu adik perempuan."
"Masih kuliah atau udah kerja?"
"Udah nikah."
"Woahhhh!!" Salma tidak bisa tidak terkejut mendengar pernyataan itu. "Berarti lo dilangkahin dong sama adik lo?"
"Ya begitulah."
"Lo sedih ngga sama kenyataan ini?"
"Maksudnya?" Ardan mengernyitkan dahi bingung.
"Ya biasanya hal yang dialami lo itu jadi topik sensitif buat dibicarain. Ya lo tau sendiri kan keluarga besar kalo udah ngumpul dan ngomongin soal ini-itu, pasti ada lah satu dua tante-tante lo yang julid dan ngomongin lo yang dilangkahin adik sendiri."
"Oh, kalo masalah itu sih, aku ngga terlalu ambil pusing. Selama adik aku bahagia dan dapetin pendamping yang bisa bertanggung jawab sama hidup dia, aku ya ikut seneng. Ngga ada seorang kakak yang sedih liat adiknya sendiri bahagia. Soal jadi omongan orang, itu bukan masalahku. Terserah mereka mau ngomong apa, yang jalanin hidup kan aku, kenapa mereka yang harus repot ngomentarin sana-sini. Emang mereka yang bayarin semua biaya hidup aku? Engga kan? Jadi, selama itu ngga ngusik hidup kamu, anggep angin lalu aja."
Benar sih apa yang dikatakan Ardan. Selama ini setiap kumpul keluarga besar Salma selalu berusaha menghindar agar tidak ikut serta dalam acara itu. Alasannya tentu saja karena status Salma yang masih single padahal sudah hampir kepala tiga. Tante-tantenya akan mulai mengomentari dirinya yang belum menikah dan membandingkannya dengan sepupu yang lain. Padahal kan, menikah tidak segampang membeli cilok di pasar. Menikah itu perlu banyak persiapan. Bukan cuma finansialnya saja, tapi mental juga perlu dipersiapkan. Apalagi jika keluarga besarnya tau soal rencana Salma yang tidak akan menikah dan menyendiri sampai tua. Entah nyinyiran apa yang akan didapatnya kalau berita itu sampai di telinga mereka.
"Lo kenapa belum punya pasangan sampe sekarang?"
"Ini lagi berusaha."
"Hah?"
Ardan tertawa. "Iya, kan aku maunya pasangannya itu kamu. Bukan belum punya, tapi lagi diusahain."
Mau tidak mau pipi Salma memerah mendengar hal itu. Sialan!
"Ish, bukan itu. Maksudnya emang lo sebelumnya ngga punya pacar gitu? Cewek-cewek emang ngga ada yang tertarik sama lo sampe lo dilangkahin sama adik sendiri?"
"Pacar si ada, tapi dulu, sekarang udah jadi mantan. Dulu emang ada niatan buat menikah sama mantan yang terakhir, tapi ngga jadi."
"Kenapa?"
"Dia kabur waktu acara pernikahan dan milih pergi sama laki-laki lain."
Ardan memang mengatakannya dengan nada yang terkesan datar, tetapi Salma bisa melihat pancaran kesedihan dari matanya yang tidak bisa ditutupi oleh pria itu. Mulut boleh saja berkata baik-baik saja, tetapi mata tidak bisa berbohong.
"Maaf ya, gue ngga bermaksud membuka cerita masa lalu lo."
"It's okay, lambat laun pun kamu juga bakalan tau. Aku juga udah ada niatan buat cerita soal ini suatu hari nanti, cuma lagi nunggu momen yang pas aja. Aku pengin kamu tau semua hal yang terjadi di hidup aku. Ngga ada rahasia yang ditutup-tutupi. Aku juga pengin kamu tau orang-orang yang pernah berhubungan sama aku di masa lalu. Biar waktu kita ngejalanin hubungan yang lebih serius, ngga ada hal yang bikin salah paham ke depannya nanti."
Salma hanya diam. Tak punya jawaban atas apa yang dikatakan oleh Ardan. Bukan karena Salma tidak menyetujui perkataan Ardan, tetapi lebih ke dia yang ragu apakah dia bisa menjanjikan masa depan untuk pria itu, hubungan yang lebih serius dengan pria itu. Apakah dia bisa? Sementara hatinya berkali-kali meragu. Dia suka dengan Ardan, tentu saja, tetapi untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan pria itu, jujur Salma masih belum siap. Dan Salma takut mengecewakan pria itu dengan kenyataan ini.
***