D U A P U L U H T I G A

1075 Words
Salma dan Ardan memasuki mall, setelah sebelumnya memutuskan untuk makan siang di restoran yang mereka lewati di jalan atas permintaan Ardan. Pria itu mengatakan kalau dia lapar dan ingin makan terlebih dahulu. Akhirnya Salma mengiyakan walaupun dirinya masih merasa kenyang. Salma menggeret Ardan menuju outlet baju begitu masuk ke mall. Perempuan itu kini sibuk memilih baju mana yang cocok untuk Ardan. Sementara Ardan hanya pasrah menuruti keinginan Salma dan mencoba baju yang dipilih oleh perempuan itu. "Ini gimana?" Ini sudah terhitung baju ke sepuluh dari awal Ardan mencoba pakaian yang dipilihkan Salma. Dari kesepuluh baju yang dicobanya tidak ada satu pun yang mendapat anggukan puas dari Salma. Perempuan itu selalu mengatakan tidak, kemudian menyuruh Ardan kembali mengganti baju. Ardan berharap kali ini Salma mengiyakan pakaian yang dicoba sehingga dia tidak perlu capek-capek berganti baju lagi. Bahkan jika kali ini Salma tidak mengatakan iya, Ardan akan menyerah dan memilih mengajak perempuan itu pindah ke toko yang lain. "Hm, oke sih. Ya udah ambil yang itu aja." Akhirnya Ardan bisa bernapas lega sekarang. Setelah membayar baju yang mereka beli Salma kembali mengajak Ardan ke toko lain, mencoba lagi baju-baju yang dipilihkan Salma. "Keknya aku ngga perlu semua ini deh." Tolong, dia sudah sangat lelah melakukan kembali kegiatan ganti-mengganti baju. "Udah, lo diem aja. Nih, cobain lagi." Salma memberikan setumpuk pakaian pada Ardan untuk dicoba oleh pria itu. Ardan memandang Salma dengan wajah lelah. Dia memasang muka memelas sambil meminta pada Salma agar dia tak perlu mencoba baju-baju itu. "Ya udah, ga perlu dicoba. Ini langsung dibeli aja baju-baju pilihan gue." Lebih baik seperti itu. Lebih mempersingkat waktu dan Ardan juga tidak perlu repot-repot mencopot baju lalu kembali memakainya. Walaupun Ardan tidak tahu apakah baju itu pas di badannya, sesuai dan cocok dipasangkan di tubuhnya. Itu lebih baik daripada harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencoba baju-baju itu dan berujung hanya memilih satu yang terbaik. Prinsip Ardan kalau bisa beli semuanya kenapa harus milih-milih? "Itu namanya menghemat. Dan biar ngga asal juga cari baju, cuma comot-comot doang ujung-ujungnya ngga dipake karena bikin ngga pede. Percuma." "Kali ini ngga percuma, bener. Karena apapun yang dipilihin kamu, semuanya aku suka." "Udah deh, ngga mempan gombal receh kayak gitu buat gue." Ardan tertawa, masih gagal membuat Salma tersenyum samar-samar tersipu malu. Padahal niatnya ingin membuat Salma salah tingkah kemudian melihat pipinya yang memerah, tetapi ternyata hal itu hanya ada di khayalan Ardan. Salma itu perempuan unik, dia beda dari yang lain. Spesial. Maka dari itu Ardan ingin berjuang keras menaklukkan hati perempuan itu. "Habis ini kita kemana ya?" Salma berpikir sebentar, bingung menentukan kegiatan apa yang akan dilakukannya dengan Ardan. Biasanya jika pergi sendiri atau bersama Naya, Salma tak pernah kehabisan rencana ingin melakukan apa. Selalu ada hal yang dilakukannya hingga berjam-jam, seperti memilih baju sehingga waktu tak terasa sudah berlalu. Dengan Ardan tentunya berbeda. Laki-laki jarang sekali yang suka belanja, bahkan persentasenya bisa mencapai 99%. Untuk itu Salma harus menyesuaikan keinginan Ardan juga. "Mau ngemil ngga? Atau kita bisa nonton bioskop?" Ardan memberi usul. "Filmnya ngga ada yang gue suka." "Ya udah, jadinya mau gimana?" "Temenin gue makan aja deh, gue kan tadi belum makan. Lo bisa pesen makanan ringan yang ngga berkarbo." Ardan menyetujui ajakan Salma. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju restoran yang ada di dalam mall. Salma memesan nasi, sementara Ardan memesan kentang goreng dan soda. "Udah itu dulu aja Mba." "Baik Bu, tunggu sebentar ya." Pramusaji toko ini tersenyum ramah, kemudian kembali ke belakang. "Aku ke toilet dulu ya, gapapa kan ditinggal di sini sendirian?" Ardan memastikan Salma. "Apaan sih, kek anak kecil aja pake ditanya gituan segala. Udah ke toilet aja sana, biar gue yang jaga barang-barangnya." Setelah kepergian Ardan tanpa diduga Salma bertemu dengan tantenya — orang yang paling dihindari Salma di setiap acara keluarga. Pasalnya, tantenya yang satu ini agak julid. Bukan agak lagi, tapi memang benar-benar julid. Dia yang seakan jadi pelopor ketika membangun gosip saat kumpul keluarga. "Eh, ketemu Salma di sini. Ke sini sama siapa Sal? Sendirian?" Salma hendak menjawab, tapi keburu tantenya memotong ucapannya. "Ya jelas lah sendirian, tante lupa, kan kamu jomlo, ya." Salma memutar bola matanya malas. Mulai lagi. "Kayak gini nih, derita kalau masih jomlo, kemana-mana sendiri. Emangnya kamu ngga pengin kayak orang-orang Sal, liat tuh, pada gandengan sama pasangannya, mesra-mesraan. Kamu kalo ngga bisa cari pacar, sini biar tante cariin." Tanpa meminta persetujuan dari Salma, tantenya sudah duduk didepannya, menempati kursi Ardan. Dan kalian tau apa yang dilakukan tantenya sekarang? Beliau mulai menceramahinya perihal jodoh dan pasangan. Kemudian membandingkannya dengan anaknya yang sudah menikah semua. "Kamu ngga malu ta, setiap dateng ke acara keluarga cuma kamu yang ngga bawa pasangan. Nenekmu itu juga pengin liat kamu menikah loh, Sal. Dia juga pengin gendong cicit dari kamu. Liat tuh anak tante si Sabri, dia udah punya anak 3 sekarang, padahal umurnya di bawah kamu, tapi udah menikah dan punya suami yang bertanggung jawab." Kini bahkan tantenya mulai mencomot kentang goreng milik Ardan tanpa bilang apa-apa pada Salma dan lanjut menceramahinya. "Besok tante cariin anak kenalan tante, siapa tau dia cocok sama kamu." "Ngga perlu repot-repot tante cariin pasangan buat Salma tante, karena Salma sudah punya pasangan." Ardan datang tiba-tiba dari belakang, tersenyum kepada tante Salma yang kini menampilkan ekspresi terkejut. "Loh? Ini siapa Sal?" Ardan langsung mengulurkan tangannya ke arah tante Salma dan disambut jabatan tangan oleh beliau. "Kenalin tante, saya Ardan, calon suaminya Salma." Bukan hanya tantenya Salma saja yang terkejut mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Ardan, tetapi Salma pun ikut terkejut mendengar hal itu. Salma mengkode Ardan untuk tidak berbicara aneh-aneh pada tantenya melalui tatapan mata, tetapi Ardan seakan tidak mau peduli. "Loh ternyata kamu sudah punya calon suami toh, kenapa ngga bilang dari tadi." Tantenya tertawa kaku. "Ngga papa tante, Salma emang orangnya suka hubungan yang private gitu, jadi dia ngga suka ngumbar kedekatan kami." "Oh gitu, lancar-lancar deh ya buat kalian. Oh iya, kalian rencana mau nikah kapan?" "Diusahakan segera tante." "Kalau bisa jangan lama-lama, hal baik harus segera dilakukan, ngga bagus juga nunda-nunda." "Iya tante, doanya aja semoga Tuhan mempermudah segalanya." "Aamiin. Ya udah kalo gitu tante pamit dulu ya, mau keliling lagi." "Iya tante." Setelahnya tante Salma pergi, meninggalkan Salma dan Ardan berdua dengan keadaan yang tidak bisa dideskripsikan. "Ada yang mau aku bilang ke kamu. Ayo ikut aku." Salma menggeret Ardan keluar dari restoran. Raut perempuan itu sudah berbeda sejak Ardan mengatakan kalau dirinya calon suami Salma. Sepertinya Salma marah besar padanya dan Ardan harus siap dengan kenyataan itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD